
Setelah Suro bledek mendengar suara Dewa Pedang, dia segera menghentikan serangannya. Kemudian menarik seluruh bilah pedang yang menyelimuti tubuh tetua Tunggak Semi.
Tetua Tunggak Semi tak kalah terkejutnya mendengar suara Dewa Pedang yang memberi perintah untuk menghentikan pertarungan mereka. Dia tidak memahami alasan apa yang melandasi perintah ketua sekte itu.
Terlihat Dewa Pedang bergegas berjalan kearah arena pertarungan bersama wakilnya Eyang Udan Asrep. Para tetua yang menjadi lawan tanding peserta ikut serta berjalan dibelakangnya.
"Mohon maaf tetua Tunggak Semi aku harus menghentikan pertarungan kalian. Mengenai alasan apa yang melandasi perintahku tadi, akan aku jelaskan didepan semua tetua yang terlibat dalam penyelenggaraan seleksi ini."
"Nakmas Suro silahkan menunggu dipinggir arena!"
"Nuwun inggih paman guru!"
Setelah sampai di arena pertarungan Dewa Pedang segera mengajak seluruh tetua untuk berdiskusi. Mereka para tetua yang terlibat dalam penyelenggaran seleksi tetua muda, baik yang menjadi juri, maupun seluruh tetua yang menjadi lawan para peserta. Tidak ketinggalan Dewa Rencong ikut terlibat dalam pembicaraan itu.
Suro tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan, karena posisinya terlalu jauh dipinggir arena. Dia justru terlihat sibuk merapikan seluruh bilah pedangnya.
Setelah melalui pembicaraan yang agak lama akhirnya mereka semua sepakat, dengan ditandai Dewa Pedang memanggil Suro untuk kembali ke tengah arena.
"Selamat nakmas Suro kamu sudah memenangkan pertarungan." Tangannya sambil menepuk-nepuk pundak Suro.
Suro tidak segera menjawab justru terlihat bingung dengan perkataan Dewa Pedang.
"Tetapi saya belum mampu menembus pertahanan tetua, paman guru."
"Hahahaha...! Tidak perlu, apakah kamu tega membiarkan tetua Tunggak Semi melayani jurusmu sampai kehabisan nafas?"
Suro membalas perkataan Dewa Pedang dengan tertawa kecil sambil menggaruk-garuk pelan pipinya.
Dengan ditemani Suro disampingnya, Dewa Pedang mulai memberikan maklumat keseluruh orang yang ada disana. Para tetua yang sebelumnya berdiskusi dengan Dewa Pedang masih menunggu dipinggiran lapangan.
"Sebagai Ketua Sekte Pedang Surga saya mewakilkan nama besar Sekte mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak baik yang menonton maupun yang terlibat sebagai penyelenggara acara. Sehingga acara seleksi tetua muda ini berjalan lancar. Dengan berakhirnya pertarungan nakmas Suro melawan tetua Tunggak Semi, maka seleksi tetua muda Sekte Pedang Surga dinyatakan selesai."
"Saya persilahkan Dewa Rencong untuk membacakan nama-nama pemenang yang telah berhasil lolos menjadi tetua muda!"
Dewo Rencong lalu berjalan mendekati Dewa Pedang dengan sebuah gulungan daun lontar yang berisi daftar nama pemenang.
"Keputusan para tetua sudah final. Hasil akhir dari pertarungan ini tidak bisa diganggu gugat!"
Dewa Rencong mengawali perkataannya sebelum memulai membacakan nama-nama peserta yang menjadi pemenang.
"Lima peserta yang telah lolos menjadi tetua muda antara lain, pertama! Azura dari Perguruan Pedang Bayangan!"
"Kedua! Datuk Bandaro Putih dari Perguruan Inyiak Dubalang!"
"Ketiga! Widura dari Sekte pusat!"
"Keempat! Narashinga dari Perguruan Pedang Kabut!"
"Dan yang terakhir adalah Suro Bledek dari Sekte Pusat!"
"Demikian nama-nama peserta yang lolos menjadi tetua muda. Untuk semua peserta yang telah saya sebutkan dimohon segera turun ke tengah lapangan!"
Para peserta yang mendapatkan perintah segera bergegas berjalan ke arah tengah lapangan.
Para peserta segera berjejer rapi menunggu mendapatkan ucapan selamat dan pemberian emblem tetua muda. Terlihat jelas disetiap wajah mereka terukir sebuah senyuman kebanggaan.
Dewa Rencong kemudian diberikan kehormatan oleh Ketua sekte untuk memberikan emblem kepada para pemenang. Emblem ini adalah bukti keabsahan mereka menjadi tetua muda. Sehingga jika mereka berkunjung ke perguruan cabang atau bertemu dengan anggota sekte dengan menunjukan emblem itu, semua akan mengerti kapasitas pemilik emblem tersebut. Sebab dengan emblem ditangan, keberadaan mereka sebagai tetua muda akan diakui seluruh anggota sekte diperguruan cabang manapun.
"Setelah pengumuman ini, secara resmi kini mereka semua para pemenang telah menyandang jabatan tetua muda Sekte Pedang Surga! Demikian maklumat dari saya untuk selanjutnya saya kembalikan kepada Dewa Pedang yang menjadi Ketua Sekte Pedang Surga!"
"Terima kasih Dewa Rencong sudah bersedia menjadi wasit dan juga membacakan seluruh pemenang. Sekaligus memberikan emblem tanda jabatan tetua muda."
Dewa Suro menjabat tangan Dewa Rencong. Dewa Rencong tersenyum kemudian mendekatkan mulutnya ke arah kuping Dewa Pedang. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bisikan.
'Jangan lupa janjinya aku akan melatih nakmas Suro.'
Dewa Pedang tertawa terbahak-bahak mendengar bisikan Dewa Rencong.
"Silahkan tanyakan sendiri kepada nakmas Suro!"
Para peserta setelah mendapatkan emblem tetua muda dan ucapan dari Dewa Rencong dan juga Ketua Sekte, kemudian mereka dipersilahkan untuk kembali ke arah podium, tidak terkecuali Suro.
"Nakmas Suro, tunggu sebentar? Nakmas bisa temani paman sampai selesai mengucapkan maklumat ke seluruh anggota sekte yang ada disini."
Suro berbalik arah dan berdiri disamping Dewa Pedang.
"Setelah berakhirnya seleksi disusul dengan pengumuman pemenang. Maka sebelum menutup acara ini ada yang ingin saya sampaikan. Terutama untuk seluruh anggota sekte baik yang memiliki jabatan maupun yang tidak!"
"Ini berhubungan dengan kemajuan tehnik Dewa Pedang. Ada berita yang sangat bagus. Setelah sekian lama tehnik yang kita banggakan bersama tidak ada perkembangan lebih lanjut, hanya sampai pada jurus Seribu Pedang menyatu. Maka hari ini akan menjadi sejarah baru bagi perjalanan nama besar sekte kita. Sebab sekarang telah ada yang mampu memahami isi kitab Dewa Pedang dengan pemahamannya yang mengagumkan. Sehingga seseorang tersebut berhasil menciptakan sebuah jurus yang sangat dahsyat. Begitu dahsyatnya jurus yang telah dia ciptakan bisa dikatakan setara dengan berkali-kali lipat lebih kuat dari pada jurus pamungkas sebelumnya yang lebih kita kenal sebagai jurus Seribu Pedang menyatu!" Setiap kata-kata yang diucapkan Dewa Pedang dilambari tenaga dalam. Sehingga perkataannya mampu diperdengarkan dengan jelas oleh setiap orang yang ada disana.
Mendengar hal tersebut, heboh lah seluruh podium tidak terkecuali para tetua cabang. Terjadi kasak kusuk diantara mereka semua.
Dewa Pedang sengaja terdiam dahulu. Membiarkan mereka semua mencerna berita besar itu. Karena dengan perkataanya pasti akan mengagetkan keseluruh anggota sekte.
Seperti diketahui dengan tehnik rahasia kitab Dewa Pedang telah membuat Sekte Pedang Surga begitu disegani diseluruh penjuru Benua Timur. Bahkan tehnik pamungkas dalam kitab itu dikatakan mampu menebas sebuah gunung. Disebabkan begitu dahsyatnya kekuatan jurus tersebut, membuat orang-orang golongan hitam lebih baik menjauh jika berurusan dengan Sekte Pedang Surga.
Tetapi kini Dewa Pedang menyebut telah tercipta sebuah jurus baru dengan kekuatan berkali-kali lipat dari jurus pamungkas sekte. Mereka tentu tidak mampu membayangkan seberapa dahsyat jurus yang dikatakan Ketua sekte itu. Berita itu terlalu mengejutkan buat semua tetua cabang. Sesuatu yang sangat sulit dipercaya, jika bukan Dewa Pedang sendiri yang mengatakannya.
"Mengenai siapa yang telah menciptakan jurus ini akan kujelaskan satu persatu sebelum aku menyebutkan namanya!"
Suro mulai kasak-kusuk mendengar perkataan Dewa Pedang. Setelah menyingung jurus yang baru, pasti dirinya yang sedang dibicarakan Ketua sekte ini. Suro tidak mengira jika dia disuruh menemani Ketua sekte tujuannya dirinya akan diperkenalkan kepada seluruh khalayak ramai.
Beruntung kulitnya sawo matang yang terlalu matang alias mendekati gelap. Akibat terlalu banyaknya berjemur dibawah terik matahari. Sehingga rona merah yang menyelimuti wajahnya tidak terlihat sama sekali. Dia begitu malu seakan semua mata mulai tertuju kepadanya. Kepala mulai terasa gatal semua, membuat Suro kebingungan sendiri sebelah mana yang harus digaruk terlebih dahulu.
"Dia adalah satu-satunya murid dari pendekar yang mendapat julukan lelananging jagat atau pria terkuat diseluruh kolong langit Benua Timur ini."
Dewa Pedang menarik nafas panjang sebelum kembali meneruskan ucapannya. Tetapi tetua Dewi Anggini justru menahan nafas mendengar sebutan nama lelananging jagat itu.
"Pendekar ini sudah hidup ratusan tahun, entah berapa lama sebenarnya dia hidup tidak ada yang tau persis. Dia memiliki sebutan lain yaitu Pendekar Tapak Dewa Matahari. Dia adalah Maharesi Eyang Sindurogo."
"Kakang Sindu!" Secara tidak sadar Dewi Anggini bangkit sambil menyebut pujaan hatinya yang selalu dia impikan dalam tidurnya maupun dalam keadaan terjaga. Dia menutup mulutnya seakan tidak percaya bahwa Seorang Eyang Sindurogo mengangkat seorang murid.
Matanya mulai menyapu menjelajahi setiap sisi podium mencari sosok yang selalu dia rindukannya itu.
Gempar sudah berita yang begitu mengejutkan bagi kalangan dunia persilatan itu. Bagi kalangan muda nama itu hanyalah seperti mitos atau hanya sebuah legenda yang diceritakan dari guru-gurunya akan kebesaran nama pendekar tersebut.
Walaupun dalam peperangan Kerajaan Kalingga sempat mencuatkan lagi namanya. Karena aksinya yang seorang diri, telah mampu menghentikan perang besar yang sedang berlangsung . Tetapi bagi perguruan cabang yang jauh tidak serta merta langsung bisa mempercayai peristiwa tersebut. Sebab kabar itu menjadi simpang siur, sehingga orang-orang cabang yang jauh menganggab hanya kabar burung belaka. Karena memang kabar tentang dirinya didunia persilatan seakan telah hilang ditelan bumi.
Bahkan dalam perannya menghadapi Naga Rhaksasa justru tidak banyak didengar oleh kalangan luar. Kecuali para petinggi kerajaan tiga negara. Bahkan saat kedatangannya di Sekte Pedang Surga tidak banyak yang menyadarinya.
Pertama karena mereka belum lama diserang Naga Raksasa. Membuat semua orang sibuk berbenah. Walaupun kedatangannya waktu itu bersama rombongan yang lumayan banyak. Sebab kawanan Kolo Weling mengikuti perjalanan mereka.
Justru anggapan orang-orang sekte pusat mengira mereka adalah pasukan bantuan dari perguruan cabang yang sengaja dikirim untuk ikut membangun kembali sekte pusat. Sebab setelah kedatangannya Suro beserta seluruh kawanan Kolo Weling ikut membantu memperbaiki kehancuran yang ditimbulkan dari serangan Naga Raksasa.
Selain itu menurut kabar yang terdengar Eyang Sindurogo adalah seseorang yang sudah hidup ratusan tahun. Dengan kabar tersebut tentu mereka memiliki bayangan sosok yang dimaksud pasti sudah seperti kakek-kakek yang tinggal menunggu dipanggil Sang Hyang Yamadipati.
Mereka tidak mengetahui kenyataannya lelaki yang disebut lelananging jagat itu masih begitu gagah perkasa. Bahkan terlihat lebih muda daripada Ketua Sekte mereka.
"Dia adalah satu-satunya murid yang dimilikinya!"
Dewi Anggini serasa ingin pingsan mendengar nama pujaan hatinya itu disebut. Sebuah nama yang selalu dirindukannya. Beberapa kali dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah mata angin. Berharap dia menemukan sosok yang dikasihinya itu.
Tetapi perkataan Dewa Pedang selanjutnya telah memusnahkan semua harapannya.
"Pada saat pertempuran melawan Naga Raksasa, Eyang Sindurogo telah hilang karena terjebak di dunia lain. Sampai saat ini kami masih mencari cara untuk membebaskannya kembali."
"Setelah pertempuran melawan Naga Raksasa aku telah melatihnya dengan tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit. Sehingga secara tidak langsung saya telah menjadi guru keduanya."
Disitu Dewa Pedang berhenti berbicara dia menghela nafas beberapa kali sebelum melanjutkan ucapannya. Matanya menyapu ke arah barisan para tetua yang berada dipodium kehormatan.
Dewi Anggini terlihat begitu gelisah, hatinya bergetar. Matanya kini hanya tertuju ke arah Suro. Dia masih berada disamping Dewa Pedang sambil menundukkan kepala.
"Aku tidak menyangka kakang Sindu akhirnya memiliki seorang murid. Sangat pantas jika dia adalah muridmu kakang." Dewi Anggini mengucapkan kata-kata seolah sedang berbicara dengan belahan jiwanya. Kedua telapak tanggannya masih menutupi mulutnya, menandakan keterkejutannya yang luar biasa.
Bukan hanya Dewi Angini yang dibuat terpana dengan penjelasan Dewa Pedang, bahkan seluruh manusia yang ada disana tidak menyangka. Perkataan Dewa Pedang barusan sudah menjelaskan siapa sosok yang dimaksud. Semua pasang mata kini menatap ke arah Suro.
Kembali tatapan mata Dewa Pedang menyapu seluruh sisi yang ada dihadapannya.
"Dia adalah anak mas SURO BLEDEK!"
***
JANGAN LUPA SEMUANYA UNTUK MEMBERIKAN VOTE KEPADA NOVEL SURO BLEDEK TERIMA KASIH