SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 13 DEWA MATAHARI MENAMPAKKAN WUJUDNYA



Eyang Sindurogo berlari secepat yang dia mampu agar bisa mengejar Bathara Karang. Dia berlari mengunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yaitu ilmu Saifi Angin.


Akhirnya setelah cukup lama dia memutuskan untuk berhenti sebentar dan memulihkan Kondisi fisiknya yang telah turun drastis. Kepadatan chakra yang berlimpah di alam salah satu alasan dia memutuskan berhenti. Dengan asupan chakra yang berlimpah di alam pasti akan sangat membantu mempercepat pemulihkan kondisi fisiknya.


Semua akibat pertempuran panjang yang dilaluinya telah memaksa tubuhnya harus bekerja secara maksimal.


Dia mulai menelan pil untuk mengobati Lukanya kemudian melakukan meditasi untuk mengumpulkan chakra sekaligus membantu mempercepat pemulihan kondisi fisiknya.


Pengejarannya yang panjang telah membawanya ke sebuah hutan bernama hutan lali jiwo. Hutan berlokasi di sebelah selatan Gunung Arjuno.


Andai saja kondisinya tidak dalam keadaan seperti sekarang, luka dalam ditambah luka luar dipinggang yang sebelumnya telah mengucurkan darah begitu banyak tentu dia dapat terbang menyusul keberadaan Bathara Karang.


Sebelum selesai bersemedi dan belum memulihkan kondisi fisiknya secara sempurna sebuah tawa telah memecahkan keheningan hutan lali jiwo. Segera Eyang Sindurogo menghentikan semedi lalu kembali menelan sebuah pil untuk mempercepat kesembuhan lukanya.


"Hahahaha...Akhirnya kita bisa menyusul si setan tua!"


Ini mengulang kembali kejadian diawal cerita, saat dimana Eyang Sindurogo sedang dikeroyok Tiga Tetua Sesat di hutan Lali Jiwo.


Trang..! Trang!


Suara rencong beradu dengan senjata rahasia yang dilemparkan para tetua. Kemudian....


Bledaar!!..Bledaar!!


Suara ledakan susul menyusul menghantam kearah Eyang Sindurogo.


Dia mampu menghindari semua serangan senjata rahasia yang menerjang kearahnya dengan sebilah rencong yang telah terhunus digengamannya. Dan beberapa kali dia bersalto menghindari ledakan-ledakan efek serangan tiga Tetua Sesat. Dengan ilmu saifi Angin dan Jurus rencong semua serangan dapat diatasi dengan mudah.


"Aku Sindurogo tak akan mati hari ini menghadapi manusia-manusia laknat seperti kalian. Jangan bermimpi mampu membunuhku justru kalianlah yang hari ini akan aku kirim ke alam baka!"


"Manusia gila tak bisa mengukur, nyawamu sudah berada dileher!" Sahut nenek yang telah menyerangnya dengan jarum beracun.


"Kalian mengira dengan kekuatan yang sebesar telur puyuh itu mampu menghentikan langkahku!"


"Banyak mulut!"


Si Nenek menyerang tubuh bagian atas dengan Jurus Cakar Seribu Racun, kukunya yang panjang hitam pertanda terkandung racun yang berbahaya. Kerasnya melebihi baja dan tajamnya seperti silet. Dan yang tak kalah menakutkannya adalah asap racun yang pekat ikut menemaninya dalam serangan ini.


Pasangan sejolinya melabrak dengan cepat menghajar dari belakang dengan Jurus Tongkat Neraka. Sebuah permainan tongkat yang sangat cepat dan rapat dipadukan dengan hawa ratusan roh penasaran. Kemungkinan pasangan sejolinya ini sudah kebal dari semua racun si nenek mengingat kedekatan mereka.


Sebuah kombinasi serangan yang sangat harmonis dan mematikan.


Eyang Sindurogo menghindari serangan kuku dan tongkat dengan Jurus Rencong Nirvana Mengamuk.


Dengan kondisinya yang masih sangat kepayahan dan luka yang tak ringan tetapi permainan rencong digabung ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi membuat pasangan sejoli itu kesulitan merangsek lebih jauh bahkan satu pukulan dan tendangan membuat keduanya terpental.


Walau telah mampu memukul musuh mundur tetapi luka luarnya kembali terbuka, mengakibatkan racun pekat yang menyertai serangan Si nenek kemungkinan telah meresap masuk kedalam tubuhnya. Membuat dia mutah darah hitam menandakan betapa mematikannya racun yang dimiliki Si nenek. Segera dia menelan pil untuk penangkal racun secepatnya, sebelum menyambut serangan Singa Merah yang telah merangsek kearahnya.


Singa Merah melihat rekannya terpental segera melabrak dengan jurus Sepasang trisula Penebar Maut untuk memberi kesempatan dua sejoli mengambil nafas.


Jurus trisula Tetua Singa Merah mencoba menjebol pertahanan Eyang Sindurogo. Jurus trisula yang mematikan tusukan dan sabetan silih berganti seakan cakar singa yang mampu merobek sekujur badan. Sebuah permainan yang sangat hebat tetapi sayang bertemu Jurus Rencong Nirvana Mengamuk serangan trisula yang rapat dapat dipatahkan.


Dalam beberapa jurus sudah terlihat hasilnya Jurus Dewa Rencong telah memperlihatkan kedigdayaannya sebuah serangan penutup menancapkan ujung rencong persis didada Singa Merah sebelah kiri. Dan sebuah tendangan samping menghantam tempurung kepalanya melemparkan badannya yang tinggi besar sejauh satu tombak setengah.


Seharusnya dengan serangan penutup yang mengakibatkan luka fatal, untuk kondisi manusia normal jangankan bangun kembali untuk sekedar bernafas saja pasti sudah tidak memungkinkan. Meskipun begitu dalam keadaan kepala pecah dan jantung robek namun sangat mengejutkan beberapa saat kemudian Singa Merah mampu bangun dan terduduk. Disampingnya dua pasangan sejoli telah bersiap-siap menjaga dari serangan susulan Eyang Sindurogo.


Semua luka akibat serangan balasan Eyang Sindurogo ditubuh Singa Merah sudah tak berbekas hanya dalam sepersekian minum teh.


Sebelum Tiga Sesat kembali membuka serangan giliran Eyang Sindurogo merangsek dengan Langkah Kilat satu jurus dari bagian Ilmu Saifi Angin membuat kalang kabut mereka bertiga.


"Karena kalian yang telah meminta baiklah akan aku kabulkan keinginan kalian akan aku pertemukan kalian dengan Sang Hyang Yamadipati!" Sebilah rencong kemudian disisipkan dipinggangnya.


Selepas itu 10 larik sinar keluar dari ujung jari tangannya.


Tiga Tetua Sesat segera berjumpalitan menjauh secepatnya, mereka mundur teratur. Sepertinya mereka telah memahami kedahsyatan jurus yang telah dikeluarkan Eyang Sindurogo.


"Haha...! Haha...! Kalian sepertinya sadar kedahsyatan jurus ini!"


"Bulan sedang purnama tidak ada salahnya kita bermain-main sebentar ini waktu yang tepat untuk bersenang-senang, bukan?"


"Hahaha....hahaha..!!"


"kalian mengira dengan tubuh yang tak bisa mati dapat menakutiku. Kita lihat seberapa hebat tubuh kalian jika aku cincang jadi potongan kecil-kecil, apakah masih sanggub menyambungkan tubuh kembali?"


Trang!! Trang!! Braak!


Selepas itu 10 sinar melabrak ke tiga Tetua Sesat gerakan Eyang Sindurogo mengerakan sinar yang ada diujung jarinya yang menjelma seperti cambuk berupa sepuluh larik sinar bergerak dengan cepat.


Tiga Tetua Sesat beberapa kali menghindar dari terjangan sinar yang mampu memotong pohon dengan sekali libas.


Trang!! ..Trang!! Trang!!


Jdaarr!!...Jdaar!!


Beberapa kali mereka menangkis dengan senjata pusaka mereka, tetapi sepertinya pusaka itu tak mampu menahan terjangan larikan sinar. Seluruh pusaka itu hancur berikut kuku si nenek telah di manicure dengan serampangan tentunya. Berikut lengan kirinya ikut putus yang kemudian segera ia pungut dan ditempelkan ditempat semula. Bisa dibayangkan betapa murkanya wajahnya yang penuh kriput bertambah semakin mengerikan.


Tongkat Neraka putus menjadi dua, sinar itu bablas melabrak tubuhnya menembus jantung. Setelah terjengkang dalam seperempat minuman teh, tubuh yang tak bergerak spontan bangkit lagi.


Yang bisa dibilang paling beruntung tentulah Singa Merah karena ilmu meringankan tubuhnya lebih hebat tentu dia mampu menghindari walau trisulanya sudah tak lagi bisa disebut pusaka trisula penebar maut. Minimal tidak ada yang mengenai tubuhnya.


Sinar yang mampu mereka hindari melabrak beberapa pohon.


Kembali Eyang Sindurogo menyerang dengan jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari, secara bersamaan Tiga Tetua bersalto menjauh. Sepertinya mereka sedang mencoba membuat strategi baru sebelum melancarkan serangan berikutnya.


Hampir bersamaan senjata rahasia menerjang dari Tiga Tetua Sesat yang langsung disambut dengan sinar-sinar yang berseliweran mengelilingi Eyang Sindurogo membentuk pusaran cahaya.


Setelah itu kembali mereka melakukan serangan susulan yang merupakan serangan pamungkas mereka.


"Terimalah ini setan tua sampaikan salam pada Sang Hyang Yamadipati!"


Bersamaan tiga larik kekuatan melabrak Eyang Sindurogo.


Jerangkong dari jurang Neraka tak mau kalah dia meledakan sebuah hawa kegelapan yang seakan awan gelap bergulung-gulung menerjang kearah Eyang Sindurogo. Awan gelap itu sebenarnya adalah kumpulan ribuan atau mungkin lebih, arwah penasaran yang telah dikoleksi dengan mengorbankan manusia sebagai tumbalnya. Tentu saja satu nyawa yang dijadikan tumbal menghasilkan satu arwah penasaran jadi bisa dibayangkan seberapa banyak tumbal yang telah dia korbankan. Ilmu Serbuan Dewa kegelapan.


Setelah awan yang bergulung-gulung, melesat sebentuk kekuatan hitam yang menakutkan itu adalah kekuatan kegelapan yang diserap dari kekuatan alam kematian. Kekuatan yang mampu menyerap daya hidup seseorang menjadi mayat kering. Sepertinya selain kepada musuh, efek dari ilmu tersebut juga berimbas kepada pemakai ilmu itu sendiri. Melihat kondisi fisik Tetua Jerangkong hidup, yang seakan tengkorak berbalut tulang saja.


Yang terakhir adalah serangan racun dari ahli racun bahkan seorang ahli racunpun akan ketakutan mendengar nama nenek satu ini.


Cahaya yang melesat menebarkan hawa racun yang pekat adalah serangan dari si nenek. Itu merupakan jurus pamungkasnya yang sangat terkenal Tapak Selaksa Dewa Racun. Racun yang sangat dahsyat yang bahkan mampu melumerkan tubuh manusia menjadi seongok daging hanya dalam hitungan beberapa sekian minum teh.


Kerumitan Jurus Selaksa Dewa Racun terletak pada kemampuannya merubah kabut racun yang pekat dirubah menjadi jarum-jarum kristal dalam ukuran skala mikro bahkan orang awam tidak mampu melihat penampakan jarum tersebut. Kecuali orang yang bisa melihat aura chakra bisa merasakan jarum tersebut. Karena memang jarum terrsebut dibentuk dengan chakra si empunya jurus.


Jangan tanya seberapa mematikan racun yang dikandung disetiap jarumnya. Perbandingan satu jarum jika menembus sebuah pohon besar dalam hitungan tak lebih dari dua seperminuman teh bisa dipastikan pohon itu akan layu dan mulai membusuk. Karena satu dari sekian alasan Sekte Awan Merah begitu ditakuti adalah keberadaan nenek ini.


Kemampuannya yang begitu hebat tentang racun tentu saja didukung dengan tubuhnya yang istimewa yang tak bisa mati. Sebuah keistimewaan yang tak dimiliki ahli racun lainnya.


"Salam-salam apanya kamu pikir aku kurir!" Gerutu Eyang Sindurogo sambil meloncat lurus keatas seolah menghindari serangan mereka. Tetapi sebenarnya awal sebuah jurus yang akan dia lepaskan dengan segenap kekuatan yang tersisa.


"Akan aku tunjukan apa itu arti kata Dewa!"


"JURUS KE EMPAT TAPAK DEWA MATAHARI DEWA MATAHARI MENAMPAKKAN WUJUDNYA!!"


Suaranya yang menggelegar diikuti pusaran angin aneh yang menghisap seluruh chakra, energi alam, unsur kehidupan semua makhluk hidup bahkan pohon-pohon ikut terhisap daya kehidupannya langsung menjadi layu dan mati jangkauan daya hisapnya radius beberapa puluh tombak bahkan kabut yang menutupi Hutan Lalijiwo pun tak luput dari hisapan itu. Seolah pusat pusaran itu Lubang Hitam sekala kecil menghisap apapun yang ada disekitarnya.


Kekuatan menghisap chakra dan energi kehidupan yang dimiliki ilmu setan pemakan jasad bahkan jika dibandingkan kekuatan hisapnya dengan kekuatan hisap pusaran seperti langit dan bumi.


Bahkan ketiga jurus Tetua Sesat dan chakra mereka semua terkena daya hisap pusaran itu. Semua berlangsung sangat cepat, mereka tidak sempat mengantisipasi. Bahkan gerakan mereka seakan telah dikunci mereka tak mampu lagi melarikan diri. Seluruh chakra yang mereka miliki dan seluruh tenaga mereka sudah disedot dengan cepet sebelum mereka menyadarinya.


Eyang Sindurogo sebenarnya dalam kondisi sangat parah tetapi kewibawaan dan kekuatan dia yang sebenarnya telah merontokkan keangkuhan tiga sosok yang mengelilinginya. Mereka baru menyadari bahwa memang kekuatan mereka bertiga seakan telur puyuh melawan kekuatan palu godam tetapi sayang semua sudah sangat terlambat.


Setelah itu cahaya yang sangat terang seakan-akan matahari berada diatas mereka, sangat menyilaukan mata. Seluruh kawasan empat penjuru arah mata angin dalam radius ratusan ribu tombak merasakan efek cahaya itu, suasana yang sebelumnya gelap gulita seluruhnya disapu seakan hari telah siang. Suasana itu berlangsung selama beberapa sepersekian minum teh dan kemudian....


BBUUUUUUUUUMMMMMM!!!


Suara ledakan menggelegar meratakan seluruh area itu sejauh hampir dua ratus tombak, tetapi anehnya dampak yang terkena efek panasnya tak lebih dari radius dua puluh tombak tetapi meninggalkan lubang kawah sedalam lebih dari lima puluh tombak.


Sebuah jurus yang sangat dahsyat tapi sepertinya mempunyai konsekuensi yang besar juga seolah-olah tenaganya sudah sampai puncaknya terkuras habis. Akhirnya Eyang Sindurogo ambruk karena terlalu memaksakan mengeluarkan jurus yang terlalu banyak menguras chakranya.


Jasad ketiga Tetua Sesat dipastikan musnah bersama rohnya.


Efek dari racun ternyata begitu parah sehingga Eyang Sindurogo harus membuat pilihan sulit sebelum dia mati setidaknya Tiga Tetua Sesat tidak dibiarkan hidup lebih lama lagi. Mengingat ilmu sesat mereka kedepannya pasti akan memakan lebih banyak korban manusia.


Saat dia siuman tenaganya sudah tak mampu lagi menyangga kakinya untuk melangkah, tenaganya sudah sampai titik klimaks. Darah kembali merembes keluar dari luka-lukanya yang sebelumnya telah mulai menutup kini menganga lebar. Efek racun juga semakin menyebar keseluruh tubuhnya.


Beberapa titik urat nadi ditotok untuk menghentikan pendarahan lebih parah dan menghentikan penyebaran racun lebih luas. Dia kemudian menelan pil dan melakukan semedi mencoba memulihkan tenaga dan menyembuhkan lukanya. Energi alam yang pekat dihutan itu tentu sangat membantu proses menyembuhan tubuhnya. Kemudian dia mulai mengumpulkan racun didalam tubuhnya untuk dikeluarkan. Dia memutahkan darah hitam yang berbau menyengat menandakan racun ditubuhnya telah mencapai titik kritis.


Setelah dia selesai bersemedi yang pertama kali dia sadari ternyata dia berada disebuah puncak gunung. Langit sudah kemerahan, matahari masih malu-malu menyelimuti cahayanya dibalik awan. Dihadapannya terpampang pemandangan yang sangat menajubkan.


Badannya sudah tak mampu berdiri dia terduduk bersandar pada bebatuan. Luka dalam dan racun yang ganas telah masuk dalam tubuhnya dan begitu parah sehingga kondisinya kemungkinan sudah tak tertolong lagi. Pandangannya kosong tetapi dibibirnya yang mulai membiru tersemat sebuah senyum penuh kemenangan.


"Tak ada yang aku sesali dalam hidupku." Gumamnya sambil menatap pemandangan yang begitu indah dari Sang Hyang Maha Tunggal.


"Sebelum ajal menjemputku Sang Hyang Maha Tunggal masih memberikanku hiburan berupa keindahan alam yang akan aku kenang nanti dialam lain bahwa selain keburukan tabiat penghuni alam ini, masih banyak hal yang indah yang pantas dikenang."


Seperti berbicara sendiri sambil tak henti-hentinya matanya memandang disekelilingnya. Didepannya terpampang luas hamparan kabut yang menutupi daratan yang ada dibawahnya. Terlihat disisi timur jauh matahari mulai meyebarkan pesona, cahayanya seakan menyeruak dari balik tumpukan awan. Cahaya matahari yang menyeruak menampilkan cahaya jingga memberikan warna pada awan dan kabut menambah keindahan pagi.


Sayup-sayup terdengar suara seruling menggema memecah kesunyian pagi. Suaranya yang indah mendayu membius yang mendengarnya bahkan Eyang Sindurogo memejamkan matanya, tanpa sadar ingatanya membawanya kembali mengingatkan tentang seseorang yang pernah ia kenal disuatu waktu yang lampau, waktu dimana dia bertemu dengan seseorang yang telah merubah jalan hidupnya.


"Aku jadi teringat lelaki tua itu."


Di tersenyum sendiri menginggat seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya dan mengajari ilmu dahsyat Tapak Dewa Matahari.


"Apakah aku masih berhutang budi lagi?sepertinya masih, tetapi aku telah menepati salah satu janjiku mengunakan ilmu yang dia ajarkan untuk membasmi manusia biadab seperti mereka."


Matanya sudah nanar tak mampu lagi melihat dengan jelas semuanya memburam.


"Terimakasih telah mengiringi kepergianku dengan suara indah ini aku akan mengenang saat nanti bertemu Sang Hyang Yamadipati."


Dibibirnya sebuah senyuman masih terukir sebelum satu nafasnya berhenti satu tetes air jatuh dibibirnya sepontan dia mengecap air yang jatuh dibibirnya setelah pertempuran yang melelahkan sepanjang malam tak ada satu tetes air pun yang masuk kemulutnya.


"Astaganaga air apa yang barusan jatuh dibibirku."


Sepontan dia bangun secara refleks, matanya terbelalak disekujur tubuhnya mengalir tenaga yang besar mengingatkan kembali saat dia masih berusia muda. Dia belum menyadari apa yang terjadi.


Hampir dia tidak mengenali tubuhnya sendiri semua rasa luka, capek dan sakit hilang seketika tanpa ada sisa yang dia bisa deteksi. Bahkan luka yang menganga dibagian pinggang sebelah kanan tak ada bekasnya sama sekali. Yang lebih mengejutkan dirinya sendiri adalah tak ada kerutan lagi dikulitnya ditangan,kaki semua anggota badannya terutama wajahnya kembali kencang. Rambutnya pun kembali menghitam.


"Apa yang terjadi padaku?" Sambil meraba-raba tubuhnya seakan tidak percaya.


Seorang lelaki membawa seruling yang terbuat dari kristal berkilauan, sebuah seruling yang sangat istimewa tentunya. Sambil duduk diatas batu besar. Dibibirnya tersungging sebuah senyuman yang begitu menentramkan. Wajahnya yang tampan seakan manik manikam permata yang tak ada duanya. Senyum yang tersungging dibibirnya sepertinya ditujukan kepada Eyang Sindurogo karena memang tidak ada orang lain selain mereka.


"Apakah kisanak yang telah menyelamatkan nyawaku."


"Takdir yang telah menyelamatkanmu Sindurogo."


"Iya, takdir yang telah menyelamatkanmu dengan mempertemukanmu dengan denganku jadi bukan aku yang sebenarnya menyelamatkanmu."


Tegasnya memperjelas pernyataanya, melihat Eyang Sindurogo seperti belum mengerti maksud perkataanya.


"Perkataan kisanak sangat dalam..boleh kah hamba tau nama kisanak sehingga hamba dapat membalas budi kisanak kepada hamba suatu saat nanti." Tanyanya sambil menjura memberi hormat dengan sedikit menyelidiki sosoknya yang sangat misterius ini.


"Apa yang aku butuhkan dari dirimu sehingga kamu merasa mampu membalas budi."


Eyang Sindurogo semakin kebingungan perkataan lelaki ini Sarat dengan makna yang sangat tinggi . Selain itu juga bagaimana lelaki ini bisa mengetahui namanya, seingat dia belum menyebut namanya sendiri. Dia mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Aku adalah Nagasesa. Aku adalah Antaboga aku adalah Anantaboga. Aku adalah Sang Hyang Basuki."


Itulah sekelumit cerita yang sebaiknya kamu mengetahuinya. Ambil kebaikan dari cerita yang telah eyang ceritakan.


"Nuwun inggih eyang." Suro menundukan tubuhmu sebagai tanda hormatnya dirinya kepada gurunya.