
Setelah menghilang dari pandangan mata para pendekar yang masih berusaha memulihkan tubuh dan tenaga dalamnya, mereka bertiga kini muncul di sebuah tempat yang tidak diketahui rimbanya.
Tempat itu berada di sebuah lembah besar yang dipenuhi pepohonan seperti berada ditengah hutan yang sangat rimbun. Namun ditengah hutan itu berdiri sebuah tembok menjulang yang melindungi sesuatu hal.
Tetapi benteng itu bukanlah bangunan yang tidak bertuan. Disepanjang benteng itu, para penjaga berdiri diatasnya mengawasi keadaan sekitar.
Melihat kedatangan mereka bertiga para penjaga segera memberikan tanda akan adanya serangan dari luar. Suro dan Geho sama terlihat kebingungan, tetapi Dewa Obat justru tertawa dan terlihat begitu girang.
"Tepat sekali, seperti dalam penglihatanku. Akhirnya aku kembali ketempat ini." Pandangan Dewa Obat tertuju ke arah benteng yang berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Tetapi dia cukup mengenal dimana di sekarang berada.
"Kali ini, aku yakin akan berhasil menghancurkannya. Bahkan jurus racun mereka bukan lagi halangan bagiku," imbuh Dewa Obat tanpa memperdulikan dua orang yang berada disampingnya masih kebingungan.
Suro hanya mendengar ucapan Dewa Obat tanpa mengerti apa yang dimaksudkan lelaki tua itu.
"Kalian tau mengapa! Karena kali ini aku bersama lawan kuat untuk ilmu racun kalian!" Dewa Obat berteriak keras ke arah benteng sambil terus tertawa.
"Kalian jangan khawatir, kita pasti akan memenangkan pertempuran, sebab aku sudah melihat dalam penglihatanku jika kita bisa membumi hanguskan tempat ini. Semua itu karenamu," ujar Dewa Obat menatap ke arah Suro.
Suro semakin sibuk menggaruk kepalanya mendengar ucapan lelaki tua didepannya.
Wajah Dewa Obat justru semakin girang tanpa memperdulikan ekspresi kebingungan yang diperlihatkan Suro.
Diantara mereka bertiga hanya lelaki tua itu yang tidak terlihat kebingungan. Karena memang dia sudah mengetahui dimana sebenarnya mereka berada.
Melihat Dewa Obat tidak memperdulikan kebingungan yang dia rasakan, akhirnya Suro memilih bertanya kepada Geho sama.
"Ini dimana? Geho sama kau yakin ini tempat yang harus kita tuju?" Suro menatap ke arah Geho sama yang berada disampingnya dengan tatapan serius.
"Tidak ada yang salah memang disinilah aura milik siluman elang itu aku tangkap." Geho sama kembali mengerahkan ilmu empat sage untuk memastikannya.
"Ini adalah Perguruan Lembah Beracun. Seseorang yang baru saja aku penggal kepalanya berasal dari tempat ini. Bersiaplah, sebentar lagi badai akan datang." Dewa Obat berbicara sambil menatap ke arah benteng.
Suro dan Geho sama langsung berpandangan dan serentak menatap ke arah langit. Suro juga segera mencoba merasakan angin yang bertiup. Mereka berdua kembali berpandangan mata menanggapi ucapan Dewa Obat yang menyebut akan datang badai.
"Badai, apa tidak salah langit hari ini begitu cerah dan angin bertiup dengan biasa, tidak ada tanda-tanda alam yang menunjukkan akan datangnya badai." Geho sama memincingkan mata memandang Dewa Obat.
"Kalian berdua apa tidak mengerti perumpamaan?" Melihat tingkah mereka berdua Dewa Obat segera menyadari dua makhluk didepannya salah mengartikan ucapannya.
"Oooo...perumpamaan..." secara bersamaan mereka mengucapkan kalimat yang sama.
Geho sama dan Suro lalu menepuk jidat mereka masing-masing. Mereka berdua tertawa, karena salah mengartikan ucapan Dewa Obat.
"Badai yang aku maksud adalah mereka!" Dewa Obat menunjuk pasukan dari Perguruan Lembah Beracun yang mulai berdatangan.
Suro menggaruk-garuk kepala melihat kedatangan anggota perguruan Lembah Beracun.
"Untuk apa mereka menyambut kita, apakah tuan pertapa mengenal mereka sehingga menyambut kita seheboh ini? Sepertinya mereka begitu bahagia melihat kedatangan kita?"
Dewa Obat tertawa keras mendengar pertanyaan Suro.
"Tentu saja mereka menyambut kita, tetapi mereka menyambut kedatangan kita tidak dengan bahagia."
Suro masih kebingungan melihat anggota perguruan yang datang begitu banyak. Tetapi dia segera menyadari satu hal yang membuatnya bertambah kebingungan.
"Memang apa yang telah kita lakukan, sehingga mereka datang dengan nafsu membunuh sebesar itu? Bukankah kita tidak melakukan kesalahan apapun."
Suro tidak memahami apa yang terjadi, sebab mereka bertiga belum bertindak apapun. Tetapi seakan pasukan dari Perguruan Lembah Beracun sudah menganggap mereka sebagai musuh yang harus dihabisi sesegera mungkin.
"Bukankah kita masih berada diluar area perguruan mereka?" Suro menggernyitkan dahi melihat para pendekar dari Perguruan Lembah Beracun yang datang dengan niat yang tidak baik.
Sebab mereka berdatangan bersama aura pembunuh. Mengetahui hal itu Suro merasa ada sesuatu yang ganjil.
Walaupun sebelumnya Dewa Obat telah membunuh salah satu tetua mereka, tetapi jaraknya terlalu jauh. Sesuatu yang mustahil ada yang mendahului mereka melebihi kecepatan jurus Langkah Maya miliknya.
"Kalian memang tidak ada urusannya dengan mereka. Pasukan itu datang karena melihat kemunculanku." Dewa Obat tersenyum menatap pasukan musuh yang datang bertambah semakin banyak
"Masalahku dengan perguruan ini sudah berlangsung cukup lama. Sepertinya akan aku akhiri hari ini. Apalagi mereka juga telah mengira kita hendak menyerang perguruan mereka."
"Sepertinya perkiraan mereka memang tidak salah, karena kita memang hendak meratakan perguruan ini," sahut Geho Sama.
Kali ini justru Dewa Obat yang mengernyitkan dahi mendengar Geho sama berbicara seperti barusan.
"Bukankah dirimu sempat memperkenalkan diri dengan sebutan Dewa Segala Tahu kepada tuan Suro? Mengapa kali ini tidak mengetahui tentang adanya ancaman yang diakibatkan bangkitnya Dewa Kegelapan?"
"Aku mengetahui beberapa hal, tetapi aku bukan tuhan mengetahui segala hal," timpal Dewa Obat membalas ucapan Geho sama.
"Mereka yang memiliki kunci langit itu ada hubungan dengan Dewa Kegelapan. Begitu juga dengan perguruan ini, aku yakin mereka merupakan kaki tangan dari Dewa Kegelapan. Meskipun itu kemungkinan tidak secara langsung."
Pembicaraan terhenti, sebab musuh sudah berada dihadapan mereka bertiga. Hujan serangan segera menyambut mereka.
"Habisi Dewa Obat!" Seseorang dari kejauhan berteriak lantang memberi perintah orang-orang Perguruan Lembah Beracun.
"Kalian ingin menghabisiku, mimpi!" Dewa Obat lalu memanggil gandewa Wijaya.
Seperti yang dilakukan saat menyerang Geho sama, begitu gandewa itu direntangkan, maka anak panah langsung muncul.
Anak panah yang tidak pernah meleset dari sasarannya. Bahkan Geho sama sekalipun yang menggunakan Langkah Maya tidak mampu lepas dari serangan anak panah yang terus mengejarnya.
Alhasil mereka yang baru saja datang tubuhnya telah tertembus anak panah dan mati. Tidak kurang dari lima belas orang telah terkapar tak bernyawa oleh serangan Dewa Obat.
"Serang mereka dengan jurus Racun Hitam Delapan Naga!" Lelaki yang memberi perintah berdiri diatas benteng Perguruan Lembah Beracun.
Dia adalah Hong Shan kakak dari Hong Dong yang telah dibunuh oleh Dewa Obat. Dia adalah wakil ketua Perguruan Lembah Beracun.
"Hong Shan si Kodok Sekarat jangan hanya berteriak dari kejauhan! Turun hadapi aku langsung! Biar dirimu segera menyusul adikmu yang baru saja aku habisi!"
Dewa Obat tertawa terkekeh melihat Hong Shan yang berada di kejauhan terkejut mendengar ucapannya barusan.
Hong Shan memiliki gelar sebagai seorang pendekar, dengan sebutan Katak Kematian. Sebutan itu dia dapatkan karena ilmu racun yang dia miliki, yaitu ilmu racun yang berasal dari kitab Katak Dewa Yama.
Setelah mendengar perintah dari Hong Shan pasukan Perguruan Lembah Beracun segera membentuk formasi serangan Racun Hitam Delapan Naga.
Mereka segera mengepung dari empat penjuru arah mata angin. Mereka lalu menggunakan tehnik perubahan air dan racun.
Tidak berselang lama kemudian muncul delapan naga air yang menyerang mereka bertiga dari delapan arah yang berbeda.
Dewa Obat lalu mengerahkan jurus Janu Sahasra atau seribu anak panah. Setiap kali dia melesatkan anak panah, maka secara ajaib anak panah itu menggandakan dirinya. Sehingga dalam sekejap jumlahnya berubah menjadi begitu banyak.
Dewa Obat berkali-kali menarik busur panahnya melepaskan serangan yang tidak terhitung jumlahnya. Dia melakukan itu untuk menggagalkan formasi serangan Racun Hitam Delapan Naga.
Karena Dewa Obat mengetahui kedahsyatan racun yang terkandung didalamnya. Orang yang sudah terkunci oleh jurus itu bukan saja nyawanya yang lenyap, tetapi juga jasadnya akan musnah.
Tetapi karena begitu banyaknya pasukan dari Perguruan Lembah Beracun, sehingga serangan yang dilakukan Dewa Obat tidak cukup berpengaruh. Seolah jumlah pasukan musuh tidak berkurang.
Karena memang pasukan Lembah Beracun terus berdatangan. Jumlah mereka lebih dari lima ratus pasukan yang telah mengepung ketiga orang itu.
Pasukan yang menyerang itu kebanyakan masih sekelas tingkat atas. Beberapa sudah sampai ditingkat Shakti.
Suro menyadari bahaya dari serangan yang menerjang ke arahnya. Dia lalu melesat ke atas mencoba menarik kedelapan naga beracun.
Dia lalu mengerahkan tehnik perubahan air racun seperti lawannya, bedanya dia mencoba mengubah delapan pusaran air beracun itu menjadi sesuatu yang lain. Tehnik yang dia gunakan adalah awal dari jurus Tapak Selaksa Dewa Racun.
Delapan pusaran air yang menerjang ke arahnya dia tarik semua dan justru dibiarkan bergulung mengurung dirinya. Pusaran itu membentuk satu bola pusaran air raksasa. Beberapa saat kemudian pusaran air itu meledak bersama kekuatan Suro.
Pasukan musuh yang baru saja mengerahkan jurus Racun Hitam Delapan Naga belum memahami dengan apa yang terjadi. Tetapi reaksi mereka sudah terlambat.
Sebab pusaran air beracun yang hancur karena ledakan kekuatan Suro telah berubah menjadi ribuan jarum kristal es beracun. Kejadian berikutnya mudah ditebak.
Mayat-mayat bergelimpangan setelah terkena racun yang digunakan Suro untuk membunuh musuhnya.
Dewa Obat terkekeh begitu girang melihat Suro menggunakan jurus dahsyat yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Berbeda dengan Hong Shan yang melihat dari kejauhan.
Dia seakan tidak mempercayai apa yang telah terjadi. Salah satu jurus andalan milik perguruan mereka dapat dipatahkan dengan begitu mudah oleh Suro.
"Hahaha...akhirnya kau tidak mampu mengalahkanku Hong Shan, jurus beracunmu yang kau banggakan, kali ini bukan masalah bagiku. Calon muridku tidak akan membiarkan diriku terluka. Dia akan menjadi lawan terberat bagi kalian!"
Dewa Obat terkekeh dengan begitu girangnya. Itu memang alasan dia begitu bergembira, setelah mengetahui Suro memiliki kemampuan bertahan dari serangan racun.
Walaupun dia memiliki kekuatan astra yang begitu mengerikan, dia tidak memiliki kemampuan menggunakan jurus beracun. Dia juga beberapa kali harus menyelamatkan nyawanya setiap kali bertarung dengan perguruan aliran hitam itu.
Beruntung dia adalah ahli meracik obat. Sehingga dengan keahliannya dia terselamatkan. Dia menyadari, jika penawar racun tidak bisa dibuat secepatnya.
Padahal racun yang ganas membutuhkan penawar secepat mungkin. Jika tidak, maka kemungkinan besar dia tidak akan dapat diselamatkan.
Pernah dia menyerang Perguruan Lembah Beracun secara langsung. Akibatnya dia hampir saja kehilangan nyawanya. Beruntung dia adalah manusia jenis Ciranjiwin yang membuatnya tidak akan mati semudah itu.
Tetapi dia mengetahui betapa berbahayanya racun yang dikuasai perguruan itu. Dia juga memahami batas tubuhnya untuk dapat menahan racun. Karena itu setelah pertarungan terakhir, dia tidak pernah menyerang lagi.
"Hari ini tidak ada alasan bagiku untuk menunda menghancurkan markas kalian!" Dewa Obat terkekeh dengan begitu percaya diri.
Silahkan tinggalkan like komentnya. Jika masuk pemenang vote dua mingguan author akan crazy up minimal 20 ch dah itu saja, ditunggu dukungannya