SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 175 Maung berjumpa Paman Maung



"Paman guru? Ternyata sudah selesai latihannya!" Suro kaget dengan kehadiran Dewa Pedang, setelah merasakan ada sesuatu yang bergerak diatas tanah dua tombak dibelakangnya.


Suro menyadari kehadiran Dewa Pedang sebelum yang lain tau. Karena Dewa Pedang datang tanpa suara, seakan hantu yang datang. Mereka tidak menyadari kedatangannya entah muncul dari arah mana. Suro langsung menjura ke arah sosok yang barusan datang itu.


"Bagaimana kabarnya nakmas?" Dewa Pedang tersenyum ke arah Suro.


Dewa Pedang setelah selesai membahas persiapan untuk misi ke Karang ampel dengan para tetua, dia kemudian datang untuk menemui Suro. Dia sengaja datang tanpa menggunakan kuda, tetapi sengaja menjajal kekuatannya yang baru.


Mahadewi, Made Pasek, Kolo Weling langsung menjura begitu mendengar suara Dewa Pedang barusan.


"Sejak kapan paman guru menyelesaikan latihan tertutupnya?" Suro segera mendekat ke arah Dewa Pedang.


"Baru tadi pagi kita menyelesaikan latihannya. Paman sengaja datang ke sini untuk bertemu nakmas Suro berbicara mengenai rencana kita ke Karang ampel."


Suro terlihat menganggukkan kepala mendengar penjelasan Dewa Pedang barusan.


"Aku sudah berbicara dengan para tetua dan juga kakang Udan Asrep. Kemungkinan yang ikut kesana adalah nakmas, paman sendiri, dan kakang Dewa Rencong. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada tetua lain yang akan ikut. Menurut kakang Udan Asrep, tetua Dewi Anggini katanya juga ingin bergabung. Namun paman belum memastikannya, karena dia masih latihan tertutup juga."


"Paman sengaja tidak membawa serta orang yang banyak. Karena kita tidak mengetahui situasi dan kondisi di dalam alam itu. Selain itu akan sangat merepotkan jika bergerak dalam jumlah yang banyak."


"Kita akan bahas masalah ini, setelah kakang Dewa Rencong hadir." Dewa Rencong menutup pembicaraan mengenai rencana ke Karang Ampel.


Kini pandangannya menatap ke arah lain dimana Mahadewi, Kolo weling, dan juga Made Pasek sedang berdiri ditengah tanah lapang didepan sebuah bangunan.


Mereka semua sekarang sedang berkumpul diatas bukit yang sebelumnya oleh Suro dibangun dinding yang cukup tinggi. Entah siapa yang memberitahu Dewa Pedang, jika Suro memilih tinggal diatas bukit dibelakang kediaman Kolo weling.


"Jika tidak salah tebak, apakah kalian sedang belajar ilmu pedang? Tetapi cara berlatih kalian kenapa agak unik? Memang jurus pedang apa yang sedang kalian coba pelajari?" Dewa Pedang menatap mereka bertiga sambil menyipitkan matanya.


Dia agak kebingungan melihat cara mereka belajar jurus pedang. Sebab pedang yang seharusnya digenggam itu justru ditancapkan ditanah berjarak satu depa dari tempat mereka bertiga berdiri.


Mereka bertiga tercekat mulutnya, karena kebingungan untuk menjelaskan kepada Dewa Pedang mengenai jurus yang sedang mereka pelajari.


"Ini jurus gubahanku paman guru. Jurus ini sebenarnya menggunakan sepuluh bilah pedang paman. Tetapi sudah setengah purnama mereka belum mampu mengerakkan satu bilah pedangpun."


"Mengapa mereka tidak segera mengambil dan memegang ditangan saja? Mengapa mereka sedari tadi, justru hanya menunjuk bilah pedang sambil mengoyangkan telunjuknya naik turun?"


Dewa Pedang menggaruk kepalanya. Dia yang seorang ahli pedang baru kali ini melihat orang belajar ilmu pedang dengan cara yang tidak biasa itu. Berdiri didepan pedang yang tertancap dengan satu tangan menunjuk ke arah bilah pedang itu.


"Hahahaha...!" Suro segera menyadari apa yang dilakuka tiga orang itu terlihat lucu.


"Sebenarnya mereka hendak melakukan gerakan seperti ini paman guru!" Dari jarak dua tombak dari mereka bertiga, Suro menggerakan tiga jari tangannya ke arah tiga bilah pedang yang tertancap itu.


Tiga bilah pedang yang tertancam ditanah langsung tercabut dan melesat ke atas secara berbarengan dan berputar-putar di atas Suro mengikuti gerakan jemarinya. Kemudian pedang itu kembali melesat dan menancap ketempat semula.


"Ternyata jurus ini yang sedang mereka pelajari. Sejak nakmas menggunakan berpuluh-puluh pedang itu aku sebenarnya ingin bertanya kepada nakmas bagaimana bisa mendapatkan ide seperti itu?"


"Gagasan jurus ini diciptakan berdasarkan jurus tujuh pedang terbang milik perguruan cabang yang ada di Blambangan. Tetapi aku kembangkan sendiri melalui kitab Tapak Dewa Matahari."


"Kitab itu sebenarnya milik sebuah perguruan penganut ilmu racun." Suro kembali melanjutkan penjelasannya.


"Aku ingat sekarang, itu adalah ilmu yang berasal dari perguruan sembilan selaksa racun dari negeri champa. Aku tidak menyangka, jika jurus itu ternyata bisa dipadukan dengan ilmu pedang." Dewa Pedang langsung teringat ilmu andalan yang dimiliki perguruan aliran hitam yang ada di negeri Champa.


"Jurus dua taring dan delapan tangan laba-laba pada prinsip dasarnya hampir menyerupai tehnik jurus sepuluh jari dewa mengguncang bumi. Sebab dalam jurus itu menggunakan chakra kecil diujung jari."


Suro kemudian menjelaskan secara gamblang kepada Dewa Pedang.


"Luar biasa, sepertinya aku juga tertarik dengan jurus itu." Dewa Pedang terlihat menggeleng-gelengkan kepala dengan kagum


"Aku juga ikut!" Mendadak dari arah didekat depan pintu bangunan, Dewa Rencong ikut menyahut percakapan mereka. Dewa Rencong entah sejak kapan dia telah berada didekat pintu rumah sambil bersender pada tiang.


"Paman Maung!" Suro sepontan berteriak keras memanggil Dewa Rencong. Tetapi agaknya makhluk lain ikut mendengar teriakan keras Suro barusan.


"Gooaaaargggggh!"


Mendadak dari dalam rumah suara auman binatang buas terdengar begitu keras.


"Goooaaarrgh!"


"Eladalah bocah edan!" Serta merta Dewa Rencong meloncat cukup jauh, kemudian melayang turun. Gerakannya begitu halus seakan tubuhnya itu seberat kapas.


Suara auman harimau yang begitu keras berada persis dibelakang Dewa Rencong. Maka wajar sekali, jika pendekar dari Swarnabhumi itu begitu kaget.


"Perkenalkan paman, itu sahabat Suro yang bernama Maung!" Suro tersenyum sambil mendekat ke arah harimau sahabatnya itu. Dia kemudian mengelus-elus leher harimau yang baru saja keluar dari dalam rumah itu.


Dewa Pedang tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi sepontan dari Dewa Rencong.


"Bocah gemblung, sebenarnya apa yang normal darimu? Harimau sebesar gajah kau sebut sahabat. Apa nanti kau juga akan mengaku mengenal ular raksasa sebesar rumah sebagai kenalanmu?" Dewa Rencong mendengus kesal setelah mendarat di atas tanah.


Suro menatap Dewa Rencong sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Saya rasa, Sebenarnya ada kenalan Suro seekor ular raksasa yang memiliki tubuh sebesar rumah atau justru lebih besar dari pada itu." Suro berbicara itu dengan mimik yang terlihat serius sambil tangannya sibuk mengelus-elus Maung.


Cegluk!


Dewa Rencong menelan ludah demi mendengar ucapan Suro barusan. Bukan dia saja semua orang yang mendengar menjadi terdiam dan ada rasa ngeri. Sebab mereka menangkap perkataan Suro bukanlah guyonan. Mereka menyadari, jika Suro menceritakan kenyataan yang sebenarnya.


"Agaknya semua hal yang menyangkut dirimu hampir tidak ada yang normal bocah."


**


Ditunggu lagi komentnya. jika sumbangan poin kurang, maka sumbangan koment tidak mengapa, tetap diucapkan terima kasih.