
"Awas!" Teriakan Suro membuat yang lain segera berlompatan menyelamatkan diri.
Suro sendiri langsung meraih Mahadewi dan membawa beserta dirinya ikut menghilang dengan menggunakan Langkah Maya. Mereka lalu berpindah tempat bertengger di atas puncak pohon cemara.
Dengan menggunakam ilmu meringankan tubuh, ranting kecil mereka gunakan untuk berpijak, seperti bertenggernya seekor burung emprit.
Ledakan dari kuatnya hantaman ekor dari hewan raksasa dan semburan api dari mulutnya, hampir saja membuat mereka terpanggang hidup-hidup, sesaat setelah Suro, Mahadewi, Geho Sama, Dewa Rencong menghampiri mulut goa besar.
Didepan mereka kini sewujud makhluk yang menakutkan kembali menggerung dengan mulutnya yang menyeburkan api.
Bentuk makhluk itu sedikit aneh seperti kombinasi beberapa hewan. Dikepala makhluk itu bertengger tanduk menyerupai kijang. Kepalanya seperti seekor singa dan seekor naga. Tetapi kulitnya yang berwarna hitam dilapisi semacam sisik trenggiling.
Tubuhnya menyerupai seekor kuda, tetapi setiap tapak kaki memiliki kuku seekor singa. Tetapi yang mencolok dari makhluk itu adalah tubuhnya diselubungi api yang berkobar.
"Bocah edan kau ingin membunuh kami semua dengan mendatangi sarang makhluk seperti ini?" Dewa Rencong memaki ke arah Suro.
Sebab dia telat sekejap saja bergerak menghindar, maka kepalanya pasti akan berubah menjadi kepala panggang cap gosong terkena semburan api yang berwarna merah.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan bocah?" Dewa Rencong masih merepet begitu kesal, sebab kejadian barusan begitu mengagetkannya.
Suro hanya tertawa-tawa mendengar omelan Dewa Rencong.
"Menurut perhitungan paman Zhang ditempat inilah aura negatif berkumpul. Karena itulah aku memilih mencari pasukan Elang Langit ke tempat ini."
"Memang apa hubungannya dengan makhluk ini?"
"Hubungannya cukup sederhana, makhluk itu adalah penjaga dari goa ini. Siapa saja tidak dia biarkan mendekat ke dalam goa besar itu."
"Seperti singa yang sedang beranak saja, mencurigakan memang. Sebenarnya apa isi dari goa besar itu?"
"Nah, itu yang akan kita cari tau. Apalagi makhluk ini tidak memancarkan aura sesat. Jadi sumber aura sesat itu dari dalam goa ini. Jika penjaga pintu masuknya saja sekuat ini, maka bisa dibayangkan seberapa kuat makhluk yang menjadi tuannya," ucap Suro sambil membentuk simbol tangan beberapa kali.
Suro tidak melanjutkan ucapannya, dia lalu memanggil salah satu penjaga gaib miliknya, yaitu Purbangkara. Penjaga gaib penguasa unsur api itu setelah muncul lalu melesat ke arah Kirin Neraka.
Purbangkara yang muncul dengan tehnik perubahan api biru disekujur tubuhnya menerobos semburan api dari Kirin Neraka. Api tahap merah yang disemburkan tidak digubris oleh Purbangkara.
Braaak!
Hantaman keras terdengar saat makhluk itu dipukul secara telak oleh Purbangkara.
Setelah memanggil Purbangkara, Suro lalu memanggil satu lagi penjaga gaib miliknya, yaitu Tirtanata. Penjaga gaib penguasa unsur air itu juga langsung melesat menerjang ke arah Kirin Neraka.
"Badai es kutub Utara!"
Jurus itu sebenarnya merupakan ilmu milik musuh Suro yang sebelumnya pernah bertempur dengannya. Namun berhasil ditiru dan digunakan oleh penjaga gaib miliknya.
Dengan kekuatan penuh Tirtanata menyerang menggunakan tehnik perubahan es tingkat tinggi itu. Serangan dari telapak tangannya berhasil menghantam tubuh Kirin Neraka.
Serangan dua penjaga gaib milik Suro akhirnya berhasil melemparkan tubuh hewan itu menghantam dinding tebing.
Pertempuran yang singkat itu membuat Pendekar Zhang dan yang lain berdecak kagum. Mereka tidak menyangka sebegitu mudahnya pemuda itu mengalahkan hewan legenda yang begitu ditakuti.
Pecahan tubuh Suro sebenarnya tetap menjadi sesuatu yang tidak dapat mereka percaya. Mereka tidak menyangka pemuda itu memiliki ilmu yang sehebat itu.
Selama ini tidak ada yang berani mendekat ke arah gunung Luoyang. Tentu saja karena keberadaan Kirin Neraka yang menjadi penjaganya.
Itu juga yang menjadi alasan dari Pendekar Zhang saat menjelaskan kepada Suro sewaktu di kota Luoyang. Menurut perhitungannya dengan menggunakan ilmu Tao, tanda-tanda alam menunjukkan kekuatan yang berisi hawa sesat yang pekat sedang berada di sebelah selatan dari kota Luoyang.
Setelah mengikuti petunjuk yang ada dia memiliki kesimpulan, jika tempat yang penuh dengan hawa sesat kegelapan berada di gunung Longmen. Karena menurut cerita didalam goa itu ada telur dari benih iblis yang tak terhitung jumlahnya.
Tetapi selama itu tidak pernah ada yang mencoba memasuki goa besar yang menjadi sarang dari hewan yang memiliki kekuatan tehnik perubahan api.
Alasan itulah yang menggiring Suro penasaran untuk membuktikan ucapan Pendekar Zhao, apalagi dia juga tidak mengetahui keberadaan Pasukan Elang Langit.
Karena itulah dia memutuskan seluruh pasukan yang ikut bersamanya menuju arah yang berlawanan dengan pasukan yang dipimpin Jendral Yuwen Huaji.
Sekarang seluruh pasukan yang ikut bersamanya menatap dari kejauhan pertempuran yang memiliki daya penghancur yang besar. Bahkan pendekar yang sudah berada ditingkat shakti saja tidak berani mendekat lebih jauh.
Dibelakang para pendekar itu, berjarak lebih jauh terlihat pasukan kekaisaran. Mereka sengaja membuat jarak cukup jauh agar tidak menjadi korban pertarungan dengan kekuatan yang sudah mencapai tingkat surga.
Pasukan Kekaisaran dipimpin salah seorang Senopati atau seorang jendral bernama Xuan Wu bergerak bersama prajurit yang kurang lebih sekitar lima ratus tentara. Tetapi kekuatan para prajurit itu minimal hanya berada pada tingkat atas. Walaupun sebagian besar mereka sudah berada pada tingkat tinggi.
Senjata tombak panjang menjadi andalan pasukan berkuda yang berada di bagian depan. Setengah dari pasukan itu adalah pasukan pemanah.
Karena kekuatan mereka terpaut jauh dari para pendekar, sehingga sejak perjalanan mereka dari kota Luoyang, justru keberadaan para prajurit itu membuat perjalanan menjadi lambat.
Mereka mengira itu adalah akhir pertarungan, tetapi itu adalah awal dari pertarungan yang sebenarnya.
Kirin Neraka yang telah terbungkus es, mendadak secara mengagumkan meningkatkan kekuatan perubahan api miliknya dari tahap merah menjadi tahap biru. Setelah itu es yang telah membungkus tubuhnya langsung hancur.
"Luar biasa hewan ini juga memiliki kemampuan seunik ini. Sepertinya pertarungan akan berlangsung tidak semudah yang aku perkirakan!" Suro berseru terkejut melihat kemampuan Kirin Neraka.
"Purbangkara serang dengan perubahan api tahap putih!" Suro segera memberi perintah kepada penjaga gaib miliknya.
Purbangkara segera merubah api tahap putih, selain itu Suro juga memberi arahan kepada Tirtanata. Dua penjaga gaib yang memiliki tehnik perubahan yang berseberangan menyerang secara bersamaan kepada Kirin Neraka.
Serangan dua kekuatan yang berseberangan itu berusaha menghajar tubuh Kirin Neraka. Secara mengejutkan makhluk itu mampu mengelak.
Dia menyerang balik dengan energi perubahan api tingkat biru. Semburan api melabrak mengejar Tirtanata.
Kraaak!
Selagi Kirin Neraka mengejar Tirtanata, maka Purbangkara memanfaatkan kesempatan itu. Dia melesat dengan cepat dan berhasil menghantam kepala Kirin Neraka. Suara keras pukulan itu membuat tubuh hewan itu kembali terlempar ke samping.
Goooooaaaaaarrrrr!
Raungan murka dari Kirin Neraka mengelegar. Tetapi suara raungan itu berbeda dari pertama kali. Semburan api miliknya juga meningkat lebih kuat dari sebelumnya menjadi perubahan api tahap putih.
Melihat hal itu Tirtanata dan Purbangkara berubah menjadi lebih waspada, sebab kekuatan panas dari serangan itu berkali lipat dibandingkan sebelumnya.
"Apakah makhluk ini bukan hanya satu ekor saja?" Suro mengernyitkan dahi mendengar raungan Kirin Neraka.
"Memang kau pikir aku bapaknya?" Dewa Rencong yang berada disebelahnya langsung merepet mendengar pertanyaan Suro. Tatapan pendekar itu juga tidak lepas dari pertarungan yang sedang terjadi.
Suro tertawa mendengar ucapan Dewa Rencong, "tetapi paman Maung sedikit mirip! Hahaha...!"
Mahadewi tidak menahan mulutnya untuk tidak tertawa mendengar ucapan Suro. Meskipun begitu dia cepat-cepat menutup mulutnya rapat, sebab Dewa Rencong menoleh ke arah Suro dengan mata melotot.
Dewi Anggini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar gurauan Suro ditengah pertempuran.
"Apakah aku perlu membantunya bocah?" Geho Sama menatap Suro melihat pertarungan yang begitu ulet.
Suro menyuruh Geho Sama menunggu sesaat. Dia mencurigai, jika makhluk itu bukan hanya satu. Dan benar saja di saat mereka sedang menyaksikan Purbangkara dan Tirtanata mencoba menjatuhkan Kirin Neraka, muncul makhluk yang serupa dari dalam mulut goa.
"Munduuur!"
Teriakan Suro membuat semua orang mundur secepatnya.
Kali ini Suro langsung melesat maju untuk memberi waktu bagi yang lain. Terutama para pendekar yang ikut menyaksikan pertarungan cukup dekat.
Semburan api yang menerjang sanggup membuat para pendekar itu menjadi daging pangang jika tidak segera menyelamatkan diri.
Tetapi para pendekar yang sudah berada tingkat langit ke atas memilih bertahan. Mereka hanya menjaga jarak dengan terbang ke atas setinggi dua kali pohon Cemara.
Pepohonan yang sebelumnya digunakan para pendekar untuk bertengger sambil menyaksikan pertarungan telah hangus dibakar semburan Kirin Neraka.
Kecepatan serangan Kirin Neraka yang tingginya sekitar tiga meter lebih atau setinggi satu tombak tentu dapat menjangkau para pendekar yang berada tidak begitu jauh.
Buuuuk!
Tendangan Penghancur Langit milik Suro menghajar tubuh hewan itu dari sebelah kanan dengan keras. Sebelum hewan itu mampu menemukan sosok yang menghajar dirinya. Kembali Suro berpindah tempat dan telah menyarangkan tendangannya kembali dengan cukup telak.
Tubuh Kirin Neraka yang terhantam memiliki pelindung berupa sisik sekeras baja, sehingga tendangan milik Suro tidak membuat tubuh itu hancur.
"Pantas saja pukulan Purbangkara barusan tidak mampu menjebol lapisan sisiknya yang keras." Suro cukup terkejut menyaksikan Kirin Neraka kembali bangkit dan hendak kembali menyerang dirinya.
Pandangan pemuda itu menyapu ke arah para pendekar yang mencoba menyelamatkan diri dengan menjaga jarak lebih jauh. Setelah dapat memastikan mereka telah berhasil menjauh, maka dia kembali bersiap untuk menghabisi makhluk raksasa didepannya.
Gooooooaaaaaarrrrrrrr!
Tetapi kembali suara dari Kirin Neraka yang sedang berhadapan dengan Purbangkara dan Tirtanata menggerung keras menandakan, jika makhluk itu sedang terdesak dan meminta bantuan dari kawanannya.
Mendengar hal itu Suro berubah sedikit cemas dan kembali berteriak, "cepat kalian menjauh sejauh mungkin!"
Teriakan Suro tentu saja ditanggapi para prajurit kekaisaran dan para pendekar yang masih ditingkat shakti kembali saling pandang. Beruntung mereka dalam kebingungannya tetap mengikuti teriakan Suro.
Mereka semua segera berlari lebih jauh, termasuk didalamnya Mahadewi. Dia juga ikut menjauh secepatnya. Dan benar saja ucapan Suro dari mulut goa muncul dua makhluk serupa yang langsung menerjang.
Kali ini Geho Sama bersama Dewa Rencong, tetua Dewi Anggini dan juga para pendekar tingkat langit ke atas dipimpin Pendekar Zhang bergerak maju membantu Suro menghadapi dua Kirin Neraka yang baru saja muncul.