
"Bagaimana mereka memiliki keberanian hendak menguasai kekaisaranku? Negeri Wajin hanyalah negeri kecil. Alasan apa yang mendasari mereka memiliki keberanian begitu besar?" Wajah Kaisar Yang semakin berkeriput memikirkan niat tiga negara hendak menyerang kerajaannya.
"Ehem..ehem.."Suro berdehem beberapa kali agar sang Kaisar Yang Guang menoleh ke arahnya. Tetapi ternyata pemimpin Negeri Atap Langit itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Semua itu dapat terjadi karena ada dukungan kekuatan yang berasal dari makhluk yang sangat kuat. Merekalah kekuatan sebenarnya yang mendukung Pasukan Elang Langit dari balik layar." Suro mulai menjelaskan musuh sebenarnya dari serangan ketiga kerajaan kepada sang kaisar.
"Dan karena dua makhluk itulah Kerajaan Goguryeo dan Khan Langit dari bangsa Mongol berani menyerang Kekaisaran ini." tambah Suro.
Kaisar negeri Atap Langit itu mulai mengerutkan dahi mendengar ucapan Suro. Dia sepertinya cukup tertarik dengan penjelasan yang berbeda dari sebelumnya.
Sebab walikota Yang Taizu maupun Putri Yifu Yuan atau tetua Dewi Anggini tidak menceritakan hal tersebut. Apalagi laporan dari bawahannya mengenai latar belakang dan kekuatan pemuda didepannya membuatnya semakin tertarik untuk mendengar penjelasannya.
"Makhluk? Maksud pendekar?"
Suro lalu menjelaskan tentang keberadaan Batara Karang dan Dewa Kegelapan yang merupakan tokoh utama dibalik rencana penyerangan itu.
Pandangan Kaisar Yang semakin terkejut mendengarkan penjelasan Suro. Sebab Suro menyebutkan kemungkinan Para Pasukan Elang Langit akan mampu mengalahkan pasukan kekaisaran dengan menggunakan pasukan Kingkara atau makhluk penjaga neraka.
"Selain itu mereka memiliki kekuatan sebuah pusaka Kunci Langit yang dulu dimiliki Kaisar Qing Huangdi yang membuatnya menjadi kaisar pertama di Negeri Atap Langit.
"Tidak mungkin!" Kaisar Yang Guang langsung berdiri sambil melotot tidak percaya.
"Bagaimana mungkin mereka mampu menemukan makam Kaisar Qing? Aku sudah sejak dulu mencari makam tersebut. Tetapi tidak ada satu petunjuk yang aku dapat temukan.
Lalu bagaimana pendekar bisa memastikan, jika mereka memiliki kunci langit itu? Apakah pendekar melihat dengan mata kepala sendiri?"
Suro lalu menjelaskan semua kepada Kaisar Yang Guang. Penjelasan itu membuat wajah kaisar semakin kusut. Bukan hanya Kaisar, tetapi Dewi Anggini dan Dewa Rencong juga ikut terkejut mendengar penjelasan Suro.
Mereka tidak menyangka akhirnya Suro bertemu Dewa Segala tau dan menemukan letak makam itu, meski tidak berhasil mendapatkan Pusaka Kunci Langit.
"Aku baru mendengarnya, makhluk bernama Kingkara itu jenis apa sebenarnya?" Dewa Rencong yang hadir ditempat itu juga ikut penasaran.
Begitu juga tetua Dewi Anggini meminta penjelasan kepada Mahadewi yang ada disebelahnya. Tetapi Mahadewi juga tidak mengetahui hal tersebut.
Geho Sama lalu menjelaskan tentang Kingkara atau Sinigami kepada semua. Karena dia yang lebih mengetahui tentangnya.
Sebab tidak ada catatan mengenai hal tersebut, kecuali pengetahuan yang dimiliki oleh suku siluman Elang Langit. Suku siluman dimana Geho Sama berasal.
Setelah selesai mendengar penjelasan dari Suro, Geho Sama, walikota Yang Taizu dan juga penjelasan tetua Dewi Anggini seperti yang telah disampaikan Subutai, maka kali ini sang Kaisar tidak mampu lagi menutupi rasa khawatirnya.
Apalagi belum selesai pertemuan itu sudah datang surat dari beberapa wilayah yang berada di Utara dan timur. Dua wilayah itu paling dekat posisinya dengan wilayah Khan Langit dan Goguryeo.
"Lalu dimana Pasukan dari Negeri Wajin yang sempat pendekar katakan sebagai kunci kemenangan dari serangan Kerajaan Goguryeo dan juga Khan Langit?" Kali ini Jendral Yuwen Huaji merasa ada yang kurang dari laporan beberapa daerah.
Sebab tidak ada satu pun laporan Telik sandi dari beberapa daerah itu yang menyebutkan serangan dari Pasukan Negeri Wajin. Karena itu dia merasa ada satu hal yang terlewatkan.
Suro menggaruk- garuk kepalanya dan memandang Dewa Rencong juga tetua Dewi Anggini sebelum mulai menjawab.
"Seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, Pasukan Elang Langit sebenarnya telah ada di kekaisaran ini jauh sebelum pasukan dari Kerajaan Goguryeo dan Khan Langit mulai bergerak."
Suro kembali berhenti untuk memastikan kali ini Jendral Yuwen Huaji mendengar ucapannya dengan jelas.
"Pada saat ini pasukan Elang Langit hanya sebagai pasukan pembuka jalan. Mereka menyebar di beberapa kota. Tetapi mereka bergerak dalam satuan pasukan yang kecil."
Suro menatap Jendral Yuwen Huaji yang terlihat seperti tidak percaya.
"Benarkah, bagaimana kami tidak menyadarinya?"
"Tentu saja mereka tidak akan dapat kalian sadari. Sebab tugas pasukan yang masuk ke dalam wilayah negeri ini berbeda dengan pasukan dari Kerajaan Gogureyo dan Khan Langit.
Mereka bergerak dengan cara menyamar atau dengan mendukung para penjahat. Terutama para kelompok perampok. Karena tujuan mereka adalah membuat kekacauan dan mengumpulkan tumbal dan juga informasi.
Serangan yang terjadi di wilayah Shaanxi dan He Bei adalah bukti keberadaan mereka. Kemungkinan pasukan itu sudah masuk dan menyebar ke seluruh wilayah."
Ucapan Suro membuat mulut jendral Yuwen Huaji bergetar karena merasa kecolongan. Mukanya merah menahan marah dan malu terhadap Kaisar Yang Guang.
Tatapan matanya kemudian berpindah ke arah lain dan tertuju kepada salah satu punggawa yang ikut hadir dalam pertemuan itu.
Bagaimana kabar sepenting ini tidak kau ketahui sama sekali? Bagaimana justru dari pendekar ini aku mendengar berita sepenting ini?"
Wang Cong adalah kepala Telik sandi yang bertanggung jawab atas segala informasi. Keteledoran dirinya adalah sesuatu hal yang sangat fatal.
Lelaki itu tergagap dan bergetar tubuhnya. Belum sempat lelaki itu berbicara pedang dari Jendral Yuwen Huaji telah memotong kepalanya.
"Dasar tidak berguna," ucap Jendral Yuwen Huaji dengan bengis.
Suro tidak menyangka lelaki itu membunuh bawahannya tanpa banyak berbicara. Kejadian yang baru saja terjadi itu begitu cepat dan tidak dia sangka sama sekali.
"Mengapa Jendral Yuwen langsung membunuh dirinya?" Suro menyayangkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Alasannya cukup gampang, pertama dia sudah teledor, dan keteledoran itu terlalu besar. Semua itu terjadi karena satu alasan, yaitu dia telah menjadi antek pasukan musuh." Jendral Yuwen Huaji menjawab sambil menyarungkan pedang besar miliknya.
Suro hanya menghela nafas melihat jasad punggawa itu dibawa para prajurit. Mereka bergerak cepat sehingga lantai yang bersimbah darah itu telah bersih kembali.
"Lalu apa lagi yang pendekar ketahui tentang pasukan Elang Langit yang harus kami waspadai?"
"Satu lagi mereka memiliki jurus ruang waktu sedikit mirip dengan ilmu ruang waktu milik kami, jadi wajar jika kalian tidak akan menyadari kehadirannya di wilayah ini."
Pandangan Kaisar Yang Guang dan para punggawa Kerajaan Negeri Atap Langit terbelalak. Mereka tidak mampu mengerti mengapa mereka memiliki jurus yang begitu mengerikan.
Mendengar laporan mengejutkan dari beberapa wilayah kekuasaannya, akhirnya Kaisar Yang setuju untuk bekerja sama dengan para pendekar dari Yawadwipa.
"Jendral Yuwen Huaji perintahkan para jendral yang sedang menuju ke wilayah kerajaan Chenla, Funan (Kamboja) dan juga Champa(Vietnam) untuk kembali. Kita memerlukan pasukan mereka. Kirim segera pembawa pesan untuk menyampaikan titahku ini!" Wajah penuh cemas tergambar jelas saat Kaisar Yang Guang memberikan perintah kepada Jendral Yuwen Huaji.
"Siap akan segera hamba laksanakan Yang Mulia." Jendral Yuwen Huaji menjawab singkat.
Mereka lalu mulai membuat rencana pertahanan untuk menangkal serangan dari Goguryeo dan juga Khan Langit.
Setelah tersiarnya kabar penyerangan yang melanda beberapa daerah kekuasaan Kekaisaran Yang, maka pasukan besar yang dipimpin Jendral Yuwen Huaji mulai bergerak dari Kota Kerajaan Luoyang.
Mereka bergerak menjadi dua bagian, sebab serangan itu terjadi di bagian Utara dan bagian timur laut yang berdekatan dengan Kerajaan Goguryeo. Jendral Yuwen Huaji sendiri memimpin pasukan yang akan berhadapan dengan pasukan Penguasa Padang Rumput Hijau, yaitu Khan Langit.
Sedangkan Suro sendiri mendapatkan tugas untuk melacak pergerakan pasukan Elang Langit. Sebab hanya dirinya dan Geho Sama yang memiliki jurus ruang waktu yang mampu mengimbangi kekuatan lawan.
Tetapi kali ini dia bergerak bersama dengan para pendekar dari Negeri Atap Langit. Bersama dia juga ikut pasukan dari Kekaisaran.
**
"Junjungan apa yang harus kami lakukan untuk membangkitkan iblis dari penjaga pusaka Kunci Langit ini?" Kankuru menatap Batara Karang didepannya.
Batara Karang terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Kankuru. Tempat pertemuan dua makhluk itu kemungkinan berada didalam sebuah goa yang sangat besar. Mereka duduk dimeja dan kursi yang terbuat dari tulang-tulang semacam makhluk raksasa.
"Seperti yang telah aku katakan kepadamu sebelumnya. Jika kekacauan besar tercipta, maka Pusaka Iblis Kunci Langit akan menyerap hawa negatif yang menyebar di seluruh penjuru Negeri Atap Langit ini. Dengan cara itu kekuatan pusaka ini akan kembali bangkit dengan kekuatan puncaknya," ucap Batara Karang sambil menatap Kankuru didepannya.
"Peperangan besar yang aku rencanakan untuk menghancurkan seluruh daratan Negeri Atap Langit ini akan menciptakan hawa negatif yang luar biasa besar. Sehingga kematian yang berjumlah ribuan itu anggap saja sebagai tumbal bagi jalan kita menuju kemenangan yang akan kit raih."
Di dalam ruangan besar itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Tetapi sesungguhnya para Braholo sesuatu makhluk yang tidak memiliki wadak atau raga memenuhi tempat tersebut.
"Kekacauan sudah dimulai junjungan. Lihatlah pusaka ini udah mulai memedarkan kekuatannya. Sepertinya pusaka ini sudah mulai menyerap kematian yang disebabkan kekacauan seperti yang telah junjungan rencanakan." ucap Kankuru.
Dia berbicara sambil memandang sebuah benda berwarna hitam kelam ditangannya. Bentuk dari pusaka itu seperti sebuah gada yang panjangnya sekitar satu Depa.
Kekuatan sesat lamat-lamat terlihat mulai memedar dan membentuk sebuah kepulan semacam asap dari sekujur benda tersebut. Bersama itu tangan Kankuru bergetar hebat menahan kekuatan yang terpancar dari pusaka iblis Kunci Langit.
Tetapi para Braholo itu justru mendekat dan mulai bergerak mengitari mereka berdua, seakan kekuatan pusaka itu merupakan magnet bagi mereka.
Para Braholo yang berkumpul semakin banyak. Wujud mereka tak lebih daripada bayang-bayang, membuat tempat itu semakin bertambah gelap.
Batara Karang tertawa lepas melihat penampakan didepannya.
"Ini hanyalah sebuah permulaan dari sebuah kehancuran besar yang akan melanda seluruh negeri dibawah langit. Sebab dengan cara seperti inilah langkah kita selanjutnya menuju pertempuran sesungguhnya yang lebih besar akan tercapai.
Aku yakin kali ini Dewa Kegelapan akan mampu menguasai tiga dunia. Dan itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Karena itu tugas bagimu adalah mengumpulkan tumbal sebanyaknya untuk membangun pasukan tak terkalahkan pada pertempuran besar nanti."