
Arimbi kembali mencecar serangan ke arah lawannya dengan lebih dahsyat. Seakan tak memberi jeda kini dia menyerangnya dengan dua larik benang atau entah semacam kawat yang bisa sebegitu kuat dan tajamnya. Bahkan pedang dari Gayatri tak mampu memotongnya.
Serangan Arimbi yang bergulung-gulung semakin rapat membuat tubuh Gayatri harus berjumpalitan berkali-kali. Bahkan terpaksa badannya harus berguling-guling dilantai arena dengan cepat. Dia lakukan itu untuk menghindari jeratan larik benang yang mengejarnya.
Sriiiing!
Beradunya antara benang Arimbi dan bilah pedang Gayatri menimbulkan suara begitu kencang membuat ngilu yang mendengarnya. Gayatri berkali-kali harus menepis serangan benang yang bergulung begitu dahsyat.
"Awasss Gayatri!"
Setiap serangan Arimbi yang begitu mematikan hampir tak mungkin dihindari menurut mata penonton. Membuat mereka berteriak dengan begitu histeris meneriakan nama pujaanya yang seakan sudah berada diujung maut.
Jenis serangan Arimbi yang berupa benang yang mampu meluncur sejauh tiga tombak tentu saja membuat Gayatri kesulitan mendekati lawannya. Gayatri yang menyerang dengan serangan jarak pendek dibuat seakan tak berdaya untuk memberikan serangan balik.
Jarak yang terdekat yang mampu dicapai Gayatri untuk mendekati lawannya hanya sampai satu tombak saja. Setelah itu serangan benang yang bergerak mengulung dengan rapat menutup kemungkinan itu. Gayatri harus kembali berjumpalitan mengurungkan niatnya melangkahkan kaki lebih dekat ke arah lawannya.
Tring! Tring! Tring!
Tiga jarum meluncur kearah Arimbi dengan kuat, mampu menerobos rangkaian gerakan benang yang bergulung-gulung. Pedang pendek Arimbi menangkis dengan lihai tiga jarum Gayatri yang mengarah titik-titik vitalnya.
Kesempatan itu digunakan Gayatri menerobos pertahanan Arimbi. Kembali cecaran jurus pedangnya yang unik menghajar Arimbi dengan cepat. Sepertinya kesempatan bagus tidak ingin disia-siakan.
Trang! Trang!
Arimbi yang terkejut pertahanannya telah diterobos segera melakukan perlawanan dengan cepat mencoba menguasai situasi kembali. Tangan kanannya yang memegang bilah pedang pendeknya digunakan untuk menangkis pedang lawan. Tangan kirinya bergerak selaras dengan gerakan pedang ditangan kanan.
Kemampuan bertempur para dara begitu mengagumkan bahkan para peserta pria yang melihat dibuat terkagum-kagum.
"Aku tak mengira dara yang bernama Arimbi yang terlihat polos bisa begitu hebat. Apalagi dari perawakannya masih seumuran dengan anak muda yang kemarin dicecar oleh Rithisak Somnang. Masih begitu muda tetapi mampu memainkan jurus yang begitu ganas." Mahesa berbicara dengan teman duduknya yang berada disebelahnya, yaitu Jaladara. Dia tersenyum tidak langsung menjawab.
"Maksudmu Suro?"
"Iya benar Suro, maksudku dia! Kemana dia hari ini aku tidak melihat sedari tadi? Aku tidak mengira dia benar-benar kenal dekat dengan Sang Ketua Perguruan, Dewa Pedang."
"Iya benar aku juga tidak menyangka dia murid utama ketua sekte. Bahkan sejak dari awal aku merasa ada sesuatu yang misterius dengan keberadaanya." Jaladara menimpali perkataan Mahesa yang kembali menatap jalannya pertarungan dengan penuh konsentrasi.
Gerakan Gayatri yang meniru pergerakan ular begitu cepat menghindari serangan benang yang mencoba membelit tubuhnya. Dia menghindari jeratan dan sabetan benang sambil menyerang lawannya.
Gerakan tubuhnya meliuk menyerupai seekor ular sanca kembang membuat dirinya lolos dari serangan Arimbi. Serangan pedangnya yang sangat cepat mencecar keseluruh tubuh Arimbi mematuk-matuk seakan serangan seekor ular.
"Hajar Gayatri!"
Teriakan para penonton bertambah heboh saat serangan Gayatri mengenai sasaran.
Serangan pedang yang akurat membuat beberapa bagian tubuh Arimbi sobek. Walaupun sebagian hanya mengenai pakaiannya sebab dia langsung tersurut kebelakang dengan cepat.
Hiaat...!
Teriakan Gayatri menyertai serangannya yang lebih gencar memburu lawannya yang ingin kabur. Gayatri menyadari Arimbi mencoba menjauh untuk membuat jarak, agar dia bisa membuat serangan benangnya lebih leluasa.
Gerakan Gayatri adalah ilmu kanuragan yang bersumber dari kitab air yang bersifat mengalir dan merembes seperti sifat unsur air. Seberapa kecil peluang yang ada dia akan masuk.
Gerakannya berdasarkan unsur air yang bersifat yoni yaitu lembut, dan pasif. Seperti sifat yoni, air juga kadang pasrah dan bergerak mengikuti alur jalan. Tidak melawan bahkan mengikuti bentuk wadah.
"Apakah Tetua mengenali sumber tenaga dalam dari dara yang bergerak seperti ular itu?" Tetua Tunggak Jati bertanya ke arah Wakil Perguruan Pedang Surga.
"Arus chakra yang mengalir mengikuti tata cara dalam Kitab Air." Wakil Ketua Perguruan Eyang Udan Asrep menjawab sambil pandangannya mengamati lebih teliti ke arah Gayatri yang begitu lincah menghindari serangan Arimbi.
"Jika saja dia bisa sempurna dalam pengerahannya dan pemahamannya tentang kitab air. Aku yakin dia bisa membaca gerakan lawan dan menghindari serangan lawannya yang menderu begitu mengerikan."
"Saya juga sependapat dengan tetua. Walau serangan yang memakai benang-benang itu terlihat rapat, tetapi itu bukan halangan berarti jika saja dara itu memahami kitab air dengan baik. Aku rasa bukan hal yang sulit bagi dia untuk mematahkan jurus itu."
"Siapa nama tetua cabang yang menjadi gurunya? Eyang Udan Asrep balik bertanya ke arah tetua yang mengajaknya berbicara.
"Aku mengenalnya sebagai Ki Sangkan Paran."
"Hmmmm..! Pantas saja sepertinya dari awal aku merasa kenal dengan jurus ini." Eyang Udan Asrep menganguk-anguk sambil mengelus-elus jenggotnya yang hampir keseluruhannya telah memutih. Seperti rambutnya yang digelung diatas umbun-umbunnya juga sudah memutih.
"Apakah anda mengenalnya?"
"Ki Sangkan Paran pernah menggelar jurus itu saat menghadapi jagoan golongan hitam."
"Apakah itu pertempuran terkait kabar munculnya pusaka Deva?"
"Benar sekali! Apakah tetua Tunggak Jati tidak ikut? Mohon maaf jika pertanyaanku menyingung. Sebab waktu itu kondisi begitu kacau balau terlalu banyak orang yang terlibat dan lokasi dihutan yang begitu lebat. Sehingga sebagian orang berpencar-pencar menjadi beberapa kelompok. Makannya aku tidak bisa bertemu dengan semua orang. Selain itu sudah terjadi cukup lama."
"Pada saat itu aku tidak bisa bergabung karena sedang ada di negeri sebrang ada tugas lain yang aku emban. Jika bukan urusan pemilihan tetua muda ini tentu aku masih dinegeri sebrang. Lalu bagaimana kelanjutannya dengan pusaka Deva yang sempat diperebutkan itu?"
"Entahlah tidak ada yang pernah melihat wujud dari pusaka itu. Tetapi penampakan pulung(sebentuk cahaya yang terbang diatas langit) itu disertai sebuah kekuatan besar yang mampu dirasakan para pendekar hampir sejauh ribuan lie."
"Berarti berita tentang Pusaka Deva yang menjadi sebab musabab pertempuran di hutan Mahameru itu benar?"
"Entahlah? Dewa Pedang sepertinya juga tidak peduli kebenaran dari berita yang menyebar. Tujuan dia hanya memastikan bahwa golongan hitam tidak mendapatkan pusaka tersebut."
"Dengan tidak ada yang menemukan wujud dari pusaka tersebut. Maka sama saja sudah membantu misi Dewa Pedang mencegah pusaka Deva diperoleh golongan hitam."
"Tentang benar atau tidaknya keberadaan pusaka Deva itu sebagian sudah terlanjur menganggabnya hanya sebagai berita palsu belaka."
"Lalu bagaimana dengan pendapat tetua yang pada saat itu ada? Pasti menemukan jejak atau petunjuk walau sekecil apapun."
"Aku diperintahkan oleh Dewa Pedang untuk secepatnya mengejar jatuhnya cahaya yang membelah Tlatah Javadwipa."
"Sesudah hampir lebih dari dua purnama mencari bersama pasukan sekte yang berjumlah tidak seberapa, akhirnya kami menemukan kemungkinan tempat jatuhnya pusaka Deva tersebut."
"Aku menemukan banyak jejak yang tertinggal. Karena pada malam penampakan pulung itu sepertinya sedang terjadi hujan yang cukup deras."
"Aku yakin seseorang sudah mengambilnya lebih dahulu."
"Para tetua dan murid-murid kelas tinggi dari perguruan cabang kemudian berdatangan dari Blambangan, Daha, Medang dan lainnya juga hadir. Bahkan kemudian baru aku tau ternyata Dewa Pedang ikut menyusul bersama pasukan besarnya. Dia mendengar Jagoan golongan hitam dari Ararat bersama pasukan naganya telah mengarah ke hutan Gunung Mahameru."
"Setelah itu mudah diduga kelanjutannya pertempuran akhirnya tidak dapat dielakkan."
Trang! Trang!
Suara pedang beradu berasal dari tengah arena menghentikan pembicaraan kedua tetua itu. Gayatri yang terus merangsek ke arah Arimbi. Sepertinya dia tidak memberikan peluang lawannya untuk membuat jarak.
Sriing!
Suara pedang yang menepis serangan gelombang benang dari Arimbi telah menyelamatkan lehernya sehingga tidak terpenggal. Sebagai gantinya sebagian riapan tambutnya yang dia kuncir dibelakang tak mampu diselamatkan. Seperti tergunting saat benang itu melewati rambut yang berkelebat mengikuti gerakan kepala Gayatri.
Bisa dibayangkan seberapa tajam dan kuatnya benang itu. Rambut adalah bagian tubuh yang paling liat dan ulet tidak mudah dipotong. Apalagi dalam kondisi yang hanya satu klebatan benang itu telah memapas rambut yang kebetulan dilewatinya. Walau saat itu Arimbi memang sedang menarik keras benangnya mencoba menjerat leher lawannya.
Posisi Gayatri yang membelakangi Arimbi segera berputar balik dengan tubuh sengaja dijatuhkan sambil menendang punggung Arimbi.
Tubuh Arimbi yang tertendang membuat dia terjungkal ke depan. Dalam kondisi sama-sama ditengah udara dia segera memutar badannya sambil tangan kanannya melemparkan bilah pedangnya ke arah gayatri. Tangan kirinya ikut menyusul menyabetkan larikan benangnya dan bergulung-gulung kearah Gayatri.
Daya sentakan satu benangnya yang meluncur deras ke arah Gayatri mampu dihindari. Berikut bilah pedangnya yang meluncur deras ke arah kepalanya mampu dia tangkis.
Tetapi satu serangan susulan dari Arimbi yang sedikit berbeda dari serangan sebelumnya. Tangan kanannya yang sudah tak lagi memegang bilah pedang secara hampir bersamaan dengan dua serangan sebelumnya melabrak cepat ke arah ulu hati Gayatri. Semua terjadi dengan begitu cepat hanya setengah dari satu tarikan nafas.
Serangan terakhir itu berbeda meluncur dengan cepat karena diujungnya terdapat bandul pemberat. Sehingga kecepatan luncurannya seakan tembakan sebuah meriam. Ditambah jaraknya terlalu dekat membuat serangan itu sangat susah diantisipasi.
"Aaaakh!"
Suara Gayatri yang seakan tercekat menyertai gerakan tubuhnya yang terlempar jatuh dilantai arena. Serangan Arimbi menghantam dengan telak ke arah Gayatri.
Tetua La Patiganna segera menghentikan pertarungan dan langsung memeriksa kondisi Gayatri yang masih terkulai dilantai tak bergerak.
Teriakan histeris para bujang lapuk mengema memenuhi koridor dan podium sekeliling arena.
Para pasukan aki-aki tak kalah gempar sebagian bahkan ada yang sampai pingsan tak kuat melihat bidadari khayangannya terkulai dilantai tak bergerak lagi.
Walau kebanyakan para aki-aki itu kebanyakan pingsan justru setelah melihat penampakan yang mengakibatkan kelakian mereka tak mampu lagi ditanggung raganya yang sudah melewati jamannya. Beruntung centong sakti para nini-nini begitu gencar memijit kepala para aki-aki. Pijatan yang membawa angin segar itu segera membuat para aki-aki siuman. Walau dengan benjolan-benjolan dikepala sebesar bakpao akibat dari pijatan centong sakti para nini-nini yang penuh kemesraan.
Tubuh Gayatri yang terlentang dilantai pada beberapa bagian tubuhnya yang terlihat putih bersih menyembul telah membuat para bujang lapuk mutah darah. Sungguh ironis nasib mereka yang tak semujur para aki-aki, yang segera ditolong para nini-nini dengan pijatan mesra centong saktinya.
Pertempuran yang panjang antara dua bidadari itu benar-benar menguras energi dan konsentrasi para penonton. Hentakan hasrat para bujang lapuk dan aki-aki yang sudah memuncak diubun-ubun telah membuat mereka kelelahan. Sehingga serasa tidak mau kalah dengan pujaannya mereka menyusul ikut pingsan secara bersamaan.