SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 138 Batu giok Dewa



"Aku paham sekarang tangga ini tidak digali tetapi menggunakan jurus yang berdasarkan kitab bumi. Dan bukan eyang guru yang membuatnya. Karena eyang guru tidak memiliki dasar perubahan bumi. Perubahan yang eyang guru miliki adalah perdasarkan kitab agni."


Suro yang sering melewati tangga itu, baru kali ini menyadari jika tangga itu bukan dipahat tetapi melalui pengendalian tanah yang luar biasa kuat.


"Berarti siapa sebenarnya yang membuat lorong ini?" Mata Suro masih menatap tangga yang terus berkelok-kelok dan menurun itu.


Setelah agak lama berjalan akhirnya dia berhenti. Sebab sebuah batu besar kembali menghalangi langkahnya. Batu besar itu merupakan pintu yang menghalangi dirinya untuk memasuki sebuah ruangan lain yang dia tuju. Karena didalam ruangan itulah kitab-kitab dunia persilatan tersimpan.


"Batu ini dulu aku sangat kerepotan jika harus membuka dan menutup kembali jika ingin memasuki ruangan ini." Dia teringat saat pertama kali gurunya menunjukan cara membuka ruangan itu. Eyang Sindurogo dengan begitu mudahnya mengeser batu besar itu seakan tidak ada beban.


"Apakah setelah selesai berlatih dengan tehnik sembilan putaran langit kekuatanku dapat melakukan seperti yang eyang guru lakukan dulu, dengan begitu mudahnya menggeser pintu ini?" Suro mengelus-elus permukaan pintu batu yang terlihat berbeda dari permukaan lainnya. Karena disitu biasa gurunya memegang batu besar itu sehingga membuatnya terasa lebih halus.


Kemudian Suro mulai menggeser pintu itu. Kali ini dia merasa saat mengeser batu besar yang menjadi pintu untuk memasuki ruangan terasa lebih mudah dari yang dia ingat.


"Hahahaha...aku juga bisa melakukan seperti dirimu eyang guru." Suro tertawa puas setelah merasakan buah dari latihannya selama ini.


Kembali dia mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang dipenuhi cahaya kehijauan yang berasal dari seluruh dindingnya. Meskipun tidak seterang cahaya matahari, tetapi membuat siapapun dapat membaca diruangan itu dengan nyaman.


"Aura ini selalu aku ingat saat pertama kali menginjak ruangan ini. Apa hubungannya dengan dirimu Hyang Kavacha? Aku merasa batu yang menjadi tempat ruangan ini memiliki hubungan denganmu?"


Sesaat kakinya menyentuh lantai ruangan yang mengeluarkan cahaya kehijauan itu, sebentuk kekuatan langsung memasuki tubuhnya. Dan dia masih mengingat jelas saat pertama kali memasuki ruangan itu. Meski hampir dua purnama tanpa makan tanpa minum, tetapi sebentuk energi yang merambat memasuki tubuhnya, membuat dia seakan tidak merasakan lapar maupun haus.


'Benar tuanku ini adalah batu giok Dewa. Salah satu bagian dari diriku, karena dari batu inilah salah satu bahan zirah ini dibuat. Hamba tidak mengetahui bagaimana batu ini bisa berada disini. Tetapi ini kemungkinan berkaitan dengan kitab yang dulu aku berbicara dengan penjaganya.'


"Penjaga?"


'Benar tuanku didinding yang diujung itu yang berukirkan naga, sebenarnya itu adalah naga penjaga dari kitab sastra jendra.'


"Menarik, pantas saja setiap masuk ruangan ini aku merasa ukiran naga itu seperti hidup."


'Naga ini adalah golongan ashura yang masuk dalam bangsa ditya. Mereka bangsa ditya merupakan kebalikan dari bangsa aditya atau para Dewa. Naga ini mendapatkan tugas menjaga kitab ini dan sekaligus bertapa."


"Karena begitu lamanya naga itu bertapa dan menjaga kitab ini membuat tubuhnya menyatu dengan batu giok. Kemungkinan dia telah menyerap begitu banyak energi yang berasal dari batu giok Dewa ini. Sehingga membuat tubuhnya sekeras zirah ini tuanku."


"Nama dari naga ini adalah Sang Nagatatmala putra dari Sang Hyang Anantaboga. Tugas yang dia emban sebagai salah satu bentuk hukuman karena suatu kesalahannya yang telah dia lakukan pada masa lalunya.'


'Ayahnya Nagasesa termasuk bangsa Naga, tetapi karena jasanya yang besar kepada para Dewa, maka Batara Guru memberikan anugerah sebagai bentuk rasa terima kasihnya.'


'Lalu apa hubungan ruangan ini dengan Sang Hyang Anantaboga?' Suro terkagum-kagum setelah mendengar cerita Hyang Kavacha tentang ukiran naga yang ada dalam ruangan itu, ternyata memiliki hubungan dengan salah satu gurunya, yaitu Sang Hyang Anantaboga.


'Hamba kurang memahami tuanku. Tetapi dengan ditempatkan dibagian gunung Arjuno, maka Sang Hyang Nagasesa juga ikut menjaga tempat ini.'


"Mumpung kita sedang berada diruangan ini lebih baik tuanku mulai menyerap kekuatan dari energi giok Dewa. Karena kekuatan ini akan sangat membantu meningkatkan kekuatan hamba dan juga ketahanan tubuh tuanku. Seperti juga Nagatatmala yang mendapatkan tubuh sekeras batu giok Dewa ini, maka tuanku juga akan mendapatkan kekuatan seperti naga yang bertapa dalam ruangan ini. Tetapi mungkin tidak akan serta merta membuat tubuh tuanku sekeras Nagatatmala.'


Suro kembali terkesima mendengar penjelasan Hyang Kavacha yang menjelaskan rahasia mengenai ruangan yang dijadikan Eyang Sindurogo sebagai tempat menyimpan kitab dunia persilatan miliknya.


"Mengagumkan sekali baru kali ini aku mengetahui rahasia dibalik ruangan yang tidak diceritakan oleh Eyang Sindurogo. Mungkinkah Eyang Sindurogo tidak mengetahui tentang kekuatan yang dapat diserap dari ruangan ini?"


"Tidak mungkin jika Eyang Sindurogo tidak mengetahuinya. Aku sering melihatnya bersamadhi cukup lama diruangan ini."


"Benar sekali Eyang Sindurogo pasti sudah banyak menyerap kekuatan didalam ruangan ini selama ratusan tahun. Pantas saja saat berlatih dengan eyang guru, aku sering kali merasa sangat yakin telah melukai tubuh eyang guru. Sebab bilah pedangku kadang tanpa sengaja telah menyentuh kulitnya. Tetapi saat aku memastikan, eyang guru selalu tertawa dan meyakinkan diriku, bahwa dirinya tidak terluka dengan menunjukan tangannya yang terkena seranganku."


"Jika penjaga dari kitab tanpa aksara ini memiliki hubungan dengan Sang Hyang Anantaboga, mengapa Sang Hyang Anantaboga tidak menceritakan hal ini kepada eyang guru? Jika penjaga kitab ini adalah anaknya, tentu dia bisa membantu eyang guru memecahkan rahasia kitab tanpa aksara ini? Bukankah eyang guru bersahabat baik dengan Hyang Nagasesa?"


Hal itu membuat Suro bertanya-tanya tentang bagaimana gurunya telah berusaha ratusan kali mencoba memecahkan rahasia dibalik kitab tanpa aksara. Padahal jika mau Sang Hyang Anantaboga bisa membantu gurunya memecahkannya, sebab gurunya bersahabat baik dengan Sang Hyang Nagasesa.


'Sang Hyang Anantaboga weruh sak durunge winarah mengetahui sebelum terjadi. Hamba yakin dengan pengetahuan dan kebijaksanaanya dia sengaja tidak memberitahukannya.' Hyang Kavacha menjawab pertanyaan Suro yang sebenarnya hanyalah sebuah kegundahan saja.


"Terasa masuk akal sekali. Namun ada hal yang membuat Suro merasa janggal, jika Sang Hyang Anantaboga mengetahui bahwa kedepannya Eyang Sindurogo akan dapat dimanfaatkan sebagai wadak untuk menampung sebuah jiwa dari alam kegelapan, mengapa justru menyelamatkan eyang guru dengan memberikan tirta amerta?"


"Sehingga membuat tubuh eyang guru menjadi makhluk yang tidak bisa mati. Dengan keadaan itu membuat dua makhluk yang berada diatas awan hitam itu memiliki wadak untuk menampung kekuatan kegelapan yang menurut Suro, telah menjadi junjungan dari dua makhluk yang akan membuat kekacauan diseluruh muka bumi."


"Mengapa Sang Hyang Anantaboga membiarkan semua ini terjadi dan tidak berusaha menghentikannya? Sebenarnya ada rahasia apa dibalik semua kejadian ini?"


Suro menatap kosong setelah berbagai pertanyaan masuk dalam pikirannya terkait dengan segala kejadian yang belum lama ini. Terutama dengan nasib gurunya yang semakin tidak jelas.


'Sebaiknya dari sekarang tuanku mulai menyerap kekuatan dari giok Dewa ini. Semua itu nanti bisa tuanku tanyakan langsung kepada Sang Hyang Anantaboga.'


'Tetapi tentu saja setelah tuanku berhasil menyerap energi yang tersimpan diruangan ini. Jangan khawatir energi yang berada di dalam ruangan ini tidak akan habis seberapapun tuanku berhasil menyerapnya. Karena dia akan menyerap kekuatan bumi sebanyak yang telah berkurang. Lihatlah sudah berapa ribu tahun yang diperlukan naga itu, hingga membuat tubuhnya menjadi mirip dengan dinding batu ini?'


"Baiklah jika itu yang Hyang Kavacha sarankan, maka Suro akan melakukannya.'