
Seperti yang telah diperkirakan Suro sebelumnya, jika di negeri Shambala ada sebuah gerbang gaib yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah tempat yang berada di dekat puncak gunung Candramuka atau gunung Merbabu.
Setelah masuk ke gerbang itu mereka telah kembali ke tanah Yawadwipa.
"Paman aku merasa telah terjadi penyerangan di negeri Mataram yang ada di sebelah selatan dari gunung Candrageni."
Mereka tidak melesat terbang untuk menuju ke tempat yang ditunjuk Suro. Sebab dengan pengerahan Langkah Maya telah membuat mereka berada ditempat yang dituju dengan lebih cepat.
Setelah mengalami pencerahan firasat Suro menjadi begitu kuat, sehingga saat mereka sampai di bumi Mataram tempat itu memang sedang diserang para manusia kelelawar yang hendak menjadikan para manusia sebagai makhluk kegelapan.
Hal itu bisa diketahui, sebab para manusia kelelawar yang terbang berseliweran di kota raja kerajaan kecil itu menangkap setiap orang yang berada di dalam jangkauannya.
Saat ini masih tahun 602 Masehi daerah Mataram masih berupa kerajaan kecil. Tetapi nanti sekitar tahun 709 Masehi seorang Raja bernama Bratasenna atau juga dikenal dengan nama Raja Sanna mulai memimpin. Dia menggantikan ayahandanya yang bernama Jalantara.
Sang Sena atau Sanna adalah putra Sang Jalantara, Prabu Suraghana atau Rahyang Mandiminyak. Dia juga cucu dari Wretikandayun pendiri kerajaan Galuh. Secara tidak langsung dia juga cicit dari Raja Kandiawan Raja Kerajaan Kendan, karena Wretikandayun adalah anaknya.
Raja Kandiawan sendiri adalah putra dari Raja Putra Suraliman, atau cucu dari pendiri Kerajaan Kendan, yaitu Raja Maha Guru Manikmaya. Sedangkan Maha Guru Manikmaya sejatinya adalah seorang maharesi dari India. Dia juga menantu dari Raja Kertawarman penguasa Kerajaan Tarumanegara yang kedelapan.
Setelah Raja Sanna meninggal dikemudian hari, lalu diteruskan oleh keponakannya sendiri yaitu Raja Sanjaya. Dikemudian hari dialah yang disebut sebagai pendiri wangsa Sanjaya.
Mata Suro menyapu ke seluruh penjuru kota raja kerajaan Mataram. Karena saat itu pasukan kegelapan telah menyebar dan menyerang di setiap penjuru kota kerajaan.
Sesuai pengarahan yang dijelaskan Sang Hyang Ismaya kekuatan dari pasukan kegelapan seperti manusia kelelawar dapat dihancurkan dengan pengerahan ilmu Saifi Bayu, Saifi Geni, Saifi Banyu, Safi bumi secara bersama-sama oleh keempat raga sejati atau sedulur papat.
Itulah mengapa Sang Hyang Batara Narada meminta Suro untuk datang menemui Sang Hyang Ismaya untuk mendapatkan ilmu linuweh dan juga wedar kaweruh. Sekaligus meminta pusaka Mandala Kalacakra miliknya.
Tanpa menunggu lama baik Dewa Rencong maupun Geho sama segera menyerang pasukan kegelapan. Suro juga langsung mengikuti mereka dengan jurus api hitam miliknya. Kali ini dia tidak lagi terbang menggunakan bilah pedang yang sekarang telah tergenggam ditangannya. Dia bahkan menggabungkan tehnik Langkah Maya untuk menyerang musuhnya.
Penggabungan tehnik itu membuat serangan yang dilakukannya ampuh menghabisi pasukan kelelawar dan juga pasukan naga.
Serangan yang dilakukan pasukan kegelapan kali ini diikuti oleh pasukan darat yang berupa para prajurit yang pernah dilihat Suro saat berada di alam kegelapan, yaitu pasukan yang menaiki semacam badak raksasa dengan tanduk yang mengelilingi lehernya seperti kipas.
Pasukan darat itu sibuk membawa para penduduk yang tertangkap. Mereka dinaikan keatas tunggangannya dan kemudian dibawa masuk ke dalam gerbang gaib.
Tindakan mereka bertiga telah membuat kalang kabut pasukan kegelapan yang sedang mengobrak Abrik seluruh kota raja.
Bala bantuan dari dalam gerbang gaib segera berdatangan. Perlawanan para naga yang baru berdatangan segera dilibas kekuatan Suro dengan kekuatan Naga Taksaka.
Semburan api merah dari para naga tidak mampu mengalahkan panasnya api hitam milik Lodra. Para manusia kelelawar dan yang lainnya juga berupaya mengepung mereka bertiga. Tetapi itu justru dimanfaatkan oleh Suro untuk menghabisi mereka dengan lebih cepat.
Setelah melihat kemampuan mereka bertiga yang dapat menghabisi tubuh mereka yang tak dapat dibunuh dan juga dapat mendesak seluruh pasukan, akhirnya beberapa manusia kelelawar segera memberikan sebuah kode dengan suaranya yang melengking keras.
Berduyun-duyun pasukan yang menyebar di seantero kota kerajaan segera masuk ke dalam gerbang gaib.
Pasukan kerajaan yang sejak awal berusaha mengusir mereka akhirnya bernafas lega. Walaupun saat memberikan perlawanan kepada makhluk kegelapan itu, kebanyakan dari mereka justru ditangkap.
Penduduk yang ketakutan bersyukur serangan makhluk yang begitu mengerikan akhirnya berhenti. Beberapa punggawa kerajaan dan juga pendekar yang salah satunya telah mencapai tingkat shakti menjura kearah mereka bertiga.
Saat melihat tubuh Gagak setan dengan tubuh menjulang tinggi melebihi dua kali manusia dewasa sedikit membuat mereka ngeri. Tetapi dengan tindakannya mengusir para pasukan kegelapan membuat mereka yakin, jika manusia atau makhluk didepannya itu berpihak kepada mereka.
"Hamba Bekel Banyu biru mewakili masyarakat kota raja mengucapkan terima kasih yang tak terkira banyaknya atas bantuan tuan pendekar Dewa Rencong dan juga rekan tuan yang telah menyelamatkan kota kerajaan kami dari kemusnahan. Berkat bantuan tuan pendekar semua, serangan dari para makhluk mengerikan itu akhirnya dapat dihentikan."
Suro memilih terdiam dan membiarkan Dewa Rencong yang menjawab ucapan punggawa kerajaan itu. Nama Dewa Rencong tentu lebih dikenal dikalangan dunia persilatan dibandingkan Suro yang tidak banyak mengenal kecuali orang-orang tertentu yang dekat dengannya atau orang dari Perguruan Pedang Surga.
"Sebenarnya kejadian seperti ini sudah berlangsung hampir setengah purnama ini tuan pendekar Dewa Rencong."
"Mengapa kalian tidak meminta pertolongan kepada kerajaan besar atau kepada Perguruan Pedang Surga?"
Lelaki itu sejak Dewa Rencong bertanya membuatnya menaikan alis. Dia seperti merasa apa yang dikatakan Dewa Rencong sedikit aneh.
"Maaf pendekar, apakah tuan pendekar tidak mengetahui jika serangan seperti ini sudah melanda seluruh tanah Yawadwipa ini?"
"Kabarnya negeri Champa dan sekitarnya justru telah dikuasai sepenuhnya oleh pasukan yang menyerupai mereka."
Perkataan lelaki itu tentu saja membuat Suro dan Dewa Rencong terkejut. Suro teringat dengan nasib perguruan Pedang Surga yang telah dia tinggalkan.
Dari arah belakang para punggawa itu sesosok lelaki berlari dengan ilmu meringankan tubuh cukup tinggi disusul beberapa punggawa kerajaan yang lain.
"Sembah nuwun Kanjeng Adipati. Merekalah pendekar yang berhasil mengusir para pasukan neraka yang baru saja menghancurkan kota kerajaan ini!" Punggawa yang sebelumnya berbicara dengan Dewa Rencong menjura dengan dalam sebelum menjelaskan kepada sosok yang dipanggil Adipati itu.
Setelah mendapatkan penjelasan dari punggawa barusan sosok yang dipanggil sebagai Adipati menatap kearah Dewa Rencong dan juga Suro. Pada saat menatap Gagak setan pandangannya sedikit berubah ngeri, seperti melihat makhluk jadi-jadian.
Sebab wujudnya yang begitu besar dan bentuknya yang tidak lazim tentu sesuatu hal yang janggal. Tetapi dia menutupi itu dengan anggukan kecil sebagai tanda terima kasih.
"Tuan pendekar ini memiliki julukan Dewa Rencong dari bukit Lamreh." Lelaki yang menyebut dirinya Bekel Banyu biru kembali menjelaskan kepada sosok Adipati didepannya.
"Sedangkan tuan pendekar dibelakang yang begitu gagah dan juga nakmas yang begitu tampan hamba kurang mengetahuinya."
"Nama hamba Suro Bledek paman dan disampingku ini bernama Gagak setan." Suro menanggapi ucapan Bekel Banyu biru dengan tersenyum.
"Apakah para penduduk dan prajurit yang ditangkap semuanya dibawa masuk ke dalam gerbang gaib paman?" Suro kali ini bertanya kepada Bekel Banyu biru, sebab saat mereka baru sampai dan selama pertempuran yang terjadi baru saja, dia melihat pasukan kegelapan membawa banyak tubuh manusia diatas punggung makhluk seperti badak masuk kedalam gerbang gaib.
Selain itu dia juga melihat berkali-kali manusia kelelawar masuk kedalam gerbang gaib dengan memanggul tubuh manusia dipundaknya.
"Benar nakmas pendekar, bukan hanya disini. Dibeberapa tempat yang diserang makhluk seperti yang menyerang kota kerajaan ini hampir seluruh penduduknya dibuat seperti pingsan. Kemudian dibawa menghilang masuk ke tempat yang tuan sebut sebagai gerbang gaib itu."
Suro mendengarkan penjelasan Bekel Banyu biru dengan cermat mencoba memahami apa yang sebenarnya direncanakan oleh Dewa Kegelapan.
"Ingsun sebagai Adipati mengundang tuan pendekar sekalian untuk menghadap kepada raja kami. Agar mendapatkan imbalan besar karena telah membantu mengusir makhluk terkutuk yang telah menyerang kerajaan kami." Adipati itu menatap ke arah Dewa Rencong berharap pendekar itu tergiur dengan iming-iming hadiah besar.
Dengan melihat kemampuan mereka bertiga yang dapat mengusir para pasukan kegelapan dengan begitu cepat, tentu akan menjadi pelindung kerajaan mereka dari serangan susulan para pasukan kegelapan.
Tetapi ucapan yang keluar dari Dewa Rencong justru seperti mengacuhkan ucapan Adipati itu. Sebab dia justru menoleh ke arah pemuda belia dibelakangnya.
"Apakah kita akan mengejar mereka ke alam kegelapan bocah?"
"Tidak paman, kita sebaiknya kembali ke perguruan pusat Pedang Surga. Aku khawatir jika tempat itu ikut diserang. Selain itu aku hendak mengejar eyang guru. Aku harus menyelamatkan sesegera mungkin dirinya!"
"Tanpa mengurangi rasa hormat, kami tidak dapat memenuhi tawaran Kanjeng Gusti Adipati. Mohon maaf jika kami lancang menolak tawaran kanjeng Gusti Adipati yang begitu baik, tetapi kami ada urusan yang harus kami selesaikan secepatnya." Dewa Rencong membalas ucapan Adipati dengan ditutup gerakan menjura hormat.
Walaupun sedikit kecewa dengan jawaban yang diberikan, namun Adipati dan para punggawa kerajaan yang ada tetap memberikan senyuman. Sebab tanpa kehadiran mereka tentu tidak akan ada sisa di kota itu.
Setelah pamit, Suro segera mengerahkan Langkah Maya, dalam sekejap mereka bertiga telah menghilang dari pandangan mereka semua. Kejadian yang mengagumkan itu tentu membuat mereka kagum, mereka tidak menyangka jika para pendekar memiliki ilmu yang begitu tinggi.
Tujuan mereka untuk saat ini adalah memastikan Perguruan Pedang Surga dalam keadaan aman. Setelah itu Suro akan mengejar dimana eyang gurunya berada.