SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 445 Sarang Penjahat



"Kau sedang berurusan dengan malaikat kematianmu, jadi berdoalah agar matimu mudah!"


Iblis Pemetik Bunga tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Mahadewi penuh kegeraman.


Kali ini seluruh pedang yang menggantung di pundak Mahadewi melesat keluar dari sarungnya. Seluruh sisa pedang yang menghentikan langkah anak buah iblis Pemetik Bunga.


Kali ini iblis Pemetik Bunga terhenyak menyaksikan seluruh pedang bergerak sendiri menyerang seluruh anak buah yang bergerak hendak membantunya.


Anak buah iblis Pemetik Bunga yang hendak membantu terkejut dan langsung kelabakan menangkis lesatan pedang yang bergerak dengan sebegitu cepatnya.


Tiga pendekar yang sudah berada ditingkat shakti bergerak memimpin yang lain hendak membantu iblis Pemetik Bunga.


Tetapi belum lima langkah mereka mendekat, pedang milik Mahadewi telah menghentikan langkah mereka. Suara pedang beradu langsung ramai terdengar.


Dalam tiga jurus pasukan yang masih berada di tingkat tinggi mulai berjatuhan tidak kurang lima pendekar telah tewas. Dengan berjalannya waktu jurus yang mereka lewati lebih dari enam jurus.


Kini serangan pedang sudah sulit di atasi pasukan yang membantu iblis Pemetik Bunga, kecuali ketiga pendekar yang sudah berada ditingkat shakti.


Kemampuan ilmu pedang mereka bertiga tidaklah buruk, sebab mereka sudah mencapai tahap jiwa pedang. Tetapi tidak dengan yang lain.


Mereka satu persatu akhirnya menemui ajal, karena lesatan pedang yang berseliweran seperti burung camar tidak mudah dihadapi. Setelah melewati sepuluh jurus yang berlangsung sedemikian cepat, maka tidak kurang delapan orang telah mati.


Bukan saja anak buahnya, kini iblis Pemetik Bunga sendiri telah kewalahan menghadapi dua pedang yang tidak berhenti menyerangnya.


Tetapi dia menutupi kekhawatirannya dengan terus tertawa. Melihat hal itu Mahadewi semakin meradang.


"Kau masih bisa tertawa, bagaimana jika aku potong bagian tubuhnya yang katanya banyak memakan korban dari kaumku?"


Mulut iblis pemetik bunga tercekat. Tangannya tanpa sadar segera membekap senjata pusaka miliknya. Tetapi tindakannya ternyata terlambat.


Wuuuz!


Craaash!


"Aaaaaarrrggggh!!"


"Sekarang apakah kau masih bisa tertawa?"


Seperti yang diucapkan Mahadewi sebelumnya, serangannya memang menyasar pusaka satu-satunya milik iblis Pemetik Bunga.


Suara merintih terdengar dari mulut lelaki itu. Dia tidak menyangka jika dia mengalami hal tragis seperti itu. Entah sedang bermimpi apa dirinya sehingga mengalami kejadian yang tidak dia sangka.


Dia meruntuk sambil memegang bagian bawahnya yang telah berlumuran darah.


Tiga anak buahnya yang berada pada tingkat shakti berhasil kabur melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Mereka memutuskan hal itu setelah melihat serangan yang dikerahkan Mahadewi melukai Iblis Pemetik Bunga.


Lima lainnya yang hendak kabur tidak diberi ampun, sebab dari arah belakang pedang milik Mahadewi telah melesat menancap di punggungnya.


Mahadewi berjalan mendekat ke arah iblis Pemetik Bunga. Sebelum langkah kedua lelaki itu melesat kebelakang mencoba melarikan diri.


"Jurus setan Terbang!"


"Jangan berharap dapat kabur dariku!"


"Langkah kilat!"


Yang Jiang dan Yang Xiaoma baru kali ini melihat kekuatan sebenarnya dari Mahadewi terkejut bukan kepalang. Mereka berdua langsung mendekat ke arah Yang Xie Ying untuk menolongnya.


Setelah melepaskan totokan pada Yang Xie Ying, maka mereka bertiga segera mengejar larinya iblis Pemetik Bunga.


"Aku akan meminta bantuan para pasukan penjaga kota Shaanxi!" Yang Xiaoma tidak menyangka Mahadewi justru mengejar iblis Pemetik Bunga.


Kekuatan Mahadewi memang mampu mengalahkan iblis Pemetik Bunga dan dua lusin orang yang bersamanya, tetapi lelaki itu telah kabur. Yang Xiaoma sangat yakin jika lelaki itu hendak menuju ke markasnya.


Dia menghawatirkan keselamatan Mahadewi. Dara itu tidak mengetahui akan berhadapan pasukan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pasukan yang dia hadapi di Pavillum Angin Utara.


"Cepat kau kumpulkan seluruh pasukan penjaga kota yang ada, aku rasa kekuatan besar sudah menunggu disana." Yang Jiang menyahut ucapan Yang Xiaoma.


"Aku akan menyusul dia membuntuti dari jauh, kau segera menyusul kami!" Yang Jiang berbicara ke arah Yang Xiaoma dan Yang Xie Ying.


"Jangan ikut serta dalam pertarungan, jika tidak sangat terpaksa, aku akan secepatnya menyusulmu bersama pasukan yang ada," balas Yang Xiaoma khawatir.


Mereka lalu berpisah ditengah jalan. Yang Xiaoma bersama Yang Xie Ying langsung menuju ke kediamannya hendak memanggil dan mengumpulkan pasukan penjaga kota Shaanxi.


Sedangkan Yang Jiang melesat mengikuti jejak arah dimana Mahadewi mengejar iblis Pemetik Bunga dan beberapa anak buahnya yang selamat dan memilih melarikan diri.


**


"Kampret, bagaimana dara itu memiliki ilmu meringankan tubuh sehebat itu?" Iblis Pemetik Bunga terkejut menyaksikan dibelakangnya Mahadewi melesat mengejar dirinya.


Dia telah menotok beberapa titik ditubuhnya untuk menghentikan pendarahan akibat luka dari serangan Mahadewi.


"Feng Lei sialan kau dimana?" Teriakan putus asa dari iblis Pemetik Bunga memanggil seseorang yang seharusnya berada tidak jauh.


Dalam beberapa tarikan nafas tubuh iblis Pemetik Bunga telah berpindah tempat dari Pavillum Angin Utara menunju ke pinggiran kota Shaanxi.


Tetapi bukan hanya lelaki itu yang mampu melakukan gerakan meringankan tubuh secepat itu, sebab dibelakangnya dara yang mengejarnya tidak kalah cepat dibandingkan iblis Pemetik Bunga.


Tubuhnya yang ramping terlihat begitu lincah berlompatan diatas atap rumah penduduk kota Shaanxi. Angin yang cukup kencang membuat rambutnya yang diikat berkibar-kibar.


"Kelabang Hitam, sialan! Cepat tolong diriku!"


Teriakan keras disiang bolong dengan dilambari kekuatan tenaga dalam telah membuat geger tempat itu.


Daerah pinggiran kota itu dikenal sebagai daerah hitam, sebab disana bisa dikatakan daerah tidak bertuan. Pasukan penjaga kota Shaanxi tidak masuk daerah itu. Sebab didaerah itu adalah daerah kumuh yang menjadi tempat tinggal para sampah masyarakat.


Tempat itu juga dikenal luas sebagai sarang penjahat. Karenanya tempat itu seperti tidak memiliki hukum. Hanya satu hukum yang berlaku ditempat tersebut, yaitu hukum rimba siapa yang kuat dialah yang berkuasa.


Salah satu sebab tempat itu menjadi tempat paling favorit bagi para mantan anggota Mawar Merah adalah mereka bisa sesuka mereka tanpa diganggu oleh pasukan penjaga kota Shaanxi.


Salah satu penjahat besar yang telah memiliki nama adalah Feng Lei atau Kelabang Hitam. Dia adalah mantan anggota Mawar Merah dan juga pernah menjadi bawahan Sepasang setan Pembunuh, yaitu Pedang setan dan Golok setan.


Tetapi dua setan itu berakhir ditangan Suro saat pertarungan di Pavillum Angin Utara belum lama ini. Kini Kelabang Hitam memilih membentuk kelompok sendiri.


Seseorang dari mantan kelompok Mawar Merah yang memberi perintah kepada iblis Pemetik Bunga, adalah Kelabang Hitam atau Feng Lei.


Pendekar itu mendapat perintah untuk menghabisi Yang Xiaoma, setelah mendengar kabar jika para pendekar yang dulu pernah membantai Golok setan dan juga Pedang setan telah pergi dan tidak lagi ada di kota Shaanxi.


Teriakan iblis Pemetik Bunga membuat para penghuni tempat kumuh itu segera keluar.