SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 324 Hilangnya Dewi Anggini part 2



Eyang Sindurogo bersama Dewa Rencong kemudian melesat terbang mengejar musuh yang sedari tadi melarikan diri. Mereka memutuskan terbang agar bisa melacak arah larinya pasukan yang sebelumnya dibiarkan pergi.


Mereka terus mengikuti jejak yang ditinggalkan pasukan yang hendak kembali ke negerinya. Beberapa saat kemudian mereka telah melihat pasukan yang mereka kejar itu.


"Ketemu...mereka pasukan dari Negeri Atap Langit!"


Tetapi saat eyang Sindurogo mencari pasukan Mawar Merah yang memiliki pakaian seperti yang dia ingat, dia tidak menemukan mereka ditengah pasukan Negeri Atap Langit.


"Dimana kalian bawa salah satu tetua Perguruan Pedang Surga Bidadari tangan seribu?" eyang Sindurogo menatap dengan tajam ke arah panglima pasukan Negeri Atap Langit.


"Tidak satupun dari kami yang membawanya."


"Jangan kalian bohong! Atau akan aku habisi seluruh pasukan kalian!"


"Sebab Xiongshou salah satu pemimpin pasukan pembunuh bayaran kelompok Mawar Merah menyebut, salah satu tujuan kedatangan kalian adalah menangkap putri Yifu Yuan alias Dewi Anggini."


"Jangan salah paham pendekar, mengenai hal itu tidak ada urusannya dengan kami. Kemungkinan itu urusannya dengan kelompok Mawar Merah. Kami tidak memiliki urusan mengenai hal itu."


"Lihatlah, bahkan mereka telah meninggalkan pasukan kami, justru mereka lakukan itu saat kami sedang terdesak."


Untuk membuktikan ucapan panglima itu Eyang Sindurogo kemudian melanjutkan pencarian dengan memeriksa seluruh pasukan dari Negeri Atap Langit dan juga pasukan dari Negeri Jambudwipa.


Dari kedua pasukan yang tidak lagi memiliki semangat bertempur dan tidak memberikan sikap perlawanan kepada mereka berdua, akhirnya ucapan panglima dari pasukan Negeri Atap Langit ada benarnya.


Sebab setelah mereka mencari tanpa terlewatkan sedikitpun, keberadan pasukan pembunuh bayaran Mawar Merah, maupun keberadaan Dewi Anggini tidak mereka temukan.


Setelah mencari cukup lama, Eyang Sindurogo kemudian kembali kepada panglima pasukan Negeri Atap Langit. Dia hendak mencari tau tentang misi yang dimiliki kelompok pembunuh bayaran Mawar Merah.


Dari mereka akhirnya didapatkan sebuah cerita, jika kelompok Mawar Merah mendapatkan misi tambahan dari Batara Karang.


Dengan ancaman dari eyang Sindurogo yang tidak mampu lagi mereka dapat lawan, akhirnya mereka berkata yanpa ditutup-tutupi lagi, jika Batara Karang membutuhkan suatu benda yang dulu disimpan ditempat penyimpanan harta kaisar gong.


Tempat tersebut membutuhkan akses masuk menggunakan darah dari kaisar gong atau keturunan langsung dari kaisar gong. Sayang semua keluarga kerabat yang ada telah mati dibantai, jadi satu-satunya keturunan dari kaisar gong yang tersisa hanyalah dewi anggini.


Karena itulah kelompok Mawar Merah mendapatkan tugas menangkap Dewi Anggini dalam keadaan hidup. Menurut mereka pasukan pembunuh bayaran itu telah pergi meninggalkan medan pertempuran jauh sebelum pertempuran berakhir.


"Kami juga tidak mengetahui bagaimana mereka kembali ke negeri Atap Langit. Sebab kapal yang mengantarkan mereka menggunakan kapal kami. Silahkan tuan pendekar periksa sendiri di muara sungai ini. Disitulah kapal-kapal kami bersandar."


"Kami tidak menghalangi seandainya pendekar ingin menghabisi mereka. Walaupun kami sempat sejalan dalam perjalanan. Tetapi mereka telah menghianati kami."


"Hanya itu yang saya ketahui, sebagai rasa terima kasih kami atas ampunan yang tuan pendekar berikan, maka aku akan memberikan peta dimana markas kelompok itu berdiri."


"Terima kasih, walaupun aku tau markas mereka ada di Padang rumput neraka, namun padang itu terlalu luas. Dengan bantuan peta ini, sepertinya aku akan menemukan keberadaan markas mereka."


Melihat panglima pasukan Negeri Atap Langit tidak menyembunyikan apapun, akhirnya eyang Sindurogo mencoba mencari ke muara sungai dimana kapal-kapal jung yang digunakan mengangkut pasukan dari negeri yang jauh itu bersandar.


Mereka berdua kemudian langsung menghilang dari pandangan mata, setelah eyang Sindurogo mengerahkan Langkah Maya.


**


"Akhirnya berkat Sarkara Deva aku mampu menembus gerbang kedua."


"Bagus, aku juga telah berhasil memulihkan tubuhku, meskipun rantai pemasung jiwa ini masih terhubung, namun Tuskara Deva telah melemahkan kekuatan Batara Antaga.


Aku belum memiliki cara untuk memutuskan rantai hitam ini. Namun sementara waktu aku dapat0 mengatasinya. Sebaiknya kita meneruskan perjalanan saja.


Krtak! Krtak!


Hoooaaarrr!


Dari dalam bumi yang membelah melesat sesosok naga yang sangat besar.


"Aku masih tidak mampu mempercayai, jika kekuatanku telah menembus tingkat surga. Ternyata tanpa aku harus menjadi makhluk terkeji sekalipun, kekuatanku mampu mencapi sampai tingkat setinggi ini."


"Terima kasih tuan Suro semua ini berkat dirimu yang telah menuntunku," ucapan Geho sama dengan senyum lebar.


"Bukankah dirimu menyesal harus mengikutiku? Bukan sekali, justru berkali-kali aku mendengar dirimu mengucapkan hal itu!"


"Hahaha...! Kalau itu aku hanya bercanda tuan Suro, jangan diambil hati. Itu juga karena aku hanya mengikuti saran gurumu untuk banyak bercanda. Hahaha...!"


Suro menepuk jidatnya beberapa kali mendengar tawa Geho sama.


"Sambil kita melesat menuju tempat dimana kekuatan Dewa Kegelapan berada, ajarkan padaku cara membuat senjata Brahmastra. Aku tertarik dengan kekuatan sejata itu!"


"Sebenarnya itu adalah senjata dewa memiliki nama lain "penghancur langit dan bumi".


"Aku mendapatkan ilmu ini karena belajar dari seorang Brahmana yang bernama Acaryanandana. Dia mengajariku membaca mantra untuk memanggil senjata Brahmastra. Menurut cerita senjata itu sejatinya milik Batara Brahma."


"Jika memang tertarik, dengan senang hati hamba tentu akan menjelaskan semua hal mengenai senjata Brahmastra. Aku akan mulai menjelaskan semua dari sekarang kepada tuan Suro, sebaiknya tuan Suro dengarkan dan hapalkan semua penjelasanku ini. Aku akan memulai mengajarkan mantra pemanggil senjata itu kepada tuan Suro terlebih dahulu..."


"Hanya seperti itu saja Geho sama?"


"Memang kau pikir memanggil kucing, hanya begitu saja? Tuan harus menyatukan kekuatan jiwamu dengan tenaga dalam milikmu. Kemudian..."


Geho sama memberikan penjelasan tentang Brahamastra sambil mereka terus melesat ke dalam dasar bumi.


Setelah sekian lama mereka melesat beberapa pertarungan dengan makhluk kegelapan terus terjadi. Namun dalam pertarungan kali ini makhluk kegelapan dapat mereka habisi dan dikirim semua ke dalam Tuskara Deva. Tidak ada satupun yang disia-siakan oleh mereka.


Gagak setan terlihat begitu bersemangat mengirim mereka, apalagi setelah merasakan betapa hebatnya khasiat yang dimiliki Sharkara Deva. Sebab dengan itulah kekuatan tingkat surga miliknya akhirnya dapat ia raih.


Semakin dalam mereka menembus dikedalaman bumi, maka semakin besar pula hawa kegelapan yang mereka rasakan. Begitu juga makhluk kegelapan yang berdatangan semakin banyak, entah sudah berapa kali mereka harus menghentikan perjalanan untuk menghadapi makhluk berbagai rupa yang datang.


Dalam perjalanan itu Suro terus mengerahkan tehnik empat sage dengan cara tertentu yang mampu menyerap hawa kegelapan tanpa menyerap kekuatan Gagak setan di belakangnya.


Hal itu dia lakukan demi melindungi Gagak setan, agar tidak terkena racun hawa kegelapan. Tindakan itu tidak ubahnya menjadikan dirinya sebagai tameng.


Meskipun sebelumnya Geho sama telah meminum air Nirvilkalpa, tetapi karena begitu pekatnya hawa kegelapan dia memilih menghindarinya. Dia cukup menghawatirkan sisi siluman dalam tubuhnya yang mudah teracuni hawa kegelapan.


"Apakah ini artinya kita sudah mendekati tempat yang kita tuju, tuan Suro?"


"Aku juga tidak mengetahuinya, Gagak setan. Namun dengan melihat kekuatan para makhluk yang bertambah semakin kuat, aku rasa memang arah kita sudah tepat."


"Apakah kita sebaiknya beristirahat terlebih dahulu tuan Suro, sebab pertarungan selama perjalanan ini telah menghabiskan kekuatanmu?"


"Tidak perlu Geho sama, bukankah selama perjalanan aku terus melindungimu dengan menyerap hawa kegelapan yang datang."


"Didepan sana aku merasakan kekuatan kegelapan yang sangat mengerikan, selain itu ada sebuah goa yang sangat besar. Apakah mungkin kita kembali menemukan negeri bawah tanah?"