
”Ada apa Geho sama?" Eyang Sindurogo merasa Geho sama menemukan sesuatu yang ganjil.
"Kekuatan sihir ini memiliki tingkat kekuatan surga. Pantas saja kekuatan milikku tidak mampu menembus formasi sihir ini, apalagi jangkauannya sangat luas. Apakah tuan guru tau sihir ini milik siapa? Karena aku merasa pernah mengenal tehnik sihir ini, jika tidak salah sihir ini milik Raja Siluman Lebah iblis. Tetapi aku terkejut dengan kekuatannya yang meningkat sampai ditingkat surga."
"Raja Siluman itu dulu pernah kabur bersama setengah pasukannya, jadi aku masih ingat dulu kekuatannya tidak sekuat ini. Aku tak menyangka dia kabur ke wilayah ini. Beruntung aku waktu itu berhasil merebut pusaka andalannya dan menaklukkan Ratu lebah iblis dan setengah pasukannya."
"Jadi begitu, pantas saja waktu itu aku sampai terjebak formasi sihir ini selama hampir satu purnama. Dengan kekuatan formasi sihir sekuat itu apakah artinya dirimu sanggup menghancurkan formasi sihir ini, Geho sama?"
"Tentu saja tuan guru. Hanya saja aku masih penasaran dengan peningkatan kekuatan siluman ini. Apakah siluman Raja Lebah iblis ini juga menyerap kekuatan kegelapan atau dia mendapatkan tumbal manusia yang sangat banyak untuk meningkatkan kekuatannya?"
"Menurutku kemungkinan siluman ini mendapatkan kekuatannya karena tumbal yang sangat banyak. Karena formasi sihir ini sudah ada sejak lama. Dan itu artinya kabar tentang sembilan siluman yang menjadi pelindung perguruan ini benar adanya, " ujar Eyang Sindurogo sambil menatap ke segala penjuru hutan.
Sejak kedatangannya di hutan itu, eyang Sindurogo menjadi begitu penasaran untuk memecahkan formasi sihir yang telah membuat dia terjebak dan kesulitan untuk keluar. Karena kekuatan formasi itu membuat siapapun yang telah berada dalam formasi itu akan dibuat kebingungan dan berputar-putar tanpa ada akhirnya.
"Memang benar seperti ucapan tuan guru, jika sihir ini adalah hutan ilusi. Meskipun sihir ini sangat kuat, namun aku tau cara mematahkannya. Sihir ini menggunakan mantra sihir yang ditanam di dua tempat yang berseberangan. Seharusnya mantra itu berada diatas dua tempat yang cukup tinggi agar jangkauan sihir ini mencapai radius yang sangat jauh."
"Meskipun prinsip sihir ini begitu mudah, namun sihir ini tidak bisa dihancurkan, jika tidak dilakukan secara bersamaan."
"Baiklah kita bagi menjadi dua kelompok. Aku akan bersama paman Salya dan dirimu bersama eyang guru, Geho sama. Kita akan menghancurkannya secara bersamaan. Seharusnya kondisi kita yang memiliki kesadaran yang sama dapat melakukan hal tersebut." Mendengar penjelasan Geho sama barusan, Suro segera memberi usul.
"Benar sekali yang dikatakan angger Suro kita bagi menjadi dua kelompok. Salah satunya agar bisa saling melindungi," eyang Sindurogo membenarkan pendapat Suro.
"Dua tempat yang paling tinggi disekitar hutan ini seharusnya digunung yang ditimur dan yang dibarat itu. Bukankah itu saling berseberangan." Dewa Rencong juga ikut berbicara mencoba memecahkan formasi sihir hutan ilusi.
**
Setelah Geho sama memberi tahukan ciri-ciri benda yang akan mereka hancurkan, tidak beberapa lama kemudian mereka mulai bergerak menjadi dua kelompok.
Suro bersama Dewa Rencong bergerak ke arah gunung yang berada disebelah timur. Sedangkan Eyang Sindurogo bergerak bersama Geho sama menuju arah barat.
Setelah beberapa saat Suro mencari di gunung sebelah timur, akhirnya dia menemukan sesuai apa yang diceritakan Geho sama.
'Kami sudah menemukan batu mantra, apakah dirimu sudah menemukan di bagian barat, Geho sama?' Setelah menemukan benda yang dimaksud, Suro segera bertanya kepada Geho sama melalui alam kesadarannya. Dia dapat menemukan dengan cepat karena Suro menggunakan tehnik perubahan tanah miliknya.
'Belum tuan Suro aku masih mencarinya digunung ini. Aku akan memberitahukan kepada tuan jika sudah menemukannya.' Geho sama bergerak cepat bersama eyang Sindurogo menelusuri gunung sebelah barat. Mereka berdua berloncatan diantara pepohonan dan semak untuk menemukan batu mantra yang ditanam disalah satu sisi dari gunung itu.
"Akhirnya aku menemukannya tuan Suro!" Geho sama menatap ke arah batu hitam yang tertanam di dekat puncak gunung.
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan batu besar ini?" Eyang Sindurogo menatap batu didepannya sambil menggaruk-garuk pipinya. Dia tidak merasakan sesuatu yang istimewa dengan bentuk batu tersebut, kecuali mantra yang terukir dipermukaannya.
"Kita akan menghancurkannya tuan guru."
"Hanya begitu saja."
"Benar hanya begitu saja, setelah itu kita akan dapat melihat hutan ini seperti yang seharusnya. Dan dapat menemukan perguruan yang sedang kita cari." Geho sama kembali memastikan batu hitam itu sebelum menghancurkannya.
Setelah memberitahukan kepada Suro, maka mereka berdua mulai menghitung agar saat memukul mereka dapat berbarengan.
Braaak!
Dengan sekali pukul batu hitam itu hancur berantakan.
"Apakah dengan cara yang begitu mudah, akhirnya kita berhasil menghancurkan formasi sihir ini?" Eyang Sindurogo masih kurang puas dengan jawaban Geho sama sebelumnya. Karena formasi sihir itu eyang Sindurogo harus rela berhari-hari tersesat didalam hutan tanpa bisa keluar.
"Ya, begitu saja,"
Eyang Sindurogo penasaran dengan ucapan Geho sama. Tempat dimana mereka berada cukup tinggi, sehingga dia dapat mengamati kesegala arah dengan mudah. Karena itu dia segera membuktikan ucapan Geho sama, pandangannya segera menyapu kesegala arah.
Akhirnya dia menemukan dimana perguruan Sembilan Selaksa Racun berada. Tempat pertama kali mereka muncul, ternyata berada tidak jauh dari pintu gerbang utama menuju perguruan yang mereka cari. Gerbang utama itu berada ke arah utara berjarak sekitar empat ratus tombak.
"Benar juga apa yang kamu katakan Geho sama, ternyata semudah ini menghancurkan formasi sihir ini. Kita akhirnya berhasil menemukan Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Baiklah sebaiknya kita berkumpul kembali. Katakan kepada Angger Suro kita berkumpul ditempat sebelumnya. Kita harus segera bergerak, karena aku yakin mereka akan segera menyadari jika formasi sihir hutan ilusi telah berhasil kita patahkan."
Geho sama sebenarnya masih penasaran. Dia merasakan keganjilan setelah berhasil menghancurkan batu mantra. Eyang Sindurogo yang hendak bergerak meninggalkan tempat itu kembali berhenti saat melihat Geho sama masih saja berdiri ditempat itu sambil menatap dengan waspada ke arah batu mantra yang telah dihancurkannya.
"Ada apa Geho sama?"
"Kalian semua bersiaplah, di dalam batu mantra ini diperkuat dengan jebakan lain, yaitu Formasi Sihir Hantu Kutukan. Aku yakin ini sihir milik Hantu Laut." Saat itu Geho sama bukan hanya berbicara kepada eyang Sindurogo, tetapi dia juga sedang memberitahu Suro mengenai hal tersebut.
"Sebentar lagi kalian akan tau."
Sesuai dengan ucapan Geho sama beberapa saat kemudian dari tempat dimana batu hitam hancur, mendadak tanah itu bergerak semakin naik dan mulai membentuk wujud tubuh dua manusia.
Setelah wujud manusia yang muncul itu terbentuk sempurna, maka eyang Sindurogo segera menyadari sesuatu yang sangat mengejutkan. Dia berkali-kali mengusap-usap matanya seakan tidak mempercayai dengan apa yang dia lihat.
"Apa ini Geho sama?" Eyang Sindurogo menatap kedua wujud yang muncul itu dengan waspada.
Sebab dua wujud itu kini memiliki tubuh dan wajah yang menyerupai mereka. Bahkan pakaian yang mereka gunakan juga ditiru. Ditempat lain Suro maupun Dewa Rencong juga mengalami hal yang sama.
"Sedari tadi aku sudah merasa ada yang salah saat aku menghancurkan mantra sihir itu, karena terasa mudah. Sebab tidak ada satupun yang menjaganya."
Semua wujud yang muncul, setelah terbentuk sempurna, maka mereka mulai bergerak menyerang ke arah mereka semua.
"Hati-hati tuan guru meskipun mereka makhluk sihir, namun mereka tidak mudah dihadapi." Geho sama yang saat itu bersiap menghadapi musuh yang menghampiri dirinya masih mencoba memperingatan eyang Sindurogo yang justru melesat ke arah musuh.
"Tidak mudah apanya, seberapa kuat mereka menahan kekuatan surgaku?" Eyang Sindurogo menerjang dengan menghantam wujud yang menyerupai dirinya.
Blaaar!
Ledakan cukup kuat terjadi saat kekuatan pukulan tangan kosong milik eyang Sindurogo beradu dengan kekuatan musuh yang melawannya dengan pukulan tangan kosong juga. Padahal saat itu eyang Sindurogo sudah menggunakan sepersepuluh kekuatan miliknya untuk menyerang tiruannya.
"Tidak mungkin, bagaimana makhluk ini mampu menahan kekuatanku?" Eyang Sindurogo terpental saat dua pukulan itu bertemu. Dia segera mundur ke arah Geho sama.
"Sudah aku katakan mereka tidak mudah dihadapi." Geho sama menjawab dengan tertawa. Walaupun saat itu dia juga sibuk menghadapi wujud yang juga menyerupai tubuhnya
"Aku masih penasaran seberapa kuat makhluk ini?" Eyang Sindurogo kemudian menghilang dan muncul di hadapan makhluk yang menyerupainya.
Kali ini dia menyerang dengan menggunakan pedang cahaya yang keluar dari ujung jari telunjuk. Dia kembali dikejutkan dengan kemampuan tiruannya. Sebab makhluk tiruan itu kembali menghadapinya dengan kemampuannya sama persis seperti yang dia kerahkan.
"Geho sama bagaimana dia mampu memiliki kekuatan yang sama persis seperti milikku?" Eyang Sindurogo terus menyerang tiruannya dengan ilmu pedang dengan keahlian tingkat tinggi. Tetapi dengan kemampuan yang mengagumkan, makhluk tiruan itu dapat mengimbanginya. Bahkan beberapa kali dia justru dapat menyerang balik.
"Mereka bukan hanya meniru tubuh kita, tetapi mereka juga memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama persis dengan milik kita," Geho sama menjawab pertanyaan Eyang Sindurogo yang terlihat mulai keteteran dengan serangan balik penirunya.
"Lalu bagaimana kita dapat mengalahkan mereka?" Serangan pedang cahaya eyang Sindurogo yang berhasil ditiru, akhirnya dia rubah dengan tehnik yang lain dengan menggunakan jurus pertama dari tapak Dewa Matahari, yaitu sepuluh jari dewa mengguncang bumi.
Sepuluh sinar yang muncul dari setiap ujung jarinya menghajar tiruannya dengan sangat cepat seperti putaran tornado. Namun makhluk itu juga mengerahkan jurus yang sama dengan kekuatan dan juga kecepatan yang justru lebih unggul.
Beberapa sabetan sinar yang dikerahkan hampir saja memenggal kepalanya.
"Kurang ajar, makhluk sialan!"
"Geho sama! Gagak seeeeettaaaan! Bagaimana cara mengalahkan makhluk ini?" Eyang Sindurogo berteriak dengan semakin kesal.
"Manusia sinting, berisik sekali kalian semua! Apa kalian tidak melihat jika aku juga kebingungan menghadapi makhluk tiruan ini?" Geho sama menjawab dengan kesal, karena Suro dan eyang Sindurogo bertanya kepadanya secara berbarengan.
Seperti ucapan Geho sama dia memang cukup kewalahan menghadapi makhluk tiruan itu. Sebab lawannya juga dapat mengerahkan ilmu dan kemampuan yang sama persis dengan apa yang dia miliki.
Kemampuan Langkah Maya maupun tubuh ilusi dengan mudah dapat ditiru, bahkan dengan langkah Maya itu lawannya dapat memprediksi di sebelah mana dia akan muncul. Serangan balik dari lawannya membuat luka dalam pada tubuh Geho.
Jurus sembilan tubuh ilusi dia tarik kembali, setelah menjadi senjata makan tuan. Sebab lawannya juga memecah menjadi sembilan tubuh ilusi. Geho sama akhirnya kebingungan sendiri melihat tubuhnya menjadi begitu banyak. Saat dia lengah, musuhnya memanfaatkan kondisi itu.
Akhirnya Geho menjadi bulan-bulanan lawannya. Bahkan setelah tubuhnya dihantam lawannya dengan sangat keras, membuatnya harus terpental dan menabrak pohon besar hingga rubuh.
Kondisi eyang Sindurogo yang berteriak kepada Geho sama bukan tanpa alasan, sebab baru pertama kali ini dia menghadapi lawan yang cukup membingungkan dan merepotkan. Sebab dia merasa lawan yang dihadapi, seperti melawan dirinya sendiri. Namun dengan kekuatan dan kecepatan yang lebih unggul.
Setelah jurus pertama dapat dipatahkan oleh lawannya, akhirnya dia kembali memutuskan mengubah tehnik serangannya. Kali ini eyang Sindurogo menggunakan jurus kedua Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran dia hendak menghancurkan tubuh lawannya dengan serangannya kali ini.
Namun musuhnya seperti sebelumnya dapat dengan mudah memprediksi gerakan eyang Sindurogo. Makhluk tiruan itu segera membalas serangan pendekar itu dengan jurus yang sama persis. Serangan itu berjarak sangat dekat tidak lebih dari satu depa.
Bldaaar!
Setelah dua kekuatan tingkat surga itu beradu, maka ledakan besar kembali terjadi. Ledakan itu membuat tubuh mereka berdua terpental cukup jauh.