SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 410 Ciranjiwin Acaryanandana



Melihat petapa tua menggerahkan jurus Brahmastra, Geho sama sampai mengusap-usap matanya seakan tidak percaya.


"Gawat, bagaimana pertapa tua itu mengetahui jurus Brahmastra," Geho sama buru-buru mengerahkan jurus yang sama untuk menangkal serangan lawan.


"Tuan pertapa, apakah kita tidak bisa duduk dan berbicara baik-baik? Karena aku merasa diantara kita tidak ada masalah apapun!"


Geho sama mengetahui, jika dua jurus dahsyat itu dihantamkan, maka akan terjadi kerusakan yang besar. Karena itu dia berusaha mencegah sebelum itu terjadi.


"Kau mungkin tidak memiliki masalah denganku, tetapi tidak dengan tumbal yang telah kau bunuh. Dosamu terlalu besar untuk dibiarkan tetap hidup. Jadi bersiaplah, karena hari ini adalah hari kematianmu!"


Geho sama hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban lelaki tua yang ada didepannya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran petapa tua yang ada didepannya. Jawaban itu menegaskan, bahwa semua akan diselesaikan dengan sebuah pertarungan.


"Kita lihat Brahmastra siapa yang lebih kuat!" Lelaki itu segera melesatkan kekuatan yang tergenggam ditangannya.


Mata panah yang bersinar terang itu dipenuhi dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar.


Kali ini Geho sama tidak mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindari serangan lawannya.


"Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain," Geho sama lalu melesatkan jurus Brahmastra miliknya untuk menahan serangan lawan.


Duuuum!


Ledakan keras langsung menggelegar mengguncang pegunungan Taihang Shan. Begitu kuatnya ledakan itu telah menghancurkan bagian dari gunung batu yang menjadi arena pertempuran.


Akibat ledakan kuat itu bahkan membuat sekitar pegunungan itu ikut bergetar hebat. Suara gelegarnya bukan hanya melanda seluruh pegunungan Taihang Shan, tetapi juga mencapai kota Shanxi yang berada cukup jauh.


Geho sama akhirnya mutah darah setelah terlempar begitu jauh dari hempasan ledakan yang terjadi.


"Bagaimana kekuatanku ini dapat dikalahkan oleh pertapa itu, apakah kekuatannya telah mencapai kekuatan dewa?" Geho sama kembali memutahkan darah.


Tidak mungkin ada manusia bisa menampung kekuatan dewa kecuali dia Ciranjiwin sejenis manusia abadi." Geho sama segera menelan beberapa pill tujuh bidadari untuk memulihkan kekuatannya dan menyembuhkan luka dalamnya.


Secara bersamaan dia juga mulai mengerahkan tehnik empat sage untuk menyerap kekuatan alam. Sehingga dapat membantu dirinya mengembalikan tenaga dalamnya.


Beberapa kali dia memutahkan darah segar, pertanda luka dalamnya tidak ringan.


Belum sempat Geho sama berhasil memulihkan luka dalamnya dengan sempurna, pertapa tua itu telah kembali muncul dan melayang diudara. Aura kekuatan yang diperlihatkan lelaki tua itu, lebih kuat jauh dibandingkan sebelumnya.


"Apakah kau tidak mengetahui, bahwasanya jurus Brahmastra adalah jurus milik dewa Brahma? Seorang siluman sepertimu tidak pantas memiliki jurus itu!"


"Kau juga bukan dari kasta Brahmana, jadi tidak mungkin Maharesi Parasurama memberikan jurus itu kepadamu!"


Geho sama menatap pertapa yang tetap melayang diudara sambil terus berbicara. Dia sepertinya menganggap remeh Geho sama, seakan dia dapat menghabisinya kapanpun.


"Setelah sekian tahun, tidak pernah ada yang memiliki ajian itu kecuali orang-orang yang pernah menjadi muridku. Tetapi aku sudah sangat lama tidak pernah memiliki murid. Jadi aku yakin kau mencuri ajian itu dari salah satu muridku!"


Tatapan pertapa itu sebenarnya teduh tidak menggambarkan kebuasan ataupun kebengisan. Tetapi sorot matanya itu cukup mengerikan saat menatap dengan tajam ke arah Geho sama.


"Apakah pertapa adalah salah satu Ciranjiwin?" Sambil mengelap darah segar yang membasahi sudut bibirnya, Geho sama lalu berdiri. Dia menatap pertapa yang berada didepannya.


Di dahi pertapa itu terlihat sebekas luka lama yang terus basah. Segera dia teringat tentang sebuah kisah seorang Ciranjiwin yang dikutuk untuk hidup selamanya.


"Dan jika aku tidak salah menebak tuan pertapa ini adalah seseorang yang bernama asli Acaryanandana, bukan?"


Raut muka pertapa itu berubah sedikit sendu saat Geho sama menebak namanya. Tetapi itu hanya sekilas saja, sebab pertapa itu justru merasa terusik dengan nama yang baru saja disebut Geho sama.


"Namaku tidak penting untuk diketahui dunia. Tugasku hanyalah mencegah dunia mengalami kehancuran." Kembali lagi petapa bersiap hendak menyerang Geho sama, tetapi kali ini dia mengerahkan kekuatannya lebih besar dibandingkan sebelumnya.


'Seberapa kuat sebenarnya pertapa ini,' Geho sama berdecak kesal mengetahui, jika serangan sebelumnya yang dilakukan lawan tidak menggunakan kekuatan penuhnya.


Setelah itu Geho sama menghela nafas panjang. Dia tidak habis pikir mengapa petapa itu bersikeras hendak menghabisinya.


'Apa yang sebenarnya dipikirkan lelaki tua ini?'


Dia lalu memunculkan sebuah senjata berbentuk gendewa atau busur panah ditangannya.


"Aku tidak percaya, bukankah itu adalah senjata dari Maharesi Parasurama? Bagaimana kau memiliki Sang Bergawa?" Pertapa yang memiliki nama Acaryanandana, terkejut melihat gandewa besar ditangan Geho sama.


Sebelum Geho sama menjawab pertanyaan pertapa itu, justru pertapa itu juga mengeluarkan sebuah gandewa besar yang berlapis emas.


"Jangan kau pikir hanya dirimu saja yang menguasai sihir. Aku juga mampu memanggil senjata dewa!"


'Musuh yang merepotkan, dia memiliki gandewa Wijaya,' Geho sama kembali berdecak kesal melihat senjata musuh yang telah berada dalam genggamannya.


Geho sama memahami apa yang diucapkan pertapa itu bukanlah gertak sambal belaka. Sebab itu memang Gandewa atau busur panah yang merupakan salah satu senjata dewa seperti yang diucapkan oleh pertapa.


"Dulu aku mungkin seperti yang pertapa katakan, tetapi sejak aku terlahir kembali aku tidak pernah membunuh, kecuali memang manusia itu pantas dihabisi.


Mereka semua adalah para penjahat yang hanya akan membuat malapetaka bagi dunia. Aku justru berjuang agar dunia tidak hancur.


Jika dulu aku menjadi budak dari Dewa Kegelapan, tetapi kini aku hendak mencegah dirinya berhasil menguasai tiga dunia."


Pertapa itu hanya tersenyum sinis ke arah Geho sama yang secara diam-diam terus mengerahkan tehnik empat sage untuk memulihkan luka dan tenaga dalamnya.


Tanpa sengaja Geho sama mengerahkan kekuatan Iblis Kali purusha yang sebelumnya dia habisi dalam pertempuran di alam kegelapan.


Kekuatan yang penuh hawa sesat itu memang belum sempat dimurnikan oleh Geho sama secara sempurna. Sehingga pertapa itu dapat merasakan kekuatan sesat itu menyelubungi tubuh Geho sama.


"Apa bedanya jika biang iblis melakukan kejahatannya dan menunda melakukan kejahatannya?"


Pertapa itu menarik busur, maka muncul sebuah cahaya yang membentuk anak panah. Gandewa itu bukanlah gandewa yang ada pada umumnya.


Sebab pusaka itu tidak memerlukan anak panah untuk dapat digunakan, sebab gandewa itu menggunkan chakra penggunanya untuk dijadikan anak panah untuk menyerang musuh.


Jika ada manusia yang kekuatannya masih berada dibawah tingkat surga dan memaksa menggunakan gandewa itu, maka kemungkinan besar dia hanya akan mencelakai dirinya sendiri. Sebab chakranya akan habis tersedot oleh pusaka dewa itu.


'Biarkan aku yang menghadapi orang gila itu, Geho sama,' Lodra yang sejak tadi berada dipinggang Geho sama tidak sabar hendak ikut dalam pertempuran itu.