SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 371 Kota Shanxi part 3



"Lin apa yang kalian lakukan?" tanya seorang lelaki kepada salah satu wanita muda yang mengantar rombongan Dewi Anggini


Wanita muda itu memahami, jika apa yang dia lakukan akan diprotes oleh atasannya itu dan juga para tamu. Karena itulah dia membiarkan saudara kembarnya mengantar tamunya terlebih dahulu. Sedangkan dia sendiri mencoba menjelaskan alasannya kepada teman-teman dan juga atasannya.


Lin Fei kakak dari Lin Yin berusaha meyakinkan mereka, jika mereka berlima adalah tamu agung. Kemungkinan mereka adalah keluarga bangsawan yang sedang menyamar.


"Manager Sui, jangan khawatir lihatlah dia memberikanku sebuah koin emas ini kepada diriku dan juga kepada saudariku. Dia memberikan ini secara cuma-cuma.


Tentu manager Sui mengetahui, jika satu koin emas ini sama saja dengan nilai bayaranku selama beberapa bulan kerja ditempat ini. Dan wanita itu hanya meminta kami mengantarkan mereka ke lantai tiga.


Bukankah itu sudah membuktikan, jika tamu kita ini selain memiliki uang dia juga punya cita rasa yang tinggi. Sebab jika hanya sekedar ingin merasakan makanan, mereka bisa makan dilantai dasar yang harga makanannya jauh lebih murah.


Mereka bukan hanya menikmati hidangan restoran ini, tetapi mereka juga hendak mencari suasana tenang agar bisa lebih menikmati makanan yang dihidangkan restoran ini. Apalagi tempat ini memang sudah terkenal dengan kenikmatan rasanya.


Hal itu membuktikan mereka bukan lah orang sembarangan. Mereka memiliki cita rasa kelas tinggi. Aku yakin wanita itu adalah seorang bangsawan.


Sebab selain kecantikannya, aku merasakan aura yang membuatku seakan sedang berhadapan dengan seorang putri kaisar. Sedangkan keempat orang yang bersamanya itu pasti pengawalnya."


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Lin Fei raut muka manager Sui berubah. Akhirnya lelaki itu setuju dengan tindakan Lin bersaudara mengantarkan tamunya menuju ke lantai tiga.


Mulut pengunjung yang hendak melakukan protes tersedak menyaksikan langkah mereka berlima. Sebab mereka justru terus berjalan naik ke lantai berikutnya. Bukan hanya dilantai pertama, dilantai ke dua juga para pengunjung awalnya berdecak kesal dengan kedatangan mereka.


Tetapi mulut mereka segera terkunci, setelah mengetahui tujuan mereka bukan dilantai mereka, justru terus naik ke lantai berikutnya. Para tamu itu menatap ke arah mereka dengan pandangan tidak percaya.


Sebab penampilan mereka berlima, bagi pengunjung lain tidak lebih dari pada para gembel. Apalagi pakaian yang mereka gunakan sobek disana sini dan terlihat begitu lusuh, sehingga pemandangan itu sangat mengganggu pandangan mata mereka.


"Nah, akhirnya kita mendapatkan tempat yang tidak ada seorangpun yang mengganggu. Seperti dugaanku dilantai ini kita bisa menikmati makanan dengan lebih leluasa dan tenang," ucap Dewi Anggini sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu.


Meja-meja diruangan itu masih kosong, tidak ada satupun pengunjung, kecuali mereka berlima.


"Katakan kepada managermu, jika seluruh lantai ini kami sewa."


Mendengar ucapan Dewi Anggini, maka Lin bersaudara terkejut. Walaupun sebelumnya mereka telah diberikan satu koin emas, tetapi menyewa satu lantai penuh itu bukan perkara yang gampang.


Apalagi lantai yang disewa itu adalah lantai paling tinggi, dimana tempat itu hanya digunakan oleh para pejabat atau orang-orang yang sangat kaya di kota tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya nyonya bangsawan agung, jika ingin menyewa satu lantai ini minimal nyonya harus mengeluarkan 100 koin emas untuk menyewanya saja. Selain itu nyonya harus membeli makanan minimal menghabiskan uang sebesar 1000 koin emas.


Tentu kami tidak ingin rugi, jika ada pelanggan lain yang batal makan ke lantai ini, karena telah disewa oleh tuan dan nyonya." ucap Lin bersaudara dengan hati-hati.


"Apakah ini cukup?" ucap Dewi Anggini sembari memberikan satu kantong kecil.


Lin bersaudara mengernyitkan dahinya menerima kantong kecil yang kurang dari sepertiga kepalan tangannya.


"Itu untuk membayar makanan dan sewa tempat ini. Nilainya seharusnya lebih dari tiga ribu koin emas."


Lin bersaudara terbelalak begitu melihat isi dari kantong kecil itu. Sebab didalamnya mereka melihat beberapa batu bening berkilauan saat tertimpa cahaya.


Tidak beberapa lama kemudian wanita muda itu kembali bersama manager Sui.


"Sebentar nyonya bangsawan boleh kah saya memeriksa batu berlian milik nyonya bangsawan?" ujar manager Sui.


Setelah beberapa kali memeriksa kwalitas batu berlian yang ada dalam kantong kecil ditangannya, dia mulai tersenyum dengan sangat lebar.


"Apakah itu cukup?" Dewi Anggini menatap lelaki tambun didepannya dengan tersenyum ramah.


"Tentu saja ini cukup nyonya bangsawan, tentu saja cukup."


"O, iya sebutkan makanan paling lezat yang ada di restoran ini?"


Sesuai permintaan Dewi Anggini, manager Sui lalu menyebutkan satu per satu menu masakan yang menjadi andalan restoran itu.


"Baiklah, kami pesan semua yang kamu sebutkan tadi," ucap Dewi Anggini.


Manager Sui terpana mendengar ucapan Dewi Anggini. Karena itu artinya gaji dia lebih dari satu tahun dihabiskan hanya dalam sekali makan.


Tanpa menunggu lama, mereka bertiga kemudian pamit untuk menyiapkan makanan yang telah dipesan.


**


Namun belum lama berselang, sejak manager Sui dan Lin bersaudara pergi, sebuah keributan terdengar hingga sampai ke lantai tiga.


Tetapi hal itu tidak mengganggu mereka berlima. Mereka terus berbincang-bincang sambil menunggu pesanan makanan mereka diantar.


Tidak beberapa lama kemudian manager Sui dan Lin bersaudara datang bersama sebuah rombongan. Dua lelaki muda dan seorang wanita cantik kemungkinan mereka bertiga lah yang menjadi sumber keributan tadi.


Lelaki muda yang bersama manager Sui itu berbicara keras dan memarahinya.


"Kalian seharusnya mengetahui, jika seluruh kota ini dibawah kekuasaan ayahku. Jangan pernah berani macam-macam denganku. Kau paham?"


"Maafkan kami tuan muda hanya saja memang tempat ini sudah di sewa satu lantai penuh."


Dewi Anggini dan yang lainnya melihat mereka sekilas dan kembali melanjutkan pembicaraan. Mereka sepertinya tidak terganggu dengan kemarahan dua lelaki muda dan seorang wanita cantik. Lelaki yang membawa kipas itu terus mencecar manager Sui.


"Sebentar tuan muda Yang saya harus meminta ijin terlebih dahulu kepada nyonya bangsawan disana." ucap manager Sui mencoba bersabar.


"Bangsawan apa? Dari marga apa? Kami ini bangsawan tertinggi di kota Shanxi ini, bagaimana kau berani melecehkan nama bagsawan Yang penguasa kota ini?"


"Bukan seperti itu tuan muda, ijinkan saya mencoba berbicara dengan nyonya disana, aku berjanji kepada tuan muda agar bisa menikmati makanan kami di lantai ini," manager Sui berbicara dengan nada serba salah.


Demi mencoba melunakan kemarahan muda mudi didepannya, manager Sui lalu bergegas menuju ke arah meja yang berada didekat jendela dimana Dewi Anggini dan yang lain sedang duduk.