SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 189 Alam Kegelapan



"Mengapa tidak ada yang menyahut paman?" Suro mencoba berteriak kembali memangil Dewa Pedang dan Dewi Anggini. Tetapi tidak mendengar ada seorangpun yang menyahutinya. Beberapa kali dia memanggil, namun hasilnya tetap sama, tidak seorangpun yang menyahut. Padahal dia berteriak cukup keras. Bahkan dia sampai mengalirkan tenaga dalam, sehingga bisa terdengar pada jarak yang cukup jauh.


"Waduh gawat jangan-jangan kita dipisahkan seperti kejadian waktu itu!" Suro menepuk jidatnya beberapa kali.


Suro segera teringat ketika eyang Sindurogo dan dirinya yang masuk ke alam lain hanya berselang waktu tidak beberapa lama. Tetapi keberadaannya sudah tidak mampu dia lacak kembali, seakan antara dirinya dan gurunya itu berselang waktu yang cukup lama.


"Dipisahkan? Apa maksudmu bocah?" Dewa Rencong sudah merasa agak baikan, sehingga dia langsung menatap Suro dengan tajam. Setelah mendengar ucapan Suro barusan, dia merasa curiga ada sesuatu yang salah.


"Ketiwasan(gawat) paman Maung. Agaknya Dewa Pedang dan Dewi Anggini akan bernasib seperti Eyang Sindurogo. Kenapa aku tidak ingat kejadian waktu itu? Gawat!" Kembali Suro menepuk-nepuk jidatnya.


"Maksudmu mereka berdua kemungkinan tersesat dan hilang di alam ini, seperti eyang Sindurogo?" Dewa Rencong terkejut dengan penjelasan Suro, dia kembali mencoba memperjelas maksud perkataan Suro.


"Benar paman, waduuuuuh gawat ini. Bagaimana aku tidak mengingatnya?" Suro kembali menepuk jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Bocah gemblung! Mengapa tidak bisa kamu ingat hal sepenting ini? Mengapa adimas Dewa Pedang juga tidak mengingatnya?" Pandangan Dewa Rencong menatap ke arah di kejauhan dimana suara dentuman terus mendekat.


"Bersiap-siap paman, sebentar lagi akan ada yang datang menyerang kita!"


Duuum! Duuuum!


Dan benar saja secara berturut-turut sebuah serangan beruntun menghantam mereka. Serangan itu berupa sebuah genggaman tangan raksasa yang berwarna hitam gelap seperti tangan Wanara(kera) raksasa.


Mereka berdua segera menghindar serangan telapak tangan yang datang berturut-turut dan semakin bertambah banyak. Ada lima pasang tangan secara terus menerus mencoba meremukan tubuh mereka.


'Gunakan api hitamku bocah!' Suara Lodra berteriak keras melihat Suro hanya berjumpalitan menghindari hantaman serangan yang tidak putus-putus.


Dewa Rencong tidak kalah sibuknya dia menyerang balik ke arah tangan-tangan yang menghajarnya dengan energi tebasan miliknya. Tetapi selang beberapa saat kemudian, serangan miliknya dia urungkan tidak dia teruskan.


Dia kemudian memilih menghindari serangan yang datang seperti yang sedang Suro lakukan, sebab serangan yang dia lakukan tidak memberi arti apapun pada lengan hitam yang terus menyerangnya.


Seperti yang pernah diceritakan Suro padanya, jika serangan tebasan pedang tidak mampu melukai. Bahkan seakan dirinya sedang menebas sesuatu yang tidak nyata.


"Baik kanjeng Lodra akan aku lakukan."


Dewa Rencong yang berada didekatnya memincingkan mata mendengar Suro berbicara sendiri.


"Bocah gemblung dasar." Dewa Rencong mengumam pelan sambil kembali menghindari serangan yang datang.


"Menyingkirlah!" Suro berteriak keras sebelum melepaskan kekuatan api hitam.


"Menyingkir matamu bocah!" Dewa Rencong yang bersalto menghindari hantaman tangan raksasa tanpa sengaja menghantam tubuh Suro.


Suro mendengar gerutuan Dewa Rencong barusan, tetapi dia memilih meneruskan serangannya terlebih dahulu.


"Tebasan Sejuta Pedang!"Suro berkali-kali menebaskan pedang miliknya. Bersama dengan setiap tebasan pedangnya meledak kekuatan api hitam yang menyapu seluruh area didepan Suro. Asap hitam yang ada ikut tersapu.


"Naga Taksaka mengamuklah! Bakar semuanya!"


"Bukan paman Maung yang Suro maksudkan, Tetapi tangan-tangan raksasa yang menyerang barusan paman, yang aku perintahkan untuk menyingkir!" Suro tertawa melihat Dewa Rencong bersungut-sungut.


"Lihatlah paman, api hitamku berhasil membakar semua!" Suro menunjuk ke arah Naga Taksaka yang meluluh lantakan hampir seluruh tangan raksasa yang sebelumnya menyerang mereka berdua.


"Benar, seperti yang dikatakan adimas Dewa Pedang api hitammu mampu menjadi kunci kemenangan menghadapi musuh di alam ini." Dewa Rencong terkesima melihat Naga Taksaka terus melesat mengejar sumber kekuatan dari tangan-tangan yang sebelumnya menyerang mereka.


Setelah hawa hitam disekitar mereka ikut tersapu bersih dan terbakar oleh api hitam, kini mereka dapat melihat lebih jelas hamparan daratan didepan mereka. Baru mereka sadari, ternyata daratan yang mereka pijak begitu gersang, bahkan satu rumput pun tidak ada yang dapat tumbuh.


Penglihatan mereka yang mampu menatap alam sekitar dengan jelas hanya berlangsung sesaat. Hal itu disebabkan asap hitam yang merupakan hawa kegelapan telah memenuhi seluruh penjuru alam itu. Maka selang tidak beberapa secara perlahan area yang terang itu kembali dipenuhi hawa kegelapan.


"Dimana adimas Dewa Pedang? Mengapa dia tidak kita temukan?" Dewa Rencong melihat ke sekitar sebelum seluruh area kembali dipenuhi hawa hitam.


"Apa lebih baik kita mengikuti api hitam milikku dahulu paman? Jika mengetahui makhluk yang menyerang kita dari jauh, mungkin saja kita dapat petunjuk dimana paman guru berada?" Tatapan Suro tidak beralih dari wajah Dewa Rencong yang justru sibuk mencari Dewa Pedang. Tetapi seperti sebelumnya, dia juga tidak menemukan keberadaannya.


"Jika ada paman guru disini Suro pasti merasakan gerakannya paman." Suro yang mampu mendeteksi gerakan seseorang dari jauh melalui getaran permukaan tanah tidak merasakan keberadaan apapun atau siapapun didekat mereka.


"Baiklah kita ikuti kemana api hitammu itu melesat pergi?" Dewa Pedang kemudian terbang diikuti Suro dibelakangnya menaiki bilah pedang miliknya.


Dari kejauhan dia bisa melihat Naga Taksaka terus membakar seluruh hawa kegelapan yang dia lewati, sehingga mereka berdua dapat dengan mudah mengikuti jalur yang baru saja dilewati api hitam itu. Walaupun begitu hawa kegelapan kembali memenuhi jalur itu secara perlahan.


"Tempat ini sangat berbahaya, seharusnya kita tidak boleh berlama-lama di alam ini!" Dewa Rencong baru menyadari jika asap hitam yang memenuhi udara adalah hawa kegelapan yang tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki Bhuta kala, Braholo maupun kekuatan yang ditunjukkan Pujangga gila.


"Memang kenapa paman Maung?" Suro yang mendengar ucapan Dewa Rencong menjadi penasaran. Dia kemudian melesat mendekat ke arah lelaki itu.


"Ini adalah hawa kegelapan yang dapat merasuk ke dalam tubuh. Dia mampu mempengaruhi jiwa dan pikiran seseorang. Walaupun dengan itu juga akan memberikan kekuatan yang besar. Seperti kekuatan besar yang dimiliki Pujangga gila. Kekuatan besar miliknya terasa tidak masuk akal, menurutku hampir mendekati kekuatan eyang Sindurogo."


"Sepertinya perkataanmu kemungkinan besar memang tidak salah, bocah. Jika makhluk yang menguasai pikiran eyang Sindurogo adalah pemilik kekuatan kegelapan ini, alias Dewa Kegelapan. Alam ini terlalu kelam untuk bisa dihuni makhluk hidup. Tetapi aku tidak mengetahui, entah bagaimana caranya gurumu bisa diambil alih kesadarannya seperti itu?"


Suro terlihat mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Dewa Rencong barusan. Tetapi dia tidak menyangka jika hawa kegelapan disekitar mereka, memiliki efek yang begitu berbahaya.


'Lakukan seperti yang biasa kau lakukan bocah, aku akan menampung seluruh hawa kegelapam ini agar tidak membahayakan kalian.' Lodra mendadak berbicara kepada Suro saat mencari cara agar terhindar dari hawa kegelapan disekitar mereka.


"Sebentar paman aku akan membuka jalan agar paman tidak menyerap tanpa sengaja hawa kegelapan yang sudah meracuni seluruh alam ini."


Suro kemudian menjelaskan secara singkat. Dia kemudian melesat agak berjauhan dari Dewa Rencong dan mulai menghisap seluruh hawa kegelapan sembari terbang mengikuti Naga Taksaka.


Hal yang dilakukan Suro membuat Dewa Rencong akhirnya dapat bernafas lega, karena hawa kegelapan tidak mengganggu dirinya lagi.


Mereka terus melesat dan menyibak seluruh hawa kegelapan yang dia lewati. Setelah cukup lama mereka terbang, akhirnya mereka tiba di suatu daerah pegunungan.


Naga Taksaka terus membuka jalan bagi mereka berdua. Meski berada dikejauhan, tetapi jarak itu masih dalam jangkauan pengendaliannya.


Suro terkejut melihat penampakan yang sudah dapat terlihat dari kejauhan. Suro segera menyadari penampakan yang sangat mengerikan itu kemungkinan adalah sumber dari segala lengan raksasa yang menyerang mereka sebelumnya.


Suro segera menyerang wujud yang begitu mengerikan itu melalui Naga Taksaka.


"Makhluk apa itu bocah?" Dewa Rencong terkejut melihat wujud yang begitu mengerikan dibandingkan Bhuta kala yang sempat mereka hadapi di hutan Gondo Mayit. Makhluk itu sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada para Bhuta kala.


'Kerahkan Maha Naga Taksaka bocah! Hawa kegelapan yang baru saja aku serap memungkinkanku mengerahkan jurus itu!'


'Baik Kanjeng Lodra yang agung.'


Suro dari kejauhan kembali mengerahkan jurus pengendalian api hitam yang memberi tambahan kekuatan kepada Naga Taksaka. Pengerahan api hitam yang dilakukan Suro membentuk tubuh naga yang lebih besar dari pada yang sebelumnya. Kemudian dua api hitam yang berbentuk naga segera bergabung dan menyerang makhluk itu.