
"Mengenai Batara Antaga memang itu perintahku untuknya. Sekarang semua sudah masuk dalam rencanaku, sebenarnya tanpa kau katakan sekalipun, aku mampu mengetahuinya dengan mata nujumku ini."
"Mohon ampun Kanjeng sinuwun yang agung atas ucapanku yang meragukan kemampuan mata nujum sinuwun."
"Hahahaha...akhirnya rencana besarku untuk membebaskan kekuatan sejatiku sebentar lagi akan berhasil."
"Tugasmu sekarang adalah mencari tumbal manusia sebanyak-banyaknya. Jadikan mereka sumber spirit bagi kekuatan jiwaku."
"Kumpulkan sebanyak mungkin tumbal manusia, minimal seratus ribu nyawa. Sebelum jiwa sejatiku mampu dibebaskan, aku memerlukan pengorbanan sebanyak itu untuk memperkuat kekuatan jiwaku. Semakin banyak nyawa yang berhasil aku serap maka kekuatan jiwaku akan semakin kuat."
"Aku harus melakukan itu, sebab dengan kekuatan sejatiku yang nanti aku bebaskan, akan membuat beban bagi jiwaku yang hanya pecahan ini. Aku memerlukan tumbal jiwa para manusia untuk memperkuat jiwaku. Kau sudah mengetahui bukan, jika jiwaku ini hanyalah secuil dari pecahan jiwaku yang sebenarnya, bukan?"
"Nuwun inggih, Kanjeng sinuwun!"
"Kalau perlu kerahkan semua pasukan yang telah bergabung bersama, aku tidak peduli bagaimana caranya, aku harus menyerap ribuan jiwa manusia. Kekuatan jiwaku harus terus aku perkuat agar aku mampu mengendalikan kekuatan sejatiku, meski aku harus membunuh seluruh penduduk dibumi, aku tidak peduli!
Laksanakan perintahku sekarang juga, Batara Karang! Berikan padaku nyawa manusia sebanyak-banyaknya, semakin banyak aku semakin menyukainya! Hahahahaha...!"
"Sendiko dawuh Kanjeng sinuwun," ucap Batara Karang menundukkan tubuhnya dengan penuh hormat sebelum meninggalkan Dewa Kegelapan yang tetap duduk diatas singgasananya.
**
"Aku sepertinya akan kembali ke Swarnabhumi untuk sementara waktu."
"Ada masalah apa, Salya? Apa ini tidak terasa mendadak, dan kau juga begitu terburu-buru?"
"Ada hal gawat, pasukan dari negeri Jambudwipa dan negeri atap langit telah menyerang kerajaan di Swarnabhumi, aku harus membantu mereka!"
"Sejak kapan dirimu peduli dengan urusan kerajaan, Salya" kembali eyang Sindurogo bertanya penuh selidik.
"Aku tidak memikirkan mengenai nasib kerajaan yang diserang bangsa dari jauh, tetapi aku memikirkan nasib rakyat kerajaan itu."
"Kebetulan sekali kakang Dewa Rencong. Aku juga mendapatkan kabar dari perguruan cabang yang disana. Mereka meminta bantuan. Kabarnya didalam pasukan yang berasal dari Jambudwipa dan negeri atap langit ada pendekar yang kekuatannya telah mencapai tingkat surga.
Kondisi itu membuat aku tidak memiliki pilihan lain, kecuali aku sendiri yang harus datang membantu. Aku akan membawa serta beberapa tetua yang telah berhasil mencapai tingkat langit. Selain itu aku juga mendengar, jika penyerangan mereka ada hubungannya dengan pedang iblis.
Entah benar atau salah, tapi dari kabar yang aku dapatkan perguruan yang didirikan Pedang iblis mendukung penyerangan ini. Sebab kabar tentang kematian pedang iblis yang mati di tanah Yawadwipa telah sampai ke negeri Jambudwipa."
Demi mendengar ucapan Dewa Pedang barusan, eyang Sindurogo mengerutkan keningnya.
Atau setidaknya jika ingin membalas dendam dia akan mendatangi Perguruan Pedang surga, bukankah muridku yang menghabisinya? Apakah itu tidak terasa janggal, jika memang mereka menyerang untuk tujuan balas dendam atas kematian Pedang iblis?"
"Aku tidak mengetahuinya, namun kita harus menolong rakyat yang tidak berdosa itu. Kabarnya sudah ribuan rakyat yang berhasil mereka tangkap. Selain keluarga kerajaan yang mereka taklukan.
Entah untuk tujuan apa, aku juga sedikit bingung, mengapa rakyat juga ikut ditawan dan dikumpulkan dalam jumlah sebegitu banyaknya. Apa itu justru merepotkan dan juga menjadi beban pasukan dari Jambudwipa dan negeri atap langit itu?
Bahkan kabarnya dalam penyerangan ke negeri berikutnya, seluruh tawanan yang berjumlah ribuan itu tidak terlihat bersama mereka. Apakah itu tidak terasa aneh? Kejadian itu berulang, setiap kali mereka menyerang ke kerajaan berikutnya, maka semua tawanan dari kerajaan sebelumnya akan menghilang begitu saja.
Begitu juga keluarga kerajaan yang ditawan, mereka sepertinya tidak dijadikan tawanan atau jaminan kesetiaan. Seperti juga ribuan rakyat jelata yang berhasil mereka kumpulkan, nasib mereka sama ,yaitu tidak diketahui rimbanya, menghilang tenggelam ditelan bumi," jawab Dewa Rencong sambil menggaruk-garuk dagunya.
"Bagaimana dirimu mengetahui kabar penyerangan yang terjadi Swarnabhumi, Salya?" Eyang Sindurogo bertanya ke arah Dewa Rencong dengan menatap tajam.
Agaknya eyang Sindurogo cukup tertarik mendengar penyerangan itu, karena ada hubungannya dengan murid dia satu-satunya.
"Aku mendapatkan nawala dari salah satu kerajaan Swarnabhumi yang diserang. Mereka mendengar diriku ada di Yawadwipa. Karena itulah mereka mengirim utusan untuk meminta bantuan kepadaku."
"Maksudku bagaimana mereka mengetahui jika tawanan itu memang ditenggelam ditelan bumi, seperti yang barusan kau ucapkan?" timpal eyang Sindurogo.
"Jika memang mereka dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke dalam bumi, maka di dalam pasukan dari Jambudwipa ada yang memiliki kekuatan perubahan bumi mungkin mendekati muridku," imbuh eyang Sindurogo, karena Dewa Rencong salah mengartikan pertanyaannya barusan.
Dewa Rencong menepuk jidatnya beberapa kali"maksud perkataanku itu perumpamaan, bukan ditenggelamkan ke dalam bumi seperti yang dilakukan muridmu."
"Hahaha...aku kira mereka memiliki kemampuan pengerahan perubahan tanah yang mendekati muridku. Tetapi bisa jadi memang mereka ditenggelamkan ke dalam bumi, jika mereka memiliki kemampuan seperti itu, bukan sesuatu yang mustahil. Jika tidak, maka aku bisa menduga mereka telah dikirim ke alam lain untuk dijadikan tumbal atau lainnya.
Dan bila itu terjadi, maka kita sedang berhadapan dengan Dewa Kegelapan termasuk didalamnya Batara Antaga dan Batara Karang. Mereka bertiga adalah para makhluk abadi yang hampir tidak bisa dibunuh.
Entah bagaimana caranya agar mampu menghabisi mereka bertiga aku juga belum mengetahuinya. Bahkan para dewa sekalipun tidak mampu menghabisi, buktinya mereka hanya menyegel dan melemahkannya."
"Apa yang eyang Sindurogo perkirakan kemungkinan ada benarnya, sebab perguruan cabang juga mengabarkan sesuatu yang mirip seperti yang dikatakan kakang Dewa Rencong. Sesuai dengan apa yang dikatakan eyang Sindurogo, kemungkinan mereka memang dijadikan tumbal," Dewa Pedang kembali menyahut perbincangan kedua pendekar itu.
"Aku belum mengetahui secara persis. Namun yang jelas itu sudah terjadi sejak tiga minggu yang lalu," ucap Dewa Rencong.
"Jika seperti itu yang terjadi, kita akan berangkat. Tetapi kali ini sebaiknya yang ikut adalah para tetua yang sudah menembus tingkat langit dan surga. Ini demi menghemat waktu, agar kita dapat menolong mereka secepatnya.
Karena aku hanya menguasai ilmu Langkah Maya, tetapi belum mampu membuka gerbang gaib. Sehingga aku tidak bisa membawa jumlah orang yang banyak. Sebaiknya dirimu memilih siapa saja yang akan ikut, Dewa Pedang!" sahut eyang Sindurogo.
"Benar, aku juga setuju dengan apa yang eyang Sindurogo. Perguruan ini akan sangat berbahaya jika terlalu banyak tetua yang akan ikut. Sebab tidak ada yang menjaganya."