
"Mohon maaf Eyang Baurekso sepertinya kami bertiga tersesat sejak tadi. Kami hanya berputar-putar dan beberapa kali justru kembali ke tempat ini. Bisakah Eyang Baurekso menunjukan kepada kami arah menuju perguruan?" Datuk nan Lapuk yang telah sampai dihadapan Eyang Baurekso langsung bertanya tanpa malu-malu lagi. Karena dia sudah menyerah, setelah beberapa kali mencoba dia hanya berputar-putar.
Biasanya dia akan menggunakan petunjuk melalui lintang gubuk penceng atau rasi bintang layang-layang. Tetapi malam itu awan menutupi angkasa sehingga dia kesulitan untuk menentukan arah.
Reaksi pertama yang dilakukan Eyang Baurekso adalah menepuk jidatnya. Kini dia baru memahami mengapa tiga tetua yang seharusnya menuju ke arah Perguruan Pedang Halilintar justru beberapa kali berbalik arah ketempat dimana dirinya sedang menjaga tetua Datuk Rajo.
Dia sebelumnya berpikir jika tiga tetua itu beberapa kali kembali, karena ingin memastikan kondisi dirinya bersama tetua Datuk Rajo baik-baik saja. Dia sebenarnya sempat berpikir bahwa mereka sedang tersesat, hanya saja pikiran itu dia kesampingkan karena mereka bertiga sama sekali tidak bertanya kepada dirinya jika sedang tersesat.
Eyang Baurekso kemudian bangkit mencoba mengenali kondisi hutan dimana dia berada. Setelah melihat dan mengamati kondisi alam disekitar tempat dia berdiam diri sedari tadi. Kini dia juga baru menyadari tempat dimana sedari tadi dia duduk, ternyata berada disuatu tempat yang dia juga belum pernah melihatnya.
Dia mulai mengaruk-garuk kepalanya sebelum memberikan jawaban.
"Aku juga tidak mengenali sekarang ada dimana." Eyang Baurekso menjawab pertanyaan sambil tetap mengaruk kepalanya.
"Sudah lama sekali aku tidak pernah menyambangi daerah sekitar sini. Selain itu, wilayah hutan ini, kemungkinan bagian yang seharusnya tidak boleh dimasuki manusia. Itulah mengapa hutan ini begitu lebat. Karena memang tidak ada manusia yang pernah menjamahnya."
"Aku baru sadar sekarang, sepertinya kita sudah berada diwilayah hutan larangan."
"Apa yang tetua maksud hutan larangan?" Tetua Datuk Rajo Mustiko yang telah selesai dari meditasinya segera bertanya perihal hutan larangan yang disebut Eyang Baurekso barusan.
"Sejak dulu hutan ini tidak dijamah manusia karena konon kabarnya hutan ini adalah tempat berdirinya sebuah istana kerajaan siluman yang menguasai daerah ini."
"Jadi begitu, pantas saja sejak awal aku merasakan tekanan kekuatan yang berasal dari alam para siluman terasa begitu kuat. Tetapi berkat itu, akhirnya aku justru mengetahui sesuatu yang sangat penting. Aku telah memastikan disebelah dalam dari hutan ini ada pergerakan siluman yang berkumpul dalam jumlah yang sangat besar. Dan anehnya lagi para siluman yang berkumpul bukanlah satu jenis siluman saja, tetapi dari berbagai jenis siluman. Keadaan itu bukan sesuatu hal yang normal."
"Sebab jika para siluman dari jenis yang berbeda berkumpul, maka itu pertanda sedang terjadi pertarungan antar sesama siluman. Tetapi kondisi mereka sekarang ini sesuatu yang diluar kebiasaan. Agaknya mereka sedang mengumpulkan kekuatan untuk mempersiapkan penyerangan besar-besaran."
"Benarkah? Sesuatu yang sangat mengejutkan. Sebaiknya kita segera melaporkan hal ini kepada Dewa Pedang. Kemungkinan para siluman yang sudah kita habisi barusan, hendak balik ketengah hutan untuk melaporkan tugasnya kepada rajanya." Tetua Nguyen Poo memandang ke arah tetua Datuk Rajo Mustiko yang baru saja menjelaskan temuannya setelah mengerahkan ilmu ngrogoh sukmo untuk memastikan sumber aura siluman yang begitu pekat.
"Benar kita akan melaporkan kejadian ini kepada ketua. Karena kemungkinan para siluman menyerang setiap sisi dari perguruan hanya untuk mengukur kekuatan dari perguruan. Jika itu benar dan ditambah dengan temuan yang diketahui tetua Datuk Rajo Mustiko maka kemungkinan besar tidak lama lagi mereka akan melakukan serangan besar-besaran ke arah Perguruan Pedang Halilintar." Tetua Baurekso terlihat begitu khawatir dengan nasib perguruannya yang berada dalam ancaman kehancuran.
"Sebaiknya tetua Baurekso yang memimpin perjalanan. Saya sudah menyerah tidak menemukan jalan balik ke perguruan." Tetua Nguyen Poo mengaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum kecut.
Eyang Baurekso yang mendengar permintaan tetua Nguyen Poo hanya membalas dengan anggukan. Dia kemudian memandang ke atas menatap lintang Gubuk penceng sebagai penujuk arah selatan.
"Sebaiknya kita menuju selatan terlebih dahulu. Karena di sebelah selatan kita lebih mudah melewatinya. Ada jalan setapak yang menuju Kembang tempat dimana Perguruan Pedang Halilintar berada."
Mereka segera bergerak cepat berloncatan diantara pepohonan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah pada tingkat tinggi. Mereka memilih jalur selatan berarti memutar lebih jauh dari jalur saat mereka mengejar siluman. Tetapi dengan itu mereka akan menemukan jalan setapak yang bisa dilewati pedati maupun gerobak yang dipakai penduduk dari Juwana maupun penduduk dari kota Kadipaten Banyu Kuning menuju daerah Kembang dimana Perguruan Pedang Halilintar berada.
Dalam waktu kurang dari setengah seperminuman teh mereka akhirnya sampai dipinggiran hutan.
"Tunggu sebentar, sepertinya aku mendengar pergerakan pasukan dalam jumlah besar! Apakah kalian juga mendengarnya?" Eyang Baurekso yang mendengar sayup-sayup suara berasal dari dikejauhan, memutuskan segera berhenti dan mulai menajamkan pendengarannya untuk memastikan pendengarannya.
"Benar, aku juga mendengarnya. Arahnya disebelah selatan agak ke barat." Tetua Nguyen Poo menimpali perkataan Eyang Baurekso.
"Sebaiknya kita periksa terlebih dahulu. Selain itu, menurut Eyang Baurekso jalan itu menuju daerah Kembang tempat diaman pasukan kita berkumpul. Apakah itu tidak terasa ganjil jika arah rombongan pasukan itu searah dengan tujuan kita menuju Perguruan Pedang Halilintar? " Tetua Nguyen Poo kembali melanjutkan peekataannya.
"Ini kebetulan atau memang tujuan pasukan itu menuju Perguruan Pedang Halilintar. Jangan-jangan ini pasukan yang berada dibawah bendera Medusa hitam yang akan menyerang?" Tetua Datuk nan Lapuk menimpali ucapan tetua Nguyen Poo barusan.
Sebaiknya kita bergerak lebih hati-hati. Jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kita.
Setelah mereka bergerak cepat dan secara hati-hati akhirnya mereka menemukan asal dari suara yang terdengar dari kejauhan itu. Rombongan manusia yang sangat panjang memperlihatkan pasukan yang berbaris rapi dengan senjata lengkap. Dengan melihat barisan yang bergerak dengan jumlah yang begitu besar, makaa dapat dipastikan pasukan Medusa hendak meratakan Perguruan Pedang Halilintar dan menumpas habis seluruh pasukan dibawah bendera Perguruan Pedang Surga.
"Benar itu adalah bendera Ratu Ular Medusa Hitam. Mereka sepertinya mengerahkan kekuatan penuh untuk membumi hanguskan Perguruan Pedang Halilintar." Tetua Datuk Rajo Mustiko segera mengenali bendera yang dibawa para pasukan yang bergerak menuju arah yang akan mereka tuju. Mereka bisa sangat yakin bahwa pasukan itu akan menyerang Perguruan Pedang Halilintar, karena jalan setapak itu hanya menuju satu arah, yaitu daerah Kembang dimana seluruh pasukan perguruan mereka sedang berada.
"Sebaiknya kita secepatnya mendahului mereka sebelum mereka menyerang Perguruan Pedang Halilintar. Kita harus memberi jeda agar seluruh pasukan Pasukan Pedang Surga dapat melakukan persiapan terlebih dahulu. Jika para siluman yang telah berkumpul dihutan larangan dan seluruh pasukan Medusa hitam menyerang pasukan kita yang berada di Perguruan Pedang Halilintar, maka peperangan besar sebentar lagi akan meletus." Eyang Baurekso segera menyadari bahaya yang akan mengancam keberadaan perguruan miliknya. Secepatnya dia berlari bersama tetua lainya bergerak cepat menuju Perguruan Pedang Halilintar mendahului iring-iringan pasukan milik Medusa Hitam.
Semakin cepat mereka berlari, berarti semakin banyak waktu yang bisa digunakan seluruh pasukan Perguruan Pedang Surga untuk mempersiapkan peperangan. Yang artinya akan semakin banyak nyawa yang akan terselamatkan.
**
Di Perguruan Pedang Halilintar pertempuran antara para tetua melawan siluman terus berlangsung. Kali ini siluman terus menerus menyerang perguruan silih berganti dari arah yang berbeda-beda.
Blaaaar!
Sebuah kilatan cahaya mengawali sebuah serangan kuat yang akhirnya menghancurkan seluruh keberadaan siluman dan daratan sejauh lebih dari lima puluh tombak kedepan.
Serangan itu berasal dari jurus Sejuta Tebasan Pedang yang dikerahkan oleh seseorang yang meloncat tinggi. Dia adalah Dewa Pedang yang kembali ingin sekali lagi mencoba jurus yang sama. Kebetulan siluman itu berada cukup jauh dari para anggota perguruan dan berada diluar lingkup perguruan. Sehingga Dewa Pedang dapat dengan leluasa mengerahkan jurusnya tanpa takut melukai anggota perguruan yang lain.
Selesai melakukan serangan Dewa Pedang segera menghampiri para anggota perguruan yang sedang bertugas disisi utara.
"Ke arah mana kelima tetua itu pergi mengejar siluman api?" Dewa Pedang bertanya ke arah anggota perguruan yang bertugas berjaga dibagian utara. Mereka sempat melihat lima tetua bergerak cepat keluar dari perguruan mengejar siluman api.
"Jika melihat terbangnya siluman api yang mereka kejar, kemungkinan mereka menuju ke arah timur ketua." Salah satu anggota perguruan menjawab.
"Apa yang mereka pikirkan meninggalkan perguruan saat kondisi seperti ini?" Dewa Pedang menghembuskan nafas panjang sebelum memulai melanjutkan langkahnya.
Kemudian dia menuju kepada para tetua yang telah datang membantu penjagaan sebelah utara.
"Aku yakin serangan siluman sejak beberapa minggu yang lalu bertujuan untuk melemahkan seluruh pasukan kita dengan membuatnya kelelahan." Dewa Pedang menatap para tetua yang terlihat sayu setelah beberapa hari kurang tidur.
"Jika tujuan siluman untuk memperlemah kita sepertinya telah berhasil ketua. Kita semua sudah dalam kondisi kelelahan." Tetua La Patiganna menjawab perkataan Dewa Pedang.
"Sepertinya ini hanya awal saja. Aku mencurigai Medusa sedang merencanakan untuk kembali menyerang kita dengan seluruh pasukannya. Karena itu sejak seminggu yang lalu aku sudah mengirimkan telik sandi untuk mengetahui kondisi pasukan Medusa."
"Jika mereka menyerang perguruan ini sebelum pasukan Kalingga sampai, tentu akan sangat gawat."
"Apakah para telik sandi sudah ada yang mengirimkan nawala ketua?" Tetua La Patiganna kembali bertanya penuh penasaran.
"Tidak ada satupun dari mereka yang sudah mengirimkan nawala. Bahkan kabarnya pun tidak ada. Mereka seperti lenyap ditelan bumi."
"Jangan-jangan mereka telah dihabisi oleh pasukan Medusa, ketua?" Tetua La Patigana kembali membalas.
Mendengar perkataan tetua La Patiganna Dewa Pedang hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya sambil tersenyum kecut.