SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch.318 Menuju Swarnabhumi.



"Peperangan yang akan kita lakukan ini anggab saja sebagai bagian latihan para tetua kalian yang berhasil meningkatkan kekuatannya dengan pesat. Khasiat pill yang telah aku buat dari bahan yang sangat langka terbukti ampuh meningkatkan kekuatan kalian." Eyang Sindurogo berbicara sambil menyilangkan tangannya didada.


"Benar eyang, mereka akhirnya berhasil meningkatkan kekuatannya berkat bantuan pill yang telah eyang buat." Dewa Pedang yang perguruan miliknya dibantu oleh eyang Sindurogo merasa sangat berterima kasih. Sebab sekarang para tetua Perguruan Pedang Surga kebanyakan telah mencapai tingkat langit dalam jumlah yang banyak.


"Sebenarnya, semua itu berhasil aku buat, karena campur tangan dari muridku. Sebab bahan tersulit untuk dicari telah disediakan muridku. Aku tidak menyangka sama sekali, ternyata dia memiliki Naga Sisik Emas. Seperti dalam cerita keberadaan naga itu memang sangat bermanfaat."


"Benar sekali eyang, para tetua yang bermeditasi didekat naga itu juga merasakan perbedaan dibandingkan ditempat lain. Naga itu membantu mempercepat peningkatan kekuatan mereka," imbuh Dewa Pedang.


"Memang benar, semua berkatnakmas Suro. Berkat sumbangsihnya akhirnya banyak yang terbantu. Bagaimana kabar tentang nakmas Suro, sudah hampir satu purnama dia tidak terdengar kabarnya?" ucap Dewa Pedang tatapan terlihat kosong. Seperti yang dia ucapkan, pikirannya memang sedang menerawang jauh memikirkan nasib Suro yabg belum diketahui kondisinya.


"Jangan khawatir, aku yakin muridku tidak akan bernasib seperti diriku yang berhasil dikuasai Dewa Kegelapan."


"Mengenai hal itu, kemungkinan besar tidak akan terjadi. Sebab saat kami di gunung Himavat, dia telah mencapai pencerahan sempurna setelah melewati jalan Arhat." Dewa Rencong menjawab pertanyaan Dewa Pedang yang terlihat begitu khawatir.


"Benar sekali apa yang kau ucapkan Salya. Dia bahkan sudah melewati kemampuan kekuatan jiwa milikmu. Pak tua yang telah mengajari maha gurumu dahulu memang memiliki rencana sendiri. Dia memang "weruh sak durunge winarah( tau sebelum terjadi). Ternyata dia mengetahui, jika nanti muridnya, yaitu dirimu akan mengajari ilmu itu kepada muridku tentang ilmu sedulur papat."


"Jika Sang Hyang Ismaya saja mempercayai muridmu yang gila itu, apa lagi yang kita khawatirkan. Sepertinya langit sekalipun menggantungkan harapan besar padanya. Hahaha...!" Dewa Rencong tertawa cukup keras, karena mengingat beberapa kejadian lucu saat bertempur bersama Suro.


"Mengenai kemampuan nakmas Suro, sebenarnya sejak dulu aku sangat penasaran sekali ingin bertanya langsung kepada eyang, mengenai latar belakangnya yang tidak kami ketahui."


"Bisa eyang ceritakan kepada kami mengenai rahasia tentang muridmu itu. Semakin lama kami mengetahui tentang kemampuannya, semakin kami bertambah penasaran. Siapa sebenarnya nakmas Suro itu? Kakang Dewa Rencong pasti juga ingin mengetahui latar belakang dari nakmas Suro, bukan?"


Eyang Sindurogo tidak segera menjawab pertanyaan Dewa Pedang, begitu juga Dewa Rencong terlihat ragu untuk berbicara. Dia justru memilih menunggu eyang Sindurogo lebih dahulu berbicara.


Eyang Sindurogo lalu menarik nafas beberapa kali sebelum mulai berbicara.


"Sebenarnya aku sendiri tidak mengetahui mengenai siapa sebenarnya muridku itu?"


"Pengetahuan tentang muridku itu sengaja aku pendam sejak lama. Tetapi baiklah, mungkin sekaranglah waktunya aku harus menceritakan kepada kalian kebenaran yang aku tutupi. Cerita bagaimana akhirnya aku memiliki seorang murid. Apalagi saat ini dia sudah mampu melindungi dirinya sendiri. Jadi seperti ini asal mulanya..."


Eyang Sindurogo lalu menceritakan secara lengkap, sejak dari awal bagaimana dia sampai menemukan muridnya itu. Dia juga membenarkan dugaan jatuhnya sebuah pusaka dewa yang belasan tahun lalu sempat diperebutkan.


Setelah selesai menceritakan hal tersebut kedua pendekar didepan eyang Sindurogo berpandangan mata. Beberapa hal sudah mereka dengar, tetapi cerita lengkap dari eyang Sindurogo tetaplah sebuah hal yang sangat mengejutkan.


"Apakah nakmas Suro adalah dewa yang diutus ke bumi untuk melawan Dewa Kegelapan yang secara kebetulan kembali bangkit?" sahut Dewa Pedang.


"Dewa apanya, mana ada dewa sinting seperti dirinya. Tetapi memang aku akui kekuatan dan kecerdasannya bukanlah milik manusia lumrah." Dewa Rencong menggaruk-garuk kepalanya mengingat kemampuan Suro yang dia sendiri tidak mampu melakukan.


Eyang Sindurogo tertawa mendengar tanggapan Dewa Rencong yang selalu menyebut muridnya sinting.


"Sebaiknya kita menunju ke Swarnabhumi secepatnya, kemungkinan eyang Sindurogo akan mengenal beberapa tokoh pendekar yang datang dari negeri jauh itu?"


"Apa maksudmu Dewa Pedang?"


"Pasukan itu dipimpin oleh orang yang dekat dengan Pedang iblis, selain itu pendekar golongan hitam dari negeri atap langit yang dulu pernah bertarung dengan eyang Sindurogo juga bergabung didalamnya."


"Mungkin eyang Sindurogo tidak mau menceritakan hal tersebut, aku tidak memaksa," imbuh Dewa Pedang namun wajahnya mengisyaratkan sedang menunggu eyang Sindurogo bercerita tentang Dewi Anggini.


"Begitu ternyata" eyang Sindurogo mengangguk-anggukan kepala.


"Hahahaha...hari ini sepertinya aku akan membuka rahasia kehidupan dua orang yang sengaja aku tutupi sejak lama."


Sebelum meneruskan ucapannya eyang Sindurogo menarik nafas panjang.


"Sebenarnya Dewi Anggini adalah putri sulung seorang raja besar yang menjadi penguasa kerajaan negeri atap langit.


Tetapi terjadi pemberontakan, sehingga negeri yang seharusnya menjadi warisannya itu berhasil direbut musuh.


Dia lalu menjadi buronan didalam kerajaannya sendiri. Beruntung saat kejadian penyerangan para pemberontak, dia tidak sedang berada di lingkungan istana. Sejak dulu adinda Dewi Anggini menyukai masalah ilmu kanuragan, karena itu dia dititipkan kepada seorang pendekar yang berjuluk Pendekar Tangan Seribu.


Pasukan pemberontak mengetahui hal itu beberapa waktu kemudian. Alasan itulah akhirnya dia menjadi buronan pasukan pemberontak. Karena dialah satu-satunya pewaris yang sah atas kerajaan tersebut.


Mereka hendak tumpas tuntas sampai ke akar-akarnya, agar tidak menjadi batu ganjalan atas kekuasaan yang berhasil mereka rampas.


Dan karena alasan itu juga yang membuat dia memilih mengikutiku, apalagi seluruh keluarga kerajaan yang dia kenal telah dibantai. Sehingga hanya dengan meninggalkan tanah tumpah darahnya dia mencoba mengubur luka lamanya.


Tetapi aku tidak mengira kaisar yang telah merebut kerajaan itu masih berhasrat membunuh dirinya, meski dia telah berada ditempat yang sangat jauh. Bahkan adinda sendiri sebenarnya tidak memiliki hasrat untuk merebut kembali kerajaannya."


"Apakah sebaiknya berita tentang pasukan dari negeri atap langit yang mengincar dirinya tidak usah kita beri tahu kepada dirinya?" tanya Dewa Rencong.


"Jika kalian bisa merahasiakan hal itu darinya, aku juga tidak keberatan untuk tidak memberi tahukan masalah ini kepadanya," jawab Eyang Sindurogo sambil tersenyum simpul.


"Tetapi aku telah mendengar hal ini kakang, mungkin saatnya aku harus membuat keputusan untuk tidak lagi menghindar dari masalah yang aku telah lari darinya puluhan tahun lalu itu."


"Aku akan hadapi para pasukan laknat itu. Apalagi kekuatanku sekarang telah menembus kekuatan langit. Jadi kakang tidak perlu khawatir. Aku pasti bisa menjaga diri."


Dewi Anggini yang muncul dari balik dinding sebenarnya sudah diketahui oleh Eyang Sindurogo. Dia tetap melanjutkan bercerita itu agar kedua pendekar yang sedang berbicara dengannya mengetahui cerita sebenarnya.


Dia juga berpikir kejadian itu sudah sangat lama, selain itu keberadaan Dewi Anggini juga sudah diketahui, jadi dia berpikir tidak ada yang perlu lagi dirahasiakan.


Eyang Sindurogo menganggukan kepala menyetujui keikut sertaan Dewi Anggini. Apalagi itu memang kewajibannya sebagai bagian tetua Perguruan Pedang Surga.


"Selain itu aku harus menuju ke Swarnabhumi, karena ada satu relik kuno yang harus aku ambil. Itu sesuai dengan apa yang dikatakan Pak tua kepadaku."


Setelah semua persiapan selesai, maka mereka segera berangkat menuju ke Swarnabhumi. Mereka tidak lagi terbang menuju ke Swarnabhumi. Karena eyang Sindurogo telah menguasai Langkah Maya yang dapat mengirim mereka dalam waktu sekejap, sehingga dapat menyingkat waktu.


Tetua Kaliki, tetua La Patiganna, Tetua Dewi Anggini dan beberapa tetua yang telah mencapai tingkat langit ikut bersama menuju Swarnabhumi.