SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 238 Pertempuran Guru Vs Murid part 5



Makhluk yang dipanggil eyang Sindurogo adalah bagian Ashura yang sebelumnya ikut membebaskan raga dari Dewa Kegelapan. Dia juga adalah bagian dari dua belas Ashura pengawal dari Dewa Kegelapan.


"Ternyata tidak semudah yang aku pikirkan sebelumnya." Naga Tatmala menatap ke arah Geho sama dan Suro


"Sebaiknya kalian mundur aku akan menghadapi Ashura ini. Makhluk ini adalah jenis Ashura dari jaman permulaan."


Kemudian wujudnya sebagai manusia berubah menjadi ular naga yang begitu besar. Besarnya ukuran dari wujud Naga Tatmala mampu mengimbangi lawannya yang seorang raksasa.


Pertarungan dua raksasa langsung pecah. Naga itu langsung bergerak mencoba menggulung tubuh Ashura. Gempa bumi hebat secara berturut-turut melanda sekitar tempat itu dengan begitu kuat.


Semburan api dari Naga Taksaka melenyapkan salju disekitar pertarungan. Dentuman suara keras mengiringi pertarungan mereka hingga terdengar di tempat yang sangat jauh.


Eyang Sindurogo terkejut melihat wujud dari Naga Tatmala yang sesungguhnya. Dia segera menyadari mengapa seluruh serangan yang dia kerahkan tidak dapat melukai tubuh dari makhluk tersebut.


Pertarungan dua raksasa telah menghancurkan segala hal yang ada didekat mereka. Gempa bumi terus terasa setiap tubuh mereka menghantam bumi.


Suro dan Geho sama yang sedari tadi menjauh hanya dapat menyaksikan pertarungan mereka. Mereka berdua menuruti ucapan Naga Tatkala untuk menjauh dari area pertarungan dua raksasa tersebut.


Eyang Sindurogo yang diangkat sebagai senopati pasukan kegelapan diberikan hak untuk dapat meminta bantuan kepada para Ashura. Suro tidak menyangka dengan kejadian hal itu.


"Bagaimana ini tuan Suro lawan yang kita hadapi sekarang bukan guru tuan saja, tetapi sekarang justru makhluk raksasa dari jaman kuno saat dunia baru dibentuk."


"Apakah tuan Suro tidak bisa memanggil makhluk lain yang mungkin bisa membantu kita menghadapi guru tuan?"


Eyang Sindurogo yang berada diseberang yang cukup jauh dari mereka sudah berusaha mendekat ke arah Suro, hanya saja pertarungan dua raksasa itu menjadi penghalang jarak antara mereka.


Suro mendengar pertanyaan Geho sama hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


"Seharusnya pertanyaan itu aku tunjukan padamu. Bukankah dirimu selalu menyebut sebagai seorang penyihir? Gunakan ilmu sihirmu, aku tidak peduli jika sihir yang kau gunakan kali ini adalah sihir hitam."


"Karena kali ini kita harus kembali menghadapi eyang Sindurogo dengan kekuatan kita sendiri. Lihatlah pekulun Naga Tatmala justru sibuk melawan makhluk dari jaman kuno. Aku akan mencoba tehnik baru yang telah diajarkan oleh pekulun Naga Tatmala."


"Baiklah jika tuan meminta aku menghadapi dengan ilmu sihirku yang lain. Aku akan menggunakan formasi sihir tingkat kedua untuk memperangkap kekuatan guru tuan. Tehnik ini hampir mirip dengan formasi seranganku yang sebelumnya."


Pertempuran antara Naga Tatmala belum selesai. Akibat pertarungan itu gunung sebelah kanan telah hancur.


Eyang Sindurogo yang sejak tadi telah melihat Suro berada di kejauhan akhirnya berhasil mendekati mereka berdua.


"Sekarang kita lihat siapa yang bisa menyelamatkan kalian dari kekuatanku? Hahahaha...!" Eyang Sindurogo merasa diatas angin setelah berhasil membuat Naga Tatmala sibuk.


Suro lalu memberikan isyarat kepada Geho sama untuk segera memulai serangan gabungan mereka. Kali ini Geho sama tidak memanggil tubuh ilusinya untuk membantu pertarungan kali ini.


Dia kemudian memulai membuat simbol segel beberapa kali sebelum memulai serangannya. Jurus yang kali ini dikerahkan Gagak setan memiliki nama Formasi Sihir Siluman Lebah.


Setelah jurus itu dimulai, maka beribu-ribu lebah menyerang Eyang Sindurogo. Seluruh lebah itu keluar dari mulut Geho sama. Meskipun serangan ini seperti sebuah permainan sihir yang terlihat lemah, sesungguhnya sihir ini sangatlah kuat.


Pengerahan tehnik ini sangat rumit dan memiliki latar belakang yang sangat kelam. Geho sama telah hidup selama puluhan ribu tahun. Dan pada masa itu dia telah menghabisi nyawa yang tak terhitung.


Pusaka itu bernama "Sarang lebah iblis". Setiap jiwa petarung yang dia kalahkan ditempatkan didalam sarang siluman lebah. Mereka kemudian dijadikan sebagai bagian pasukan lebah iblis yang sangat kuat.


Kali ini Eyang Sindurogo tidak mampu lepas dari formasi sihir yang dikerahkan Geho sama, karena itu hampir mirip seperti sihir ilusi. Namun ini sesuatu yang lebih rumit daripada ilusi.


Seperti juga jurus tubuh ilusi Geho sama yang mampu memperlihatkan sembilan kembarannya. Walau disebut tubuh ilusi, tetapi serangan yang dikerahkan sesuatu yang nyata.


Begitu juga kali ini meski lebah-lebah itu adalah sesuatu yang berasal dari alam gaib, namun serangannya mampu membunuh pendekar tingkat shakti dengan mudah.


'Jika tuan Suro hendak melakukan mantra pangruwatan sekarang lah saatnya, karena hamba tidak mengetahui seberapa lama lagi diriku dapat menahan kekuatan tingkat surga ini.'


Mendengar ucapan Geho sama melalui batin, maka Suro segera bergerak bersama empat tubuh kembarannya. Dia kemudian membentuk formasi serangan yang sama seperti sebelumnya, yaitu mengurung dari berbagai sisi.


Sesuai yang telah diajarkan oleh Naga Tatmala, maka Suro mulai merapalkan mantra pangruwatan. Kali ini pengerahan yang dilakukan Suro sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya.


Setelah Suro memulai prosesi pangruwatan dari tubuh Suro dan kembarannya muncul aksara-aksara suci. Semua aksara yang bercahaya itu keluar dari bagian dadanya lalu melesat ke arah eyang Sindurogo.


Seluruh aksara itu seperti memiliki nyawa sendiri dan mulai membetuk rangkaian yang menyerupai sebuah bentuk rantai yang membelenggu sekujur tubuh eyang Sindurogo. Tidak ada yang memahami mengapa seseorang yang sudah mencapai kekuatan tingkat surga kini tidak mampu berkutik dengan belenggu dari rangkaian aksara yang keluar dari tubuh Suro.


Kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa setelah seluruh rantai yang terbentuk dari aksara yang bercahaya itu berhasil menyelubungi tubuh eyang Sindurogo.


Saat itu formasi sihir siluman lebah telah ditarik oleh Geho sama. Sebab para lebah yang tidak bisa dibunuh dengan jurus tapak dewa matahari, kini terbakar saat bersentuhan dengan aksara suci itu.


Suro terus merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang tidak dimengerti. Aksara suci yang melesat keluar dari bagian dadanya, sejenis dengan aksara yang muncul dari kitab Sastra Jendra . Penampakan itu terjadi saat Suro berhasil membuka segel kitab tersebut, yaitu sewaktu dia masih berada di gunung Arjuna.


Kini seluruh tubuh dari eyang Sindurogo telah diselimuti rangkaian aksara suci itu.


Selang beberapa saat, seluruh aksara itu masuk ke dalam tubuh eyang Sindurogo kemudian terjadi suatu reaksi hebat pada dirinya.


"Aaaaaaaarrrrrggggghhh! Aaaaaaarrrrrrrrggggghhh!"


Eyang Sindurogo berteriak kesakitan. Tangannya yang sudah tidak dibelengu kini sibuk mencengkeram kepalanya. Bahkan mungkin karena begitu kesakitan, tangannya sampai menarik-narik rambutnya dengan begitu kuat.


Duuuum!!


Kemudian sebuah ledakan keras disertai sebuah gumpalan hitam pekat keluar dari dalam tubuh eyang Sindurogo. Setelah ledakan itu berakhir tubuhnya tidak bergerak. Tubuh itu terus terdiam diatas tumpukan salju, tanpa ada gerakan sama sekali. Bahkan gerakan nafasnya tidak terlihat.


"Waduuuh gawat apakah guruku telah mati Geho sama?"


"Entahlah seharusnya dia tidak mati tuan."


Mereka berdua tidak berani mendekat ke arah eyang Sindurogo, sehingga dalam beberapa saat semuanya hening. Suro segera menyadari suara pertempuran antara dua raksasa tidak terdengar lagi dan tanah tempat mereka berdiri tidak lagi bergetar dengan hebat.


Dia segera mengetahui jika pertempuran antara Naga Tatmala melawan Ashura telah berakhir. Di ketinggian wujud Naga Tatmala sudah kembali dalam bentuk manusia. Sosok raksasa tidak terlihat entah kemana.


Naga Tatmala kemudian melesat ke bawah menuju ke arah Suro dan Geho sama. Mereka berdua belum bergerak dan masih memantau dari kejauhan tubuh eyang Sindurogo yang masih terdiam.