SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 413 Narayanastra



Serangan yang dikerahkan pertapa itu pada awalnya memang terus dapat ditahan oleh pedang yang ada dalam gengaman Geho sama. Tetapi saat pertapa itu meningkatkan jumlah serangan anak panah chakra, maka Geho sama mulai jeteteran dan kesulitan menahan seluruh serangan.


Satu anak panah chakra akhirnya berhasil menembus dada Geho sama. Tubuhnya langsung terhempas oleh serangan yang dikerahkan pertapa.


Geho sama terkapar sambil mengerang kesakitan. Beruntung luka itu tidak sampai merengut nyawanya.


Melihat hal itu, maka Lodra segera melindungi Geho sama. Bilah pedang yang sebelumnya dipegang, kini melesat sendiri menyerang sang pertapa.


Lodra menyerang dengan dilambari kekuatan api hitam yang berkobar menyelimuti sekujur bilahnya yang tembus pandang.


Kecepatan lesatan bilah pedang itu sudah tidak mampu ditangkap oleh pandangan mata. Seiring lesatan pedang itu, api hitam yang melambari bilahnya semakin membesar.


Tanpa di sadari oleh sang pertapa, kali ini api itu berhasil mengepung tubuhnya dari berbagai sisi. Lodra merasa telah berada diatas angin melihat musuhnya telah terkepung oleh api hitam miliknya.


"Lodra sialan, kekuatan jiwa yang telah dia miliki sudah sedemikin besar masih saja menyerap chakra milikku." Geho sama segera menyadari, tanpa menyerap kekuatan miliknya, sebenarnya tadi Lodra mampu mengerahkan jurus Maha Naga Taksaka.


Sebab api yang dia kerahkan kali ini lebih kuat dibandingkan jurusnya sebelumnya. Dengan kekuatan yang disembunyikan itu tubuh pertapa kini sudah hilang ditelan kobaran api hitam.


Luka yang dialami Geho sama memang telah berhasil melumpuhkannya, namun dia berhasil menghentikan pendarahan. Serangan yang menembus dadanya itu, meskipun tdk mengenai jantungnya, tetapi telah membuatnya kesulitan untuk bangkit lagi.


Dia hanya melihat pertarungan antara Lodra dan sang pertapa dari kejauhan, tanpa dapat berbuat apapun. Hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah secepat mungkin memulihkan lukanya.


Geho sama terlihat masih dalam posisi duduk bersila. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menyerap kekuatan alam menggunakan tehnik empat sage.


Kulit dari Geho sama sebenarnya tidak mudah dilukai oleh senjata biasa. Tetapi panah chakra yang menyerangnya memiliki ketajaman dan kekuatan yang jauh berbeda dari umumnya senjata biasa.


Tindakan Geho sama yang segera menotok beberapa bagian tubuhnya, telah menyelamatka nyawanya. Sehingga tidak sampai membuatnya kehabisan darah.


"Ini luka terparah yang aku dapatkan setelah aku memiliki tubuh kembali. Aku tidak mengira pertarungan dengan pertapa akan mengakibatkan luka sampai sejauh ini.


Sebenarnya apa tujuan dari lelaki yang bernama Aswatama ini?" Pandangan Geho sama tidak lepas dari pertarungan Lodra yang berusaha menghabisi sang pertapa.


"Tidak mungkin?"


Geho sama yang awalnya tersenyum lebar saat melihat Lodra telah berhasil mengepung pertapa dengan api hitam, mendadak secara mengagumkan lawannya itu mampu terlepas dari kepungan api hitam.


Pertapa itu tidak menggunakan jurus ruang dan waktu, tetapi dia menggunakan tehnik perubahan air yang mampu membuyarkan api hitam yang mengepungnya.


Kembali Lodra berhasil mengepung dengan api hitam yang lebih dahsyat, tetapi kembali pertapa itu mampu terlepas dari serangan Lodra.


Pertapa tua itu menyadari jika api hitam yang berusaha membakar dirinya bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Karena itulah dia tidak membiarkan tubuhnya tersentuh oleh api hitam.


Lodra yang merasa diremehkan, akhirnya mengerahkan jurus terkuat miliknya, yaitu Kemarahan Sang Hyang Garuda. Api hitam yang dikerahkan Lodra kali ini tidak mampu dijebol oleh tehnik perubahan air yang sebelumnya dia gunakan.


Sebab area luas yang menjadi ajang pertarungan mereka yang berada diatas udara, telah dilingkupi kobaran api hitam. Seakan dua sayap yang sangat lebar telah dibentangkan untuk melingkupi tempat itu.


"Aku cukup kagum kau mampu mengerahkan api hitam sampai sedahsyat ini. Hanya jurus milik Dewa Agni yang mampu menandingi jurus ini!" Pandangan pertapa itu tertuju pada Geho sama yang duduk bersamadhi.


Dia mengira, jika api yang melahap tubuhnya dikerahkan oleh Geho sama. Karena itulah dia tidak memahami bagaimana Geho sama masih mampu melakukan serangan begitu dahsyat, selagi dirinya sudah terluka cukup parah.


Meskipun diserang dengan sebegitu mengerikan, pertapa itu tetap terlihat tenang. Wajah dari pertapa itu justru menyunggibgkan senyum kecil.


Melihat dirinya tidak lagi mampu menghindar dari serangan Lodra, pertapa itu kemudian mulai merapal mantra untuk memanggil astra atau senjata yang masuk dalam jenis senjata Mantramukta.


Mantramukta adalah jenis astra yang dipanggil dengan menggunakan mantra. Astra atau senjata yang kali ini digunakan oleh pertapa itu bernama Agniyastra.


Duuuum!


Senjata itu sama-sama jurus perubahan api hitam, seperti juga milik Lodra. Tetapi kekuatannya lebih dahsyat, karena sesungguhnya jurus itu diciptakan oleh Dewa Api.


Jurus terkuat yang dikerahkan Lodra hancur dalam satu ledakan itu. Tetapi imbas dari ledakan itu juga telah membuat awan gelap diatas langit gunung Taihang Shan ikut menghilang dari pandangan.


Ledakan yang terjadi kali ini terjadi diatas udara, sehingga tidak membuat kehancuran di pegunungan Taihang Shan. Tetapi, tetap saja hempasan angin panas dari dua jurus api itu telah membuat badai api hebat melanda ke segala arah.


Geho sama yang sedang bersamadhi mencoba menyerap chakra, hampir saja ikut tersapu oleh badai api yang muncul. Beruntung dia segera mengerahkan Langkah Maya, sehingga dia berhasil menyelamatkan diri.


Pepohonan yang tumbuh dipuncak gunung itu tersapu habis dan tidak menyisahkan apapun. Bahkan akar-akar pepohonan itu ikut lenyap menjadi abu.


Lodra yang menguasai Pedang Kristal Dewa tidak menyangka jurus andalannya dapat kembali dikalahkan. Pedang itu ikut terlempar oleh kuatnya ledakan yang terjadi.


Sebelum bilah pedang itu kembali melesat untuk menyerang sang pertapa, justru lelaki tua itu melakukan hal yang tidak terduga. Dengan cara yang mustahil dilakukan, dia berhasil menangkap bilah pedang yang hendak menyerangnya.


Entah bagaimana caranya Lodra yang berusaha terlepas, akhirnya dapat di taklukan olehnya. Jiwa pedang itu dipaksa untuk tunduk kepada sang pertapa.


"Pedang ini sejatinya milik Pangruwatdewa. Sudah ribuan tahun pedang ini melewati jaman.


Tidak terhitung yang berhasil menguasai dan menjadi pemilik pedang ini. Tetapi tidak sekalipun yang mampu mengerahkan jurus api hitam sampi ke tahap yang membuatku harus mengerahkan Agniyastra milik Dewa Api."


Sang pertapa yang bernama Aswattama itu terlihat menggeleng-gelengkan kepala terkejut dengan jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda. Dia tidak menyangka sama sekali ada jurus perubahan api yang begitu dahsyat, sampai hampir bisa disetarakan oleh jurus Dewa Api atau Batara Brahma.


Geho sama yang melihat pemandangan itu dibuat kesal dan juga kagum, sebab dia tidak pernah sekalipun melihat Lodra tunduk dengan begitu mudahnya. Bahkan Suro pun kadang kala kerepotan untuk mengatasi sifat dari jiwa pedang itu.


Pikiran Geho sama tidak memahami apa yang terjadi, dia segera berubah menjadi begitu waspada. Sebab pandangan pertapa itu telah berpindah mengarah kepada dirinya.


"Jika kau memang bukan lagi siluman biang kehancuran dunia, maka akan aku pasrahkan pada astra ku ini!"


Selesai berbicara sang pertapa itu mengucapkan mantra pemanggil senjata gaib miliknya yang lebih kuat dibandingkan senjata yang dia kerahkan sebelumnya.


"Narayanastra!"


Astra yang dipanggil oleh sang pertapa kali ini bukanlah astra tunggal, tetapi senjata yang mampu memanggil senjata astra dahsyat lainnya. Kemudian menyerang lawan secara terus menerus sampai lawan musnah.


Serangan astra yang dikerahkan sang pertapa kali ini kemungkinan besar tidak akan sanggup dihindari oleh Geho sama. Makhluk itu juga memahami kondisi yang akan dia hadapi.


Sebab kini berbagai senjata yang tidak terhitung jumlahnya telah muncul dan mengepung Geho sama.


Kejadian berikutnya yang menimpa dirinya sudah dapat ditebak dengan mudah. Geho sama akhirnya dengan terpaksa harus merasakan tubuhnya dihantam berkali-kali oleh senjata yang kekuatan satu astra itu setara dengan jurus Brahmasta.


Berbagai cara dia lakukan untuk terlepas dari serangan berbagai senjata yang terus mengepungnya dari berbagai arah. Bahkan Langkah Maya sekalipun tidak berguna menghindari jurus pertapa itu.


"Apakah kali ini aku akan benar-benar mati?" Geho sama kali ini seperti telah putus harapan, setelah mendapatkan hujan serangan yang begitu dahsyat.


Meskipun tubuh Geho sama beberapa kali berhasil dihantam serangan musuh, namun dengan kekuatannya yang dia miliki tidak membuatnya mati. Sebab tehnik yang dia gunakan sedikit banyak berhasil melindungi tubuhnya.


Karena tidak mampu melindungi dirinya secara sempurna, maka luka dalam yang dia derita semakin bertambah parah. Kali ini Geho sama sudah merasa tidak lagi memiliki harapan dapat menyelamatkan dirinya.


**


"Gawat, Geho sama mendapatkan serangan mengerikan seperti itu?" Suro muncul ditempat pertempuran.


Pemandangan yang dia saksikan membuatnya begitu terkejut. Dia tidak menyangka sama sekali kekuatan lawan yang dihadapi Geho sama memiliki kekuatan yang tak terbayangkan.


Sebelum Suro bergerak membantu Geho sama, sebersit suara menghentikan langkahnya.


'Pasrahkan dirimu pada Ulun," Suro segera mengetahui jika suara itu berasal dari Sang Hyang Wenang.


Suara itu lalu di lanjutkan kepada Geho sama. Pemuda itu memberi arahan kepada Geho sama yang sudah dalam kondisi terjepit.


"Baik bocah,"


Makhluk itu lalu melakukan apa yang diperintahkan. Tangannya lalu mulai membentuk Wara Mudra. Simbol tangan yang digunakan Geho sama itu adalah Mudra yang melambangkan kepasrahan total kepada Illahi.


Senjata yang dipanggil oleh pertapa yang sebelumnya menghajar Geho sama secara bergantian, kini tak lagi melakukan serangan. Dalam beberapa saat terjadi keheningan, setelah sebelumnya ledakan berturut-turut melanda tempat itu.


Pertapa itu segera menyadari apa yang telah terjadi.


"Ini adalah kehendak Dewata, para astra menerima kepasrahan yang kau lakukan."


Dia lalu merapalkan mantra untuk menarik astra Narayanastra yang dia kerahkan. Setelah itu semua senjata yang mengelilingi Geho sama menghilang.


Geho sama yang sudah babak belur dihantam berbagai astra yang muncul, akhirnya bisa bernafas lega.


"Aku pikir ini adalah akhir dari riwayatku," Geho sama menghela nafas panjang. Tubuhnya lalu ambruk tidak sadarkan diri.