
"Kau sepertinya tidak melihat tingginya gunung Taihang Shan? Kekuatan yang kau peroleh belum mampu menjadi lawan seimbang bagiku!"
Pandangan mata Dewa Obat tertuju pada Jendral Ulangan yang telah terkapar tidak bernyawa.
Pandangannya lalu berpindah
Ke arah lain dimana pasukan kekaisaran dan para pendekar yang datang bersamanya sedang berhadapan dengan pasukan pendekar aliran hitam dan juga pasukan yang memiliki kulit hitam legam milik Khan Langit dan Kerajaan Goguryeo.
Walaupun dia sedang berada ditengah pasukan musuh, tetapi tidak seorangpun yang berani mendekat. Apalagi setelah lelaki dengan rambut panjang digelung itu berhasil menghabisi Jendral Ulagan.
Wuuusss...
Baaam!
"Sialan siapa yang berani menyerang diriku?" Dewa Obat langsung bangkit mencoba berdiri sambil menatap ke arah datangnya serangan yang tidak dia rasakan sebelumnya.
Dia segera menyadari sesuatu hal dengan wujud makhluk didepannya. Sebab itu akan mengingatkan dirinya pada Geho Sama. Selain itu dia juga segera mengetahui mengapa dirinya tidak merasakan kedatangan musuh didepannya sebelumya, sebab musuh menggunakan jurus ruang waktu.
"Kalian pasukan Elang Langit bukan?" Sambil berbicara Dewa Obat segera memanggil Gandewa Wijaya dengan isyarat tangan kanannya. Seketika itu juga muncul gandewa dan langsung tergengam dengan erat.
Tanpa basa-basi Dewa Obat segera mengerahkan jurus Janu Sahasra. Dengan jurus itu setiap panah chakra yang dia Lesatkan ke arah musuh akan memecah menjadi jumlah yang sangat banyak.
Dewa Obat mengetahui pasukan yang bersama kedatangan Roku Suzaku. Sebab jubah mereka sangat mudah dikenali. Apalagi topeng serigala yang menutupi wajahnya membuat Dewa Obat mampu menentukan kepada siapa panah chakra miliknya menyerang.
Panah chakra yang dilepaskan Dewa Obat tidak akan mampu dihindari, sejauh manapun mereka berusaha menghindar.
Pasukan Elang Langit menyadari hal itu, tetapi mereka memiliki cara tersendiri agar dapat terhindar dari serangan panah chakra milik Dewa Obat. Mereka segera membentuk mudra segel tangan sebelum panah chakra berhasil menembus tubuhnya.
Dewa Obat sempat tersenyum saat ribuan panah berhasil menancap pada tubuh lawan. Namun seketika berubah menyeringai penuh kesal.
Panah miliknya memang mengenai tubuh lawan, tetapi itu bukan tubuh yang sebenarnya. Tubuh mereka langsung berubah menjadi batang kayu kecil setiap kali panah berhasil menancap.
Sebenarnya Dewa Obat cukup takjub dengan kemampuan lawan. Dia segera menyadari ilmu ruang waktu mereka tidak sama dengan milik Geho Sama.
Dulu Geho Sama yang menghindar dengan jurus Langkah Maya saja tetap tidak mampu menghindari serangan Janus Sahasra miliknya.
Setelah beberapa kali serangannya tetap dapat dipatahkan, akhirnya Dewa Obat merubah strategi serangannya.
Roku Suzaku tidak membiarkan Dewa Obat terus menghujani dirinya dan juga bawahannya. Begitu ada kesempatan, saat dimana Dewa Obat hendak merubah strategi serangannya, maka saat itulah Roku Suzaku menyerang balik.
Beberapa kali tendangan berikut pukulan milik Roku Suzaku berhasil mengenai tubuh Dewa Obat.
"Kampret, siluman kupret!" Dewa Obat akhinya tidak mampu menutupi kekesalannya.
Tubuhnya kini dijadikan samsak oleh lawan. Bukan hanya Roku Suzaku yang menghantam tubuhnya secara bertubi-tubi, tetapi pasukan Elang Langit yang ikut mengepung juga melakukan hal yang sama.
Kekesalannya semakin menumpuk, merasakan hujan serangan terus mendera tubuhnya. Dia lalu memanggil Astra atau senjata gaib miliknya.
"Narayanastra!"
Serangan yang kali ini dikerahkan Dewa Obat adalah kumpulan berbagai senjata yang mampu menyerbu musuh sekaligus, meski sasaran berjumlah banyak.
Tetapi Pasukan Elang Langit kembali dapat mengatasi serangan Dewa Obat. Mereka segera membentuk segel tangan untuk menciptakan tubuh palsu.
Duuuum...
Duuuuum...
Hujan serangan berkekuatan besar menghujani pasukan Elang langit. Tetapi tidak satupun dari mereka yang terluka. Karena semua serangan mengerikan itu hanya mengenai tubuh palsu mereka.
Setelah semua serangan Dewa Obat mampu diatasi oleh Pasukan Langit, kembali mereka melakukan serangan balasan. Makian kekesalan Dewa Obat kembali terdengar acap kali musuhnya berhasil menghantamkan serangan ke tubuhnya.
Meskipun serangan musuh berhasil menghantam tubuhnya secara bertubi-tubi, tetapi tubuh Dewa Obat telah dilindungi energi pelindung ilmu kebal Genta Kumala.
Pencapaian ilmu Genta Kumala yang sudah mencapai tahap kesebelas membuat tendangan pukulan musuh tidak membuatnya kesakitan. Ilmu pelindung yang bersifat keras sekaligus lentur mampu meredam seluruh serangan yang menghujani tubuhnya.
Selagi pertarungan Dewa Obat yang terus diserang Roku Suzaku bersama pasukan Elang Langit yang bersamanya, pertempuran lain terus berlanjut.
Khan Langit yang mendengar ketiga jendralnya telah dihabisi semua oleh Dewa Obat, tidak mampu menutupi kemarahannya. Dia kemudian memutuskan akan memimpin pasukannya sendiri ke Medan perang.
Disamping Khan Langit berdiri Jendral keempatnya yang jarang sekali turun tangan. Menurut cerita lelaki yang selalu berada disamping Khan Langit adalah yang terkuat dari semua utusan. Dialah utusan Barat bernama Batjargal.
Khan Langit lalu memimpin pasukan miliknya terjun ke medan pertempuran langsung. Raja Yeongyang dari Kerajaan Goguryeo melihat Khan Langit terjun ke medan pertempuran, dia juga tidak mau kalah.
Dalam pertempuran kali ini gerbang utara kembali dijaga oleh pasukan Macan Hitam dan juga pasukan yang dipimpin Pendekar Feng Lei.
Jendral Yuwen Shiji masih berjibaku melawan ketua Yin Hua. Pasukan boneka yang menggempur dirinya membuat dia harus berjumpalitan tidak karu-karuan.
Serangan jarum pengunci Sukma yang mampu mengendalikan tubuh dan sekaligus mencuri kesadarannya terus dihindari. Tentu jendral itu tidak ingin terkena salah satu jarum pengunci Sukma musuhnya yang terus mengejar tubuhnya.
Jendral Yuwen Shiji semakin kerepotan. Karena dalam satu waktu bukan hanya menghindari serangan jarum pengunci Sukma milik ketua Yin Hua, tetapi dia juga harus menghindari serangan boneka manusia hidup milik ketua Yin Hua. Mereka adalah puluhan pendekar yang telah menjadi bagian dari koleksi boneka musuhnya.
Kekuatan boneka koleksi ketua Yin Hua kalah banyak, jika dibandingkan milik adiknya yaitu tetua Yin Wuya. Kesibukannya sebagai ketua mengurusi segala urusan, membuatnya jarang memiliki waktu untuk mengumpulkan pasukannya.
Beberapa koleksi miliknya justru hasil pemberian adiknya. Seperti yang sedang berusaha menyerang Jendral Yuwen Shiji dengan jurus cakar elang.
Serangan yang dilakukan boneka itu sangatlah beracun, sehingga hal terbaik yang sebaiknya dilakukan adalah jangan sampai terkena serangan lawan. Meskipun itu hanyalah goresan kecil.
"Tebasan Rembulan Merah!"
Lesatan pedang yang menghajar boneka itu begitu cepat, sehingga boneka manusia hidup itu bergerak menghindar.
"Ternyata kau masih mengingat jurus ini!"
Manusia yang dijadikan boneka oleh ketua Yin Hua, adalah seseorang yang sejak beberapa tahun lalu dia cari. Tetapi baru kali ini dia dipertemukan dalam kondisi yang membuatnya seakan ingin meraung keras.
Wanita pucat kurus kering yang terus berusaha membunuh dirinya adalah kekasihnya. Tak ada kata yang sanggup melukiskan perasaan Jendral Yuwen Shiji.
Karena alasan itulah dia tidak ingin melukai boneka manusia yang terus mencecarnya. Kemarahannya dia tujukkan kepada Ketua Yin Hua.
"Kau akan membayar berkali lipat atas apa yang kau lakukan kepada Lu Xiulan! Dan akan aku Pastikan apa yang kau lakukan karena berani memberontak kepada kekaisaran seluruh perguruanmu akan aku ratakan!"
"Tebasan Rembulan Biru!"
Tehnik pedang yang dikerahkan Jendral Yuwen Shiji merupakan penggabungan jurus pedang dan tehnik perubahan api tahap biru.
Api tahap biru ikut bersama dengan lesatan energi tebasan pedang. Lesatan tebasan pedang itu terus mengejar Ketua Yin Hua.
Tetapi ketua Perguruan Seribu Hantu itu tidak mudah dihabisi dengan mudah. Dia segera menghindar.
Jendral Yuwen Shiji tidak membiarkan musuhnya lepas. Dia terus mengejar dan tidak memberi kesempatan sedikitpun lawannya untuk bernafas. Energi pedang yang melesat begitu rapat mencecar dan berusaha mengurung ketua Yin Hua.
Boneka yang sebelumnya mengejar Jendral Yuwen Shiji kini dihadapi oleh para pasukan Macan Hitam.