SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 248 Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan



Bldaar! Bldaar! Bldaar!


Hantaman petir dan semburan api mengepung Geho sama dan Eyang Sindurogo. Namun seperti sebelumnya mereka telah lenyap sesaat sebelum serangan musuh mengenai mereka.


Setelah dentuman ledakan kilat yang terdengar beruntun, kini disusul suara teriakan manusia yang merenggang nyawa karena dihabisi dengan kecepatan yang tidak dapat ditangkap oleh mata.


Semua itu berkat pengerahan Langkah semu yang dilakukan oleh kedua monster yang mengamuk menghancurkan barisan orang yang mengepungnya.


Melihat serangan balik yang dilancarkan lawan begitu mengerikan, akhirnya tetua Arkados memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Dia langsung melesat ke arah timur. Anak buahnya yang sempat menyelamatkan diri mengikuti dibelakangnya.


Ketua Yagmur yang merupakan pemimpin Perguruan Lembah Petir meruntuk penuh amarah, karena dia justru ditinggalkan oleh tetua Arkados.


"Setan alas kau Arkados!" Dia terus meruntuk sambil mencoba mengerahkan kekuatan halilintar terkuatnya untuk membunuh lawannya. Tetapi perlawanan yang dia kerahkan sekuat tenaga itu, akhirnya tidak mampu mengalahkan kedua monster yang mampu mengalahkan kecepatan kilat petirnya.


Tetua Arkados awalnya merasa aman setelah melesat dengan kecepatan maksimal, sehingga jarak yang dia tempuh sudah cukup jauh. Dia menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya selagi kedua monster masih sibuk menghabisi musuh dibelakangnya. Setelah beberapa waktu kemudian mereka menyadari jika musuh sengaja membiarkan mereka tetap hidup, karena satu alasan, yaitu ingin menjadikan sebagai penunjuk jalan menuju perguruan mereka.


Begitu perguruan sudah terlihat dari kejauhan, maka kedua monster itu kemudian muncul diantara mereka.


Ketua Yagmur dan yang lainnya tidak menyangka sama sekali, jika kekuatan langit yang belum lama diperoleh tidak dapat menolong nyawanya. Padahal tubuh mereka hampir mustahil untuk dibunuh. Tetapi nyatanya semua itu tidak berarti dihadapan kedua monster.


Ketua Yagmur pemimpin Perguruan Lembah Petir yang tidak menyangka jika hari itu adalah akhir dari riwayat hidupnya. Padahal saat berangkat dia sudah sangat yakin mampu menghancurkan lawan sekuat apapun.


Sebab setelah bergabung dalam aliansi pasukan kegelapan, peningkatan kekuatan para tetua dan juga dirinya mengalami kemajuan yang tidak dapat mereka bayangkan sebelumnya. Sebab dalam beberapa purnama mereka semua telah mencapai tingkat langit. Sebuah tahap pencapaian yang tidak mereka sangka bisa diperoleh secepat itu.


Tetapi sayang pencapaian yang telah mereka dapatkan belumlah cukup untuk menghadapi kedua monster, apalagi kekuatan salah satunya telah mencapai tingkat surga. Selain itu musuh memiliki sihir ruang waktu yang mampu berpindah tempat dengan sangat cepat. Bahkan karena begitu cepatnya serangan kilat petir mereka tidak dapat mengenainya.


Setelah beberapa saat meladeni kedua musuh yang menghadang dirinya, akhirnya tetua Arkados melihat ada peluang bagi dirinya untuk menyelamatkan diri kembali.


"Berkorbanlah kalian untuk kejayaan nama perguruan!" Tetua Arkados berteriak ke arah anak buahnya yang dia jadikan tumbal untuk keselamatan dirinya.


"Tetua!" Para anak buahnya tidak menyangka mereka ditinggalkan begitu saja.


Sebenarnya mereka yang ditinggalkan oleh tetua Arkados semuanya sudah mencapai tingkat langit lapisan awal. Tetapi kekuatan sebesar itu tentu bukan lawan yang mampu mengimbangi kekuatan tingkat langit lapisan puncak seperti Geho sama. Apalagi menghadapi tingkat surga tentu terlalu jauh perbedaan kekuatannya.


Secepat kilat tetua Arkados harus mencapai Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan yang sudah terlihat dikejauhan.


Blaaar!


Semua berlangsung dengan begitu cepat, saat dirinya sudah sampai di benteng perguruan seberkas sinar menghajar tubuhnya dengan keras. Meski dadanya hancur dan jatuh berguling-guling, tetapi kondisinya yang telah menyerap kekuatan kegelapan membuat tetua Arkados tetap hidup. Setelah beberapa saat kemudian semua lukanya telah pulih.


"Habisi musuh yang menyerang perguruan kita!" Tetua Arkados berteriak keras memberi perintah untuk menyerang Eyang Sindurogo dan Geho sama yang masih berada di luar benteng perguruan.


Entah mengapa kedua monster itu tetap berada diluar benteng perguruan, meski bagi mereka adalah sesuatu yang mudah jika ingin masuk ke dalam perguruan. Tetapi tetua Arkados sudah tidak memikirkan hal itu yang terpenting bagi dirinya selamat.


Dia langsung menyuruh semua orang perguruan untuk menghadapi kedua monster yang telah sampai didepan Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan. Saat suara menggelegar dari eyang Sindurogo, tetua Arkados memilih menghilang masuk ke dalam perguruan. Dia hendak melaporkan bahaya yang datang. Walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu, sebab kedatangan kedua monster memang tidak secara diam-diam.


"Dimana junjungan kalian Dewa Kegelapan berada! Tunjukkan kepadaku! Jika tidak kalian akan aku lenyapkan semua!!" Teriakan eyang Sindurogo diluar gerbang menggelegar diseantero perguruan itu.


Saat anggota perguruan berdatangan secara berduyun-duyun hendak mengepung mereka berdua. Eyang Sindurogo telah melesatkan serangan yang tidak mereka sangka.


Duuuum!!


Sebelum semua menyadari, kembali suara ledakan keras menghajar perguruan itu. Satu lesatan cahaya yang sangat terang telah melenyapkan seluruh musuh yang hendak menyerangnya, sekaligus menghancurkan sisi depan dari perguruan itu.


Namun sebelum seluruh perguruan itu hancur, sebuah jurus yang berupa pusaran hitam telah melenyapkan kuatnya ledakan yang berasal dari jurus eyang Sindurogo. Dengan penampakan juru itu, akhirnya perguruan dapat diselamatkan dari kehancuran yang lebih parah.


Setelah jurus keempat dia kerahkan, eyang Sindurogo tetap berdiri bersama Geho sama diluar benteng pertahanan Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan.


"Mengapa tuan guru tidak melanjutkan serangan susulan agar mampu menghancurkan seluruh perguruan?"


"Tidak Gagak setan, karena akan percuma, sebab aku tahu jurusku akan kembali diserap oleh jurus yang berupa pusaran hitam, seperti milik Batara Karang. Aku hanya ingin memancing mereka semua keluar."


"Sebaiknya kita tetap menunggu disini, aku tidak mengetahui jebakan apa yang mereka persiapkan, jika kita masuk perguruan itu. Dengan kita tetap disini, maka akan lebih mudah bagi kita menghadapi siapapun yang akan keluar. Entah itu Dewa Kegelapan atau yang lainnya."


"Selain tehnik empat Sage dan Langkah Maya ini, apalagi jurus yang kamu milikki Geho sama? Bukankah dirimu dikenal sebagai tuan penyihir?"


"Aku juga telah mendengar kisah hidupmu yang seperti sebuah dogeng yang menggambarkan kekuatanmu sebagai ahli sihir. Tetapi mengapa sedari awal aku tidak melihat kemampuan sihirmu seperti dalam dongeng?"


"Maksudnya bagaimana tuan guru?"


"Mengapa kau tidak memperlihatkan kekuatanmu sebagai ahli sihir yang mampu membuat apapun jadi sesuatu yang kau inginkan? Seperti sekarang kau dapat memperlihatkan padaku dengan menyihir siapa saja yang nanti akan menyerang kita menjadi ayam kate?"


Geho sama menatap eyang Sindurogo sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia ingin menjelaskan pertanyaan lelaki disebelahnya itu, tetapi sepertinya hanya percuma.


Eyang Sindurogo masih menunggu jawaban Geho sama mengenai kemampuan sihirnya.


"Itu adalah sejenis sihirku kutukan seperti apa yang dimiliki mata tuan guru." Akhirnya Geho sama menjawab dengan sekenanya.


"Apa yang kau maksud Gagak setan?"


"Apakah tuan guru tidak mengetahui sama sekali tentang mata yang tuan guru miliki?" Geho sama kali ini benar-benar terkejut mendengar jawaban dari eyang Sindurogo yang justru tidak mengetahui kemampuan matanya sendiri.


"Mengetahui mengenai apa?"


"Mata milik tuan guru memiliki kekuatan yang mampu merubah makhluk hidup dan segala sesuatu menjadi sebongkah batu."


"Mustahil, mata dengan kemampuan seperti itu adalah milik Medusa, bagaimana mungkin kini aku yang memilikinya?"


"Entah bagaimana ceritanya, hingga tuan guru memiliki mata tersebut. Tetapi aku yakin sebagai ahli sihir, bahwa seperti itulah kekuatan mata yang tuan guru miliki, yaitu sepasang mata yang telah dikutuk."


"Namun jika tuan guru mampu mengetahui cara menggunakan mata itu, tentu akan menjadi senjata yang ampuh untuk menghabisi lawan kita."


Eyang Sindurogo masih terkejut mendengar ucapan Geho sama barusan. Dia mencoba mengingat-ingat cerita muridnya, yaitu Suro yang bercerita tentang akhir riwayat Medusa yang berakhir tragis. Bahkan kedua matanya juga sudah diambil entah siapa yang melakukannya.


"Jangan-jangan itu aku yang melakukannya." Eyang Sindurogo mengumam sambil mengingat cerita dari Suro.


"Melakukan apa tuan guru?"


"Lupakan, baiklah karena mata ini sudah terlanjur menjadi milikku, maka kini aku akan berusaha menggunakannya, ini aku sebut jalan takdirku. Aku akan belajar menguasainya secepatnya. Seperti apa yang kamu katakan Geho sama, jika benar mata ini mampu membuat musuh berubah menjadi batu, tentu akan sangat membantu kita menghadapi musuh."


**


Ditempat lain tetua Arkados telah sampai dihadapan Batara Karang yang sedang duduk bersama para tetua Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan.


"Ampun hamba junjungan, pasukan yang ditugaskan menguasai seluruh kota bagian barat justru telah digagalkan oleh Sindurogo monster dari Javadwipa. Dia tidak datang sendirian, melainkan bersama seseorang yang bentuknya tak selazimnya manusia pada umumnya."


Batara Karang terkejut mendengar perkataan tetua Arkados, karena dia belum lama baru berhadapan dengannya di puncak putih tiga saudara spiritual. Bahkan karena pertarungan sebelumnya dia sampai terluka cukup parah. Meskipun sekarang luka itu sudah tidak terlihat bekasnya sama sekali. Dia tidak menyangka, jika kali ini Sindurogo akan mengejar dirinya sejauh ini.


"Kekuatan mereka yang unik membuat serangan gabungan kami bersama Perguruan Lembah Petir tidak bermanfaat. Karena mereka dapat dengan mudah menghindari formasi serangan kami."


Panjang lebar tetua Arkados menceritakan jalannya pertarungan yang dia bumbui beberapa hal, agar nyawanya diampuni oleh ketua perguruan, yaitu Batara Karang.


"Mereka berdua adalah bekas wadak bagi pecahan jiwa Dewa Kegelapan. Wajar kalian tidak mampu mengalahkannya."


Mendengar ucapan Batara Karang yang memaklumi dirinya tidak mampu menghadapi eyang Sindurogo, membuat tetua Arkados cukup senang, karena itu artinya dia tetap dibiarkan hidup.


"Jurus sapu jagat ku akhirnya dapat menghadapi jurus Tapak Dewa Matahari. meski hanya sampai jurus keempat. Tetapi jika mengerahkan secara bersama-sama, tentu akan dapat menghadapi jurusnya yang lebih tinggi dari itu."


"Aku tidak mengetahui ada berapa tingkat sebenarnya jurus Tapak Dewa Matahari?"


"Jurus sapu jagat memang aku ciptakan khusus menghadapi ilmu tapak Dewa Matahari. Dan memang terbukti mampu mengatasi jurus keempat. Meskipun begitu untuk menghadapi jurus yang lebih kuat memang belum mampu mengatasi, seperti pertempuran terakhir yang aku lakukan sebelumnya melawan dia. Beruntung aku memiliki tubuh abadi, jika tidak, tentu aku sudah hancur terkena jurusnya."


"Selama Dewa Kegelapan masih di alam kegelapan berusaha mengambil seluruh kekuatannya yang telah meresap keluar dari segel dan memenuhi alam itu, maka saat ini kita harus berusaha sendiri membereskan kerikil yang mengganggu jalan kita." Batara Karang lalu berdiri diikuti Tetua lainnya. Mereka semua kemudian melesat menuju gerbang utama dimana pertempuran sedang berlangsung dengan begitu hebatnya.