
Sebuah tekanan aura pembunuh begitu kuat membuat para perampok Kolo Weling tak mampu lagi menegakan kaki, walau hanya sekedar berdiri. Mereka para perampok segera menyadari lawan yang ada didepannya kekuatan tenaga dalamnya sudah begitu tinggi jauh diatas mereka. Tekanan yang menghantam mereka bahkan membuat mereka sulit untuk sekedar bernafas.
Ketakutan yang amat sangat telah melingkupi seluruh kawanan perampok itu. Hal terakhir yang bisa mereka lakukan hanyalah berharap belas kasihan kepada sosok Maharesi yang berada dihadapan mereka semua.
"A..apakah...tu..tuan yang bernama Maharesi Eyang Sindurogo Pendekar Tapak Dewa Matahari yang memiliki gelar lain Lelananging jagat?
Pemimpin perampok suaranya bergetar, tenaga seakan habis tak mampu lagi menegakan badannya. Bahkan kedua tangan yang menumpu ditanah seakan lemas tak bertenaga. Berat badannya terasa lebih berat dari pada biasanya. Ketakutan yang tak terkira melebihi ketakutannya bertemu Hyang Yamadipati membuat sekujur tubuhnya mengigil.
"Untuk apa kalian bertanya tak ada gunanya kalian mengenal nama besarku sebentar lagi nyawa kalian akan aku ledakkan bersama tubuh kalian semua. Bersyukurlah dengan Jurus Tapak dewa Matahari kalian tidak akan sempat merasakan sakit!"
Sebuah kemarahan yang meledak-ledak tak pernah sekalipun Eyang Sindurogo menunjukan kemarahannya seperti itu.
"Apa kalian tidak merasa telah diberi belas kasihan oleh muridku? Jika dia mau, sedari awal kalian sudah mati dikubur hidup-hidup, cukup dengan menggerakan satu jari telunjuknya."
Mereka tidak menyangka anak sekecil itu memiliki kekuatan yang begitu mengerikan.
"Mohon maafkan kami tuan pendekar! Kami memiliki mata tetapi tidak mampu melihat sosok Maharesi yang agung disini."
"Setelah kalian mengambil nyawa muridku bagaimana mungkin kalian masih berani meminta maaf kepadaku. Rasanya ingin sekali aku mencincang tubuh kalian secepatnya sampai tidak berbentuk. Aku katakan kepada kalian semua tidak akan ada kata maaf untuk kalian semua. Begitu mudahnya kalian memohon maaf. Tidak akan semudah itu, kisanak. Berdoalah kalian semua, karena aku tidak akan memberikan maaf kepada begundal seperti kalian semua!" Sebuah aura kekuatan menerjang bersama gelegar suara yang menghantam ke seluruh plosok hutan.
"Apa yang nanti aku katakan kepada Hyang Antaboga muridnya mati karena keteledoranku?" Mata Eyang Sindurogo merah membara menatap keseluruh kawanan perampok yang masih bersujud meminta ampun.
Para kawanan Perampok yang merasakan tekanan yang begitu hebat membuat mereka bertambah mengigil ketakutan. Jangankan untuk berlari melarikan diri, sekedar untuk bernafas saja mereka sudah kesulitan. Karena begitu kuatnya tekanan aura kekuatan dan hawa pembunuh yang dilepaskan Eyang Sindurogo.
Mereka mengigil, tak mampu bergerak lagi kekuatannya sudah tak mampu menumpu badannya. Keringat dingin mulai membanjiri pakaiannya. Udara sejuk pegunungan tak mampu menghentikan kucuran keringat mereka. Celana mereka basah terkencing-kencing ketakutan.
Sebelum serangan ke arah perampok dimulai sebuah teriakan lemah menghentikannya.
"Eyang......Jangan...eyang guru! Jangan... bunuh me..re...ka!"
"Sepertinya...Suro pingsan....bukan..... karena racun mereka. Sepertinya Suro pingsan karena kelelahan saja!"
Eyang Sindurogo menepuk jidatnya sendiri segera dia menghampiri muridnya. Memang tidak ada tanda-tanda keracunan sepertinya dia telah menelan pil anti racun yang pernah dia ajarkan cara pembuatannya.
Dia merasa bodoh sejak tadi bukan mengecek dulu kondisi muridnya, entah kenapa melihat muridnya sudah terbujur tak bergerak daya pikirnya langsung hilang kendali tak ada ketenangan dan kejernihan berpikir seperti biasanya.
Kemurkaanya yang datang tiba-tiba telah menguasai dirinya bahkan dia seperti tidak mampu menguasai kemarahannya sendiri.
Dia lupa terakhir kali mereka makan di daerah Keling hampir tiga hari yang lalu. Mereka tak berhenti berlari karena menurut kabar kademangan yang paling berdekatan dengan Kademangan Keling belum lama diserang Naga raksasa, bisa dikatakan baru saja kejadiannya. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan secepatnya sampai, agar bisa menolong penduduk sebanyak mungkin.
"Apakah Maha resi akan mengampuni kami? Kami berjanji bertobat dan menjadi orang baik kami kapok menjadi perampok, tolong ampuni nyawa kami."
"Janji-janji kepalamu! Kamu kira aku bayi kemaren sore bisa kalian tipu. Kalian dengar! Sebelum buyutmu lahir aku sudah malang melintang berhadapan begundal seperti kalian!"
"Enak saja minta diampuni!"
"Kalian masih beruntung muridku tidak apa-apa. Kalian lihat sendiri muridku sampai pingsan kelelahan gara-gara kalian semua!"
Suro ingin menjawab tetapi dia mengurungkan sebab baru kali ini melihat gurunya begitu murkanya. Tentu saja dia ingin mengatakan dia pingsan karena berlari tanpa berhenti.
"Tolong ampuni kami Maharesi kami berjanji sumpah kami akan bertobat!"
Rengekan para perampok semakin menjadi ketakutan setengah mati setelah mendengar nama orang yang sedang mereka rampok ternyata adalah orang yang mampu membantai ribuan orang hanya dengan satu tangannya.
Mereka walaupun hanya sebuah kelompok penyamun tetapi tentunya telah mendengar kehebatan pendekar yang ada didepannya. Hanya saja mereka tidak mengira jika orang yang akan dirampok adalah pendekar yang ditakuti para golongan hitam itu.
Karena banyak cerita dikalangan dunia persilatan, tentang bagimana dahsyatnya kekuatan Lelananging jagat. Dengan hanya seorang diri mampu menghabisi satu perguruan besar aliran hitam, bahkan hanya dalam satu malam semua tidak tersisa kecuali kawah besar bekas hantaman ilmu andalannya.
"Baiklah sebutkan harga nyawa kalian semua. Kebetulan aku punya koin emas yang berlimpah sekarang."
"Ampuni kami Maharesi tolong ampuni kami, kami akan benar-benar bertobat."
"Kalian sebutkan harga atau akan aku bantai kalian semua sekarang juga!"
Suro menatap Eyang sindurogo sedikit terkejut. Matanya seakan menyelidiki keseriusan gurunya itu.
"Baik..baik... Maha Resi kami akan menghitung harga nyawa kami."
Tentu saja mereka membuat taksiran harga setinggi mungkin setelah melihat betapa besarnya peti yang dibawa anak kecil itu.
Mereka baru menyadari sekarang betapa besarnya peti itu. Jika dari awal menyadari kejanggalan ini dan berpikir kalau yang akan mereka rampok kemungkinan diatas jagoan tingkat tinggi, tentu mereka tidak akan mendapatkan kesialan seperti ini.
Setelah beberapa kali melirik peti yang dibawa Suro mereka kemudian membuat kesimpulan harga untuk nyawa mereka.
"Em.. empat koin emas. Ma..maksudnya empat peti koin emas Maharesi. Benar empat peti koin emas."Mereka menjawab dengan gemetar.
"Mohon maaf Maharesi tidak bisa kurang."Mereka menjawab dengan sedikit ragu.
Mereka berpikir jika mereka membuat taksiran harga setinggi itu, tentu Maharesi yang ada didepannya tidak mampu membeli nyawa mereka alias membunuhnya. Karena peti koin emas yang dia bawa hanya sebuah saja.
"Baiklah dengan harga sebesar itu, dengan apa kalian akan membayarkannya kepadaku sebagai pengganti nyawa kalian?"
Jleb!
Mereka tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ada rasa menyesal dalam pikiran mereka karena terlalu tinggi menyebutkan harga.
"Markas kami sangat dekat dari sini disana Kami punya harta simpanan hasil .. ee hasil rampokan kami Maharesi." Mereka menyebut kata rampokan dengan sedikit ragu.
"Bagus! kalian bawa sekarang semua harta simpanan kalian jangan sampai ada yang tersisa jika nanti aku taksir kurang atau satu dari kalian lari akan aku bantai kalian semua. Jangan harap ada tempat bagi kalian semua untuk sembunyi."
"Aku tunggu disini jika sampai muridku ini sudah pulih kalian semua belum kembali akan aku bikin buntung kalian semua."
"Pergi sekarang!"kali ini suara Eyang Sindurogo dilambari dengan tenaga dalamnya. Semua perampok seakan anjing balap langsung tunggang langgang secepatnya mengambil harta simpanan mereka semua.
Benar-benar apes nasib mereka baru kali ini merasakan menjadi perampok malah justru dirampok habis-habisan.
Setelah makan dan minum bekal yang mereka simpan kemudian melakukan meditasi menyerap chakra. Juga dibantu penyaluran hawa murni dari Eyang Sindurogo kedalam tubuh Suro, berangsur-angsur kekuatan Suro kembali pulih seperti sedia kala.
"Ini Maharesi simpanan kami." Pemimpin rampok memperlihatkan semua harta simpanannya kepada Eyang Sindurogo.
Berpikul-pikul perampok mengangkut semua harta simpanannya diserahkan kepada Eyang Sindurogo.
"Sepertinya kalian masih berhutang satu peti lagi."
Mereka menggigil ketakutan setengah mati mendengar harta simpanan mereka hanya ditaksir seharga tiga peti koin emas.
"Kalian tidak sanggup membayar sesuai dengan harga yang kalian sebutkan sendiri."
"Aku berikan pilihan lain kalian mengabdi kepada muridku atau tak akan kubiarkan kalian untuk bernafas lagi. Silahkan pilih yang mana?"
"jika bukan karena permintaan muridku kalian sudah aku habisi semua. Jadi kalian telah berhutang nyawa kepada muridku kalian ikuti perintah dia seperti raja kalian sampai batas waktu yang tak ditentukan."
"Apakah kalian bersedia?"
"Tentu, tentu kami bersedia Maharesi, tentu kami akan mengabdi sebaik mungkin!"
Mereka segera mengucapkan berterima kasih berkali-kali sampai Eyang Sindurogo menyuruhnya menghadap kepada Suro.
Suro mengaruk-garuk kepalanya tidak menyangka gurunya memberinya anak buah kawanan perampok.
Suro segera memahami maksud Eyang Sindurogo. Jika dia memang tidak membiarkan mereka mati, maka tugas dia adalah merubah jalan hidup mereka semua, ke jalan yang benar atau mereka semua tidak akan dibiarkan hidup.
"Tugas kalian sekarang bawa semua harta simpanan kalian semua dan bawaanku ini kita akan menuju ke Kademangan Kalinyamat."
Suro memberi perintah sambil menyengir kearah gurunya dan dibalas dengan senyuman kecil.
Mereka tidak menyangka ternyata berat peti yang dibawa seakan mengangkat gajah. Setelah sepuluh orang akhirnya peti itu terangkat digotong bersama-sama.
Seluruh harta rampokan mereka sesampainya di kademangan Kalinyamat habis dibagi-bagikan keseluruh penduduk Kalinyamat.
"Haduh Kolo weling harta kita habis sudah." Bisik salah satu temannya yang dengan terpaksa menyerahkan ke seluruh penduduk.
"Hus..diam! Kamu mau mati apa? dah tidak usah dipikirkan yang penting kita dibiarkan hidup."
Para penduduk yang melihat pertama kali iring-iringan kedatangan mereka lari ketakutan. Mereka mengira iring-iringan kedatangannya untuk menjarah seluruh kademangan.
Baru setelah Eyang Sindurogo mengenalkan dirinya dan menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk menolong. Maka para penduduk berangsur-angsur mulai mengerti. Itupun setelah dijelaskan Ki Demang Karto yudan.
Kemudian secara teratur mereka mengantri untuk mendapatkan pengobatan gratis. Mereka mengikuti arahan Ki Demang secara tertib menunggu gilirannya mendapatkan perawatan dan pengobatan luka ataupun yang sakit. Semua masyarakat mendapatkan pengobatan dari Maharesi itu sambil dibantu Suro.
Para kawanan kolo welang pada awalnya mereka merasa canggung dengan tindakan mereka yang membantu para penduduk yang sebelumnya sering mereka ganggu.
Setelah beberapa hari ikut membantu para penduduk mendirikan rumah mereka yang hancur porak-poranda mereka mulai merasakan kembali bagaimana rasanya hidup seperti manusia normal lainnya.
Setelah merasa cukup memberikan bantuan kesemua penduduk Kademangan Kalinyamat mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju kota raja. Tetapi ada hal yang beda dengan kedatangan mereka yang disambut dengan ketakutan kini saat mereka meninggalkan kota kademangan dilepas dengan rasa terimakasih seluruh masyarakat kademangan yang telah merasakan pertolongan mereka.
Para mantan perampok yang sekarang menjadi anak buah Suro seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dialami para penduduk walau dengan seluruh harta mereka ludes.