
Serangan pedang Narashinga menerjang dengan dahsyat. Selain serangan bilah pedangnya, tendangan berikut pukulan Narshinga ikut menyertai. Tetapi semua dapat ditepis dengan mudah. Walau dilakukan dalam keadaan dirinya tak terlihat sekalipun.
Penonton banyak yang kecewa. Karena hanya mendengar suara dentingan bilah pedang beradu tanpa melihat pertarungan yang terjadi. Itu semua disebabkan kabut yang menutupi area pertarungan benar-benar sangat tebal bahkan melebar sampai ke arah penonton yang berada didekat pinggir arena.
Padahal saat itu matahari sedang bersinar dengan teriknya. Meski belum sampai persis diatas kepala. Tetapi dalam kondisi seperti itu tidak banyak membantu para penonton untuk menyaksikan jalannya pertarungan. Pengerahan tenaga dalam Narashinga untuk membuat kabut memang begitu mengagumkan. Tak salah dia sesumbar tingkatannya jauh diatas pencapaian Narashoma.
"Kali ini dirimu tak akan selamat dari seranganku. Karena tidak akan ada yang tau apa yang aku lakukan padamu beberapa saat lagi, kisanak. Berdoalah kepada Sang Hyang widhi wasa. Karena sebentar lagi nasibmu akan tamat." Suara dari Narashinga terdengar jelas dikuping Suro seperti berbisik disampingnya.
Sepertinya kali ini kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Suro segera menyadari Narashinga yang berada didepannya berjarak sepuluh langkah, melakukan pengerahan ilmu yang berbeda untuk serangan dia kali ini.
Braak!
Duum!
Kabut yang setinggi lebih dari setengah tombak (satu tombak setara 3.75meter) tidak membiarkan siapapun bisa menyaksikan apa yang terjadi. Hampir mereka semua terkejut dengan suara keras yang menghentakkan jantung. Suara seperti tanah rengkah dan disusul suara dentuman seakan sebuah godam raksasa menghantam bhumi dengan begitu kuat. Efek dentuman itu mampu mengetarkan seluruh podium.
Braak! Duum!
Mereka semua masih bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Sebab selang tidak beberapa lama kemudian kembali suara dentuman yang begitu keras menghantam bhumi secara terus menerus. Hampir saja terjadi kepanikan diantara penonton dari kalangan awam. Mereka pikir sedang terjadi sebuah gempa bumi. Beruntung orang-orang sekte dapat menenangkan penonton dan menjelaskan itu adalah akibat pertarungan di arena.
Getaran dan suara keras masih terus terdengar dari tengah arena. Setelah suara hentakan yang begitu keras, dentingan bilah pedang yang beradu sudah tak terdengar lagi. Hentakan yang berkali-kali membuat tempat duduk mereka bergetar keras. Entah tehnik apa yang dilakukan para peserta, seakan ada raksasa yang sedang mengamuk ditengah arena. Karena dari dentuman suara yang ditimbulkan mampu mengetarkan tempat duduk mereka dengan begitu kencang.
Suro belum memahami serangan apa yang dilakukan lawannya. Tetapi dia merasa sesuatu benda menerjang ke arahnya dengan begitu deras. Suro tidak melihat dan tak bisa meraba karena benda tersebut terbang meluncur diatas udara. Dia hanya tau ada serangan yang tak terlihat dari arah Narashinga sehingga menimbulkan siutan angin. Sebuah suara berasal dari terjangan benda yang memecah angin memberi sinyal bukan hanya satu tapi sekumpulan sesuatu yang bergerak cepat.
Braaak! Duuum!
Suro menyadari bahaya yang bersembunyi dari serangan lawan kali ini. Segera dia mengerahkan tehnik pengendalian bhumi dinding tanah yang dia ciptakan dari lantai arena dia angkat menahan serangan lawan.
Setiap serangan itu datang dia tidak mau ambil resiko segera dinding tanah berikutnya dia angkat kembali. Lalu dihempaskan kebawah secepat mungkin menimbulkan dentuman yang begitu kencang. Secara terus-menerus Suro menghalangi serangan Narashinga yang menerjang ke arahnya.
Setelah serangan Narashinga seakan tak ada habisnya secara terus menerus membuat Suro sadar. Akhirnya dia menyadari lawan menyerangnya dengan sesuatu yang bukan berasal dari senjata rahasia. Tetapi dia merasa bahwa lawannya menyerang mengunakan tehnik khusus yang membuatnya tidak akan kehabisan senjata rahasianya. Suro akhirnya memutuskan untuk mengakhiri serangan lawan dengan menyerang si empunya jurus yaitu menyerang Narashinga langsung.
Braak!
Seiring dengan suara itu terlontar tubuh Narashinga dari lantai. Para penonton yang melihat tubuh Narashinga terbang keluar dari kepungan kabut dengan gerakan indah bersalto diudara membuat takjub penonton. Sebelum kemudian sebuah dinding tanah meluncur dari bawah, menghantam tubuhnya yang sedang bersalto diudara itu.
Tetapi apa yang dilakukan Narashinga sungguh luar biasa, meski dalam keadaan bersalto dia dapat menjadikan terjangan tanah yang tiba-tiba muncul itu sebagai pijakan. Kemudian tubuhnya terlontar kembali tanpa membuat tubuhnya cidera.
"Bagaimana mungkin kamu bisa dengan begitu mudahnya menemukan keberadaanku? Baru kali ini ada manusia yang masih bisa melihat dalam kondisi kabut sebegini tebalnya." Setelah terhantam itu Narashinga mendarat dilantai arena membuat tubuhnya kembali hilang tertutup kabut.
"Sejak awal aku tidak mengatakan melihat untuk menemukanmu senior."
Narashinga tidak mengerti dengan perkataan Suro. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan dirinya tanpa melihat. Dengan indera pendengaran juga tidak mungkin karena riuhnya para penonton pasti akan mengganggu konsentrasi seseorang yang berusaha menemukan dirinya dengan indera pendengaran. Suro tak melihat lawannya dengan kedua matanya. Tetapi melalui indera perasa dikakinya dia merasakan getaran ditanah.
Kali ini dia mewaspadai serangan lawan berupa serangan yang mampu terbang dalam jumlah yang tak terhitung. Setelah diperhatikan serangan yang dilancarkan lawannya adalah jarum-jarum es yang dibentuk dari air yang terkandung didalam kabut.
Sosok lawannya yang barusan berbicara kembali menyerangnya dengan tehnik pengendalian es. Ratusan jarum-jarum yang terbuat dari air yang terkandung dalam kabut segera menghajar ke arah Suro.
Braak! Braak Braak!
Jarum yang menerjang entah berapa banyak. Narashinga berusaha menyerang dari berbagai arah. Tetapi dinding tanah itu mampu menahan semua serangan Narashinga.
Narashinga sebenarnya begitu terkejut dengan kemampuan lawannya. Dia tidak menyangka kekuatan lawannya begitu mengerikan. Pantas saja sejak awal dia terlihat begitu percaya diri menghadapi dirinya. Bahkan dia baru kali ini melihat orang yang mampu menerapkan kitab bumi dengan tehnik yang sebegitu mengerikan.
Penonton begitu takjub dengan penampakan ujung dinding tanah yang berwujud seperti tiang-tiang besar mulai terlihat bermunculan. Hal itu terjadi secara perlahan setelah Narashinga tidak lagi mengerahkan tehnik kabutnya.
Narashinga terlihat sedang berdiri diatas dinding tanah menatap Suro yang berada dibawah.
"Jadi ini ilmu simpananmu yang bersumber pada kitab bumi. Lalu untuk apa kisanak masih tertarik dengan tehnik yang aku miliki?
"Hahaha mohon maaf senior jika aku penasaran dengan tehnik yang senior miliki."
"Bukankah tenaga dalam yang kisanak miliki bersumber pada unsur bumi? Sangat bersebrangan dengan tehnik pengendalianku yang bersumber pada unsur air. Untuk apa mempelajari tehnik yang tidak berguna untuk kemajuan tenaga dalam kisanak?"
"Benar senior tetapi entah anugerah atau kesialan dalam chakra muladarmaku terkandung sembilan unsur alam. Jadi setiap tehnik pengendalian alam dapat aku pelajari dan akan berguna untuk meningkatkan kekuatan tenaga dalamku."
"Jadi begitu, pantas Dewa Pedang mengangkatmu menjadi muridnya karena persamaan kondisi yang kalian miliki."
Selesai Narashinga berbicara sekeliling tubuhnya kembali mengepulkan asap kabut. Kemudian kabut itu dirubah menjadi benda-benda yang jika dilihat dari jauh memantulkan sinar matahari. Sehingga saat memantulkan cahaya seperti benda yang berkilauan. Sesuatu yang berkilauan itu adalah kabut yang dipadatkan sampai sebegitu keras sehingga mengkristal membentuk wujud jarum, berjumlah begitu banyak sampai tak terhitung jumlahnya.
'Ini salah satu tehnik pengembangan dalam kitab air yang luar biasa. Ternyata mempelajari tehnik pengendalian alam lebih gampang jika melihatnya secara langsung pada orang yang sedang mempraktekkan tehnik tersebut. Tentu saja lebih mudah dibandingkan mempelajari dari membaca kitabnya langsung.'
'Sebuah tehnik pengendalian air yang digabung dengan pengendalian es yang luar biasa. Baru aku paham sekarang jadi seperti itu cara membentuk jarum-jarum yang sedari tadi digunakan untuk menyerangku.' Suro membatin sambil tersenyum puas setelah mengetahui tehnik pengendalian air dan es yang diperlihatkan lawannya.
'Tidak percuma aku mengulur-ulur waktu agar bisa mempelajari tehnik yang dia miliki.' Suro menggerakan lehernya ke kanan dan kekiri dan merenggangkan kedua telapak tangannya kedepan, seperti sedang melakukan pemanasan sebelum latihan fisik.
"Terimakasih senior atas pencerahan yang senior perlihatkan dalam pengendalian tehnik air dan es milik senior!" Suro berteriak ke arah Narashinga yang masih berdiri diatas tiang yang tinggi. Dia sepertinya telah selesai membentuk ratusan jarum yang melayang diudara. Narashinga terkejut dengan perkataan Suro. Menjawab keterkejutannya segera setelah itu serangan jarum yang barusan dia bentuk menyerbu ke arah Suro dengan begitu dahsyat.
Seiring dengan serangan jarum yang menerjang ke arahnya, secepat kilat Suro juga segera mencoba tehnik dari pencerahan yang barusan dia dapatkan. Kemudian dia mulai menghimpun kabut yang masih terlihat sedikit lebih tebal disekitar lantai area pertarungan. Kabut itu seperti tersedot ke arah Suro. Kemudian dengan cepat mulai berputar dan membentuk lapisan padat didepannya.
Trak! Trak! Kraak!
Serbuan jarum-jarum kecil yang meluncur kencang ke arah Suro menghantam lempengan es yang dibentuk Suro secepat yang dia bisa. Lempengan es segera hancur. Beruntung sebelum jarum-jarum itu menembus tubuhnya sebuah dinding tanah telah menahan lajunya.
'Edan bagaimana bocah ini bisa meniru secepat ini tehnik es yang baru saja dia pelajari. Makhluk apa sebenarnya bocah ini?' Narashinga membatin, dirinya begitu takjub dengan apa yang Suro lakukan barusan.
"Sukur..sukur..beruntung aku masih sempat mengangkat lantai tanah sebelum jarum itu menembus tubuhku." Suro berbicara sendiri sambil mengelus-elus dadanya.
"Jarum yang senior buat ternyata begitu keras sampai bisa menembus lapisan es yang aku buat!"
"Bagaimana mungkin kisanak bisa secepat ini membentuk lapisan es yang berasal dari pengendalian es?"
"Tentu saja senior seperti yang aku katakan sebelumnya aku bisa mengendalikan seluruh unsur alam. Seluruh kitab mengenai pengendalian unsur alam semua sudah aku baca hanya perlu sedikit lagi tambahan pemahaman yang mendorongku untuk bisa melakukan pengendalian unsur ini. Tentu semua ini terjadi berkat senior yang telah memperlihatkan caranya."
Narashinga menggerung setelah melihat tehnik ilmunya sudah ditiru lawannya. Selain itu sebenarnya Narashinga merasa aneh dengan jalan pikiran lawan yang ada didepannya itu. Dalam keadaan bertarung justru sibuk mempelajari tehnik yang dimiliki lawannya. Tetapi dia juga dibuat kagum. Bagaimana tidak, dengan hanya melihat dia melakukan tehnik itu, langsung bisa meniru semua jurus lawannya dalam sekali pandang.
'Apakah karena alasan ini juga Dewa Pedang akhirnya memilih mengangkatnya menjadi murid? Bocah ini ternyata memiliki tingkat kejeniusan yang luar biasa. Tetapi benarkah dia sebegitu jeniusnya? Mengapa aku tidak begitu yakin karena tampangnya tidak begitu meyakinkan sejak awal? Apakah hanya kebetulan atau memang sebegitu jeniusnya sehingga bisa menarik hati Dewa pedang?' Batin Narashinga berkecamuk melihat Suro bisa dengan mudahnya mengendalikan air dan es, hanya dengan sekali lihat mencontoh dirinya yang sedang mengerahkan tehnik itu.
***
JADWAL UP TIAP DUA HARI SEKALI ITUPUN DIKARENAKAN JADWAL KERJA YANG PADAT SEHINGGA MEMERLUKAN WAKTU UNTUK MENCARI INSPIRASI DAN MENULIS. KEMUDIAN MENGEDIT SAMPAI BERKALI-KALI SAMPAI DIRASA PAS.
UNTUK MEMBERIKAN TIMBAL BALIK KEPADA READERS YANG TELAH MEMBERIKAN POINT NYA DALAM APLIKASI NOVEL TOON SEBAGAI BENTUK DUKUNGN PADA NOVEL INI.
MAKA PADA SETIAP HARI SENIN AKAN DIBERIKAN BONUS CHAPTER. SEBERAPA BANYAK CHAPTER YANG DITERBITKAN SESUAI DENGAN BANYAKNYA BANTUAN YANG TELAH READER BERIKAN PADA NOVEL INI.
SEKALI LAGI TERIMAKASIH YANG SUDAH MEMBACA NOVEL INI TERUTAMA YANG SUDAH RELA MENDUKUNG NOVEL INI DENGAN MEMBERIKAN KOIN DAN POINTNya.