SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 313 Ledakan Pembeku



"Jadi dirimu yang menjadi pemimpin seluruh pasukan ini!" Suro langsung melesat mendekati tetua Arkados.


Suro masih mengingat jika jurus cungkup jagat yang berhasil melenyapkan Naga Taksaka dikerahkan oleh lelaki itu.


Trang!


Jurus pedang terbang yang melesat ke arah tetua Arkados berhasil ditangkis dengan menggunakan senjatanya yang cukup unik.


Senjata yang dia pakai sejatinya adalah dua bilah pedang yang dijadikan satu. Diantara dua bilah pedang itu gagangnya menyatu dengan begitu kuat. Bentuk setiap bilah pedangnya itu mirip clurit besar. Secara keseluruhan pedang besar itu hampir menyerupai bentuk huruf S.


Wung..wung...wung!


Jdaar! Jdaar!


Trang! Trang!


Pedang besar itu dapat dimainkan dengan begitu leluasa oleh tetua Arkados. Pedang itu bergerak dengan begitu cepat, karena ditompang oleh kekuatan tenaga dalam dan kekuatan fisik tetua Arkados yang begitu kekar. Ditangan lelaki itu pedang itu terasa ringan, padahal berat pedang itu sekitar tiga puluh empat kati.( satu kati setara 600 gram)


Pedang itu berputar seperti baling-baling mengejar Suro, sekaligus menangkis serangan yang menerjang ke arahnya, karena pada saat itu, untuk menahan serangan lawannya Suro menggunakan jurus pedang terbang dan jurus Sepuluh Jari Dewa mengguncang bumi secara berkesinambungan.


Hantaman sinar chakra yang menyerupai cambuk api meledak-ledak menghantam bilah pedang yang digunakan tetua Arkados. Setelah beberapa kali pedang miliknya beradu dengan Pedang Kristal Dewa, lelaki itu segera menyadari kekuatan pedang lawan.


Padahal pedang andalannya itu setingkat pedang langit. Itu artinya selama hidup tidak ada sekalipun bilah pedang lawan dapat menahan serangan miliknya.


Namun kali ini pedang milik tetua Arkados mendapatkan lawan yang tangguh. Sebab setelah berbenturan beberapa kali, pedang itu mengalami retakan halus, bahkan beberapa tempat terlihat rompal.


Di awal serangan dia cukup percaya diri dengan bilah pedang miliknya. Meskipun sebelumnya dia melihat sendiri, bagaimana Suro mampu dengan mudah berkali-kali memutuskan pedang lawannya.


Pedang milik bawahannya itu seakan hanya terbuat dari kayu, sebab begitu mudahnya putus hanya dalam sekali tebas. Kepercayaan dirinya yang terlalu besar telah membutakan matanya. Sehingga dia masih mempercayai, jika kekuatan pedang miliknya mampu mengimbanginya.


Kejadian pedang terputus oleh tebasan pedang bukan sesuatu yang mencengangkan. Sebab dalam setiap pertempuran yang dilalui tetua Arkados, pedang miliknya mampu melakukan hal itu. Tetapi kali ini, kejadian seperti itu agaknya akan menimpa dirinya, jika dia tetap bertahan melawan musuh.


Dia mulai ketakutan, karena pedang yang digunakan Suro terlalu kuat untuk dilawan. Apalagi kombinasi jurus yang digunakan Suro begitu rumit. Ditambah jurus ruang dan waktu yang mampu berpindah dengan cepat.


Pada awal pertempuran tetua Arkados sebenarnya berniat merebut pedang yang mampu bergerak seakan memiliki pikiran sendiri itu. Sebab pedang itu memang terbang melesat secara cepat dan begitu mudahnya membabat dan menembus tubuh lawan, seakan sesuatu yang sangat empuk dan mudah ditembus.


Sebelum menghadapi Suro secara langsung, tetua Arkados sudah dapat mengira-ira, jika pedang itu memiliki kwalitas yang tidak jauh berbeda dengan miliknya. Tetapi kini dia dapat mengukur, jika pedang itu memiliki kwalitas jauh lebih tinggi dibandingkan pedang kebanggaan miliknya.


Apalagi saat melihat kemampuan pedang itu membelah tubuh kelabang raksasa yang mencoba menyerang Suro. Tubuh itu dapat dibelah seperti membelah tahu.


Kejadian yang dia lihat itu menambah kengerian dirinya dan membuang jauh-jauh keinginannya untuk menguasai pedang tersebut.


'Sialan, aku tidak mengira kemampuan bocah ini begitu mengerikan, mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Sindurogo selalu hal yang sangat mengerikan,' tetua Akados merutuk dalam hati, sambil mencari cara untuk lepas dari tekanan serangan balik Suro yang menggempur dirinya dengan begitu hebat.


Akhirnya dia memilih meminta bantuan pasukannya untuk memecah konsentrsi lawannya dengan memerintahkan mereka untuk kembali menyerang Suro.


"Apa yang kalian tunggu? Serang bocah ini! Apa kalian ingin melihatku mati?"


Demi mendengar perintah tetua Arkados, serentak pasukan yang memiliki tanduk dikepalanya itu kembali menyerang dan mengepung Suro dari berbagai arah.


Walaupun pasukan yang dipimpin olehnya itu memiliki kecerdasan, tetapi ada akibat lain setelah menyerap hawa kegelapan. Kekuatannya yang meningkat ikut mengikis sifat manusia.


Salah satunya adalah rasa takut yang dimiliki anggota Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan telah lenyap, tentu selain sifat mereka yang menjadi begitu buas. Mereka menyerang tanpa memikirkan kembali, bahwa baru saja puluhan rekannya telah dibantai dan dikirim ke dalam dimensi dimana para lebah iblis tinggal.


Mereka para manusia yang memiliki tanduk dikepalanya, sebenarnya bukan lawan yang lemah. Sebab rata-rata telah berada ditingkat langit.


Namun mereka bertemu lawan yang cukup tangguh. Usaha mereka untuk mengepung Suro selalu gagal, karena jurus ruang dan waktu miliknya.


Perpindahan tempat yang cepat dan sulit ditebak, membuat mereka dengan mudah dihabisi oleh Suro. Apalagi permainan pedang terbang yang digabungkan tehnik tapak Dewa Matahari telah membuat mereka kerepotan.


Satu per satu tubuh mereka menghilang setelah berhasil dibantai oleh Suro.


Di tempat yang tidak begitu jauh, empat Penjaga gaib milik Suro ikut bertarung melawan anggota dan para tetua dari Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan. Beberapa dari para Ashura itu justru sibuk bertarung melawan makhluk kegelapan.


Keadaan itu segera menyadarkan tetua Arkados untuk mengatur siasat. Dia hendak membantai para Ashura milik Suro terlebih dahulu. Sebab jika para makhluk penjaga gaib milik Suro dilukai, maka kekuatan jiwa pemiliknya akan menjadi lemah. Minimal konsentrasi pemuda yang menjadi lawannya akan terpecah.


"Tetua Ozgur! Panggil para Shurala sebanyak-banyaknya untuk menghadapi Ashura milik pemuda ini! Perintahkan juga Basu Geni para kadal yang menguasai api untuk menghabisi makhluk yang berbentuk naga biru itu!" tetua Arkados sengaja berteriak setelah dapat mundur sejenak, sebab pasukan miliknya telah membuat Suro cukup sibuk menahan serangan mereka.


Tetua Arkados menargetkan Tirtanata, karena pada formasi serangan Segoro geni yang dilakukan sebelumnya berhasil dipatahkan oleh Naga biru itu.


Basu Geni yang disebutkan tetua Arkados adalah para kadal api yang sebelumnya pernah dihadapi Suro. Sedangkan para Shurala adalah untuk menyebut makhluk kegelapan secara keseluruhan.


Nama shurala sendiri dalam bangsa turk adalah untuk menyebut salah satu jenis iblis hutan. Dia menyebut itu, karena bentuk dari makhluk kegelapan memang sejenis Bhuta kala yang telah bersatu dengan berbagai makhluk yang telah diracuni hawa kegelapan.


Tetua Ozgur segera melaksanakan perintah dari tetua Arkados. Karena dia memiliki kemampuan khusus yang dapat menundukan para Shurala.


Dia kemudian memanggil para Shurala untuk berdatangan ke goa besar yang sebelumnya dibuat secara sengaja oleh Suro. Panggilan tetua Ozgur seperti panggilan hewan peliharaan oleh tuannya.


Makhluk kegelapan yang berdatangan dari berbagai sisi segera bergerak mengepung empat Penjaga gaib milik Suro yang disebut sebagai sebangsa Ashura oleh tetua Arkados.


Seperti sekarang, Tirtanata sang Naga biru yang kini telah dikepung dari berbagai arah oleh makhluk bernama Basu Geni yang memiliki bentuk seekor kadal. Tetapi seluruh tubuhnya diselimuti kobaran api merah.


Siasat yang dilakukan tetua Arkados akhirnya memancing Suro untuk bertindak, sebab dia segera menghilang berpindah tempat menggunakan Langkah maya miliknya.


Dia menghilang dari tempatnya semula ditengah kepungan musuh yang dipimpin tetua Arkados. Suro kemudian berpindah menuju ke arah Tirtanata.


Suro bergerak cepat, karena merasakan bahaya jika membiarkan Tirtanata diserang oleh musuh yang pernah dia hadapi itu. Apalagi jumlahnya sangat banyak.


Kekuatan makhluk yang bernama Basu geni itu cukup merepotkan. Karena itulah dia akan bertempur bersama Naga Biru. Dan benar saja, saat Suro baru muncul dan berdiri diatas kepala Naga Biru para makhluk berbentuk kadal itu langsung menyerang.


"Makan serangan kami ini anak manusia!" Seekor kadal yang paling besar berbicara selayaknya manusia.


Kemungkinan dia adalah pemimpin para kadal api itu. Tetua Ozgur sendiri sedang sibuk memimpin pasukan Shurala yang sedang mengepung tiga penjaga gaib lainnya.


Para pasukan dari Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan memilih menyingkir. Mereka tidak ingin terkena imbas pertarungan para raksasa. Karena itu mereka berpindah menyerang Geho sama bersama sembilan tubuh ilusinya.


"Putaran Pillar Api Neraka!"


Goooooaaarrr!


Kadal api itu secara serempak melontarkan api besar dari dalam mulutnya. Semburan api itu bergerak memutar membentuk tornado api yang menggurung mereka berdua.


Suro segera mengerahkan jurus Naga Taksaka untuk menghadapi api dengan api.


Begitu juga Tirtanata tidak membiarkan musuh menyerang dengan begitu mudah dia segera mengerahkan tehnik perubahan air miliknya.


Wuuus!


Suuuuur!


Kraaaakk!


Air langsung muncul dari bawah kaki Naga Biru. Air yang jumlahnya tak terkira memancar dengan begitu deras melesat mencoba menghalangi putaran tornado api. Setelah itu dengan cepat berubah menjadi gunung es.


Naga Taksaka yang dikerahkan Suro melesat menuju lawan, sambil membawa serta api yang baru saja dikerahkan lawan.


Naga Taksaka yang dikendalikan Lodra berhasil memperkuat dirinya dengan menarik kobaran api milik lawannya menjadi bagian tubuhnya. Kejadian tersebut tidak disangka sama sekali oleh lawannya. Mereka tidak mengetahui jika itu dilakukan oleh sang penguasa api hitam Lodra yang agung.


Basu Agni lalu menyemburkan api dari mulut mereka dengan lebih dahsyat. Semburan api itu menggulung tubuh Naga Taksaka. Sedangkan sebagian Basu Agni yang lain mengerahkan semburan api itu untuk menghancurkan gunung es yang diciptakan Tirtanata.


Jumlah Basu Agni yang mengepung mereka lebih dari dua lusin. Saat sebagian kadal api itu terfokus pada serangan yang dilakukan Naga Taksaka, maka Tirtanata memanfaatkan celah tersebut.


Bldaaar!


Gunung es yang menjulang itu mendadak meledak dan berubah menjadi ribuan pasak es dengan berbagai ukuran yang tidak terhitung jumlahnya. Semuanya melesat ke arah makhluk berbentuk kadal yang diselimuti api.


Craaash! Craaash! Craaash!


Hujan serangan yang dilakukan Tirtanata hanyalah pembuka, serangan sebenarnya adalah jurus pedang terbang milik Suro bersama Naga Taksaka yang kobaran api hitamnya semakin membesar. Sebab dia kembali menyerap serangan lawan yang mencoba memusnahakn tubuhnya.


Pedang terbang yang diiringi Naga Taksaka melesat dengan sangat cepat dalam sekejap lebih dari tujuh ekor Basu Geni berhasil dipotong. Setelah berhasil diserang oleh Suro, maka Tirtanata menggunakan perubahan es miliknya untuk mencegah mereka dapat memulihkan diri.


Suro lalu mengirim tubuh Basu Agni yang telah dicincang olehnya masuk kedalam Tuskara Deva atau dimensi dimana para lebah iblis tinggal.


"Kalian ingin melukaiku dengan cara menyerang para Penjaga gaibku, jangan bermimpi!"


Setelah menyadari strategi musuh Suro juga memperingatkan Gagak setan. Karena wujud sembilan tubuh ilusinya adalah bagian dari pecahan jiwa miliknya.


Duuuum!


Wuuuuus!


Kraak! Kraak! Kraak!


Tirtanata segera mengerahkan "jurus Ledakan Pembeku". Angin kuat yang menghempas dari serangan Tirtanata menjadi kunci serangan itu.


Angin itu membekukan apapun yang dilewatinya dengan sangat cepat. Bahkan seluruh area dimana bertempuran itu berlangsung telah anjlok ketitik beku.


Dalam radius tidak kurang dari empat tombak seluruh musuh yang berupa kadal api terperangkap dalam balokan es.


Blaar! Blaar! Blaar!


Suro segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mengakhiri riwayat para kadal api. Musuh yang mengelilingi Tirtanata dan Suro berhasil dihabisi dengan menggunakan jurus sejuta tebasan pedang.


"Tubuh kalian akan menjadi bahan yang bermanfaat untuk menghasilkan Sarkara Deva." Setelah berhasil membantai musuhnya dengan jurus pedangnya, Suro segera mengirim semua bangkai kadal api masuk ke dalam Pusaka Sarang Lebah iblis.