
"Kalian berdua berani muncul kembali, jangan kira dengan ilmu Nayalih Cangkang kalian tidak mampu aku habisi! Aku sudah mengetahui rahasia ilmu Nyalin Cangkang itu! Kali ini aku pasti akan membuat kalian berdua tidak akan dapat berpindah kepada tubuh cadangan. Dan aku pastikan kali ini aku akan membuat kalian berdua dalam kondisi antara hidup dan mati!"
Suro menatap tiga sosok kuat yang dua diantara dia telah mengenalnya. Hawa pembunuh yang dimiliki tiga orang itu, bahkan membuat beberapa orang yang tidak sengaja terlalu dekat, langsung kehilangan kesadarannya. Padahal jarak mereka lebih dari lima tombak.
Selain itu satu sosok yang tidak dia kenal memiliki tekanan kekuatan yang terasa lebih menakutkan dibandingkan dengan kekuatan Batara Antaga maupun Batara Karang.
Kekuatan mereka bertiga membuat anggota Perguruan Sembilan Selaksa Racun semakin menjauh, salah satunya adalah tidak ingin mati konyol terjebak dalam medan pertarungan yang sebentar lagi akan pecah.
Alasan keputusan itu sangat tepat. Sebab hempasan serangan seseorang yang sudah berada pada tingkat surga, akan mampu membinasahkan pendekar tingkat tinggi.
"Hahaha...! Aku tidak menyangka kau juga mengetahui ilmu yang telah kami ciptakan. Kali ini kami tidak berniat menghadapimu. Karena yang akan menjadi lawanmu bukanlah kami berdua."
"Kamu akan mati dengan senyum penuh kebanggaan, sebab kali ini yang akan menjadi lawanmu adalah Kanjeng Junjungan. Kami lebih memilih menghadapi gurumu untuk meminta kembali jubah dan juga mata Medusa yang kini dia miliki!"
"Hahaha...!" Suara tawa mengeringi tubuh mereka berdua yang melesat menjauh.
Batara Antaga dan Batara Karang tidak menunggu jawaban dari reaksi Suro yang terlihat terkejut. Mereka berdua seperti yang diucapkan telah melesat ke arah Eyang Sindurogo dan Geho sama.
Namun diluar dugaan secara bersamaan Eyang Sindurogo bersama Geho sama dan juga Dewa Rencong justru menghilang dari tempat mereka sebelumnya. Mereka menggunakan jurus Langkah Maya untuk pergi menuju sisi Suro yang berjarak cukup jauh dari mereka.
Keberadaan Dewa Kegelapan yang muncul dan menuju ke arah Suro, membuat eyang Sindurogo cukup khawatir dengan keselamatan muridnya itu.
"Hati-hati angger...dia adalah Dewa Kegelapan." Eyang Sindurogo yang muncul di samping Suro segera memberi tahukan hal tersebut.
"Iya eyang, Geho sama sudah mengatakan hal itu barusan kepadaku melalui alam kesadaran Suro.''
Batara Antaga dan Batara Karang setelah melihat Eyang Sindurogo lenyap dan berpindah tempat ke samping Suro, maka mereka segera berbalik arah.
"Jangan biarkan mereka menggangguku!" Dewa Kegelapan segera memerintahkan Batara Antaga dan Batara Karang untuk memisahkan Eyang Sindurogo dan lainnya dari samping Suro.
Mendengar perintah dari Dewa Kegelapan mereka berdua segera menyerang.
Wuuuussh!
Senjata dari Batara Antaga Sang Chandra Suci segera melesat menghajar Eyang Sindurogo. Senjata yang berbentuk seperti bulan sabit melesat dengan kecepatan tinggi.
Senjata itu berputar dan berhasil memisahkan mereka bertiga dari sisi Suro.
Pertempuran langsung pecah diantara mereka. Eyang Sindurogo bertarung dengan Batara Antaga. Sedangkan Batara Karang bertarung melawan Dewa Rencong dan Geho sama.
**
"Akhirnya pengganggu sudah pergi. Aku ingin memastikan satu hal padamu!"
Suro menatap wujud asing yang begitu mengerikan. Selain karena bentuknya, Suro merasakan kekuatan kegelapan yang sangat besar. Suro juga melihat kondisi sosok itu seperti saat Eyang Sindurogo menjadi wadah Dewa Kegelapan.
Hawa kegelapan keluar dari sekujur tubuhnya seperti asap hitam, terlihat secara kasat mata. Walaupun itu sangat tipis seperti sebuah fatamorgana.
"Aku ingin mengetahui alasan para dewa yang mengutusmu, mengapa hanya dirimu seorang yang diutus turun ke bumi ini untuk menggagalkan rencanaku dan juga untuk menghabisiku secara tuntas?"
"Aku cukup penasaran dibalik alasan mereka? Aku ingin tau apa yang akan dilakukan para dewa, jika dirimu berhasil aku lenyapkan?"
"Utus mengutus? Apa maksud ucapanmu kisanak?" Suro kebingungan dengan ucapan Dewa Kegelapan yang menyebut sesuatu terkait utusan.
"Percuma berbicara denganmu, karena kau tidak akan memahaminya." Dewa Kegelapan mendengus yang membuat dua lubang hidungnya keluar hawa panas disertai asap.
"Semesta hitam!"
Dewa Kegelapan langsung memulai mengerahkan serangan terkuatnya.
"Lodra!" Suro segera berteriak memanggil Lodra dalam tubuh Naga Api. Suro meminta bantuan kepada penguasa api hitam itu, karena dia saat ini tidak mengetahui seberapa kuat lawan yang dia hadapi.
Namun tekanan kekuatan yang dia rasakan mengingatkan dirinya pada kekuatan yang hampir mendekati kekuatan milik Sang Hyang Anantaboga, maupun kekuatan Sang Hyang Narada. Dia cukup waspada dengan lawannya yang telah mengerahkan jurusnya.
Setelah musuhnya mengerahkan jurusnya, maka sejauh lima tombak disekitar tubuh Dewa Kegelapan dipenuhi kepulan asap menghitam yang sangat pekat. Suro bahkan tidak mampu melihat keberadaan musuhnya.
Namun dia masih mampu merasakan keberadaan lawannya melalui tehnik perubahan tanah yang di tangkap melalui permukaan telapak kakinya.
Untuk menjajal kekuatan lawan, Suro segera mengerahkan jurus kedua dari Tapak Dewa Matahari. Sinar dari ujung jarinya menghajar ke arah Dewa Kegelapan. Sinar itu pun langsung lenyap tenggelam dalam hawa kegelapan yang memenuhi udara disekitar Dewa Kegelapan.
Wuuush!
Hawa kegelapan itu melesat mencoba menangkap tubuh Suro. Tapi yang dilakukan Suro justru menerima itu dengan membuka telapak tangannya dengan lebar.
Dia justru menyerap kekuatan hawa kegelapan yang menyerangnya. Senyum ceria menghiasi wajahnya.
"Apa tidak salah, dia justru menghisap hawa kegelapanku sampai lenyap tidak tersisa?" Dewa kegelapan terkejut saat melihat tindakan Suro yang mampu menyerap hawa kegelapan miliknya dengan menggunakan jurus empat Sage.
Dewa Kegelapan segera mengerahkan hawa kegelapan dengan lebih dahsyat dari pada sebelumnya. Namun sekali lagi seluruh hawa kegelapan itu dapat diserap kembali oleh Suro tanpa menyisahkan sedikitpun. Semuanya amblas masuk ke dalam tubuhnya.
Beberapa kali pun Dewa Kegelapan mengerahkan jurus semesta kegelapan, maka seluruh hawa kegelapan itu dapat diserap olehnya.
"Hahahaha...! Berikan kepadaku hawa kegelapanmu lebih banyak!"
Semakin besar hawa kegelapan yang menyerang Suro semakin keras dirinya tertawa.
'Bagaimana tubuhnya tidak dapat aku kendalikan setelah menyerap hawa kegelapan milikku? Seharusnya pikirannya sudah dapat aku kuasai, setelah menyerap sebanyak itu.' Melihat Suro tidak terpengaruh dengan serangannya berturut-turut membuat Dewa Kegelapan mengurungkan niat awalnya.
Sejak awal dia berniat menguasai tubuh dan kesadaran Suro, seperti yang dia lakukan pada eyang Sindurogo. Tetapi dia merasakan ada sesuatu yang istimewa dalam tubuh Suro, sehingga tidak berpengaruh hawa kegelapan yang telah diserap dengan begitu banyak.
Dewa kegelapan segera mengubah taktiknya hawa kegelapan yang memenuhi udara disekitar tempatnya berdiri, sebagian berubah menjadi materi gelap yang menyerupai duri-duri panjang yang tidak terkira banyaknya dan mulai menyerang Suro.
Melihat serangan yang tidak sama seperti sebelumnya Suro segera menggunakan pedang miliknya untuk menangkis semua serangan itu.
"Petir Hitam!"
Suro segera mengerahkan jurus pedangnya bersama api hitam dan juga kilat petir. Tehnik tebasan angin dan kilat petir hitam menghajar jurus semesta hitam milik Dewa Kegelapan.
Setiap materi gelap yang menyerang dirinya hancur, maka sekejap kemudian kembali dalam bentuk awalnya. Dengan kondisi itu materi hitam berbentuk seperti tombak memanjang tanpa batas yang berasal dari hawa kegelapan disekitar musuhnya bertambah semakin banyak.
Setiap tebasan angin dalam jurus tebasan sejuta pedang yang diiringi kilat petir yang menghantam, semua dapat ditangkis oleh materi hitam yang dikerahkan Dewa Kegelapan.
Semua sulur yang tajam seakan ribuan mata tombak justru secara silih berganti bergerak menyerang Suro, seperti memiliki pikirannya sendiri.
Kini sekelilingi musuhnya selain dipenuhi hawa kegelapan, juga dipenuhi materi gelap seakan itu bola akar yang lumayan besar. Sehingga menyerupai benteng pertahanan yang dibuat lawannya.
Materi hitam itu terus menyerang tubuh Suro seakan hendak mencabik-cabik tubuhnya menjadi serpihan.