SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 172 Rumah Maung Yang Baru



Setelah Suro sampai di kediaman Kolo Weling dia meminta tolong kepada Kolo srengi agar setiap hari membelikan daging ke pasar untuk makan Maung. Setelah itu dia menemui Kolo weling.


Sesuai yang direncanakan di awal dia akan mempelajari kitab dewa racun miliknya bersama Kolo weling. Karena lelaki gempal dan tampangnya yang terlihat menyeramkan itu pemahamannya dalam ilmu racun tidaklah rendah, sehingga dapat membantunya mempelajari lebih lanjut seluruh isi dalam kitab dengan membandingkan penjelasannya Tohjaya.


"Paman tidak pernah bermimpi sekalipun, jika akhirnya dapat melihat langsung kitab dewa racun!" Kolo Weling terperanjat saat Suro memperlihatkan kitab itu. Dia terlihat begitu bahagia melihat kitab itu ditangan Suro. Sebab kitab itu bagi dirinya adalah sesuatu yang sangat berharga. Sebuah kitab yang sejak dahulu menjadi incaran para ahli racun.


"Mengapa tidak paman pegang dan mulai membacanya daripada hanya melihat saja." Suro kemudian menyodorkan kitab itu ke tangan Kolo weling. Dia terlihat gemetar menerima kitab itu di kedua tangannya.


Sejak mendengar cerita Suro mengenai ilmu racun yang dikuasainya dari kitab dewa racun, membuat dia terlihat begitu antusias. Tetapi tentu saja dia tidak berani menunjukkan hal itu kepada Suro. Namun Suro sudah memahami, jika Kolo weling terlihat begitu tertarik.


Dalam hatinya sebenarnya Kolo Weling ingin melihat wujud dari kitab itu saja sudah cukup. Tidak terbayangkan sedikitpun, jika dia diperbolehkan memegangnya dengan kedua tangannya. Dia memiliki pemikiran itu, karena memang kitab itu sangat lah berharga, tidak sembarangan orang boleh membacanya. Karena itulah dia merasa sesuatu yang mustahil Suro memperbolehkan dirinya melihatnya. Tetapi kini dia justru disuruh memegang dan membaca sendiri seluruh isinya.


Dia yang telah berkecipung di dalam dunia racun selama puluhan tahun, tentu lebih paham mengenai hal itu. Betapa sangat berharganya kitab yang sedang sibuk dia baca itu.


"Jika seperti ini kita bisa membuat resep obat penawar racun terbaik nakmas Suro." Kolo weling yang telah membaca sebagian isi kitab segera menemukan banyak hal dan membuat dia begitu terpana. Salah satunya terkait segala penawar berbagai racun yang dijelaskan di setiap akhir bab dalam kitab itu. Setelah selesai membaca beberapa bab, kemudian Kolo weling mengembalikan kitab itu kepada Suro.


"Benar paman, itu tujuan Suro mempelajari kitab racun itu. Dengan memahami kitab itu, maka kita bisa meramu penawar dari setiap racun yang dijelaskan secara terperinci. Dengan mengambil panduan dalam kitab ini kita pasti bisa menyelamatkan banyak orang."


"Kitab ini begitu mendetail dalam mengajarkan ilmu racun. Didalam kitab ini dijelaskan setiap bahannya dengan begitu jelas, bahkan Suro menemukan pada beberapa bab dijelaskan cara mendapatkan bahan yang dicari dengan mendatangi tempat dimuka bumi dimana bahan itu ada."


Mereka berdua kemudian melanjutkan pembicaraannya sambil berjalan dan diikuti Maung dibelakangnya.


"Paman akan memperlihatkan kepada nakmas tempat yang cocok untuk kita mempelajari kitab ini. Karena akan sangat berbahaya bagi semua, jika kita meracik racun dan penawarnya disini. Di belakang kediaman utama ini sejak beberapa waktu yang lalu paman meminta dibuatkan semacam tempat untuk menyepi." Kolo weling menunjuk ke arah bangunan yang dimaksud.


"Agaknya tempatnya cukup luas paman?" Tempat yang ditunjuk itu berada diatas bukit dibelakang kediaman Kolo Weling, sehingga dari kejauhan Suro sudah bisa melihatnya.


"Benar nakmas, disana kita bisa mempelajari kitab dewa racun tanpa takut terganggu. Terutama tidak takut akan mencelakai orang sekitar. Karena kekuatan racun dalam kitab ini sangat mematikan. Tentu akan menjadi bencana jika kita tidak mencari tempat aman yang tidak tersentuh oleh orang awam."


Setelah berjalan sebentar mereka akhirnya sampai di tempat yang dimaksud. Bangunan itu dikelilingi sebuah taman dan juga kolam ikan yang cukup besar.


"Sebaiknya seluruh taman ini diberikan dinding penghalang yang tinggi, agar tidak ada yang bisa sembarangan masuk ke wilayah ini. Karena akan sangat berbahaya, jika tempat meracik racun ini di datangi oleh orang yang tidak mengerti ilmu racun, pasti akan membuat dia celaka. Karena bahan untuk membuatnya saja sangatlah beracun." Kolo weling menatap Suro untuk melihat reaksi yang diberikan atas usulannya yang barusan dikatakan.


"Benar paman sebaiknya setinggi lebih dari satu tombak. Karena Suro berencana akan menjadikan tempat yang cukup luas ini sebagai tempat tinggal Maung. Pasti tidak akan ada yang memasuki tempat ini jika didalamnya ada Maung, benar tidak paman?" Suro menatap balik ke arah Kolo Weling.


"Benar sekali nakmas, memang Maung harus memiliki tempat sendiri, kasihan Kolo srengi dan yang lainnya tidak berani masuk ke dalam rumah karena ada Maung didalamnya. Selain itu, Maung juga akan membuat ketakutan kepada para penduduk yang hendak datang untuk berobat kepada paman. Mereka bisa mati berdiri, jika melihat wujud Maung yang begitu mengerikan."


"Akhirnya Suro tidak bingung lagi mencari tempat yang nyaman untuk Maung tinggali." Suro mengelus-elus kepala Maung yang berdiri disampingnya.


"Apakah nakmas sudah meminta orang-orangku untuk mencarikan makan untuk Maung?"


"Aku sudah meminta paman Kolo srengi untuk membelanjakan daging setiap hari untuk makan Maung."


Selama seharian Suro bersama Kolo Weling menyiapkan tempat untuk mereka mempelajari kitab Dewa Racun. Selain karena mereka juga belum memiliki bahan yang digunakan untuk meracik racun, mereka juga harus bisa memastikan tempat meramu itu jauh dari jangkauan orang-orang yang tidak memiliki kepentingan."


Setelah mengerahkan ilmu perubahan tanah, maka bukit yang dikelilingi taman yang cukup asri itu, kini telah berdiri dinding yang cukup kokoh. Bahkan mirip sebuah benteng istana setinggi lebih dari satu tombak dan selebar lebih dari dua depa. Begitu kokohnya dinding yang dibuat Suro membuat serudukan seekor badak sekalipun tidak akan mampu merobohkannya.


Sebab setelah dinding itu diciptakan, Suro kemudian membakarnya dengan api hitam. Setelah seluruh proses itu selesai, maka bukan dinding tanah lagi yang berdiri, tetapi dinding batu utuh yang tidak akan hancur meski diterpa hujan dan badai.


"Akhirnya selesai juga persiapan kita paman." Suro menatap dinding tebal yang dia kerahkan barusan. Kolo weling melihat apa yang dikerjakan Suro dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sambil berdecak penuh kagum.


"Aku rasa tempat meramu akan semakin aman dengan kehadiran Maung disini, nakmas." Kolo weling ikut tersenyum puas.


"Paman rasa tempat ini akan membuat Maung nyaman tinggal disini. Setidaknya tidak akan ada orang yang pingsan gara-gara melihat penampakan Maung. Hahaha...!" Mereka tertawa bersama. Maung yang menjadi topik pembicaraan hanya menggerung.


"Paman nanti akan meminta dibuatkan regol(pintu gerbang) besar disisi yang menghadap kediaman kita."


Mereka berdiri diatas bukit yang cukup besar. Dibelakang bukit itu terhampar pemandangan luas persawahan dan juga ladang.


"Tanah yang nakmas miliki sekarang digunakan oleh para penduduk untuk menanam padi dan palawija." Kolo weling menunjuk hamparan persawahan.


"Benarkah paman? Seingat Suro tidak pernah membeli tanah dan bukit ini?" Suro menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap hamparan persawahan yang cukup luas.


"Nakmas apakah tidak mengingat sabda Sri Maharaja Wasumurti yang akan memberikan sebidang tanah kepada nakmas? Melalui Adipati Wiseso yang dititahkan kepada demang Cangkring, maka seluruh tanah itu sekarang milik nakmas."


"Dan sesuai amanat yang pernah nakmas katakan kepada paman, maka tanah itu saya persilahkan kepada buruh tani yang tidak memiliki lahan untuk mereka garap."


Suro hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya. Mungkin karena dia terlalu sibuk untuk mengupayakan penyelamatan gurunya membuat dia tidak memperhatikan hal lain.


"Mulai besok paman akan meminta orang-orangku untuk mencari bahan-bahan yang akan kita gunakan untuk mempelajari Kitab Dewa Racun."


"Paling cepat dua hari dari sekarang kita baru bisa mendapatkan bahan yang dibutuhkan."


"Tidak usah terlalu terburu-buru,paman. Justru lebih baik dari sekarang paman mulai membaca saja dulu seluruh isi kitab ini sebelum memulai meramu obat penawar dari semua racun yang ada."


Kolo weling kemudian mulai memindahkan seluruh perlengkapan meramu bersama orang-orang Kolo weling dipindah ke tempat diatas bukit itu. Setelah malam mulai merayap mereka sudah selesai mempersiapkan semuanya. Maka mulai malam itu, Suro bersama Maung tinggal diatas bukit itu.


Selama semalaman Kolo weling terus membaca dan mempelajari isi kitab dewa racun bersama Suro. Dia akan menyelesaikan membaca seluruh isi kitab itu sampai beberapa hari berikutnya. Walaupun ingatannya tidak sebaik Suro, tetapi dia begitu semangat membaca.


Bahkan di berpesan kepada adiknya yaitu Kolo srengi untuk menggantikan perannya sebagai tabib. Dia tidak ingin diganggu mempelajari kitab dewa racun. Apalagi dengan adanya Suro, membuat waktunya bersama pemuda belia yang dia anggap junjungannya itu tidak ingin diganggu gugat. Sebab sangat berharga sekali waktu bersama Suro bagi dirinya. Salah satunya tentu saja, karena dia akan mendapatkan limpahan ilmu yang tidak ternilai harganya dari pemuda belia itu.