SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 113 BANTUAN DATANG part 4



Suro memahami kekuatan wanadri pada tingkat yang sangat jauh dari dirinya. Itulah mengapa dia terlihat panik melihat bilah pedang itu menarik dirinya untuk menyerang lawannya itu. Entah kekuatan apa yang membuat dirinya tidak mampu melepaskan diri dari kemauan bilah pedang yang sedang digengamannya itu.


Setelah menyelesaikan semua tahap sembilan putaran langit kemampuannya menyerap kekuatan matahari meningkat pesat. Kini dia sudah mampu menyerap seluruh chakra yang berasal dari sinar matahari. Walaupun begitu dia tidak pernah melakukan itu secara maksimal hanya beberapa persen saja dan tidak dilakukan secara terus menerus. Karena itu memang tidak diperbolehkan oleh Dewa Pedang untuk sementara waktu. Dia khawatir organ dalamnya akan cidera, karena tidak sanggup menanggung beban kekuatan baru yang belum lama dia miliki itu.


Tetapi sejak Pedang Pembunuh iblis itu menghisap chakra miliknya dengan begitu deras, tidak ada pilihan lain bagi Suro, kecuali menghimpun chakra dengan tiga tehnik tenaga dalam sekaligus. Semua dia kerahkan dengan kekuatan maksimal. Kecuali tehnik empat sage dia hanya berani setengah saja.


Jika tidak, tentu nyawanya pasti akan melayang. Karena kuatnya daya hisap pedang tersebut. Setelah pedang itu mengurangi daya hisapnya, Suro tetap menghimpun chakra dengan dikerahkan secara maksimal. Karena khawatir salah satu dari tujuh Pedang Sesat akan menyerangnya.


Tidak dinyana justru dia sendiri yang dibawa bilah pedang menyerang salah satu dari Tujuh Pedang Sesat. Padahal lawannya sudah pada tingkat shakti tahap atas.


Hal terakhir yang bisa dia lakukan adalah menghimpun chakra sebanyak mungkin. Bahkan tehnik empat sage yang tadi tidak dikerahkan secara maksimal kini dia buka secara penuh. Sehingga terjadi pusaran angin disekitar tubuh Suro yang melesat ke arah Wanadri.


Tanpa diketahui Suro, saat dirinya menyerap kekuatan matahari secara maksimal dan terus-menerus sesuatu yang sudah sejak lama berdiam didalam tubuh Suro, kini telah terbangun.


'Akhirnya aku terbangun, setelah sekian lama harus tertidur!'


'Berarti sekarang dirimu sudah mampu menyerap kekuatan Sang Hyang Surya secara penuh bocah?'


"Ha, apa? Siapa yang barusan berbicara?" Suro yang sedang melesat itu mendengar suara orang yang berbicara kepadanya, tetapi suaranya berbeda dengan Lodra jiwa dari Pedang Pembunuh iblis.


Tentu saja Suro kebingungan tetapi lawan sudah menerjang ke arah dirinya sebentar lagi akan terjadi benturan keras. Tetapi sebelum benturan itu terjadi kembali dia mendengar suara seakan berbicara di dalam pikirannya.


'Aku adalah Sang Hyang Kavacha bocah!'


'Lodra berani sekali kau mengendalikan tubuh tuanku!'


Suro tidak sempat mencerna dengan suara yang dia dengar, hanya dua kata yang terlontar sesaat sebelum berbenturan dengan kekuatan shakti tahap atas.


"Mati aku!"


Duuuuaaaaaarrrr!


Sebuah hantaman keras dari Wanadri membuatnya kehilangan kesadaran dalam beberapa saat. Tubuhnya terlempar sejauh sepuluh tombak. Tetapi sesaat sebelum hantaman keras itu terjadi, sebuah cahaya hijau telah menyelimuti tubuh Suro.


Berbeda dengan apa yang terjadi dengan lawannya. Kekuatan hantaman pedang Suro tidaklah berarti dihadapan seseorang yang telah berada ditingkat shakti tahap atas. Tubuh wanadri tetap tegak berdiri tidak tersurut walau satu langkahpun oleh kekuatan tebasan Suro.


Dia tidak menyangka bocah ingusan itu benar-benar menyerangnya. Dan lebih tidak dia sangka adalah serangan yang dilakukan Suro kepada dirinya. Dia terkejut dengan wujud api hitam yang menerjang ke arahnya.


Sebab api itu membentuk sebuah kepala naga yang sangat besar Api itu langsung menelannya kemudian menyelimutinya dalam kobaran api.


Akibatnya dia langsung terbakar oleh api yang begitu cepat membungkus tubuhnya. Bahkan usahanya untuk memadamkannya tidak berarti sama sekali api itu terus membakarnya.


"Aaaaakhhhhh! Panas! Panas! Tolong! Tolong!"


Semua orang terkejut dengan serangan mengerikan yang dilakukan Suro. Mereka juga melihat penampakan cahaya hijau yang menyeruak sesaat sebelum hantaman pedang mereka beradu. Tidak terkecuali Jenggala bersama lima lainnya.


Bahkan membuat pertarungan mereka terhenti. Enam Pedang Sesat yang tersisa segera bergerak mendekati wanadri yang bergulung-gulung ditanah.


Salah satunya segera mengerahkan tehnik air es untuk memadamkan api yang terus membakar rekannya itu. Tetapi pertolongan yang mereka lakukan sudah tidak mampu menyelamatkan rekannya itu.


Sebab setelah teriakan Wanadri yang terdengar hanya sebentar itu, kini tubuhnya sudah menjadi abu. Dan api hitam itu baru berhenti menyala setelah tubuh Wanadri benar-benar menjadi abu.


"Nakmas Suro! Gawat murid ketua terluka!" Eyang Tunggak semi segera meluncur menuju ke arah Suro yang terlempar cukup jauh. Dia sebelumnya sedang sibuk menghadapi enam pedang sesat bersama tetua yang lain.


**


'Lodra berani sekali dirimu menguasai tubuh tuanku!'


'Gawat, ada Sang Hyang Kavacha! Mengapa aku tidak menyadari sedari tadi ada kekuatan lain yang mendiami tubuh bocah ini!'


'Lihat apa yang telah kau lakukan! Beruntung aku telah terbangun dari tidur panjangku! Jika tidak tubuh bocah ini akan hancur!'


'Meskipun kau adalah pusaka langit tetapi Aku adalah pusaka dewa jadi jangan berani melawanku!'


'Sendiko dawuh pepulun!'


'Apakah aku sudah mati? Siapa yang barusan berbicara?' Mata Suro mulai terbuka dia mulai memeriksa seluruh anggota tubuhnya.


"Sukurlah aku baik-baik saja! Bagaimana aku bisa selamat dari hantaman kekuatan tingkat shakti tahap atas yang begitu dahsyat?" Dia lalu mulai berdiri dan bersiaga akan kemungkinan buruk dari serangan susulan lawan.


"Apakah nakmas baik-baik saja?" Tetua Tunggak Semi yang baru saja sampai didepan Suro segera memeriksa.


"Bagaimana mungkin dirimu tidak terluka meski terhantam sebegitu kuatnya. Bahkan satu goresan kecilpun tidak ada!"


"Dia sudah menjadi debu terbakar oleh api hitam yang engkau ledakkan saat berbenturan tadi."


"Benarkah? Ternyata begitu Luar biasa kekuatan pedang ini!" Suro menatap bilah pedang yang tidak lepas dari gengamannya itu.


'Tentu saja aku hebat karena aku adalah Lodra yang agung!'


'Tutup mulutmu Lodra, hebat apanya, kau telah membahayakan nyawa tuanku!'


"Tetua Tunggak semi apakah mendengar suara orang yang barusan berbicara?"


Eyang Tunggak semi mengrenyitkan dahinya mendengar pertanyaan Suro.


"Suara siapa yang nakmas maksud? Aku tidak mendengar apapun."


'Suara ini, aku baru ingat.' Suro baru teringat dengan Lodra jiwa Pedang Pembunuh iblis. Tetapi dia bertanya-tanya dengan suara satunya yang saling berbincang-bincang didalam kepalanya.


'Ini adalah aku Kavacha tuanku.'


'Kavacha siapa?' Suro tertegun ternyata di dalam kepalanya sekarang sudah ada dua suara lain yang sudah memasuki alam pikirannya.


'Apakah tuan lupa? Siapa yang pada awal telah memberikan kekuatan kepada tuanku, sehingga dapat menyerap kekuatan Sang Hyang Surya?'


'Aku baru ingat dengan suaramu itu, bukankah dulu kamu yang pernah berbicara padaku dalam samadhiku?'


'Benar tuanku.'


'Lalu wujudmu seperti apa? Kenapa aku tidak melihatmu? Apakah kau semacam jiwa Pedang yang hampir saja membuatku celaka ini?'


'Bocah sialan aku sudah memusnahkan musuhmu!'


'Tutup mulutmu, siapa yang mengijinkanmu berbicara.' Sang Hyang Kavacha menghardik Lodra yang agung karena memotong pembicaraanya dengan Suro.


'Aku adalah Kavacha wujudku berupa zirah perang dari Dewa Surya.'


'Benarkah? Lalu dimana zirah perang itu berada? Mengapa sejak dulu aku tidak pernah melihatnya?'


'Aku ada dalam diri tuanku, menunggu sampai tuan siap menggunakannya.'


'Lalu kapan aku bisa menggunakannya?'


'Sekarang telah siap, setelah tuanku sudah sanggup menyerap seluruh kekuatan Sang Hyang Surya.'


"Nakmas! Nakmas! Apa kau baik-baik saja?" Tetua Tunggak Semi yang sedari tadi mengajak berbicara dengan Suro tiba-tiba tidak mendapatkan tanggapan darinya. Hal itu tentu saja membuat dia begitu khawatir, takut terjadi ada apa-apa dengan Suro. Sebab Suro hanya terdiam berdiri mematung tanpa memberikan reaksi apapun.


"Nakmas! Nakmas! Apa yang terjadi dengan dirimu?"


"Sejak kapan bocah ini memakai zirah perang." Baju yang dipakai Suro saat terkena hantaman kuat Wanadri telah hancur. Kini tubuhnya telah menempel semacam baju perang yang berwarna keemasan.


"Ya paman tetua!" Suro segera tersadar dari alam pikirannya.


"Sejak kapan nakmas memiliki zirah perang sebagus ini?"


"Oh..ini zirah warisan, tetua!" Suro menjawab sekenanya pertanyaan tetua itu. Dia juga terkejut dengan pertanyaan tetua Tunggak Semi dan mulai menyadari sebuah zirah perang yang kini telah menempel dibadannya.


'Itulah adalah wujudku, tuanku!' Kavacha berbicara dalam alam pikiran Suro.


'Dan itu juga wujudku sekarang bocah setelah menghisap chakramu!' Lodra ikut bersuara ingin memberi tahu Suro mengenai wujud bilah pedang yang kini berubah menjadi warna keemasan seiring mengalirnya chakra milik Suro ke dalam pedang itu.


'Apakah wujud jiwamu itu sebenarnya sejenis dengan bunglon kenapa bisa berubah-rubah warna seperti ini!'


'Setan alas aku adalah Lodra yang agung berani sekali kau menyamakan diriku dengan seekor bunglon, bocah!'


"Nakmas!" Kembali tetua Tunggak Semi mengoyang-goyang bahu Suro. Dia terlihat begitu cemas melihat Suro terlihat seperti orang linglung.


"Nakmas apakah benar baik-baik saja setelah terhantam kekuatan lawan barusan?"


"Hehehe...! Tidak apa-apa tetua, hanya saja sekarang dikepalaku sering terdengar suara-suara yang agak mengganggu.


"Itu nanti saja dipikirkan. Sebaiknya kita segera mengusir enam musuh yang masih tersisa. Jika tidak kita akan kesulitan membantu para anggota perguruan yang masih berperang dengan pasukan Medusa."


Mereka berdua segera melesat mendekati enam dari tujuh Pedang Sesat yang tersisa.