SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 105 PERTEMPURAN MELAWAN PASUKAN MEDUSA part 2



"Siapa yang telah membuat seorang pendekar dari negeri Bharata jauh-jauh datang ke tlatah tanah Javadwipa ini!" Dewa Pedang terkesima dengan kekuatan Pedang iblis, setelah mampu mengimbangi kekuatannya.


Dia baru kali ini merasakan langsung kekuatannya dari jagoan yang pernah mengegerkan Benua Tengah. Walaupun sejak lama dia sudah mendengar namanya. Seseorang jagoan pedang yang memilih jalan kegelapan untuk mencapai kekuatan terhebatnya.


Ilmu pedangnya bersumber dari sebuah Kitab kuno yang hanya ada dalam dongeng yaitu Kitab Pedang Iblis Kali Purusha. Tetapi untuk mempelajari ilmu pedang itu dia akan kehilangan sifatnya sebagai manusia. Dan berubah menjadi manusia yang sangat bengis.


"Tidak perlu tau siapa yang menyuruhku datang kesini, tetapi yang jelas mereka menawarkanku dengan janji yang sangat mengiurkan, yaitu sebuah pertarungan melawan Dewa Pedang! Tentu saja tawaran ini aku ambil karena tidak mudah mendapatkan lawan sekuat dirimu! Semoga saja kau bisa memuaskan diriku dari rasa dahagaku dalam pertarungan yang mampu mengimbangi kekuatanku. Karena menjadi orang terkuat itu rasanya sangat membosankan tanpa memiliki lawan yang seimbang."


"Jika dirimu tidak mampu memuaskan diriku dalam pertarungan ini, maka akan aku habisi seluruh makhluk hidup yang ada didalam perguruan ini. Hahahahaha...!"


Dentuman demi dentuman suara kekuatan yang beradu membuat orang-orang memilih menyingkir jauh. Pada awalnya pertarungan itu berjarak dua puluh tombak dari dinding terluar perguruan. Kemudian dengan sengaja Dewa Pedang memaksa Pedang iblis menjauhi area perguruan dan mengarah kepada pasukan Medusa yang mulai berdatangan.


Tujuh tetua terlihat sedang menghadapi tujuh sosok yang cara berpakaiannya mirip dengan Pedang iblis yang sedang dihadapi Dewa Pedang. Mereka adalah Tujuh Pedang Sesat yang merupakan pengikut dari Pedang iblis. Seperti juga pertarungan antara Dewa Pedang melawan Pedang iblis, pertarungan para tetua melawan Tujuh Pedang Sesat menjadi pertarungan yang dijauhi. Karena kekuatan pertarungan mereka juga sudah pada tingkat yang begitu dahsyat.


**


"Setan alas Pedang Iblis ini ternyata tabiatnya lebih buruk dariku. Dia tidak mau tunduk pada perintahku!" Medusa meruntuk sepanjang perjalanan, tentu saja hal itu tidak dia lakukan pada saat berada didekat Pedang iblis.


Medusa Hitam yang menjadi pemimpin tertinggi pasukannya tidak bisa melakukan apapun dengan kelakuan Pedang iblis sejak berada di Perguruan Ular Hitam miliknya.


Sebab dia masih membutuhkan kekuatannya untuk melawan Dewa Pedang. Karena itulah dia berusaha menyenangkan selama berada di Perguruan Ular Hitam. Akibatnya puluhan anak buahnya sudah banyak yang dihabisinya karena alasan yang tidak masuk akal.


Pada awalnya dirinya begitu bergembira saat menyambut kedatangan tokoh itu dari negeri Bharata. Tetapi setelah beberapa hari kemudian, kepalanya sudah mulai terasa pusing tujuh keliling melihat kelakuan Pedang Iblis yang memiliki tabiat sangat buruk. Bahkan lebih buruk daripada dirinya sendiri yang terkenal memiliki tabiat buruk.


Hal itu dikarenakan banyaknya dayang-dayang miliknya dan anak buahnya yang dibunuh karena pelayanan mereka yang menurutnya tidak memuaskan. Padahal kesalahan mereka sesuatu yang sangat kecil, seperti ada nyamuk yang menggigit atau hal lainnya yang seakan dibuat-buat.


Dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah tokoh aliran hitam dari negeri Bharata itu, sebab hanya dialah satu-satunya harapan yang dia punya untuk bisa mengimbangi kekuatan Dewa Pedang.


Selama ini Medusa tidak berani kembali menyerang Perguruan Pedang Halilintar karena keberadaan Dewa Pedang. Karena dia sadar kekuatannya tidak mampu mengimbangi kekuatan pendekar pedang nomor satu itu. Maka demi bisa menyingkirkan Dewa Pedang dan seluruh perguruan miliknya dari tlatah tanah Javadwipa, dia menunggu kedatangan tokoh dari Bharata.


Maka begitu Pedang iblis menginginkan pertarungan melawan Dewa Pedang, dia segera menyambut niat itu dengan suka cita. Sebab jika dia tidak segera membuat Pedang iblis angkat kaki dari perguruannya, maka dayang-dayang kesayangannya akan habis dibantai oleh tokoh itu.


Pedang iblis bersama tujuh pengikutnya itu meluncur cepat menuju Perguruan Pedang Halilintar tanpa mengindahkan perintah Medusa untuk tetap dalam satu barisan bersama iring-iringan pasukan dibelakangnya. Medusa hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala dan mulai mengurut keningnya yang mulai bertambah pusing.


"Kita ikuti langkah setan laknat itu. Dia benar-benar tidak memandang keberadaanku. Jika bukan karena adanya Dewa Pedang, ingin rasanya aku jadikan dirinya dan tujuh kacungnya itu menjadi arca batu saja." Mulut Medusa komat-komit meruntuk tanpa berhenti setelah Pedang iblis meluncur cepat mendahului dirinya dan juga pasukannya.


Dia akhirnya mengalah dan bersama para tetua dari berbagai perguruan aliran hitam yang bergabung dengannya mengikuti di belakang langkah Pedang iblis yang bergerak cepat menuju Perguruan Pedang Halilintar.


Begitu pertarungan antara Dewa Pedang dan Pedang iblis pecah, mereka buru-buru menyingkir. Tentu saja mereka tidak mau jadi korban keganasan dua kekuatan yang sedang beradu itu.


Gerakan dua petarung kelas wahid itu sudah tidak bisa dilihat secara kasat mata, hanya suara dentuman, kilatan dan hempasan energi yang menyapu kesegala arah yang bisa dilihat. Dengan melihat begitu mengerikannya imbas pertarungan mereka berdua, sudah menggambarkan betapa dahsyatan kekuatan yang mereka miliki.


"Jangan pedulikan pertarungan mereka! Cepat menyingkir, kerahkan seluruh pasukan kalian menyerang menuju pintu gerbang Perguruan Pedang Halilintar!" Medusa segera memberikan arahan kepada seluruh kepala pasukannya untuk segera menyerang pasukan lawan yang masih berada dibalik dinding dan diatasnya.


Para tetua yang berjaga di dinding tetap memantau pertarungan yang masih diluar lingkar dinding perguruan. Para pasukan Medusa yang tidak sempat menyingkir dari pertarungan hancur terkena imbasnya. Mayat-mayat mereka langsung bergelimpangan sebagian tenggelam dalam tanah yang ikut hancur.


Medusa sudah tidak peduli lagi dengan pertarungan Pedang iblis, selama dia masih mampu melayani Dewa Pedang, maka ada waktu bagi dirinya menghancurkan seluruh kekuatan pasukan Perguruan Pedang Surga.


Seluruh kekuatan pasukannya segera merangsek ke arah dinding perguruan. Begitu pasukannya telah sampai pada jarak kurang dari sepuluh tombak dan semakin mendekat, sebuah serangan mendadak yang dipimpin tetua La Patiganna membuat umbun-umbunnya kembali berasap.


"Kalian para tetua dan murid utama kerahkan kekuatan kalian semua dengan kekuatan penuh kita akan menghabisi pasukan Medusa sebanyak yang kita bisa." Tetua La Patiganna memberikan perintah sebelum melakukan serangan secara serentak.


Blddaaaaar...!


Hantaman dari jurus Tebasan Sejuta Pedang digabung dengan jurus Seribu Pedang Menyatu dari para murid utama, menghancurkan seluruh daratan sejauh lebih dari dua puluh tombak kedepan.


"Setan laknat...! Akan aku jadikan kalian semua arca batu!" Medusa dan para jagoan miliknya yang berkekuatan tinggi masih sempat menyelamatkan diri dari serangan yang menghajar ke arah mereka.


Tetapi tidak bagi pasukan yang berbaris di belakangnya yang berjarak kurang dari dua puluh tombak dari dinding Perguruan Pedang Halilintar. Mereka sebagian besar tidak sempat menyelamatkan diri, tenggelam bersama kilatan cahaya yang menyerupai ratusan pedang raksasa yang menghajar ke arah mereka.


"Kita beri mereka serangan balasan! Kerahkan kekuatan kalian semua ke arah dinding dan gerbang!


"Pukulan Gelap Ngampar!"


Duuuum! Duuum!


Selesai memberi perintah segera Medusa mengerahkan pukulan yang berupa kilat petir keluar dari telapak tangannya. Serangannya itu juga didukung oleh jurus pukulan jarak jauh milik para tetua Perguruan Ular Hitam dan jagoan lainnya. Berpuluh-puluh serangan jarak jauh langsung menghajar.


Serangan yang berupa lesatan sinar itu langsung meledakkan gerbang dan melemparkan para anggota Perguruan Pedang Surga yang berada diatas dinding.


"Seraaang!"


Setelah itu pasukan Medusa segera merangsek ke dalam. Di awali dengan pergerakan Medusa yang melesat cepat menaiki dinding Perguruan Pedang Halilintar. Pertarungan jarak dekat langsung pecah.


"Kalian tahan serangan musuh! Jangan biarkan mereka memasuki perguruan lebih dalam!" Pasukan yang berada dibawah perintah tetua La Patiganna segera menyambut kedatangan pasukan yang mulai merangsek ke dalam.


Tetua dari Perguruan Ular Hitam diantaranya tetua Ular Putih, tetua Ular Hijau dan tetua Puspo kajang selalu mendampingi Medusa. Tetapi ada satu tokoh yang membuat setiap orang bergidik saat melihatnya, meskipun parasnya ayu, putih bersih dan rambutnya panjang terurai. Hanya jari-jari tangannya saja yang terlihat begitu mengerikan dengan kuku-kuku panjang dan menghitam menandakan racun yang terkandung didalamnya sangatlah mematikan.


Dia adalah tokoh golongan hitam yang sangat ditakuti karena ilmu racunnya. Julukannya lebih dikenal dari pada nama aslinya, yaitu Sekar Tanjung. Tetapi didalam dunia persilatan dia lebih dikenal dengan nama Dukun Sesat dari Daha.


**


**Terima kasih yang telah memberikan saran dan masukan untuk novel ini. Ditunggu komentar-komentar selanjutnya dan juga dukungannya berupa point dan koin juga likenya.


Terima kasih suwun**