SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 300 Negeri Bawah Tanah part 6



Lodra yang sebelumnya dipanggil untuk mengendalikan api hitam miliknya, akhirnya berhasil menghabisi musuh yang memiliki tehnik perubahan tanah juga. Makhluk itu memiliki bentuk seperti orong-orong tanah.


Namun ukurannya sebesar seekor kambing. Jumlahnya yang tidak hanya satu membuat api hitam itu cukup kerepotan. Apalagi setiap di serang oleh Lodra, dengan sigap masuk ke dalam tanah dengan cepat. Begitu cepatnya cara makhluk itu masuk, bahkan Lodra kalah cepat.


Api hitam yang dikendalikan Lodra tidak sebesar biasanya. Karena tergantung bentuk jurus api hitam yang dikerahkan oleh Suro.


Keputusan Suro yang kali ini tidak mengerahkan api seperti biasanya, karena cukup khawatir dengan keselamatan negeri bawah tanah yang terpaksa menjadi medan pertempuran.


Jika api hitam yang dikerahkan dalam kekuatan maksimal, maka tidak akan ada yang tersisa dari negeri itu, kecuali abu.


Dia memilih menggunakan bentuk seperti burung pemakan bangkai yang tidak begitu besar, sehingga dapat bergerak leluasa. Dia memilih melakukan seperti itu, agar sekala serangannya tidak begitu luas.


Seperti juga Lodra sekarang, dia mengendalikan api hitam dalam wujud seekor hewan yang biasa disebut Makara atau penggabungan dua jenis hewan yang berbeda.


Dengan melihat gerakan dan wujudnya, maka api hitam itu adalah Makara yang menggabungkan bentuk seekor Wanara atau kera dan juga seekor burung. Sebab dalam wujud wanaranya dua buah sayap menghiasi punggungnya.


Seperti sifatnya api hitam itu bukan hanya bergerak seperti seekor burung, namun juga berloncatan seperti seekor Wanara.


Setelah berhasil menghabisi makhluk yang mirip orong-orong super besar, Lodra kemudian bergerak menyapu sosok makhluk kegelapan yang berbentuk manusia.


Para makhluk itu begitu beringas mengejar para penduduk dan beberapa penduduk yang naas berhasil mereka tangkap. Kemudian menjadikan mereka sebagai santapannya.


Beruntung serangan makhluk kegelapan itu dapat dihentikan oleh Lodra. Sebab setelah kedatangan Lodra, api hitam itu berhasil membuat wujud manusia yang begitu buas harus lari kocar-kacir.


Walaupun sesungguhnya mereka dapat memberikan perlawanan. Sebab seperti yang telah dihadapi Suro, begitu juga yang dihadapi Lodra.


Mereka dapat mengerahkan tehnik perubahan alam. Beberapa dari mereka mencoba menghentikan dengan tehnik air es, hendak membekukan atau memadamkan api hitam Lodra.


Namun kekuatan api hitam itu tidak mudah untuk dibekukan. Kecuali dalam pertempuran yang terjadi di Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Hantu Laut yang menguasai perubahan air es berhasil membekukannya, meskipun begitu api hitam itu tidak juga padam.


Walaupun saat ini ukuran api hitam yang dikendalikan Lodra ratusan kali lipat lebih kecil dibandingkan jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda, tetapi kekuatannya tidak mudah dihadapi musuh.


Beberapa dari mereka juga mencoba menghadapi dengan tehnik perubahan api dan ada juga yang menggunakan unsur petir untuk dapat mengalahkan wujud api hitam dalam bentuk Makara itu.


Gerakannya yang menyerupai seekor Wanara bergerak dengan lincah dan akhirnya dalam beberapa saat kemudian para makhluk kegelapan itu telah musnah tenggelam dalam kobaran api hitam.


**


Suro akhirnya berhasil mengalahkan musuhnya lalu muncul kembali diatas permukaan tanah. Setelah melewati pertempuran didalam tanah dia kembali mencari makhluk kegelapan yang lain.


Serangan serentak itu membuat pasukan yang dipimpin La Tongeq sakti tidak mampu menahan serangan musuh. Sebab lawan yang mereka hadapi selain begitu beringas dan buas, mereka juga dapat kembali pulih meskipun mendapatkan luka yang cukup parah.


La Tongeq sakti tidak menyangka sama sekali atas tindakannya yang begitu sembrono, akhirnya memakan korban yang tidak sedikit. Dia tidak menyangka sama sekali hanya dengan mengambil relik kuno dari altar yang terpahat ukiran pentagram rumit itu telah membuka segel sihir pelindungmenghilang.


La Tongeq sakti tidak mengetahui, jika makhluk kegelapan selalu berusaha memasuki tempat yang mereka huni hampir setiap waktu. Meskipun para penduduk itu mengerti jika tempat mereka memang diincar oleh makhluk kegelapan, namun baru kali ini daerah mereka dapat diterobos langsung oleh makhluk kegelapan.


Mereka terlihat begitu kebingungan saat melihat musuhnya dapat kembali pulih dengan begitu cepat setiap kali puluhan tombak menghunjam tubuh lawannya.


Namun dengan adanya La Tongeq sakti yang ahli dalam memainkan jurus tombak pendek membuat serangan manusia kegelapan dapat ditahan untuk sementara waktu.


Tombak yang dia genggam itu bergerak begitu cepat seperti bayang bayang saja, berkiblat kian kemari, menyabet, menghantam dan juga menusuk puluhan manusia kegelapan yang menyerang mereka seperti kesurupan.


La Tongeq sakti sebagai pendekar terkuat dan yang biasa melatih pasukan yang sesungguhnya hanyalah penduduk biasa, namun mereka telah dilatih ilmu tombak puluhan tahun. Dengan pelatihan itu membuat jurus tombak mereka menjadi pertahanan yang tidak bisa ditembus lawan.


Waktu yang telah dibuat oleh mereka, sudah cukup bagi Suro. Walaupun tingkat kekuatan mereka masih berada pada tingkat kekuatan setara dengan pendekar kelas satu dan beberapa diantaranya sudah ada yang mencapai tingkat tinggi.


Kekuatan dalam jurus tombak panjang mereka, adalah kekompakan serangannya yang mampu menahan laju gerakan musuh.


Beberapa saat kemudian Suro telah muncul membantu pasukan La Tongeq sakti yang berjumlah lebih dari dua ratus pendekar itu.


"Biarkan mereka aku yang menghadapinya paman, dirimu dan pasukan yang paman pimpin silahkan bantu para penduduk!" Suro langsung merapalkan ilmu penjaga gaibnya.


Tirtananta berubah bentuknya menjadi transparan seperti seluruh tubuhnya menjelma menjadi manusia yang terbuat dari air. Dia kemudian mulai membekukan tubuh lawannya menjadi es dan mulai menghancurkan tubuh yang kaku itu menjadi serpihan kecil-kecil.


Di belakang Tirtananta, adalah Purbangkara. Tubuhnya kini juga telah berubah sepenuhnya menjadi api biru. Dengan apinya itu dia segera membakar habis serpihan tubuh yang dihancurkan oleh Tirtananta. Dia kemudian bergerak menyerang makhluk kegelapan lainnya.


Waru dijaya dan Sinotobrata menyerang musuhnya dengan menggunakan serangan perubahan unsur lain.


Tehnik tebasan angin membabat musuh dengan cepat. Sulur-sulur dan tehnik perubahan tanah yang memenjarakan makhluk itu setelah tertanam ke dalam tanah, sebelum akhirnya terpisah badannya.


Setiap makhlum kegelapan yang tertanam, mereka tidak dapat pulih kembali, sebab kembaran Suro itu mampu menyerap kekuatan lawan yang hendak digunakan memulihkan luka.


Tehnik yang digunakan adalah perubahan kayu. Sulur yang menjerat mereka menyerap habis kekuatan kegelapan itu menjadi energi alam. Kemudian dari tubuh musuhnya itu tumbuh pepohonan yang tumbuh secara instan sampai jasad makhluk kegapan itu terserap tanpa sisa.


Sesungguhnya hawa kegelapan adalah kekuatan atau energi yang menjadi awal terbentuknya unsur alam yang lain. Maka tak ayal jika kekuatan kegelapan yang dimiliki musuh dapat dilenyapkan menjadi energi alam yang mampu menumbuhkan pepohonan.


Kini disetiap jasad yang diserang menggunakan perubahan unsur tanah dan kayu berdiri pohon yang cukup rimbun.


**


Suro sendiri melesat menuju musuh yang sedang dihadapi Lodra. Musuh yang dihadapi Lodra memiliki bentuk seperti seekor kadal raksasa. Kadal itu memiliki julukan Kadal Neraka. Sebab selain menguasai tehnik perubahan air dan es, secara mengagumkan tubuhnya juga menguasai perubahan api.


Bahkan tubuhnya dapat berubah menjadi lahar dan secara cepat dapat berubah kembali menjadi kadal es.


Setiap kobaran api hitam yang dilesatkan ke arah tubuh kadal itu ditahan menggunakan tehnik khusus yang membuat api hitam milik Lodra justru diserap oleh lawannya menjadi kekuatannya api miliknya.


"Mengagumkan baru kali ini api hitam dapat diserap oleh lawan. Lodra kembali...!"


Mengetahui dirinya tidak bakal mungkin mengerahkan kekuatan milik secara penuh, Suro mencoba memindahkan pertempuran. Dia kemudian mengerahkan tehnik perubahan tanah.


"Kita lihat seberapa kuat dirimu mampu lepas dari jurusku ini?"


Naga bumi muncul dan langsung menggulung tubuh kadal. Setelah itu tubuh kadal berusaha hendak ditarik masuk ke dalam tanah. Namun kadal itu dapat memberontak mencoba lepas.


Sssssshhhhh...! Sssssshhhhhh...!


Kadal itu begitu kuat memberontak berusaha lepas dari belitan naga bumi milik Suro. Suro tidak mau melepaskan lawannya, karena itu dia kembali mengerahkan naga bumi satu lagi.


La Tongeq sakti yang melihat jalannya pertarungan tidak menyangka sama sekali, ternyata pemuda bau kencur yang baru dia kenal itu memiliki penguasaan tehnik yang sangat mengerikan. Dia mulai komat kamit membaca doa agar negeri yag mereka diami tidak hancur.


Gelegaaarrrr!


Suara bergemuruh mengiringi tanah dibawah kadal yang mendadak membelah dengan begitu lebar, sehingga membuat kadal itu akhirnya terjun bebas jatuh kedalam tanah bersama dua naga bumi yang membelitnya.


"Berhasil...!" Suro bersorak kegirangan, dia kemudian meloncat ke dalam jurang yang baru saja dia buat.


Jurang itu memanjang dan mengangga lebar, meskipun begitu tidak terlihat sama sekali dasarnya. Karena mungkin begitu dalam sehingga kegelapan menyelimuti jurang yang baru saja terbentuk.


Bahkan kadal dan naga bumi yang baru saja terjun bebas itu belum terdengar menghantam bumi. Namun raungan kadal yang mencoba lepas tetap terdengar.


Duuuum!


Dentuman keras yang menggelegar mengiringi hilangnya tubuh Suro, sebab sesaat setelah Suro meloncat terjun bebas kedalam jurang itu, serta merta jurang itu langsung menutup rapat. Seolah sebelumnya tidak pernah ada jurang teramat dalam dibekas rengkahan tanah itu.


Para bawahan La Tongeq sakti yang bernama La Temmalureng dan beberapa rekan yang sebelumnya menangkap Suro dan berbuat kasar, melihat kejadian itu langsung pingsan ketakutan. Mereka tidak menyangka pemuda tanggung itu mampu berbuat sedemikian mengerikan.


Apalagi mereka juga menyaksikan Suro mampu mengerahkan ilmu yang mampu membelah tubuhnya menjadi beberapa sosok. Kembaran Suro itu masih menghadapi makhluk kegelapan yang berhasil menerobos kedalam negeri dibawah tanah.


Mereka tidak mampu membayangkan jika mereka tidak mendapatkan bantuan dari pemuda tanggung itu, tentu mereka semua tidak memiliki harapan bisa tetap hidup. Apalagi semua makhluk itu memiliki kondisi tubuh yang tidak mudah dibinasahkan.