SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Kemunculan para dewa



Pasukan Prabu Godakumara ikut menghilang mengikuti junjungannya yang telah menculik Mahadewi. Dalam waktu singkat suara pertarungan juga berhenti. Semua berganti dengan suara tangis dan rintihan orang yang sekarat memenuhi medan pertempuran.


Para pendekar tingkat tinggi mengerubungi Eyang Sindurogo yang memeluk murid satu-satunya dengan berlinangan air mata.


"Aku tidak mempercayai ini," ucap Eyang Sindurogo menatap tubuh kaku yang sedang dia peluk.


Airmatanya deras mengucur tanpa mampu dia hentikan. Lelaki itu merasakan kesedihan yang tidak mampu dia lukiskan perasaannya.


Dia masih tidak bisa mempercayai, jika murid satu-satunya yang sudah dia anggap anaknya sendiri telah tewas.


Di depannya Dewa Pedang, Dewa Rencong, Dewi Anggini ikut bersedih dengan tewasnya murid dari kekasihnya itu, tetapi dia juga kebingungan dan tidak menyangka dengan tindakan Prabu Gondakumara yang telah membawa pergi Mahadewi.


Tetapi pendekar wanita itu memilih memendam rasa resah dan kebingungannya di dalam relung batinnya. Dia tidak ingin menambah beban yang di rasakan kekasihnya.


Kini mereka semua hanya bisa terpekur tanpa mampu berkata-kata apapun. Kejadian ini sangat memukul perasaan mereka semua.


Disaat semua orang dilanda kesedihan sebuah suara yang tidak keras, namun seakan suara itu muncul dan berada begitu dekat sedekat antara jari tengah dan jari telunjuk.


“Mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…”


"Guru...!" seru Eyang Sindurogo langsung bangun dan menyerahkan muridnya kepada Dewi Anggini yang berada di sebelahnya.


Matanya langsung menyapu ke segala arah mencari sumber suara barusan. Bukan Eyang Sindurogo yang melakukan hal itu.


Semua mata langsung penasaran dengan suara yang terdengar ganjil tetapi menyimpan kekuatan misterius yang sangat besar. Ditambah dengan ucapan Eyang Sindurogo yang menyebutnya sebagai guru.


Sehingga semua orang yang ada di sekitar bekas medan pertempuran itu dibuat penasan, seperti apa wujud dari sosok guru yang dimiliki Eyang Sindurogo selama ini.


“Guru aku tau engkau pasti sudah ada di sini, mengapa tidak menolong muridku? Lihatlah sekarang dia sudah tidak bernyawa!”


Ctak!


“Waduuuuuh!” sebuah jitakan keras mendarat di kepala.


Cahaya terang melingkupi tempat itu, seakan matahari turun dari langit. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi. Tetapi cahaya itu kini telah turun di dekat Eyang Sindurogo.


Dewa Rencong pernah bertemu, tetapi saat itu wujudnya diliputi cahaya yang sangat terang seperti saat ini, sehingga dia tidak mampu melihat dengan jelas, atau justru tidak mampu melihatnya kala itu karena energi kuat dan silaunya cahaya mengaburkan pandangannya walau untuk melihat sekejab saja.


“Murid tidak beradab.” Sosok itu justru memelototi Eyang Sindurogo yang sedang bersedih kehilangan muridnya.


Namun beberapa saat kemudian mereka baru mengetahui sosok siapa yang mampu memancarkan cahaya terang dari sekujur tubuhnya.


Sesosok itu ternyata seorang lelaki tua dengan sebuah jambul putih. Perutnya terlihat buncit dan dengan melihatnya saja mereka akan menyangka itu hanya seorang kakek tua biasa.


Tetapi demi melihat cara kemunculannya yang begitu berbeda mereka menaruh hormat begitu tinggi.


Apalagi mereka juga mendengar bagaimana Eyang Sindurogo menyebutnya dengan sebuah panggilan guru, tentu mereka dibuat terkejut. Apalagi dengan sekenanya menjitak kepala Eyang Sindurogo tentu lelaki itu sangatlah istimewa.


“Seharusnya kau ini mengerti apa yang di pikirkan gurumu. Sudah ratusan tahun masih saja tidak bisa weruh sak durunge winarah( tau sebelum terjadi),” imbuhnya sambil tetap memelototi Eyang Sindurogo.


Dewa Pedang melotot, Dewa Rencong memincingkan matanya melihat adegan tersebut. Begitu juga dengan Dewi Anggini dia justru baru pertama kali ini melihatnya.


Begitu juga Dewa Obat dia ikut terkejut dengan kedatangan kakek tua berambut putih itu. Dia langsung bersujud di depannya.


“Sang Hyang Ismaya,” serunya dengan penuh khidmat.


Pandangan Sang Hyang Ismaya lalu berpindah pada Eyang Sindurogo yang masih menunggu penjelasan gurunya yang membiarkan Suro gugur dalam pertempuran. Matanya memandang dari atas ke bawah dan ke atas lagi, seakan dia sedang memastikan sesuatu.


“Kau pikir aku tidak mengetahuinya? Seharusnya dirimu yang sudah menjadi muridku selama ratusan tahun mengerti aku melakukan ini karena ada sesuatu tujuan.”


Eyang Sindurogo mulai menggaruk-garuk kepalanya. Dia lalu menoleh ke arah tubuh Suro yang tergeletak di bawah pangkuan Dewi Anggini.


Belum juga mengerti yang di inginkan Sang Hyang Ismaya mendadak terdengar suara yang sedikit aneh. Tetapi suara itu seakan memenuhi pikiran setiap orang yang mendengarnya.


Suara itu tidak menggelegar, tetapi seolah memenuhi antara langit dan bumi.


"Brekencong-brekencong pakpak pong buk bolong waru dhoyong ditegor uwong kali codhe sapa sing nggawe."


Sebuah semburat cahaya yang sangat terang dan sangat menyilaukan membentuk bola cahaya turun dari langit bersama suara ucapan barusan.


Cahaya itu lalu melayang dan terus mendekat ke arah Sang Hyang Ismaya, dan akhirnya berhenti tepat berada di depannya. Sesosok dalam selimut cahaya yang menyilaukan mata itu lamat-lamat mulai terlihat.


Kini dihadapan Sang Hyang Ismaya muncul sewujud lelaki dengan pakaian kebesaran yang penuh segala kemewahan, baik berupa emas dan batu permata maupun segala batu-batuan berharga lainnya.


Wujud lelaki itu seperti orang bajang gemuk bulat, berwajah yang unik, sehingga setiap orang yang melihatnya pasti akan langsung dapat mengenalinya. Wajahnya itu juga selalu menengadah ke atas.


“Adimas Sang Hyang Caturkaneka dirimu telah datang dari Khayangan Siudal-udal, apakah telah mempersiapkan ugo rampe yang diperlukan?” tanya Sang Hyang Ismaya sambil menatap wajah sosok lelaki yang terlihat begitu lucu.


"Prekencong waru doyong ditegor uwong, lo o dolo wiyohok...tentu saja kakang Semar. Aku sudah menunggu saat ini. Rahwana sudah melesatkan senjata Indrastra yang kita takuti sehingga membuat ayam jantanmu gugur. Ini pertanda wadaknya yang manusia biasa harus kita ruwat dengan ruwatan Sang Hyang Wenang.”


"Benar, ini sudah digariskan agar Indrastra yang dikuasai Rahwana dia lepaskan. Jika tidak tentu akan mampu menjadi masalah meskipun ayam jagoku ini wadaknya telah menjadi raga dewa. Setelah itu tugas kita sudah selesai, karena bukan kita lagi yang melindunginya, tetapi Sang Hyang Wenang langsung,” sahut Sang Hyang Ismaya


Pandangan Sang Hyang Ismaya mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitar seakan mencari sesuatu. “Mengapa Batara Anantaboga belum juga muncul?”


Pembicaraan mereka berdua tentu juga didengar oleh Eyang Sindurogo. Akhirnya lelaki itu mengerti keputusan gurunya yang membiarkan muridnya terkena senjata dewa yang sesungguhnya.


Karena senjata yang menancap di dada Suro yang berupa panah yang diselimuti cahaya itu benar-benar panah milik Batara Indra, Jadi tidak sama dengan yang dikerahkan oleh Dewa Obat maupun oleh Suro.


Dengan panah itu seorang dewa sekalipun mampu dibunuhnya. Maka tidak aneh, meskipun Suro telah dilindungi dengan Sang Hyang Kavacha, tetap saja dia dapat tertembus senjata Indrastra.


Tetapi panah itu tidak dapat digunakan berkali-kali. Sekali digunakan, maka senjata itu pun akan kembali kepada tuannya, yaitu Sang Hyang Batara Indra.


Seperti yang terjadi sekarang, kini di dada Suro tidak terlihat lagi adanya panah yang bersinar dengan sinar yang mampu menyilaukan mata.


Bahkan karena kekuatan yang begitu dahsyat tidak seorangpun yang mampu mendekati tubuh Suro, sampai anak panah itu menghilang dari pandangan, baru Eyang Sindurogo mampu mendekati jasad muridnya itu.


“Prekencong, pekencong waru doyong kelak mulutmu jadi monyong... Akhirnya yang ditunggu telah datang,” ucap Sang Hyang Batara Caturkaneka atau juga memiliki nama lain Sang Hyang Batara Narada.


Tatapan Sang Hyang Batara Narada itu sedang terpaku ke arah seorang yang mendadak muncul dikejauhan. Warna pakaian sosok yang dimaksud berwarna merah.


Sebuah seruling seakan terbuat dari kaca berada dalam genggamannya di tangan kiri. Sedangkan di tangan kanannya sedang memeggang sebuah cawan kecil yang terbuat dari emas berkilauan penuh kemewahan.


“Kakang Batara Ismaya dan Kakang Batara Narada telah datang mendahului diriku ternyata. Maafkan diriku yang terlambat datang. Karena aku kebingungan memilih pakaian apa yang pantas untuk menyambut kakang berdua.”


**


mohon bersabar jika berkenan silahkan kunjungi dua novel saya di NM berlabel kuning.


Maha Manusia dan JAGAT BIROWO