SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 233 Pertemuan



Saat Suro sedang memikirkan ucapan dari Geho sama, dia kemudian mengambil Pusaka Kaca Benggala yang berada di balik bajunya dia kembali mencoba keberuntungan untuk mencari tahu mengenai gurunya yang belum dapat dia ketemukan keberadaanya.


"Pusaka Kaca Benggala tunjukkan kepada hamba dimana keberadaan eyang Sindurogo?"


Mendadak Suro terlihat serius menatap penampakkan yang terlihat di kaca benggala.


"Tidak mungkin, bagaimana dia sudah ada di sana?"


"Apakah tuan Suro menemukan satu petunjuk terkait guru tuan?" Geho sama menjadi begitu penasaran setelah Suro selesai menatap Pusaka Kaca Benggala miliknya.


Suro tidak segera menjawab dia lalu menyerahkan Kaca Benggala kepada Geho sama.


"Kita memang di takdirkan untuk berjumpa disana tuan Suro."


Geho sama tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Suro.


Tempat yang diperlihatkan Kaca Benggala adalah daerah di wilayah pegunungan Himalaya yang belum lama mereka datangi.


Setelah melihat hal itu Suro lalu bangkit dan membalas ucapan Geho sama.


"Dan ini aku anggab sebagai pertanda jika hal pertama yang akan aku lakukan adalah menyelamatkan eyang guru. Entah jalan apa yang aku temui, tetapi aku yakin jalan inilah yang harus aku lewati Geho sama."


Gagak setan menganggukan kepala menyetujui ucapan Suro.


"Tunggu apa lagi segera kita berangkat." Geho sama tersenyum ke arah Suro yang menganggukkan kepala.


Mereka segera berjalan ke arah istana Kerajaan Champa hendak berpamitan sesegera mungkin. Karena kali ini Suro tidak ingin ketinggalan. Dia tidak mau kesempatan ini hilang, sehingga saat mereka sampai disana eyang Sindurogo masih ada disana.


"Sangat disayangkan sekali nakmas Suro sudah akan pergi dari kerajaan kami." Raja Chambuwarman terlihat sedikit kecewa dengan keputusan Suro yang hendak meninggalkan kerajaannya.


"Kakang jangan lupa untuk mampir sesekali ke Champa jika ada waktu luang." Putri dari Raja Chambuwarman dengan bersemu merah pipinya berbicara ke arah Suro. Dia menjadi bersemu merah sebab pemuda yang dia ajak bicara terus tersenyum kepadanya.


Walaupun hanya beberapa hari Suro ada di istana Kerajaan Champa, tetapi dia sudah cukup akrab dengan tuan putri. Mungkin karena saat Suro menyelamatkan mereka dari dalam penjara, Suro memeluk tubuhnya cukup erat. Sebab setelah beberapa hari tanpa makan dia hampir saja mati.


Maka saat itu Suro sebenarnya sedang menyalurkan energi murni untuk membuat tuan putri itu segar kembali. Seakan dia seperti di berikan nyawa kembali. Dia segera menyadari, jika Suro lah yang menolong dirinya. Sehingga membuat tubuhnya kembali segar dengan cepat.


Dari situlah tuan putri menjadi cukup akrab dengan Suro. Selama Suro ada di istana jika ada waktu senggang selalu tuan putri itu mendatangi Suro. Dia terlihat lepas jika bercanda dan berbicara dengan Suro. Sang ayahanda sendiri yaitu Raja Chambuwarman tidak melarang putrinya akrab dengan Suro.


"Tentu tuan putri, hamba akan menyempatkan diri." Suro menatap tuan putri itu menjadi masyghul segera meyadari ada yang salah dalam ucapannya. Kembali dia mengulang ucapannya.


"Maksud Suro tentu saja putri Dwarawati, pasti Suro akan menyempatkan diri bertemu putri jika ada kesempatan." Suro tidak lupa memberikan senyumnya setelah mengakhiri ucapannya.


Raja Chambuwarman hanya tersenyum melihat hal itu. Permaisuri hanya menggeleng-geleng kepala melihat putrinya bersikap hal itu kepada Suro.


Setelah berpamitan kepada Raja Chambuwarman, mereka berdua kemudian berkemas dan bersiap meneruskan perjalanan.


Tujuan mereka kali ini adalah salah satu bagian wilayah yang masih masuk daerah pegunungan Himalaya. Tempat yang mereka tuju kali ini bernama Danau Gurudongmar.


Walaupun danau itu sering membeku, tetapi ada satu bagian yang tidak akan membeku.ketinggian letak danau itu berada pada ketinggian 17.800 kaki.


Lokasinya dikelilingi oleh pegunungan yang tertutup oleh salju. Perairan danau itu memang hampir sepanjang tahun membeku.


Setelah Suro merapalkan mantra untuk membuka portal gerbang gaib, maka mereka berdua langsung lenyap.


Sekejap kemudian mereka telah di depan sebuah danau yang cukup luas dengan airnya yang sangat jernih. Walaupun sebagian telah membeku.


"Dimana guru tuan Suro? Mengapa tidak ada seorangpun ditempat ini?" Geho sama menangkupkan sayapnya karena udara dingin langsung menyergap mereka berdua.


"Entahlah aku tidak menemukan mereka. Seharusnya mereka ada di sekitar sini. Apa yang sebenarnya dicari ditempat seperti ini?" Suro menatap ke seluruh penjuru yang tertutup salju.


"Apakah itu ada urusannya dengan relik kuno yang dapat membebaskan Dewa Kegelapan dari penjara segel dewa?"


Mendengar ucapan Geho sama barusan, Suro terlihat menganggukkan kepala.


"Bisa jadi tujuannya seperti itu." Suro menjawab seperlunya. Matanya menyapu keseluruh tempat hendak mengenali kembali tempat yang dia lihat sebelumnya didalam kaca benggala.


Karena tidak segera menemukan tanda apapun Suro mengambil kaca benggala dari balik pakaiannya.


"Pusaka Kaca Benggala dimanakah keberadaan Eyang Sindurogo hamba mohon tunjukanlah keberadaannya kepada kami?" Suro masih menatap ke arah pusaka yang ada digenggamannya itu.


Sekejap kemudian terlihat sesosok yang dia kenali walau memakai pakaian yang tidak seperti biasanya.


Pakaian yang dikenakan Eyang Sindurogo terbuat dari semacam wol yang cukup tebal. Mereka ditemani sekitar dua puluh orang yang memiliki tanduk. Setelah beberapa saat Suro segera menyadari tempat dimana gurunya itu berada. Ternyata mereka sudah berpindah tempat yang letaknya berada di balik gunung di sebelah Utara dari danau di depan mereka.


"Geho sama tujuan kita ada di balik gunung didepan itu." Setelah memastikan apa yang dia lihat sekali lagi, Suro kemudian menggunakan Langkah Maya miliknya.


Dari kejauhan dia melihat serombongan orang berjalan menembus lautan salju yang menutupi seluruh pegunungan itu.


Bersama Geho sama, Suro langsung melesat menyusul rombongan itu. Mereka berdua langsung muncul didepan rombongan yang dipimpin oleh seseorang yang sangat dia kenal.


Setelah tidak ada pecahan jiwa Dewa Kegelapan, tubuh dari Eyang Sindurogo tidak lagi memancarkan aura kegelapan yang begitu pekat seperti saat Suro bertemu terakhir kali.


"Apa kabar eyang guru?" Suro menatap ke arah Eyang Sindurogo dengan sebuah senyuman disudut bibirnya.


"Siapa kalian?" Eyang Sindurogo justru memelotot memperhatikan Suro yang tetap terdiam menghalangi jalan yang akan dia lewati.


Dibelakang Suro, Geho sama telah bersiap-siap menjaga Suro, jika akan ada serangan mendadak.


"Apakah eyang guru sudah melupakan muridmu satu-satunya ini? Suro Bledek nama yang telah eyang guru sematkan kepadaku. Agar aku selalu ingat dari mana diriku ini berasal. Apakah eyang guru mengingat nama itu?"


Suro tetap mempertahankan senyuman disudut bibirnya. Ingin rasanya dia menubruk tubuh lelaki yang masih terlihat seperti berumur sekitar empat puluhan tahun itu.


Dia harus mengatupkan mulutnya dengan erat. Dia berusaha agar matanya tidak mengembang. Dia terus tersenyum menatap lelaki yang justru memplototinya.


"Aku tidak tau tentang kalian? Aku peringatkan untuk pergi dari hadapanku atau akan aku lenyapkan kalian dari dunia ini?"


Kali ini eyang Sindurogo tubuhnya mulai mengambang seperti hendak terbang.


Dari kesepuluh ujung jarinya melesat sepuluh larik sinar.


"Apakah eyang guru juga lupa jika ilmu itu juga telah diturunkan kepada muridmu ini?"


Suro juga mengerahkan jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari, yaitu Sepuluh jari dewa mengguncang bumi.


Eyang Sindurogo terkejut melihat Suro mampu melakukan seperti apa yang dia lakukan.


"Muridmu sekarang juga telah mampu terbang seperti eyang guru." Suro menunjukkan kemampuannya melayang setinggi seperti yang dilakukan Eyang Sindurogo.


"Kalian sepertinya sangat pantas akan aku jadikan abdi dari Dewa Kegelapan!!"


Dia kemudian menatap ke arah sekumpulan orang dibelakangnya, yaitu orang-orang yang memiliki tanduk di dahinya


"Apalagi yang sedang kalian tunggu?! Serang mereka berdua!"