SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
535 Sabda Sang Hyang Wenang



“Akulah Sang Kala yang tidak akan dapat dikalahkan oleh makhluk lemah sepertimu, sialan!” teriak Dewa Kegelapan dengan suaranya yang mengetarkan seluruh Dunia Kegelapan.


“Ada aku Geho Sama, tidak akan aku biarkan kau melakukan niatmu makhluk yang lebih buruk dariku!” teriaknya keras lalu meledakkan kekuatnya dan bergegas menyerap kekuatn kegelapan yang seharusnya tidak dia lakukan.


Sebab jika dia melakukan itu, maka tubuhnya yang sebagian berasal dari manusia akan terluka. Namun keadaan itu tidak menghentikan niat Geho Sama yang berusaha menyelamatkan Suro. Tubuhnya ikut mengembang bersama dengan dahsyatnya jurus Empat Sage yang dia kerahkan untuk menyerap aura kegelapan disekitanya yang begitu pekat.


Keadaan itu membuat tubuh Geho Sama dengan cepat berubah membesar dan secara bersamaan melesat menangkap kaki dan juga badannya agar tidak dapat menyerang Suro, hanya saja usaha Geho Sama itu tidak mampu menghentikan niat Dewa Kegelapan.


Meskipun tubuhnya berhasil dikekang oleh Geho Sama, tetapi dengan cara yang tidak dinyana leher makhluk itu memanjang dengan cepat lalu kepalanya itu membesar sampai ukuran yang tidak normal menyerupai balon dan


menganga bertambah lebar hendak menelan Suro.


Dalam sekali raup, maka tubuh Suro hampir berhasil ditelannya, namun tanpa disangka oleh siapapun, ternyata Suro sudah memperkirakan kejadian itu. Dia lebih dahulu membentuk perisai tak kasat mata disekitar tubuhnya dengan ukuran yang membuat Dewa Kegelapan semakin memperbesar ukuran mulutnya sampai sangat besar.


Giginya yang besarnya sepuluh kali besarnya Gunung Himalaya itu berusaha menghancurkan pelindung tubuh Suro yang ternyata sangatlah kuat. Setelah berkali-kali menguatkan gigitannya, rupanya Dewa Kegelapan berhasil.


Kraaaaaak!


Sebuah retakan pelindung yang telah dibuat oleh Suro sebelum melakukan samadhi terdengar keras seakan langit hendak runtuh. Saat ini tubuh Suro yang begitu kecil dibandingkan mulut Dewa Kegelapan yang mampu menelan


bulan dalam sekali lahap tentu tidak ada harapan dapat lepas darinya.


Rupanya itu adalah upaya terakhir bagi Dewa Kegelapan yang berusaha mendapatkan kembali mustika kekuatan kegelapannya. Dia berpikir dengan menelan Suro, maka itu akan membuat mustika kegelapan dapat dia kuasai.


Geho Sama yang saat itu juga berusaha menghentikan serangan Dewa Kegelapan, namun sereangannya itu tidak mampu menghentikan dengan mengunci tubuh tubuh raksasa Dewa Kegelapan. Dia kini juga kewalahan sebab tubuh Geho Sama justru diserap oleh Dewa Kegelapan dan membuatnya tidak mampu lepas.


“Akhirnya aku berhasil menelanmu anak manusia!” ucap Dewa Kegelapan yang diiringi suara tawanya yang mengelegar penuh rasa kemenangan. Sebelum senyuman kemenangan di wajahnya semakin melebar, mendadak suara tak kalah kuatnya terdengar tak kalah kuatnya.


Suara it berasal dari dalam perutnya. Tentu saja itu adalah suara dari Suro yang ternyata tidak mati setelah ditelan oleh Dewa Kegelapan. Tubuh raksasanya itu adalah tubuh aslinya yang membengkak tidak seperti sebelumnya


yang dibentuk dari aura kegelapan.


Kerasnya suara Suro membuat tubuh Dewa Kegelapan berguncang hebat, sehingga Geho Sama berhasil lepas selamat dari cengkraman Dewa Kegelapan yanghendak menghisapnya hingga tuntas.


“Kau pikir mampu mengalahkanku, kau sungguh picik!” ucap Suro. Dia lalu mengerahkan jurus yang baru saja dia ciptakan dari inti kelima mustika yang kini dia miliki.


“SABDA SANG HYANG WENANG!” teriak Suro.


Seketika ribuan telapak tangan berkilauan melesat dari tubuh Suro dan menghantam semua organ dalam tubuh Dewa Kegelapan dan mengurai semuanya menjadi lenyap. Teriakan kesakitan dari Dewa Kegelapan mengema secara terus menerus tanpa henti, sebab Dewa Kegelapan tidak mau menyerang dan berusaha mememulihkan keadaan dirinya yang hendak dihancurkan oleh Suro.


Suro bukan tidak mengetahui perihal Tirta Amerta yang telah menyatu dengan tubuh Dewa Kegelapan, hanya saja dia tidak menyangka dengan serangan yang dia kerahkan makhluk itu tidak juga bisa musnah.


“Kau mungkin bisa membunuhku di alammu, namun kini kau justru berupaya membunuhku di rumahku sendiri, maka keinginanmu akan mustahil kau lakukan!” teriak Dewa Kegelapan sambil berontak dan berupaya menahan serangan dari Suro dalam tubuhnya.


Tentu saja Dewa Kegelapan tidak mampu menghentikan serangan Suro yang terus memborbardir dengan jurus dahsyatnya. Berkali kali perut itu hampir saja hancur, namun dnegan cepat Dewa Kegelapan memulikannya kembali, sampai akhirnya Suro berhasil membuat tubuh raksasa Dewa Kegelapan hancur dan hanya menyisahkan kepalanya.


Suro akhirnya dapat keluar dari tubuh Dewa Kegelapan. Hanya saja kepala Dewa Kegelapan yang besarnya dua kali dari ukuran bulan itu melesat cepat mencoba menjauh dari Suro. Namun Suro tentu saja tidak mau melepaskan musuhnya itu begitu saja, dai lalu mengerahkan jurus pamungkasnya untuk memastikan Dewa Kegelapan tidak dapat lepas dan melarikan diri kembali ke alam dunia manusia.


“Rasakan jurusku kali ini Dewa Kegelapan! Penjara Sabda Sang Hyang Wenang!” seketika itu juga setelah Suro berteriak dari sekujur tubuhnya memancarkan lima sinar teramat terang yang membentuk jejaring besar.


Jejaring besar itu bergerak cepat menghadang langkah yang hendak dilaukan Dewa Kegelapan yang berusaha melarikan diri. Jaring cahaya itu akhirnya menggulung kepala raksasa dari Dewa Kegelapan dan membuatnya tidak dapat pergi kemanapun.


“Sialan, lepaskan diriku, aku pasti akan memusnahkan dunia manusiamu!” teriak Dewa Kegelapan dengan begitu kesal. Makhluk itu tidak menyangka dirinya berhasil dikurung oleh Suro. Giginya yang begitu besar berupaya mengigit jejaring sinar yang mengurung dirinya.


Beberapa saat dia menyadari, jika sinar itu bukan hanya mengurung, namun mampu menghancurkan giginya yang berupaya memotongnya. Bukan hanya giginya, tetapi kulitnya yang bersentuhan juga ikut terbakar.


Walaupun begitu tubuh Dewa Kegelapan itu masih saja dapat menyerap aura kegelapan di sekitarnya yang memang sangat pekat dan tidak ada habisnya itu. Keadaan itu membuat tubuh makhluk yang hanya tinggal kepala itu kembali untuh. Keadaan itu berlangsung terus menerus tanpa henti.


“Tidak aku sangka tinggal kepalanya saja dia masih saja dapat hidup!” seru Geho Sama yang melihat kejadian itu dengan perasaan terkejut.


“Dia telah meminum Tirta Amerta, sehingga membuatnya mustahil dibunuh kecuali kita hancurkan sampai lebur,” ucap Suro.


“Jika seperti itu, maka cukup kau kerahkan lagi saja jurusmu barusan,” ucap Geho Sama.


“sayangnya jurus itu tidak dapat aku kerahkan lagi setelah aku berhasil memenjarakan Dewa Kegelapan, itu telah membuat keempat mustika dewa yang aku miliki tidak lagi sekuat sebelumnya dan memerlukan waktu untuk mengerahkan kembali jurus tersebut,” ujar Suro.


“Berarti tidak ada sisa lagi dari kekuatan empat dewa yang mendukungmu?”


“Masih, namun itu hanya dapat aku kerahkan sekali, sayang itu pun juga berepatan dengan kondisi Dewa Kegelapan yang menjadi cukup kuat untuk menerobos penjara Sabda Sang Hyang Wenang dan  kembali ke alam dunia untuk menghancurkannya dengan menelan matahari dan bulan,” ujar Surosambil menatap ke arah kerangkeng yang berhasil memenjarakan kepala Dewa Kegelapan yang terus meronta ingin lepas.


“Jangan kau pikir kau dapat mengurungku secara terus menerus seperti ini, apakah kau tidak melihat, jika disekitarku ada banyak aura kegelapan yang siap memulihkanku kembali dan membuatku dapat lepas. Pada hari itu lah aku akan menghancurkan duniamu!” teriak Dewa Kegelapan dengan begitu geramnya.


“Apa sebaiknya kita bawa dia dari alam kegelapan ini Tuan Suro?” tanya Geho Sama.


Suro justru menggeleng pelan, “aku tahu apa yang direncanakan olehDewa Kegelapan jika dia kita bawa ke alam manusia.”