SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 18 Sang Hyang Anantaboga



Setelah kejadian yang dialami Suro yang mampu menyerap isi kitab tanpa aksara, eyang Sindurogo kepikiran mengenai hal itu. Dia mengetahui bahaya yang akan timbul, jika suatu saat Suro menyalahgunakannya. Dia ingin memastikan, jika itu tidak akan terjadi. Namun ada resiko besar yang akan menyangkut nyawa Suro.


"Yek (kata ganti yang berarti nak)aku akan menceritakan alasan eyang memilih Gunung Arjuno sebagai tempat tinggal eyang. Salah satunya keberadaan ruang rahasia yang sekarang eyang jadikan tempat menyimpan kitab-kitab nomor satu dunia persilatan."


"Keberadaanya selalu eyang jaga dari tangan-tangan orang yang tak pantas menjamahnya. Bahkan seandainya aku tak ditakdirkan menemukan orang yang tepat akan tetap eyang pendam bersama kepergian eyang dari dunia ini."


"Tetapi sesungguhnya tanpa penjagaankupun telah ada sosok yang lebih perkasa daripada eyang yang telah menjaganya jauh sebelum eyang datang ke Gunung Arjuno ini. Dan salah satunya telah menjadi sahabat Eyang."


"Aku akan mengenalkanmu pada sahabat Eyang itu. Sahabat Eyang ini berwujud ular yang sangat besar. Seperti mitos masyarakat sekitar bahwa Gunung Arjuno ini dijaga sembilan makhluk Rhaksasa dan satu wujud Ular yang sangat besar yang mampu melingkari badannya mengelilingi Gunung Arjuno. Cerita itu benar adanya. Ular itu bernama Nagasesa atau Sang Hyang Antaboga atau Sang Hyang Anantaboga."


"Tetapi ada resiko yang sangat besar menyangkut nyawamu. Apakah kau berani menanggung resikonya?" Tanya Eyang Sindurogo dengan nada penuh rasa kekhawatiran karena ia tau ada sesuatu yang sangat beresiko tinggi dibalik keinginanya mengenalkan pada Nagasesa.


"Jika murid diperintahkan meloncat ke dalam jurang! Maka murid akan bertanya seberapa tinggi harus meloncat? Jika murid diperintahkan menyelam samudera maka murid akan bertanya seberapa dalam murid harus menyelam?" Murid tidak akan bertanya resiko apa yang akan murid tanggung !"


"Eyang bagi Suro adalah seorang Guru juga Ayah sekaligus Ibu. Tidak ada ciptaan Sang Hyang Wenang yang lebih aku hormati melebihi dirimu Guru. Tak ada hal yang mampu aku lakukan untuk membalas semua kebaikan yang telah Eyang lakukan padaku."


Jawab Suro sambil menundukan kepalanya dilantai tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi tengorokannya tercekat ada perasaan yang bergemuruh didadanya.


Sebuah jawaban yang tulus dari lubuk hatinya terdalam. Karena selama hidupnya tidak ada yang lebih dia kenal selain Eyang Sindurogo yang telah merawatnya dan mengajarkan segala sesuatu padanya.


Pertama kali matanya menatap kedunia adalah wajah seorang lelaki yang paling dikasihinya itu,yang berperan menjadi Ayah sekaligus Ibu bahkan lebih daripada itu dialah Guru yang mengajarkan tentang semua hal hampir semua hal yang dia ketahui didunia semua berasal dari Eyang Sindurogo.


Dialah yang mengajarkan tentang kehidupan. Tentang bagaimana berprilaku dan memperlakukan makhluk lain ciptaan Sang Hyang Maha Tunggal harus penuh dengan welas-asih. Selain hal itu dialah juga yang memperkenalkan Suro tentang ilmu olah kanuragaan.


Ada genangan airmata yang perlahan-lahan jatuh tak mampu ditahan membasahi batu pualam putih yang bening. Ada rasa yang menyesakkan dadanya karena teringat bagaimana dia dibesarkan dengan limpahan kasih sayang walaupun dia bukanlah siapa-siapa. Tetapi kasih sayang yang dicurahkan kepadanya tak mampu diukur dengan apapun.


Eyang Sindurogo yang bersila diatas batu tak mampu melanjutkan kata-katanya, terdiam membisu memandangi muridnya yang masih dalam posisi bersujud didepannya. Dia memahami apa yang ingin dikatakan muridnya sekaligus anak atau mungkin lebih tepatnya cucu angkatnya itu. Dia hanya menjawab dengan mengelus kepala Suro yang masih tertunduk dilantai dengan pelan.


Karena dia juga merasakan hari berganti hari semakin membuatnya menyayangi Suro. Melihat perkembang Suro yang mengagumkan kandang membuat dirinya sendiri juga tercengang. Dan bagaimana Suro menghormatinya dengan penghormatan yang tinggi dengan ketulusan tak diragukan.


Kadang dia tidak mengerti bagaimana anak seumuran dia memiliki kedewasaan dalam bentuk prilaku maupun perkataan setinggi itu. Bukan hanya fisiknya yang telah mendahului umurnya tetapi daya pikir dan kedewasaannya telah melewati umurnya.


Itulah yang membuatnya seakan ragu-ragu ingin mempertemukan murid kesayangannya dan satu-satunya, bertemu dengan Sang Hyang Anantaboga. Untuk meminta petunjuk sekaligus memastikan sesuatu yang berhubungan dengan muridnya.


Menurut legenda Sang Hyang Antaboga selain mampu menghidupkan orang dengan Tirta Amerta yang berada dicungkup mahkota yang berada diatas kepala Nagasesa.


Kemampuan lainnya adalah sebelum memberikan air kehidupan pada orang tersebut adalah memprediksi dan melihat seseorang ini menjadi orang yang baik atau buruk diwaktu sekarang maupun dimasa depan. Jika gagal melewati tes ini resikonya adalah hari terakhir dia melihat dunia dan dijadikan pengganjal perut Naga rhaksasa tersebut.


Secara tidak langsung saat pertama kali bertemu inilah yang dulu juga pernah dilewati Eyang Sindurogo saat bertemu Nagasesa saat dia hampir mendekati ajalnya disebabkan luka yang cukup serius. Saat melihat Eyang Sindurogo memiliki kebaikan dalam dirinya yang akan tetap sama sampai kapanpun. Membuat Sang Hyang Anantaboga memberikan satu tetes air kehidupan, yang membuat semua luka dalam tubuhnya sembuh seketika dan membuat tubuh fisiknya menjadi muda kembali.


Karena hal itu juga yang membuat dirinya harus memutuskan Suro harus bertemu dengan Sang Hyang Anantaboga sebab dia tidak ingin kedepannya dunia terjadi kekacauan disebabkan muridnya. Seperti yang telah diketahui hampir seluruh ilmu kelas atas telah dipelajari oleh Suro Bledek.


Bahkan Ilmu Telapak Dewa Matahari dasar ilmunya telah dia kuasai. Terlebih lagi dialah satu-satunya yang telah menyerap Ilmu Deva sekelas sastra jendra pangruwating diyu yang kabarnya mampu merubah seorang yang fana menjadi seorang dewa tentu hal yang sangat penting memastikan agar kedepannya dia tidak akan membuat kekacauan dan selalu berpijak dijalan yang lurus.


Di gunung Arjuno ada satu goa yang diberi nama Goa Anantaboga. Penamaan Goa ini pun dari kepercayaan masyarakat sekitar tentang keberadaan Ular Rhaksasa bernama Sang Hyang Antaboga alias Sang Nagasesa.


Sang Hyang Anta boga berwujud seperti ular naga dan dikenal sebagai dewa penguasa dasar bumi. Ia mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta.


Nama Antaboga atau Anantaboga berasal dari Kata An artinya tidak; kata anta artinya batas; sedangkan kata boga atau bhoga artinya keelokan. Anantaboga artinya Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya adalah ular naga yang besarnya luar biasa.


Menurut cerita legenda yang berkembang dimasyarakat secara turun-temurun Sang Hyang Antaboga adalah raja ular yang hidup di dasar bumi Perwujudannya adalah naga dengan mahkota.


Diceritakan dalam kisah tersebut Sang hyang Antaboga atau Sang Hyang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah deva penguasa dasar bumi. Deva itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi.


Sang Hyang Antaboga dapat serupa dengan wujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Dalam setiap 1000 tahun sekali Sang Hyang Antaboga berganti kulit.


Diceritakan juga bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja sesuai dengan yang dikehendakinya.


**


Setelah waktu ditentukan mereka menuju kearah sisi utara Gunung Arjuna menaiki Harimau taring pedang, menuju sebuah ceruk yang biasa disebut Goa Anantaboga.


Dikaki Gunung Arjuno sebelah utara terdapat tebing batu yang megah disalah satu sisi ada ceruk sedalam kira-kira tiga hasta(satu hasta kira -kira 40-60cm). Dengan ketingian kira-kira dua hasta. Dengan lebar sekitar dua hasta.


Walaupun hanya sebuah ceruk tetapi masyarakat menyebutnya Goa Anantaboga. Tidak ada yang istimewa dari ceruk itu kecuali namanya saja yang menunjukan sesuatu hal yang berhubungan dengan Sang Hyang Anantaboga.


"Sang Hyang Anantaboga Nagasesa hamba Sindurogo ingin memohon petunjuk ada yang hamba ingin tanyakan dan memastikan sesuatu kepada Hyang Pekulun(pekulun bisa diartikan Tuanku)." Eyang Sindurogo seolah berbicara pada dinding ceruk tersebut.


Sesaat kemudian yang terjadi adalah sesuatu yang bahkan Suro tidak sangka. Bahkan saking kagetnya, tanpa sadar membuatnya tersurut beberapa langkah kebelakang, tetapi setelah melihat Eyang Sindurogo tidak bergeming sedikitpun, membuat langkahnya terhenti, tidak jadi dia teruskan.


Bletaak! Bletaaak!


Sebuah pemandangan didepannya membuat terbelalak. Dinding tebing yang megah seacra perlahan mulai membelah secara horisontal dan secara perlahan bagian bawah mulai amblas kedalam tanah, seperti tertelan sesuatu kekuatan yang sangat dhasyat.


Pergerakan tebing itu menimbulkan suara sangat keras menghentakan seluruh penghuni hutan suaranya menguncang bahkan efeknya tanah ikut bergetar bergelemetak menyebabkan gempa bumi lokal. Burung-burung panik berterbangan menjauh. Para hewan penghuni hutan juga berteriak-teriak merasakan kejadian alam yang tak normal, sehingga menambah keriuhan yang memecahkan kesunyian hutan.


BLEETAKKK...!!BLETAAKKK....!!BLETTAKKK!!!BLETAAAKKKK!!BLETAAAKKK!!


Rentetan suara terus mengiringi gerakan tebing terbuka semakin lebar. Sesaat setelah gerakan dan suara berhenti, maka bumi pun tidak berguncang lagi. Semua kembali menjadi sunyi. Bahkan binatang-binatang yang tadi bersuara riuh rendah, entah kenpa langsung terdiam, seakan sesuatu telah membuat mereka mengunci mulutnya.


Dihadapan mereka sekarang terpampang sebuah mulut goa yang sangat besar menjorok kedalam tanah sangat dalam tak terkira. Lebar dari sisi kanan ke sisi kiri mencapai hampir 150 tombak tinggi mencapai 110 tombak.


Suro sudah mulai membayangkan seberapa besar ular nanti yang akan muncul melihat betapa besarnya mulut goa yang ada didepan matanya. Dia merasakan sunyi yang sangat mencekam tak pernah dia merasakan seperti perasaan ini sebelumnya.


Bahkan Eyang Sindurogo tak ada kata yang terucapkan terdiam hanya tatapannya masih lurus kemulut goa.


Setelah tiga sampai lima seperminuman teh tak ada makhluk apapun yang muncul dimulut goa. Tak terasa keringat dingin mulai menjalar disekujur tubuh Suro.


Sesosok manusia yang memakai pakaian selayaknya seorang Maharaja tiba-tiba berada persis dimulut goa. Suro bahkan tidak menyadari atau merasakan hawa atau suara langkah kedatangannya sebelum tiba-tiba begitu saja ada dihadapannya yang jaraknya lumayan jauh.


Eyang Sindurogo saat melihat sesosok tersebut menyunggingkan senyum. Sebuah senyum terlebar yang belum pernah Suro lihat sebelumnya.


"Sindurogo maaf menunggu agak lama." Sesosok tersebut seorang lelaki yang kalau dilihat dari wajahnya seperti orang yang berumur 30an.


"Tidak mengapa Hyang Pekulun. Sembah pangabekti kepada Hyang Pekulun." Eyang Sindurogo membalas dengan mengangguk dan membungkuk penuh hormat sambil merapatkan kedua belah telapak tangan didadanya.


Dengan pakaian selayaknya seorang Maharaja dengan warna merah yang mencolok. Kalung emas besar mengelantung menutupi hampir keseluruhan bagian dadanya,gelang tangan dan kaki melingkar besar seakan toko mas yang berjalan. Dengan mahkota dikepala yang penuh hiasan batu-batu permata,zamrud dan yang lainnya menampakan kemewahan yang tak ada duanya. Dengan hiasan ukiran-ukiran berpola ular.


"Hahaha.....hahaha.... Sudah lama ulun(aku) tidak melihatmu."


Tawa lelaki itu renyah sangat enak didengar. Sambil melihat sebelah kanan dan kirinya sambil sesekali membenarkan letak perhiasan kalung yang menggelantung menutupi dadanya. Seperti ada sesuatu yang kurang.


Suro masih kebingungan tetapi dari ekspresi yang dia lihat diwajah gurunya sepertinya sesosok yang dia tunggu adalah lelaki ini. Tapi apa tidak salah menurut Eyang dia bilang yang akan ditemui adalah sesosok ular yang sangat besar. Dia memandang ke arah sosok lelaki itu kemudian ke arah gurunya seakan meminta jawaban.


"Iya ini Hyang Anantaboga yang aku ceritakan. Saat ini tidak dalam wujud ular besar seperti yang Eyang ceritakan sebelumnya. Wujud ular besar adalah wujud tri wikramanya."


Eyang Sindurogo mencoba menjelaskan kepada Suro kemudian mendekati sosok tersebut sebelum memberi isyarat Suro untuk tidak mengikuti.


Suro hanya mengangguk dan duduk disamping Harimau taring pedang. Tetapi dia masih kebingungan dan merasa sedikit kecewa sebab tidak seperti apa yang sudah dia bayangkan. Setelah melihat betapa megah dan begitu besarnya mulut goa, seharusnya bisa di bayangkan betapa besarnya wujud ular yang akan keluar dari goa itu.


"Maaf ulun datang agak lama. Ulun tidak mau mengecewakanmu, untuk itu ulun memilih pakaian terbaikku. Tapi sepertinya justru ulun kebinggungan banyak pilihan baju dan perhiasan yang harus ulun pilih." Senyumnya masih menghiasi wajahnya.


"Ah sudahlah lupakan, tapi itu benar Sindurogo membuat orang yang kau temui senang itu juga darma. Hyang pekulun dengar Kerajaan Kalingga telah memaksamu untuk menerima hadiah dalam jumlah besar?" Tanyanya masih menyelidiki. Eyang Sindurogo menjawabnya dengan tersenyum.


"Benar Hyang Pekulun." Jawaban Eyang Sindurogo dengan ekspresi terkejut.


"Ulun ini Hyang Basuki tau apa yang berjalan diatas bumi ini dan mendengar apapun yang diatas juga didalam bumi. Weruh sak durunge winarah(tau sebelum terjadi)."


Seakan Hyang Anantaboga mencoba menegaskan kembali kemampuannya setelah melihat Eyang Sindurogo seperti kaget mengetahui Hyang Anantaboga telah mendengar dan mengetahui apa yang terjadi padanya.


"Mengapa tidak kau terima? tidak ada salahnya kau terima itu. Lihatlah apa yang kau berikan pada muridmu itu. Kasihan dia bajunya lusuh sekali kalau kau tidak mencintai duniawi lagi minimal buatlah senang makhluk yang masih hidup didunia


ini." Peryataan Sang Hyang Anantaboga membuatnya terhenyak.


Sekilas kemudian dia menatap muridnya yang agak jauh darinya, sedang mengelus-ngelus leher Harimau taring pedang yang ada disamping Suro. Baru kali ini dia memperhatikan baju yang dipakai muridnya lusuh dan agak dekil mendekati pakaian para pengemis di ibukota Kalingga. Memang tidak ada yang salah dengan nasehat Hyang Ananta boga.


"Sendiko sembah nuwun Hyang Pekulun hamba lain kali akan menerimanya!"


Suro menatap sesok tersebut seperti mengingatkan tentang seseorang yang dia tak mampu mengingatnya. Wajahnya yang tampan seperti bersinar sebuah pancaran kewibawaan yang tak biasa spertinya dia pernah merasakan pancaran aura seperti ini tetapi siapa, dimana dia masih mengingat-ingat.


"Ada yang coba hamba utarakan Hyang Pekulun. "


"Seperti sesuatu yang sangat penting, Hal tentang apa Sindurogo?"


"Tentang murid hamba Hyang Pekulun. Dia memiliki kemampuan menyerap kekuatan Matahari menjadi kekuatannya!"


"Pantas saat ulun melihat muridmu, sepertinya mengenali aura yang ia pancarkan aura sangat ulun kenal. Ternyata dia memiliki kekuatan Surya. Sesuatu yang sangat istimewa tentunya tidak sembarang manusia memiliki kekuatan itu. Kecuali,dia memiliki garis keturunan dengan Deva Surya!


"Atau dia mempunyai senjata dari deva surya?"


"Darimana kau menemukan muridmu?"


Lalu diceritakan semua bagaimana dia telah menemukan Suro dan senjata zirah yang masuk ke dalam tubuh Suro.


"Dan sekarang Suro telah mampu menyerap ilmu dalam kitab tanpa aksara."


"Apa!!Sastra jendra telah dibuka segelnya? Sesuatu yang luar biasa akhirnya ada yang mampu menyerap ilmu itu"


"Maka dari itu tujuan hamba memohon kepada Hyang Pekulun berkenan melihat kedalam jiwa sejati dari murid hamba. Hamba takut akan terjadi kekacauan jika murid hamba nanti dimasa depan tidak berjalan dijalan kebenaran."


"Kalau itu memang permintaanmu baiklah akan Hyang Pekulun lihat seperti apa?"


Setelah Suro dihadapkan kepada Hyang Anantaboga dia segera menyembah dengan dalam dan bersimpuh dihadapan mereka berdua.


Lalu Hyang Anantaboga menempelkan tangannya pada dada Suro. Setelah tidak beberapa lama dia kemudian menarik tangannya sambil tersenyum ke arah Eyang Sindurogo.


"Engkau memiliki murid yang luar biasa didiklah dia dengan seluruh kemampuanmu Sindurogo .Karena dia akan melewati perjalanan hidup yang tak mudah untuk dilalui. "


"Sendiko dawuh Hyang pekulun. Sembah pangabekti dan rasa terimakasih yang tak terukur kepada Hyang Pekulun atas wejangannya, hamba akan menunaikan apa yang telah Hyang Pekulun perintahkan."


"Karena nakmas telah bertemu dengan Hyang pekulun langsung, tentu saja ulun akan memberikanmu air suci tirta amerta. Tetapi tidak sekarang, nanti saatnya tiba saat nakmas dalam keadaan hidup dan mati atau saat nyawamu sudah ada ditenggorokan panggilah nama ulun." Pernyataan itu ditunjukan kepada Suro.


"Terimakasih Hyang Pekulun Mohon diterima sembah pangabekti Suro kepada Hyang pekulun." Jawab Suro sambil kembali menyembah dengan penuh khidmat.


"Ulun terima sungkem dan sembah pangabektimu nakmas.Sekarang Hyang Pekulun akan tetap memberikanmu sebuah hadiah lain. Hyang Pekulun akan mengajarimu tehnik pelatihan unsur bumi terkuat sejagat raya. Dalam kitab bumi, ilmu itu adalah puncak dari segala puncak ilmu pengolahan unsur bumi. Kuberikan nama ilmu istimewa itu Naga Bumi Membelah Benua."


***


Cerita ini aku buat untuk menyalurkan hobyku terinspirasi dalam tokoh-tokoh dalam mitologi Nusantara. Karya ini aku dedikasikan untuk Ayahku, Ayah terhebat diseluruh dunia.


“Illa ruhi ayahku kiman bin Soma Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.”


“Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” 


terimakasih semua