SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 186 Maha Naga Taksaka



"Makhluk rendahan sepertimu ingin menguasai dan menghabisi tuanku, jangan bermimpi!" Suara Suro terdengar berbeda dari biasanya, karena suaranya kali ini terdengar agak serak dan berat.


Hal itu terjadi karena sekejap setelah Suro kehilangan kesadaran, sebuah kesadaran lain segera mengambil alih. Dia adalah jiwa dari Pedang Kristal Dewa.


Serangan ilmu gendam dari Pujangga gila yang mengenai raga dan jiwanya begitu kuat. Sehingga Suro tidak mampu menahannya. Beruntung dengan kesadarannya yang hilang membuat lukanya tidak bertambah. Sebab ilmu gendam yang sebelumnya mengenainya langsung hilang pengaruhnya.


Sebelum Pujangga gila kembali melakukan serangan ilmu gendam miliknya, jiwa dari Pedang Kristal Dewa lebih dahulu menyerangnya dengan api hitam yang sangat kuat.


"Maha Naga Taksaka mengaumlah, hancurkan makhluk kotor ini dari hadapanku!" Bersamaan dengan ucapan Lodra dia bersalto diudara sambil menebaskan pedang yang kini sudah berada dalam genggaman tangannya.


Tebasan pedang yang baru saja dilakukan Lodra melepaskan kekuatan api hitam yang luar biasa besar. Sebelum membentuk tubuh seekor naga, api itu menyebar ke segala arah, seperti bunga yang baru saja mekar dengan begitu luas. Penampakkan itulah yang disaksikan Dewa Pedang dan Dewa Rencong, sebelum mereka buru-buru menghindar sejauh mungkin.


Bukan saja Dewa Pedang dan Dewa Rencong yang buru-buru melesat menjauh untuk menyelamatkan diri, Pujangga gila tak kalah terkejutnya. Nyawanya seperti hendak melompat keluar dan kabur mendahului raganya.


Sebab setelah mengembang dengan begitu luas, api hitam itu kemudian menangkup dengan cepat. Seakan hendak menggurung tubuh Pujangga gila


"Kampret, setan alas, gundul pringis, tek-tekan, gedebok pisang, kucing kudisan, kutu monyet, anak monyet, bapak monyet, jambu monyet! Kurang ajar bagaimana mungkin ada yang mampu mengerahkan inti api neraka dengan begitu mengerikan!" Pujangga gila itu merepet memaki cukup panjang seakan tidak ada ujungnya. Dia begitu terkejut sampai kembali waras walau hanya sesaat.


Dia langsung melesat menjauh menghindari wujud api yang menangkup hendak menangkap dirinya. Setelah menangkup, api hitam itu berputar menggulung. Kemudian dengan cepat membentuk tubuh seekor ular naga yang sangat besar.


Hooooaaaaar!


Sebuah raungan yang sangat keras seakan keluar dari mulut ular naga raksasa yang dibentuk dari api hitam. Raungan itu sebenarnya berasal dari udara yang melewati rongga dari tubuh naga taksaka dan bertemu dengan suhu teramat panas milik api hitam. Udara yang berputar dalam tubuh Naga Taksaka itulah yang terdengar seperti raungan keras.


Ukuran naga Taksaka kali ini lebih dari sepuluh kali lipat dari ukuran yang biasanya. Agaknya kekuatan Bhuta kala yang telah dia serap sungguh sangat besar, sehingga Lodra mampu mengerahkan api hitam dengan begitu dahsyat.


Melihat wujud Naga Taksaka yang begitu mengerikan semakin membuat Pujangga gila mempercepat lesatan tubuhnya. Kini ganti giliran dia yang dikejar-kejar. Rantai yang mengejar Suro dan Dewi Anggini sudah sejak tadi ditarik masuk ke dalam tubuhnya lagi.


Pujangga gila itu kembali mempercepat lesatan tubuhnya setelah mengetahui naga Taksaka bertambah cepat mengejar dirinya. Beberapa kali dia mencoba menghindar, tetapi kobaran api seakan tidak mau melepaskan dirinya.


"Pawana! Sadagati! Bayu! Maruta! Bajra! Lesus! Sindhung! Samirana! Semuanya kembali ke jurang neraka!" Pujangga gila berteriak memanggil semua Bhuta kala sambil melesatkan kekuatan teriakannya yang menggelegar ke arah Naga Taksaka. Tetapi api hitam itu dengan lincah dapat menepis semua serangan balik dari Pujangga gila. Semua nama yang dia sebut memiliki arti yang sama yaitu angin.


Beberapa kali kakek itu harus menyelamatkan tubuhnya agar tidak terbakar oleh panasnya api hitam yang terus mengejarnya.


Kakek-kakek itu terus memaki dengan dilambari kekuatannya yang tidak masuk akal. Makian itu digunakan untuk mengusir Naga Taksaka yang terus membuntutinya.


Bhuta kala yang mengikuti Pujangga gila tidak kalah riuhnya. Mereka ikut berteriak-teriak memaki mengikuti ucapan Pujangga gila. Para Bhuta kala itu terlihat begitu bergembira melihat Pujangga gila dikejar-kejar Naga Taksaka. Mereka justru bersorak sorai sambil terus berlari dengan sangat cepat mengikuti Pujangga gila. Mungkin mereka mengira majikannya sedang lomba adu kecepatan.


Melihat para Bhuta kala bersorak sorai sambil mengulang setiap perkataan Pujangga gila, membuat lelaki itu bertambah murka, sehingga makiannya terdengar semakin keras.


Suara mereka bersahut-sahutan seperti suara kodok yang bernyanyi sehabis turun hujan. Naga Taksaka tidak mau melepaskan buruannya dia terus mengejar hingga tidak terlihat di balik hutan sebelah timur.


"Aku rasa itu sudah cukup nakmas. Kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Jika mengikuti apa yang dia barusan katakan, Pujangga gila itu menuju jurang neraka. Untuk sekarang kita tidak ada waktu untuk mengurusi mereka." Setelah Pujangga gila kabur dikejar Naga Taksaka Dewa Pedang segera mendekat ke arah Suro. Melihat mata Suro yang masih menatap tajam ke arah Pujangga gila, dia mengira Suro berniat mengejarnya.


Suro hanya mengangguk menjawab perkataan Dewa Pedang. Pendekar pedang itu merasa ada yang aneh dengan sikap Suro. Sebab dia menatap ke arahnya dengan begitu tajam seakan orang lain.


**


"Kenapa bocah gemblung itu tidak sejak tadi menggunakan api hitam miliknya untuk mengusir orang gila itu?" Dewa Rencong masih saja terkesima melihat Suro mengerahkan Naga Taksaka, walau dia sudah beberapa kali melihatnya.


Dia kemudian mendekat ke arah Suro, begitu juga Dewi Anggini. Guru dari Mahadewi itu terlihat kepayahan setelah terus dikejar rantai hitam milik Pujangga gila.


"Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan. Mungkin lain waktu kita harus memeriksa jurang neraka, tetapi bukan sekarang." Dewa Pedang menatap Dewi Anggini.


"Apakah tetua Dewi Anggini masih bisa melanjutkan perjalanan sampai kita keluar dari area hutan ini?" Dewa Pedang mencoba memastikan kondisinya sebelum mereka melanjutkan perjalanan.


"Aku rasa aku masih sanggup kakang." Dewi Anggini mengangguk.


Setelah Pujangga gila kabur pontang panting dikejar Naga Taksaka mereka berempat lalu menggunakan kesempatan itu untuk sesegera mungkin dapat meninggalkan hutan Gondo Mayit.


Dewa Pedang, Dewa Rencong dan Dewi Anggini merasa ada sesuatu yang berbeda mendengar suara Suro saat berbicara dan bertingkah seperti bukan dirinya. Tetapi mereka sudah tidak ada waktu untuk bertanya. Mereka harus keluar dari hutan itu sesegera mungkin, karena semakin lama di hutan itu hanya akan membuang-buang waktu. Selain itu mereka juga tidak tahu musuh apa lagi yang sedang menunggu mereka.


Lodra yang menguasai kesadaran Suro mengetahui jika tubuh tuannya itu sedang mengalami luka dalam. Setelah terbang cukup lama, sehingga telah berada pada wilayah yang cukup jauh dari wilayah hutan Gondo Mayit, dia memutuskan meminta istirahat terlebih dahulu.


"Kalian berhentilah, bocah ini perlu kalian sembuhkan terlebih dahulu!" Lodra berkata dengan suara beratnya.


Dewa Pedang yang sejak tadi melihat gelagat Suro terasa aneh mulai memincingkan mata mendengar suaranya yang begitu aneh. Apalagi dia menyebut dirinya sendiri dengan bocah, seperti yang biasa dilakukan Dewa Rencong.


"Benar sekali kakang, luka dalamku juga agaknya semakin bertambah berat. Aku harus memulihkan lukaku terlebih dahulu sesegera mungkin!" Dewi Anggini yang berada dibelakang Suro ikut menyela. Agaknya setelah serangan terakhir dari Pujangga gila dan memaksakan tubuhnya untuk tetap terbang, telah membuat lukanya bertambah berat.


"Kita sudah cukup jauh dari hutan Gondo Mayit tidak ada salahnya kita beristirahat sebentar." Dewa Rencong menyela.


Dewa Pedang kemudian mengangguk lalu melesat ke bawah diikuti yang lain. Mereka memilih beristirahat disekitar ladang para penduduk.


Mereka menggunakan gubuk di tengah ladang yang biasa digunakan para penduduk untuk beristirahat. Gubuk itu lumayan untuk mereka berteduh, apalagi hujan kembali turun dengan derasnya.


Setelah terbang cukup lama ternyata kekuatan Dewi Anggini telah sampai pada batasnya. Saat sampai dibawah, kembali dia mutah darah dan akhirnya sudah benar-benar tidak kuat lagi. Ia kehilangan kesadarannya sebelum memulai menyembuhkan diri. Dewa Pedang dan Dewa Rencong segera sibuk menolong dirinya.


Lodra yang hendak meminta Dewa Pedang dan Dewa Rencong untuk menyembuhkan tubuh Suro membatalkan niatnya. Akhirnya dia memilih menyalurkan kekuatan yang tersimpan didalam bilah Pedang Kristal Dewa untuk menyembuhkan luka dalam.


Bilah pedang itu ditempelkan di dadanya. Beberapa pil dia telan untuk membantu mempercepat proses penyembuhkan luka dalamnya. Setelah itu dia membentuk kurma mudra sebelum memulai bersamadhi.