SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 314 Taktik Tetua Arkados



Setelah berhasil menghabisi Basu Geni yang mengepung dirinya dan juga Tirtanata, maka Suro melesat menuju Warudijaya. Sosok itu berbentuk kura-kura, tetapi dia tidak seperti lumrahnya seekor kura-kura, karena dapat berdiri dengan kedua kakinya.


Ditangan sebelah kanannya juga tergenggam sebuah tongkat yang berbentuk seekor ular putih.


Tempurungnya yang besar dipundaknya terlihat begitu hitam. Sedangkan bentuk kepalanya dari pada bentuk seekor kura-kura, justru menyerupai kepala seekor naga.


Selain itu, bentuk ekornya sangat tidak lazim, karena terdapat kepala seekor ular di ujungnya. Makhluk campuran itu bisa dikatakan sejenis raksasa, karena memiliki tinggi sekitar satu tombak setengah.


Kekuatannya adalah tehnik perubahan tanah yang didalamnya termasuk perubahan kayu dan logam.


Kekuatan Warudijaya yang telah meningkat pesat, sungguh mengaggumkan. Sebab saat itu dia masih mampu mengimbangi kekuatan musuh yang telah mengepungnya dari berbagai arah.


Para Shurala yang mengepung adalah para raksasa yang rata-rata setinggi dua tombak. Kekuatan makhluk kegelapan itu sudah setara dengan pendekar tingkat surga.


Makhluk kegelapan atau para Shurala yang berada dikedalaman tanah kebanyakan menguasai tehnik perubahan tanah. Karena tehnik itu yang membuat mereka dapat bergerak leluasa, meski berada dibawah tanah. Seperti yang dilakukan oleh Suro, mereka juga dapat membuat terowongan sebagai jalan mereka.


Bagi para Shurala yang tidak memiliki kemampuan perubahan tanah akan mengikuti makhluk yang berbentuk seperti tikus besar ataupun yang berbentuk mirip landak.


Seperti saat ini para Shurala dengan bentuk seperti landak yang memiliki kepala seekor buaya menyerang Warudijaya.


Trang! Trang!


Bulunya yang melesat seperti tombak menghantam tempurung milik Warudijaya. Dia sengaja melindungi tubuhnya dari serangan musuh mengandalkan kerasnya tempurung miliknya.


Tongkatnya yang berbentuk ular bergerak dengan cepat menggerakkan seluruh permukaan tanah menggulung musuh yang mengurungnya. Selain tanah yang bergerak selayaknya ombak laut, Warudijaya juga mengerahkan tehnik perubahan kayu.


Bersama gerakan tongkat Warudijaya bermunculan akar pepohonan yang menjerat para makhluk yang berbentuk tikus dan landak. Kemudian menenggelamkan mereka bersama gelombang tanah yang menggulung.


Namun serangan itu tidak mampu menghentikan mereka, sebab lawannya juga memiliki tehnik perubahan tanah. Karena itulah setelah mereka tenggelam dapat kembali muncul dengan cepat dan menyerang Warudijaya.


Saat itulah melesat kobaran api hitam yang besar dan memiliki sosok seperti seekor naga. Kemudian dengan cepat sosok naga itu menggulung dan menenggelamkan para Shurala dalam kobaran api hitam. Dalam waktu sekitar lima kali tarikan nafas sudah satu lusin makhluk yang berbentuk tikus tanah raksasa dan landak yang berduri sekeras baja lenyap dari


pandangan.


Kobaran api hitam yang terkenal dalam legenda perubahan api panasnya memang sangat menakutkan. Tubuh makhluk kegelapan itu, akhirnya lenyap tanpa bekas.


"Ajian Sapu Jagat!"


Wuuuuus!


Tidak dinyana tetua Arkados bersama tetua lain telah menunggu Suro lengah, Akhirnya Naga Taksaka harus menghilang dari pandangan terhisap oleh jurus yang dikerahkan musuh.


Tetua Arkados cukup memahami batas kekuatannya. Setelah sebelumnya mengerahkan jurus Cungkup Jagat untuk melenyapkan Naga Taksaka, maka untuk kembali melenyapkan kobaran api yang bergerak seperti memiliki nyawa itu dia meminta bantuan.


Apalagi setelah menyerap api dari Basu Geni atau para kadal api, tubuh Naga Taksaka berubah menjadi begitu menakutkan. Kobarannya yang mampu menelan makhluk setinggi dua tombak sebanyak satu lusin, tentu memerlukan kobaran yang luar biasa besar.


Karena itulah dibantu beberapa tetua yang sudah berada ditingkat langit dan juga beberapa yang sudah ditingkat surga lapis awal, jurus Sapu jagat berhasil melenyapkan Naga Taksaka.


Ajian sapu jagat yang diperintahkan oleh tetua Arkados sejenis dengan ajian Cungkup Jagat. Ajian Cungkup Jagat sempat diperlihatkan oleh tetua Arkados saat melenyapkan serangan sekuat jurus Naga Taksaka tanpa sisa.


Jurus itu hanya dapat terfokus pada satu titik dan hanya dapat dikerahkan dalam satu terjangan. Meskipun begitu daya serapnya sangat luar biasa, segala hal yang ada dalam radius serangannya akan lenyap.


Sedangkan jurus sapu jagat, adalah kebalikan dari ajian Cungkup Jagat. Meski radius serangan tidak luas, serangan itu mampu diarahkan dan bergerak mengejar lawan, walaupun hanya seperti satu sapuan.


"Kurang ajar, jurus yang sangat mirip ini pasti ilmu milik Batara Antaga. Jurus yang merepotkan. Sudah dua kali jurus Naga Taksakaku lenyap tanpa bekas!" Suro menggeram kesal.


"Purabangkara!"


Melihat Naga Taksaka telah lenyap akhirnya dia meminta Purbangkara untuk membantu Warudijaya.


Saat itu Purbangkara yang berwujud burung api sedang bertarung hebat dengan sebentuk makhluk yang disebut sebagai Katak seribu lengan. Suro segera menggunakan Langkah Maya dan bertukar peran dengan Purbangkara.


Suro memilih menghadapi makhluk yang memiliki tangan yang tidak terhitung itu. Dulu gara-gara makhluk inilah eyang Sindurogo dapat terjebak dalam waktu lama di alam kegelapan dan akhirnya menjadi wadah bagi pecahan jiwa Dewa Kegelapan.


Dia tidak memiliki waktu untuk menghabisi tetua Arkados yang menyerang dari kejauhan bersama tetua lain. Namun kali ini dia tidak menurunkan kewaspadaannya kepada mereka.


Dia juga meminta Naga Biru wujud dari Tirtanata untuk membantu penjaga gaib lainnya yang berupa hatimau putih, yaitu Sinotobrata. Setelah Tirtanata si Naga Biru melesat bertempur berdampingan dengan Sinotobrata, pandangan Suro beralih ke arah makhluk sebesar rumah yang berwarna hitam kelam.


Mulut yang melebar dari kanan kekiri akan mampu menelan Gagak setan seperti menelan satu butir nasi. Meskipun wujud Gagak setan adalah sejenis raksasa, karena memiliki tinggi sekitar satu tombak.


"Makhluk ini, aku selalu mengingatnya. Kali ini bukan hal besar untuk mengalahkannya."


Suro cukup percaya diri mampu menghabisi makhluk yang tidak mampu diserang oleh Purbangkara dengan kekuatan perubahan apinya.


Bahkan Purbangkara sempat melesatkan kilat petir yang menghajar katak sebesar rumah itu. Namun bukannya tubuhnya terpental oleh hantaman kilat, justru makhluk itu berhasil menyerang balik dan menghantam tubuh burung api itu dengan genggaman tangannya yang sebesar gajah dan berwarna hitam kelam seperti seluruh tubuhnya.


Suro langsung menggunakan Langkah Maya untuk lenyap dan muncul didalam tubuh katak raksasa itu. Dia segera membentuk Abhaya mudra untuk memulai tehnik empat sage dengan kekuatan penuh. Abhaya mudra memiliki arti "isyarat tanpa rasa takut". Kedua telapak tangannya membuka dengan lebar.


Wuuuuushhh...!


Kretaaak! Kretaaaak!


Hooooaaaaaaarrrgggghhhh...!


Setelah jurus itu dimulai, maka segala organ tubuh makhluk itu lenyap amblas terserap masuk kedalam kedua telapak tangan Suro yang membentang kedua sisinya.


Terdengar keras suara bergemeletak, karena tubuh katak itu semakin menciut masuk ke dalam seperti balon yang kehilangan tekanan anginnya. Teriakan keras kesakitan makhluk itu menutup jurus pembantai siluman.


Sesungguhnya katak seribu lengan adalah sejenis Bhuta kala yang merupakan makhluk astral. Alasan itulah yang melatar belakangi, mengapa dulu Eyang Sindurogo maupun Purbangkara yang menyerang dengan jurus perubahan api tidak mempan.


Bahkan saat hendak meghantam, lengan tangan itu tidak mampu disentuh, namun dapat melukai tubuh mereka saat menghantamkan pukulannya.


Setelah selesai dengan katak seribu lengan, kali ini Suro cukup yakin, jika keempat penjaga gaib miliknya dapat menghabisi para Shurala yang mengepung mereka.


Setelah cukup yakin dengan kondisi para penjaga gaib, dia segera kembali ke rencana awal, yaitu menghabisi pemimpin para pasukan kegelapan yang menyerang dia dan juga Geho sama.


Musuh yang dia incar adalah tetua Arkados yang berada dikejauhan, Suro segera bergerak ke arah Geho sama. Sebab saat itu tetua Arkados mengatur serangan pasukannya untuk menghabisi Gagak setan.


Setelah gagal menghabisi Suro, lelaki itu ternyata memilih lawan yang lebih lemah. Dia berharap dapat mengurangi kekuatan lawan. Apalagi dia memang menyimpan dendam kepada Gagak setan.


Sebab serangan yang dilakukan Gagak setan dan eyang Sindurogo, membuat dia dan seluruh pasukannya harus meninggalkan perguruan miliknya.


Tetua Arkados merasa yakin dapat menghabisi Geho sama, meskipun saat itu Gagak setan telah mengerahkan sembilan tubuh ilusi miliknya. Tetapi tetua Arkados juga memiliki para Shurala dan tetua perguruan miliknya yang telah mencapai kekuatan setingkat dirinya, yaitu kekuatan tingkat surga, meski itu masih ditingkat awal.


Dia mengira katak seribu lengan dapat menahan Suro, minimal selama dia dan pasukannya mengepung Geho sama. Sayangnya dia tidak mengetahui, jika Suro memiliki ilmu yang menjadi kelemahan makhluk itu.