SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 396 Calon Mantu Idaman



"Pendekar sekali lagi aku mengucapkan terima kasih yang tidak terukur banyaknya. Imbalan apapun yang akan kami berikan tentu tidak dapat membalas apa yang telah pendekar lakukan kepadaku."


Dihadapan Suro kini berdiri sesosok wanita muda. Apa yang dia lihat kini begitu berbeda dari sebelumnya. Bahkan hampir saja Suro tidak mengenalinya.


Sebab perubahan yang dia saksikan kali ini seperti seratus delapan puluh derajat. Tidak tersisa sama sekali apa yang dia lihat sebelumnya. Gadis muda itu terlihat begitu anggun, dengan riasan tipis diwajahnya, semakin membuat Suro dalam beberapa saat tertegun.


Gadis itu adalah Lin'er putri Jendral Zhao yang telah selesai membersihkan tubuhnya dan kembali berganti pakaian dan sedikit berdandan, maka Suro dibuat terpana melihat betapa cantiknya gadis itu.


Bahkan setelah hawa sesat yang bercokol dalam tubuhnya berhasil disingkirkan, secara mengagumkan tubuhnya juga mengalami perubahan. Sehingga kali ini perawakan gadis itu tidak lagi seperti jerangkong hidup.


Sebab hawa sesat itu memiliki efek buruk, yaitu mampu menyerap hawa kehidupan makhluk lain. Setelah dibantu dengan air yang dicampur dengan Tuskara Deva, maka hasilnya bukan saja dia kembali segar, tetapi secara menakjubkan tubuh gadis itu kini tidak lagi sekurus seperti sebelum dia diselamatkan.


Dalam beberapa saat itulah Suro tertegun menatap putri Jendral Zhou.


"Lihatlah putriku yang sekarang ini, apakah dia tidak terlihat cantik dimata pendekar?" Jendral Zhou menepuk pundak Suro dengan bangga.


Suro sempat terkejut dan segera menguasai keadaan. Dia lalu menghentikan matanya yang terus menatap gadis didepannya.


"Dia seumuran dengan pendekar, jadi tidak ada salahnya jika menjadi pasangan pendekar Suro. Jika pendekar keberatan karena masih merasa terlalu muda, maka tidak masalah jika kita buat perjodohan terlebih dahulu.


Itu cukup sebagai langkah perkenalan bagi kalian, agar kalian dapat saling mengenal lebih jauh." Setelah berbicara Jendral Zhou menoleh ke arah anaknya yang terlihat menundukkan kepala dengan pipinya yang putih bersih kini bersemu kemerahan.


"Apakah dirimu setuju dengan apa yang ramanda katakan ini, Lin'er?" Tanpa menunggu jawaban dari Suro Jendral Zhou langsung bertanya kepada anaknya.


Dan konyolnya putri satu-satunya itu tanpa ragu menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Jendral Zhou. Bahkan terlihat sebuah senyuman menghiasi bibirnya.


Giliran Suro yang mulai menggaruk-garuk kepalanya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Agar pendekar bisa lebih mengenal Lin'er putriku satu-satunya yang paling cantik ini, ada baiknya, jika mulai sekarang dia akan mengikuti pendekar."


Kali ini Suro terbatuk-batuk mendengar ucapan lelaki disampingnya. Reaksi yang dia lakukan setelah itu selain menggaruk-garuk kepalanya, dia juga mulai menepuk-nepuk jidatnya.


'Gawat kejadian terulang lagi nasib jadi orang ganteng, dimana-dimana selalu diincar untuk dijadikan calon mantu.'


Dia mulai kasak-kusuk mencari cara untuk menolaknya. Tetapi Bapak beranak itu justru terus menunggu jawaban darinya yang justru sibuk kembali menggaruk-garuk kepalanya.


"Sepertinya aku harus menjelaskan kepada paman dan juga Lin'er. Benih iblis yang telah merasuki tubuh Lin'er sebenarnya belum musnah. Makhluk itu aku tempatkan didalam tubuhku, persisnya disini," ujar Suro sambil menunjuk ke dadanya.


"Apakah itu salah satu bentuk penolakan pendekar dengan niat yang aku katakan barusan?" Raut muka Jendral Zhou langsung berubah, begitu juga Zhou Lin. Wanita itu terlihat sedih mendengar ucapan Suro.


"Tidak paman, aku mengatakan itu, demi kebaikan Lin'er. Dia sebaiknya tidak melihat hal-hal buruk.


Sebab kejiwaan Lin'er sesungguhnya belum setabil. Ada trauma mendalam dibawah alam bawah sadarnya.


Meskipun jika paman melihat dia terlihat sudah segar dan sudah mampu mengingat semuanya dengan baik. Tetapi trauma dalam jiwanya belum sepenuhnya sembuh.


Perlu waktu yang panjang. Dan selama waktu itu dia tidak diperbolehkan melihat hal yang buruk. Terutama dia tidak boleh terkena hawa sesat lagi. Apalagi melihat wujud dari benih iblis yang pernah merasukinya."


Suro menatap ke arah bapak beranak itu dengan tatapan meminta mereka untuk mempercayai ucapannya barusan, tetapi reaksi Jendral Zhao justru terkesan meminta jawaban lain yang lebih meyakinkan.


Berbeda dengan ayahnya, Zhao Lin justru mulai meneteskan mata, karena ucapan Suro mengingatkan dirinya jika sebelumnya dia kehilangan kewarasannya alias gila. Dia merasa jika Suro menolak semata-mata karena dirinya bekas orang gila.


"Aku cukup tau diri mengenai penolakan yang pendekar ucapkan," Lin'er tidak mampu melanjutkan kalimatnya, karena keburu menangis tergugu.


"Sepertinya paman dan Lin'er tidak mempercayai ucapanku. Jika seperti itu terpaksa aku akan menunjukkan apa yang barusan aku ucapkan bukanlah hanya alasan.


Tetapi justru demi kebaikan Lin',er semata. Akan aku tunjukkan, jika dikira ucapanku ini hanya mengada-ada.


Sebenarnya pada awalnya aku hendak menunjukkan bentuk dari wujud makhluk yang telah merasuki Lin'er kepada paman Zhou.


Suro masih menahan untuk tidak segera menunjukkan benih iblis yang dia kerangkeng dalam Tuskara Deva. Tetapi wajah Jendral Zhou sudah menggambarkan apa yang tersembunyi dalam hatinya.


Lelaki itu menganggap ucapan Suro terdengar seperti mengada-ada. Dan menganggap sebagai alasan untuk menolak permintaannya.


Begitu juga dengan Zhao Lin, gadis itu justru semakin deras melelehkan air matanya. Dengan melihatnya saja sudah tidak perlu ditanya lagi apa yang tersimpan didalam batinnya.


Gadis itu sejak pertama kali melihat Suro tersenyum kepadanya, hatinya sudah tertambat kepada pemuda itu. Jadi sat ayahandanya menjodohkan dengan Suro seperti dayung bersambut dengan apa yang ada dalam hatinya.


Suro hanya bisa menghela nafas panjang, sebelum dia akhirnya meraih sesuatu dari balik bajunya.


"Lihatlah ini, jika kalian masih tidak percayaiku!"


"Apa?" Jendral Zhou tercekat dan tanpa sadar terloncat menjauh dari Suro.


Begitu juga wanita muda yang baru saja menyetujui perjodohan yang hendak dilakukan ayahandanya, dia telah meloncat dengan berteriak histeris sambil berlari masuk kembali ke dalam kamarnya dan pingsan disana.


Jendral Zhou seperti nyawanya copot saat menyaksikan apa yang ada didepan matanya. Makhluk tinggi besar dengan tubuh mengerikan itu meronta-ronta saat Suro mencengkram lehernya dengan sangat kuat.


Kekuatan jiwa yang dikerahkan Suro membuat makhluk itu tidak berkutik sama sekali. Sebab cengkraman yang mengunci lehernya seperti terpatri dengan jiwa benih iblis.


Suro memperlihatkan makhluk itu hanya sekilas saja, apalagi setelah melihat Zhou Lin langsung kabur dengan histeris karena begitu ketakutan melihat benih iblis itu. Sebab makhluk itulah yang dia lihat dalam alam bawah sadarnya selama beberapa tahun. Tepatnya sejak dia mulai dirasuki.


"Sebaiknya paman berpikir lebih matang, lihatlah putrimu ketakutan setengah mati melihat makhluk barusan. Padahal itu hanya bagian kecil rahasia yang paman ketahui.


Sebab ada lagi makhluk yang lebih mengerikan dibandingkan tadi. Namanya adalah titisan Batari Durga.


Amukan dari makhluk itu lebih mengerikan dibandingkan benih iblis. Tidak ada sekuku hitamnya jika sudah triwikrama berubah menjadi makhluk paling mengerikan."


Suro menatap Jendral Zhou yang kaget tak kepalang tanggung. Tangannya masih gemetar melihat betapa mengerikan wujud benih iblis yang selama ini merasuki putrinya.


Walaupun dia adalah seorang Jendral yang telah melewati pertarungan yang tidak sedikit jumlahnya. Namun akan menjadi urusan yang berbeda jika harus berhadapan dengan makhluk lain yang begitu mengerikan.


Apalagi sejak kecil dia memang memiliki ketakutan dengan para lelembut sejenis dengan benih iblis yang diperlihatkan Suro barusan.


"Apakah paman ingin melihat seperti apa wujud titisan Batari Durga itu? Selain itu ada makhluk lain yang lebih buruk rupa dibandingkan titisan Batari Durga, yaitu raja siluman Geho sama dan juga Lodra. Apakah paman ingin melihatnya?"


Suro bertanya sambil tangannya merenggut sesuatu yang ada dibalik pakaiannya, seperti hendak mengeluarkan makhluk yang dia perlihatkan sebelumnya.


Sebelum Suro melakukan itu, Jendral Zhou sudah kabur tanpa menoleh sambil berteriak-teriak ketakutan.


"Kenapa paman Zhou bertingkah seperti orang kesurupan. Padahal aku hanya ingin mengambil kaca benggala ini." ucap Suro sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Apakah dia masih ketakutan, setelah melihat benih iblis yang sempat aku perlihatkan tadi? Padahal aku memperlihatkan makhluk itu hanya sekilas saja, bagaimana dia bisa ketakutan sampai sebegitunya? Tapi sudahlah, aku tidak perlu memikirkannya. Apalagi tugasku juga sudah selesai.


Jadi lebih baik aku segera kembali menemui eyang guru. Kabar tentang adanya sekelompok penganut ilmu hitam dengan menyandang nama Penyembah Dewa Kegelapan, pasti memiliki arti tertentu.


Pasti eyang guru akan setuju denganku untuk menyelidiki orang-orang itu. Walaupun tidak dilakukan secepatnya, tapi aku harus melakukannya."


Suro masih menunggu Jendral Zhou kembali lagi. Namun setelah sekian lama menunggu, lelaki itu tidak kunjung datang jua.


"Paman Zhou aku pamit!" Suro berteriak sedikit keras. Beberapa kali dia memanggil lelaki itu, tetapi tidak ada jawaban apapun.


"Apa dia pingsan? Ah sudahlah, sebaiknya aku memberi tahukan tentang adanya kelompok yang berhubungan dengan Dewa Kegelapan kepada eyang guru.."


Akhirnya pemuda itu memutuskan meninggalkan kediaman Jendral Zhou untuk menemui guru dan juga yang lainnya terlebih dahulu.


Kali ini dia pergi tidak menggunakan kuda, namun memilih menggunakan jurus Langkah Maya untuk menghemat waktu, setelah itu dia lenyap dari pandangan.