
"Bopo perkenalkan ini adalah kakang Suro yang selalu membantu Mahadewi dan mengajari ilmu pedang, terutama jurus Sepuluh Pedang Terbang yang sempat Mahadewi ceritakan, saat bopo dulu pernah menengok Mahadewi di Perguruan Pusat Pedang Surga." ucap Mahadewi kepada boponya sambil menikmati makan ayam goreng Mbah Wiro yang spesial.
Mereka berkumpul di tengah sebuah ruangan yang mirip bangsal untuk menerima tamu. Di depan Mahadewi boponya yang didampingi kedua istrinya. Disamping Mahadewi secara berurutan Suro, Luhniscita dan Geho Sama.
Demi mencegah agar orang tua Mahadewi tidak pingsan, karena melihat tampang Geho Sama yang sebenarnya, dengan menggunakan ilmu sihirnya wujud yang dia perlihatkan lumrah seperti manusia biasanya.
"Jadi ini Suro Bledek pemuda yang kau ceritakan waktu itu?" balas ayahanda Mahadewi yang seorang Akuwu.
"Benar bopo," jawab Mahadewi sambil malu-malu.
"Cukup rupawan dan juga gagah,"
"Lalu mereka siapa?"
"Ini Gagak setan teman setia kakang Suro, bopo,"
"Lalu dara yang jelita ini siapa?
Sebelum Mahadewi menjawab, tanpa memberi kesempatan ayahanda dari Mahadewi berhenti berbicara, Luh Niscita langsung menjawab, "Ananda adalah Luh Niscita calon istri kedua dari kakang Suro, setelah nanti mbakyu Mahadewi melangsungkan pernikahan dengan kakang Suro," jawab Luhniscita tanpa rasa bersalah.
Suro mulai menepuk jidatnya lalu diteruskan meremas-remas rambutnya.
Geho Sama mulai tertawa terkikik. Mata Mahadewi sudah melotot seakan keluar sambil menggerung. Tentu saja Luh Niscita tetap tersenyum dengan senyumnya penuh menawan.
Ayahanda Mahadewi tertegun mendengar jawaban Luhniscita, "menarik sekali," ujarnya sambil tersenyum.
Tidak ada raut kemarahan atau terkejut dari wajahnya mendengar ucapan Luhniscita yang berniat menjadi madu bagi anaknya jika nanti menikah dengan Suro.
"Aku juga memiliki istri dua dan kedua-duanya bahagia, jika Mahadewi menjadi istri pertama dan harus dimadu, maka selama dia bahagia aku tidak keberatan," sambung lelaki setengah baya itu sambil terkekeh melihat wajah anaknya yang telah berubah seperti udang rebus.
Suro terkejut mendengar jawaban dari ayahanda Mahadewi. Luhniscita justru tersenyum dengan begitu lebar. Itu artinya jalan menjadi istri Suro terbuka lebar. Dara itu tidak peduli mau dinomor kan berapa selama menjadi istri Suro dia akan menerimanya.
Geho Sama matanya mendelik kelolotan tulang ayam goreng, karena mendengar jawaban yang tidak disangka. Apalagi caranya memakan ayam goreng seperti ketempelan sepuluh setan sekaligus.
Dua tangannya memegang paha ayam bergantian seperti balapan dengan seekor buaya yang menelannya beserta tulang-tulangnya. Setan pun akan kelolotan mati keselek jika mengikuti cara makan Geho Sama yang begitu menikmati ayam goreng Mbah Wiro.
Seperti yang telah dibayangkan Mahadewi, rencana untuk mengenalkan Suro Bledek kepada boponya hancur sudah tinggal kenangan.
"Sudah jangan bersedih mbakyu, kan mbakyu tetap yang utama, Luh Niscita cukup menjadi sampingan saja tidak masalah," ucap Luhniscita tanpa basa basi lagi.
Kali ini yang keselek bukan Geho Sama, tetapi Suro. Anak itu wajahnya semakin kusut seperti baju yang tidak pernah disetrika. Bahkan dia tidak berani melirik ke Mahadewi yang ada didekatnya.
Satu jempol kaki Suro sejak tadi sudah diinjak oleh Mahadewi, membuat pemuda itu terus berusaha tersenyum kepada Akuwu ayahanda Mahadewi, dan secara bersamaan dia juga meringis menahan sakit.
Tentu saja wajahnya itu seperti orang yang sedang berjuang melepaskan hajatnya karena sudah beberapa hari tertahan oleh sembelit.
Pertemuan itu hanya sebentar, sebab utusan dari Dewi Anggini meminta Suro dan Geho Sama kembali secepatnya ke Perguruan.
"Ada apa?"
"Mohon maafkan saya tuan pendekar, aku hanya mendapatkan pesan seperti itu. Ada hal Wigati(penting) yang hendak disampaikan
Suro segera bergegas meminta Geho Sama membuat Gerbang gaib, setelah dia berbasa basi kepada kedua orang tua Mahadewi. Mereka kemudian meninggalkan kediaman Akuwu di Medang itu dengan tatapan penuh kekaguman.
"Sungguh tidak salah anakku memilihnya, dia punya madu sepuluh pun bopomu ini rela. Seandainya bopomu ini sehebat itu pasti bisa punya istri lebih dari dua puluh!" gumam lelaki itu dengan penuh takjub.
Senyum dari bopo Mahadewi merekah dengan sangat sempurna membayangkan betapa nikmatnya punya istri dua puluh. Tetapi bayangan itu lenyap seketika, saat sebuah centong menghantam kepalanya dengan telak.
"Adududuh...!"
"Coba katakan sekali lagi pingin punya istri dua puluh!"
"Adudududuh....aku kan hanya berandai-andai!" ucap boponya Mahadewi sambil meringis menahan sakit.
Tangannya yang satu mengusap-usap kepalanya tanpa henti. Satu tangan lagi melindungi bagian kepala sebelahnya.
Dia sepertinya harus melindungi kepalanya agar serangan centong maut dari biyungnya(ibu) Mahadewi tidak kembali melesat seperti kilat. Jurus serangan Centong maut bagi dia adalah seperti serangan dari Sang Hyang Yamadipati yang mampu mencabut nyawanya.
"Coba katakan sekali lagi! Cepat kakang katakan sekali lagi, punya istri dua saja banyak dianggurin...!" ucapnya dengan suara penuh kesal.
****
"Ada apa tetua?" tanya Suro setelah muncul di perguruan milik Dewi Anggini.
"Nakmas Suro, sebaiknya antarkan kami menuju bumi shambara yang berada diutara sana, sebab kami sudah mendengar disanna telah terjadi penyerangan bangsa raksasa. Aku yakin itu adalah pasukan Prabu Godakumara," ucap Pendekar Dewi Anggini
"Baik, kami akan melihat seperti apa sebenarnya Prabu GodaKumara itu, sampai Eyang guru sampai terluka sebegitu parahnya?" balas Suro dengan begitu penasaran.
Setelah semua persiapan telah selesai maka mereka segera berangkat. Tetapi kali ini yang ikut datang adalah mereka yang sudah memiliki kekuatan setingkat surga.
Setelah satu purnama Dewa Obat memberikan Pill Bhavana Sahasra Nirwana, maka peningkatan para tetua menjadi begitu pesat. Sebagian mereka memang sudah mencapai tingkat langit lapisan akhir.
Dengan bantuan Pill sakti buatan Dewa Obat, maka kekuatan mereka meningkat tajam. Walaupun sudah masuk tingkat surga, mereka masih ditingkat surga lapisan awal.
Sedangkan mereka yang sudah ditingkat surga sebelumnya, kini rata-rata berhasil sampai tingkat surga lapisan pertengahan.
Dalam sekejap setelah mereka masuk ke dalam gerbang gaib, maka langkah kaki mereka sampai di bumi sambara(Magelang). Adipati Jayaranu penguasa Bumi Shambara bawahan Kerajaan Kalingga memilih mundur jauh dari kota kadipaten.
Dia memilih menyelamatkan diri bersama pasukan dan seluruh keluarganya. Akibatnya pasukan raksasa itu dengan leluasa menangkap para penduduk kota kadipaten.
Mereka diikat dan digiring di alun-alun kota sebelum mereka semua dibawa ke puncak gunung Mahameru untuk dijadikan tumbal bagi pusaka Kunci Langit.
Melihat kondisi yang begitu miris dan mengerikan seperti itu, telah membuat Suro tidak dapat menahan diri. Dia segera menerjang ke arah pasukan Prabu Godakumara yang menjaga para penduduk agar mereka tidak berani melarikan diri.
"Serigala Neraka!"
Pukulan jarak jauh yang dilambari kekuatan perubahan api hitam itu melesat membakar para raksasa. Tubuh besar tinggi itu langsung menggelepar dan berteriak keras sebelum nyawanya hilang bersama tubuhnya yang telah menjadi abu.
Gaho Sama tidak mau kalah dia juga menerjang bersama Pedang Kristal Dewa. Baik tebasannya maupun api hitam yang melambari bilah pedangnya berhasil menghabisi pasukan Prabu Godakumara.
Pasukan Perguruan Pedang Surga segera menyeruak maju membantu menyelamatkan para penduduk kota kadipaten. Tetapi ujung tombak serangan mereka tetaplah dua makhluk yang justru berlomba membunuh para raksasa sebanyak mungkin.
Mereka berdua sedang bertaruh yang kalah banyak, maka harus membayar untuk menyewa Mbah Wiro agar mau menjadi juru masak mereka berdua yang terkenal dengan ayam gorengnya yang memang lezat. Geho Sama yang telah merasakan betapa nikmatnya ayam goreng Mbah Wiro, setiap waktu terus terbayang-bayang rasa ayam goreng Mbah Wiro.
Bahkan dalam tidurnya pun bermimpi mengejar ayam goreng yang berlari menjauhinya. Karena itulah tidak aneh setiap malam sampai pagi berteriak-teriak memanggil ayam goreng Mbah Wiro dalam tidurnya.
"Pasti kau yang kalah bocah! Sang Lodra yng Agung tolonglah hambamu ini menangkanlah pertaruhan besar ini!" Teriak Geho Sama sambil terus melesat cepat menggunakan Langkah Maya, tanpa membiarkan musuhnya sempat mengaduh, karena tubuh mereka keburu lenyap ditelan api hitam.
****
Bagi yang berminat membaca Novel saya di plat kuning Nm judul Maha Manusia