
"Gunakan Sarkara Deva ini sebelum kau melanjutkan omelanmu Gagak setan! Aku khawatir tulang tuamu tidak sanggup menghadapi musuh yang datang bertambah banyak ini."
Suro segera memberikan kepada Geho sama kendi kecil berisi Sarkara Deva, tetapi sebelum memberikan itu dia telah mencicipinya terlebih dahulu. Setelah pasukan musuh dapat dihantam mundur oleh Tirtanata melalui tehnik perubahan air miliknya, dia memilih menggunakan kesempatan itu untuk memulihkan kekuatannya.
Sebab untuk mengerahkan empat penjaga gaib miliknya membutuhkan tenaga yang cukup besar. Ditubuhnya kini tinggal dua puluh persen kekuatannya.
Kekuatan besar yang dimiliki para penjaga gaib ikut berimbas kepada pengerahan kekuatan saat memanggilnya.
"Beruntung aku memiliki Sarkara Deva untuk memulihkan kekuatanku, jika tidak akan sangat gawat."
Setelah menelan Sarkara Deva, maka terjadi ledakan energi yang mampu memulihkan kekuatannya dengan cepat. Rentetan bunga listrik memenuhi tubuh Suro.
Dia menarik dan menghembuskan nafas sambil merasakan sensasi kekuatan yang memenuhi sekujur tubuhnya. Begitu juga yang dirasakan Gagak setan, dia merasakan luapan kekuatan setelah menelan Sarkara Deva.
Terlihat gurat-gurat urat yang memenuhi wajah, tangan, kaki mereka. Hal itu sudah dapat menggambarkan betapa dahsyatnya ledakan energi yang memenuhi sekujur tubuh mereka berdua.
"Memiliki Sarkara Deva dalam gengamanku, seperti memiliki nyawa cadangan." Suro tersenyum sambil menatap ke arah Gagak setan yang justru masih terperangah dengan wujud empat penjaga gaib yang dimiliki Suro.
"Bagaimana mungkin Penjaga gaib milikmu telah meningkat menjadi sekuat ini?" Gagak setan sudah tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya. Dia cukup kagum dengan perubahan kekuatan jiwa yang dimiliki Suro.
Suro tersenyum mendengar pertanyaan si Gagak setan alias Geho sama.
"Selain karena Sarkara Deva ini, kekuatan penjaga gaibku meningkat berhubungan erat dengan jalan arhat yang telah aku lewati Gagak setan."
"Bisa dikatakan Sarkara Deva telah memicu para penjaga gaibku berubah ke bentuk yang mendekati wujud sempurnanya."
"Apakah kau tau bocah? Mereka berempat adalah wujud hewan penjaga empat arah mata angin yang sudah melegenda itu. Bahkan baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Aku sungguh kagum atas pencapaian yang telah kau raih."
"Meskipun begitu, mereka berempat belum mampu menandingi kekuatan Lokapala atau dua belas Ashura penjaga gaib milik Dewa Kegelapan. Karena itu kau harus meningkatkan kekuatan jiwamu berkali-kali lipat, bocah. Apalagi kau akan mengadu kekuatan dengan Dewa Kegelapan."
"Aku merasakan kejanggalan sebenarnya, mengapa Dewa Kegelapan seperti mengalah saat pertempuran terakhir?"
Geho sama yang hendak melanjutkan ucapannya harus mengurungkan niatnya, karena musuh telah menyerang mereka.
"Mengganggu saja mereka, makhluk sialan!"
Kali ini Gagak setan cukup kesal dengan musuh yang mengganggu dirinya. Karena itu dia segera menggeluarkan sebuah senjata yang sangat jarang sekali dia gunakan, bahkan hampir tidak pernah. Senjata miliknya itu berupa sebuah kipas besar yang berbentuk daun. Senjata itu memiliki nama Taru Bajra.
Setiap hempasan kipasannya tersembunyi energi tebasan pedang angin yang begitu kuat, bahkan mampu mencacah tubuh seperti tahu.
Wuuuuus! Wuuuuus!
Cras! Cras!
"Sebutkan berapa musuh yang sudah kau habisi bocah sinting? Lihatlah aku sebentar lagi akan membuat gunung mayat!"
Para musuh yang hendak menyerang Gagak setan telah hancur oleh kuatnya serangan yang dilakukan barusan. Tubuh mereka terpotong-potong dan menumpuk didepannya.
Kekuatan senjata yang dimiliki Gagak setan cukup membuat musuh bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka sebuah kipas mampu digunakan selayaknya puluhan bilah pedang yang ditebaskan secara bersama-sama.
Ucapan jumawa dari Gagak setan hanya dibalas oleh Suro dengan sebuah gerakan dagunya. Dia hendak menunjukkan kemampuan yang dimiliki penjaga gaib miliknya.
Para musuh yang berlari mendekat ke arah Suro harus melewati genangan air setinggi lebih dari semata kaki. Maka saat mereka telah masuk dalam jangkauan serangan Tirtanata, mendadak seluruh air yang menggenang itu telah menyelubungi mereka.
Kemudian dengan kecepatan yang sangat tidak dimasuk akal, mereka semua telah terkunci dan membeku tak ubahnya seperti patung es. Tidak kurang dari tiga puluh makhluk kegelapan dan para anggota Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan beserta beberapa tetuanya terjebak oleh jurus yang dikerahkan Tirtanata sang Naga Biru.
Suro kemudian mengerahkan ilmu pedangnya, yaitu jurus Sejuta Tebasan Pedang.
Bldaaaar!
Hasil dari kuatnya tebasan pedang itu bukan hanya menghancurkan seluruh pasukan musuh yang berubah menjadi patung es, dia juga berhasil memukul mundur musuh.
Sebelum musuh yang tubuhnya telah hancur itu dapat memulihkan diri, Suro bergegas memindahkannya masuk kedalam pusaka sarang lebah iblis.
Dimensi didalam pusaka itu telah terjadi perubahan. Kemungkinan itu terjadi setelah Suro secara terus-menerus mengirimkan tubuh musuhnya. Meskipun hawa kegelapan yang terkandung di dalam tubuh musuh yang dikirim sangat pekat, namun kondisi itu tidak meracuni dimensi tersebut.
Hal itu dikarenakan kemampuan khusus yang dimiliki pusaka tersebut. Selain itu juga karena keberadaan Raja dan Ratu lebah iblis yang mengerahkan seluruh rakyatnya untuk ikut menyerang makhluk kegelapan yang dikirim Suro.
Para lebah iblis itu tidak membiarkan tubuh makhluk kegelapan dapat memulihkan tubuhnya. Sebab para lebah iblis itu dengan cepat menyerap seluruh energi yang terkandung disetiap tubuh yang dikirim Suro.
Dengan adanya peran Raja dan Ratu iblis yang menggerakkan seluruh pasukannya, telah membantu kekuatan dari pusaka yang menjadi rumah bagi para lebah itu. Pusaka Sarang Lebah iblis memiliki nama lain, yaitu Tuskara Deva.
Meskipun tanpa bantuan pasukan lebah iblis pusaka Tuskara Deva secara mandiri telah berhasil melenyapkan gunungan tubuh makhluk kegelapan yang dikirim Suro. Kejadian itu membuat energi yang kini terkandung dalam dimensi tersebut berubah menjadi begitu padat.
Karena melimpahnya energi kehidupan yang memenuhi dimensi itu, membuat pusaka Tuskara Deva terpancing untuk meluas. Tubuh para pasukan musuh yang masuk ke dalam dimensi itu tak ubahnya seperti pupuk yang dapat memberikan nutrisi bagi alam didalam Tuskara Deva.
Dengan kondisi itu juga membuat penghuninya, yaitu pasukan lebah iblis menjadi semakin bertambah kuat.
'Terima kasih tuan Suro kekuatan kami meningkat dengan cepat.' Raja dan Ratu lebah iblis semakin merasa berhutang budi kepada Suro.
Sebab sebelumnya mereka telah bersyukur dapat dipersatukan kembali dengan Raja lebah iblis. Sehingga kehidupan dari Ratu lebah iblis itu telah lengkap. Apalagi mereka kini dapat hidup dengan damai di dalam Tuskara Deva bersama seluruh rakyatnya.
'Sekarang waktunya kalian membuat sarkara deva, pertempuran yang akan aku lewati masih jauh dari selesai, aku membutuhkannya untuk menggantikan kekuatanku yang telah terpakai.'
Bersama dengan perintah yang diucapkan kepada Ratu lebah iblis beserta seluruh rakyatnya, maka Suro menerjang ke arah lawan. Empat penjaga gaib milik Suro justru lebih dahulu menyerang lawannya.
Melihat hal itu Geho sama mendengus kesal "kau kira hanya dirimu yang mampu meminta bantuan, aku juga bisa melakukannya. Kita lihat, siapa yang paling banyak menghabisi cecunguk bawahan Dewa Kegelapan ini?"
Setelah menelan Sarkara Deva, Gagak setan mampu menggunakan kekuatan yang berlimpah itu untuk memanggil sembilan tubuh ilusi miliknya. Sembilan wujud yang menyerupai Gagak setan muncul dan langsung menerjang ke arah lawan.
Beberapa kali serangan yang dia lakukan dengan menggunakan senjata miliknya, berhasil menghabisi lawan dengan lebih cepat. Sebab setiap hempasan angin yang menerjang seperti badai, tersembunyi tehnik tebasan pedang angin yang mampu mencincang tubuh lawannya.
Para makhluk yang berwujud belalang sembah sempat menahan serangan itu dengan menggunakan lengannya yang sekeras pedang. Namun Gagak setan memiliki cara tersendiri untuk mengalahkannya.
Tebasan pedang angin yang dikerahkan melalui Taru Bajra menerjang pada sudut tertentu yang tidak mampu ditangkis. Selain itu energi tebasan pedang angin itu dipadatkan agar mampu menerobos celah yang ada.
Sehingga serangan itu akhirnya mampu mengenai tubuh lawan secara membujur dari kepala sampai ke ekor. Mereka akhirnya mampu dibelah menjadi dua bagian.
Setiap makhluk yang tidak sempat dilempar masuk ke dalam pusaka Tuskara Deva, dilenyapkan oleh Geho sama dengan tehnik empat sage. Sebab jika dia tidak segera melakukannya, maka mereka akan dapat segera pulih kembali.