SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 133 Akhir peperangan



"Tunggu sebentar ketua Dewa Pedang! Aku pernah melewati jalan ini saat mengejar siluman." Eyang Sinar Gading menghentikan langkah Dewa Pedang dan tetua yang lain.


"Ada apa tetua Sinar Gading?" Dewa Pedang menoleh ke arah Eyang Sinar Gading yang berlari persis dibelakangnya.


"Menurut saya tapak jejak mereka ini menuju hutan larangan. Jika benar, aku pernah mendekati hutan itu dan merasakan kekuatan kegelapan yang sangat pekat. Sebaiknya kita bersiap-siap jika ada serangan dari para siluman atau entah apa. Karena saat itu aku merasakan aura yang memancar lebih gelap melebihi aura para siluman."


Dewa Pedang bersama sebagian tetua bergerak mendahului pasukan besar dari Kalingga dan juga para anggota perguruan yang dibawah tingkat tinggi. Mereka bergerak cepat mengejar pasukan Medusa.


"Benar ini menuju hutan larangan. Menurut cerita disana ada kerajaan siluman yang sangat wingit. Sebaiknya memang dari sekarang harus bersiap jika Medusa melakukan serangan balik. Kemungkinan mereka meminta bantuan kepada para siluman itu!"Eyang Baurekso menambahkan perkataan Eyang Sinar Gading.


"Baguslah kita tumpas habis para siluman itu." Dewa Pedang segera melesat diikuti yang lainnya.


Setelah mengikuti jejak sampailah mereka kedalam bagian hutan larangan. Tetapi tidak seperti saat Eyang Sinar Gading pertama kali mendekati daerah hutan itu, kini dia tidak merasakan aura apapun didaerah tersebut.


Mereka terus masuk ke dalam hutan mengikuti jejak langkah pasukan Medusa, hingga sampai disebuah celah dua gunung yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah lembah cukup luas. Mereka semua terkejut saat menyaksikan pemandangan yang tak lazim terpampang dihadapan mereka semua.


Sebab dilembah yang belum lama dilewati serombongan besar pasukan, kini terhampar pakaian dan perlengkapan perang. Kemungkinan besar itu milik pasukan Medusa yang tersebar hampir diseluruh lembah itu.


"Jejak langkah semua pasukan berakhir disini, tetapi tidak meninggalkan apapun kecuali hanya segala perlengkapan perang dan pakaian mereka yang berserakan." Dewa Pedang menatap seluruh lembah itu dengan heran.


"Benar sekali ketua bahkan kuda-kuda yang mengangkut mereka juga telah ikut sirna." Eyang Baurekso menimpali perkataan ketua perguruannya


Mereka semua segera bergerak mulai memeriksa seluruh lembah itu.


"Ketua Dewa Pedang lihatlah disini!" Tetua Nguyen Poo berteriak membuat semua terkejut dan mendekat ke arahnya.


Dihadapan mereka terpampang mayat yang dalam kondisi kepalanya terpisah dari badannya.


"Siapa yang telah menghabisi Medusa dan mengambil dua bola matanya?" Dewa Pedang tertegun setelah memeriksa dan memastikan mayat itu.


Mereka semua kebingungan karena selain mayat Medusa tidak ada mayat lain yang berada dilembah itu.


"Pakaian mereka hancur seperti dirobek-robek. Disamping itu segala macam perlengkapan perang dan senjata mereka ditinggalkan begitu saja, seakan tidak dibutuhkan lagi. Kemana perginya para pasukan Medusa berada? Mengapa mereka menghilang dengan meninggalkan pakaian dan juga senjata mereka? Ini terasa sangat aneh. Jika mereka semua dibantai mengapa hanya mayat dari Medusa yang tertinggal?" Suro ikut kebingungan setelah memeriksa keganjilan yang ada di lembah itu.


"Lihatlah ini paman guru! Sepertinya ini ledakan bekas pertempuran. Ledakan ini dibuat oleh suatu kekuatan yang mampu menghasilkan panas yang tidak terkira kuatnya. Kekuatan milik siapa yang mampu melepaskan panas sekuat ini, paman?" Suro menatap Dewa Pedang yang datang menghampirinya.


"Benar sekali kekuatan ini bahkan membuat tanah liat di area yang terbakar sampai menjadi batu seperti tembikar. Kekuatan ini pasti sanggub merubah tubuh manusia menjadi abu dalam sekejab. Sebuah kekuatan yang sangat mengerikan." Dewa Pedang ikut memeriksa disekitar area yang terbakar bersama tetua lain.


" Pakaian mereka hancur seperti dirobek-robek. Tetapi anehnya tidak ada darah satu tetespun yang membasahi pakaian mereka!" Dewi Anggini yang ikut dalam pengejaran itu juga memeriksa pakaian yang berserakan hampir diseluruh lembah itu.


"Kemana perginya mereka semua paman guru?" Suro mengaruk-garuk kepalanya kebingungan dengan apa yang dia lihat.


"Apakah ini ada kaitannya dengan gurumu nakmas Suro. Karena kekuatan yang mampu membuat panas sebegitu tinggi hanya yang memiliki kekuatan setingkat dengan gurumu saja yang sanggub melakukannya!" Dewa Pedang menatap ke arah Suro.


"Nakmas Suro siapa sebenarnya dua orang yang nakmas ceritakan katanya bersama Kakang Sindu diatas awan hitam itu?" Dewi Anggini yang kebetulan berada didekat Suro segera menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sehingga membuat dirinya sangat penasaran, tentang nasib kakang Sindunya yang justru dikuasai kekuatan yang membuatnya kehilangan ingatan.


"Jika tidak salah orang itu menyebut dirinya dengan nama Batara Sarawita dan Hyang Antaga!" Suro menjawab singkat perkataan Dewi Anggini sambil mengingat-ingat perkataan musuhnya saat bertarung dengan dirinya.


"Tunggu sebentar sepertinya nama itu tidak asing, bukankah itu nama yang pernah diceritakan Dewi Anggini?" Dewa Pedang ikut menyela perkataan Suro.


"Benar nama-nama itu adalah makhluk yang diburu kakang Sindu dulu. Menurut perkataannya, mereka berdua adalah makhluk yang telah diramalkan oleh guru dari Kakang Sindu akan membuat bencana diseluruh marcapada ini." Dewi Anggini mengingat kembali perkataan Eyang Sindurogo saat dia masih di negeri asalnya. Negerinya itu berada diwilayah wei utara yang masuk dalam wilayah kekaisaran xiaojing.


"Sepertinya kita menemukan musuh yang lebih berbahaya dibandingkan Medusa. Apalagi Eyang Sindurogo berada dalam kekuasaan mereka. Tentu hal ini bisa menjadi ancaman yang sangat berbahaya." Dewa Pedang mencoba menelaah semua peristiwa yang belum lama terjadi.


"Medusa dan seluruh pasukannya telah musnah ketua, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Eyang Baurekso memecahkan keheningan diantara mereka.


Dewa Pedang tidak segera menjawab pertanyaan Eyang Baurekso dia justru menatap seluruh tetua yang ikut melakukan pengejaran pasukan Medusa.


"Kita kembali kepada peristiwa dimana semua ini berawal." Dewa Pedang berhenti berbicara dan menatap Suro sambil tersenyum.


Sebagian dari mereka mengrenyitkan dahi tidak memahami maksud dari perkataan Dewa Pedang.


"Sepertinya kita tetap kembali ke rencana awal nakmas Suro, kita akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan pergi ke alam lain. Dimana Eyang Sindurogo telah terjebak. Kemudian kini seperti kita ketahui bersama dia telah kehilangan ingatan dan juga, justru kini dikuasai dua makhluk yang sangat berbahaya. Semoga saja disana kita akan menemukan jawabannya, mengapa Eyang Sindurogo menjadi seperti itu?"


Suro menganggukan kepala mendengar rencana Dewa Pedang untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Apakah kakang Dewa Rencong bersedia ikut mencari tau apa yang telah terjadi dengan Eyang Sindurogo?" Dewa Pedang menatap Dewa Rencong yang berdiri disampingnya dengan bersedekap.


"Pergi ke alam lain ya, perjalanan itu belum pernah aku lakukan. Agaknya perjalanan ini akan mengasikan, sebuah pengalaman baru yang harus aku coba. Tentu saja aku akan ikut serta aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Selain itu, siapa lagi yang akan menjaga bocah gemblung ini selain diriku?"


Suro hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya mendengar perkataan Dewa Rencong yang ditunjukan kepadanya.


"Tetapi sebelum kita melakukan perjalanan. Sebaiknya kita meningkatkan kekuatan terlebih dahulu. Bukankah adimas selama ini ingin menembus tingkat kekuatan agar bisa sampai pada tingkat langit?"


"Benar kakang, apakah kakang mengetahui cara agar bisa menembus kekuatan itu?"


"Bukan aku yang mengetahui cara tersebut tetapi bocah ini!" Dewa Pedang berkata sambil menunjuk Suro.


Dewa Pedang terkejut mendengar perkataan Dewa Rencong seakan mengada-ada matanya menatap lekat ke arah Suro yang justru tertawa sambil mengaruk-garuk pipinya.


"Benarkah nakmas, kamu bisa melakukannya?"


"Tepatnya Suro hanya mengetahui caranya dari catatan yang dibuat oleh Eyang guru. Dia membuat itu saat dirinya berhasil mencapai tingkat langit." Suro meluruskan apa yang telah dikatakan Dewa Rencong sebelumnya.


"Selain itu aku akan mengajari bocah gemblung ini dengan kekuatan jiwa. Agar jiwanya tetap waras." Dewa Rencong melotot ke arah Suro dan dibalas Suro dengan tertawa kecil.


Dewa Pedang ikut tertawa mendengar perkataan Dewa Rencong.


Setelah itu mereka kemudian kembali ke Perguruan Pedang Halilintar, setelah kembali memastikan bahwa sisa pasukan Medusa memang benar-benar menghilang.


Note: Para pembaca novel ini tidak dilindungi YLKI sehingga tidak dapat menggadukan ke yayasan itu jika merasa tidak puas setelah membaca novel ini.


Jangankan saya yang hanya imbas karena menunggu LPN yang terasa lama, kemudian membuat novel ini. Bahkan suhu ron sang master pun tidak luput dicaci maki oleh mulut-mulut yang sekolahnya hanya dibawah pohon bambu bersama Genderuwo.


Jadi intinya jangan berharap banyak jika mengharapkan suatu tulisan yang akan membuat kalian semua puas Karena memang kwalitas penulis ini jauh levelnya dibanding para master yang masih tidak luput dari makian para reader.


Intinya saya senang menulis novel ini sebaik yang bisa saya lakukan. Tetapi jika kurang memuaskan kalian semua memang itu diluar kemampuan saya.


Terima kasih kepada semua yang tetap setia membaca dan mendukung novel ini, apapun itu bentuk dukungannya.


Semoga semua tetap dijauhkan dari covid 19. Agar bisa selamat semua melewati semua bencana yang sedang menerjang bangsa ini. Stay safe at home.