SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 168 Perguruan Tengkorak Merah part 10



Dua Pedang sesat segera melesat ke arah Suro. Tetapi sebelum musuh mendekat, justru Suro terlebih dahulu melesat menyongsong serangan mereka berdua.


Serangan berupa jarum beracun yang tidak terhitung jumlahnya menghujani mereka berdua. Naga Taksaka ikut menerjang ke arah Wanawasa. Serangan jarum dan terjangan Naga Taksaka membuat dia begitu kewalahan.


Tetapi itu memang tujuan Suro untuk membuat serangan pengalihan. Sebab serangan yang sebenarnya justru yang dikerahkan Suro selanjutnya, yaitu pengerahan jurus perubahan tanah. Tubuh Wanawasa mendadak amblas ke dalam tanah sampai ke batas leher.


Dengan kecepatan yang mengagumkan Suro melesat kemudian menebaskan pedang miliknya. Kepala Wanawasa langsung terpisah dari badannya begitu Suro menyarangkan serangannya yang sesungguhnya.


Pedang iblis terkejut dengan cara bertempur Suro yang penuh dengan siasat. Kini dia mulai memahami mengapa Jenggala, Welahan, Wulusan dan Baga dapat dihabisi semuanya oleh pemuda didepannya itu.


Selain karena penguasaan berbagai ilmunya yang unik dan mumpuni, dia juga cukup cerdik untuk membuat siasat yang sulit ditebak.


Pedang iblis segera meraih pedang yang dimiliki Wanawasa sebelumnya. Dia kemudian langsung melesat membantu satu-satunya pengikut setianya yang tersisa.


Wakil ketua Tengkorak Merah bersama-sama para tetua hendak membantu menghabisi Suro, mendadak hantaman serangan Pedang iblis yang begitu keras mengenai tubuh Suro. Sehingga tubuh pemuda belia itu terlempar dan melesat dengan cepat. Bahkan setelah menghantam dinding balairung dan membuatnya hancur. Tubuh itu tidak berhenti, terus melesat keluar.


Para tetua Tengkorak Merah mengira itu adalah akhir dari riwayat pemuda barusan. Para tetua yang berada didalam balairung tentu tidak melihat kondisi tubuh Suro. Sebab dinding balairung yang terbakar telah menutupi pandangan mereka. Tetapi mereka sudah mampu menerka akhir dari riwayat pemuda itu. Sebab menurut pandangan mereka, mana ada yang sanggup menerima energi tebasan milik Pedang iblis yang begitu besar.


Tetapi Pedang iblis mengetahui, jika pemuda yang baru saja terhantam serangannya barusan masih hidup. Dia langsung melesat tinggi melewati atap balairung yang kini bolong melompong hancur total. Dia melesat keluar diikuti Kenana.


Kesempatan itu digunakan para tetua untuk segera mengikuti mereka melesat keluar meninggalkan balairung yang seluruh bagiannya telah diselimuti kobaran api. Setelah mereka sampai di luar, mereka segera menyadari, jika pertempuran yang mereka dengar selama berada didalam balairung ternyata kehancurannya begitu luas.


Banyak mayat bergelimpangan, rata-rata yang mayatnya masih utuh, terlihat menghitam seperti terkena serangan racun. Hampir seperempat perguruan hancur. Apalagi yang dekat alun-alun sudah hancur total berubah menjadi debu.


Mereka segera menyadari betapa mengerikannya kekuatan yang dimiliki pemuda yang masih belia itu.


Setelah Pedang iblis melesat keluar dari balairung, sesosok makhluk telah menyambut kedatangan mereka. Sebuah wujud ular raksasa yang dibentuk dari lelehan lahar dan diselimuti api hitam. Itu adalah Naga Taksaka yang dikendalikan oleh Lodra.


"Makhluk apa ini sebenarnya?" Pedang iblis segera menyerang dari jarak jauh dengan menghantamkan kekuatan energi tebasan terkuatnya. Dia tidak berani mendekat karena pancaran panas dari tubuh makhluk itu begitu tinggi. Setelah terkena energi tebasan Pedang iblis tubuh naga itu terlempar jauh.


Para tetua Tengkorak Merah terkejut dengan wujud naga yang begitu mengerikan. Mereka menyangka makhluk itu dikendalikan oleh pemuda yang sebelumnya terkena serangan Pedang iblis. Mereka tidak mengetahui tentang keberadaan Lodra. Karena sesungguhnya dia lah yang menguasai dan mengendalikan gerakan makhluk mengerikan itu.


Para tetua juga terkejut saat menyaksikan Suro mampu berdiri kembali tanpa kurang sedikitpun, membuat para tetua seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Karena pemuda itu kini dengan begitu lincah kembali menerjang ke arah Pedang iblis.


**


Setelah terhantam kuatnya tebasan milik Pedang iblis, Naga Taksaka telah kembali pulih. Lodra yang mengendalikan Naga Taksaka segera mengarahkannya untuk segera menyerang para tetua Tengkorak Merah yang hendak mengepung Suro.


Melihat kedatangan Naga Taksaka membuat para tetua menghentikan langkahnya. Mereka segera mengerahkan segala jurus ke arah ular jadi-jadian itu dengan segala jurus yang mereka punya, tetapi usaha mereka gagal untuk menghentikan gerakan ular itu.


Bahkan dalam waktu yang tak butuh lama naga itu telah melibas para tetua yang hendak menyerang Suro. Puluhan tubuh tetua itu lenyap ditelan menjadi abu. Melihat ganasnya amukan Naga Taksaka, membuat para tetua tidak mampu melanjutkan langkahnya mendekati Suro.


"Semuanya mundur! Makhluk ini tidak bisa dihentikan dengan jurus milik kita! Lebih baik menjauh dari area pertarungan mereka!" Wakil ketua Dharmatungga melihat banyaknya tetua yang telah berhasil dihabisi Naga Taksaka , akhirnya dengan terpaksa memilih memerintahkan mereka menjauh dari area pertarungan yang di lakukan Suro.


Sebagian tetua yang berhasil selamat dari amukan Naga Taksaka, setelah mendengar perintah wakil ketua Dharmatungga segera mundur. Setelah mereka menjauh Naga Taksaka segera kembali kepada tuannya dan ikut membantunya bertarung melawan Pedang iblis dan Kenana.


Setelah kedatangan Naga Taksaka alur pertarungan menjadi sedikit berubah. Jika sebelumnya Suro begitu kewalahan melayani serangan dua ahli pedang, kini dia cukup berkonsentrasi menghadapi Pedang iblis saja.


Kenana yang diserang Naga Taksaka terlihat kerepotan, apalagi makhluk yang terus mengejar itu tidak mampu dihancurkan. Kondisi itu membuat Kenana mulai frustasi, karena membuat dia sibuk dan tidak bisa membantu junjungannya bertarung.


**


Pertarungan Suro sudah berlangsung berpuluh-puluh jurus. Pedang iblis pada awalnya kebingungan melihat kekuatan tubuh Suro yang berkali-kali terkena jurus pedang miliknya tidak membuatnya luka. Bahkan saat dia menyerang Suro bersama Kenana, sudah tidak terhitung berapa kali tubuh pemuda itu dirajam dengan pedangnya. Tetapi entah ilmu kebal apa yang membuat tubuh bocah itu tidak bisa terluka.


Pedang iblis melihat pemuda bau kencur itu terus bangkit dan melawan dirinya, membuat dia menambah kecepatan serangan miliknya. Dia berharap dengan kecepatan miliknya mampu melukai tubuh Suro.


Jika tanpa Hyang Kavacha entah jadi apa tubuh Suro. Zirah Sang Hyang Surya itu cukup ampuh melindungi tubuhnya.


Seperti juga saat menghadapi Wuluhan, jika tanpa Kavacha dia sudah dicincang habis oleh ahli pedang dari negeri Bharata itu.


"Ternyata pakaian perangmu ini bukanlah pakaian perang yang biasanya. Ini adalah pusaka yang sangat kuat. Pantas saja seranganku tidak mampu menghabisimu!" Setelah berkali-kali serangannya mengenai Suro Pedang iblis mulai menyadari kekuatan sesungguhnya dari zirah perang yang melindungi Suro.


"Sangat pantas jika kau adalah murid Sindurogo! Entah akan seberapa kuat sebenarnya kau bocah, jika sudah pada tahap sepertiku?"


"Sayang paman aku tidak akan mencapai apa yang telah paman capai. Karena aku tidak akan memilih jalan spiritual iblis." Suro berkelit berkali-kali menghindari betapa cepat dan kuatnya serangan Pedang iblis.


Pedang iblis yang berhenti sesat untuk memastikan serangan yang mengenai tubuh Suro, memberikan jeda waktu untuk menarik nafas. Jeda waktu itu digunakan Suro untuk segera menelan pil pemulih tenaga dalam. Meskipun saat itu kekuatan matahari dan tehnik empat sage sedikit banyak telah membantunya mengumpulkan chakra yang cukup besar. Namun untuk melawan pedang iblis, Suro juga harus menghabiskan chakra yang sangat besar.


Apalagi sebelumnya dia sudah melakukan pertarungan secara berturut-turut, sehingga kehilangan chakra yang cukup banyak. Karena itulah dia segera menelan pil pemulih tenaga dalam, agar dapat memulihkan kondisi tubuhnya secepat mungkin.


Meskipun kekuatan tehnik empat sage ikut menghisap kekuatan Pedang iblis, tetapi kekuatan pendekar pedang itu seakan lautan. Kekuatan dan kecepatannya melebihi apa yang dimiliki lawannya yang sebelumnya, yaitu Wuluhan salah satu pedang sesat yang berhasil dihabisinya dengan jurus Pedang Tanpa Wujud.


Melihat kekuatan dan kecepatan yang dimiliki Pedang iblis, membuat Suro mengubah jurus yang dia gunakan. Walaupun ilmu meringankan tubuhnya berkembang pesat, tetapi musuhnya adalah pentolan aliran hitam dari Benua Tengah yang terkenal kuat.


Dengan kondisi itu membuat Suro akhirnya kembali menggunakan jurus Pedang Tanpa Wujud untuk menghadapi serangan Pedang iblis yang begitu cepat. Keputusannya memilih jurus itu karena kekuatan miliknya tidak mungkin mengimbangi kekuatan lawannya. Apalagi kini lawannya adalah setingkat Dewa Pedang.


"Jurus apa ini?" Pedang iblis terkejut dengan melihat perubahan jurus yang digunakan Suro berbeda dari sebelumnya. Dia sebagai seorang ahli pedang, terkejut dengan jurus yang digunakan Suro sekarang.


Setiap jurus memiliki bentuk dasar dan sifat dari sejak awal ketika hendak diciptakan. Namun sampai melewati lebih dari sepuluh jurus, Pedang iblis tidak menemukan bentuk dari jurus yang digunakan Suro. Dia merasakan kejanggalan itu.


Apalagi Suro saat melayani serangan miliknya yang cepat seperti kilat, justru dengan mata terpejam. Tetapi tindakan itu membuat seluruh serangannya kini tidak satupun yang mampu menembus pertahanan Suro.


Pedang iblis melihat semua serangannya kini mampu ditangkis, tentu saja terkejut. Dan reaksi yang dia lakukannya mirip seperti yang dilakukan Wulusan, yaitu dengan semakin mempercepat serangannya.


Para tetua Tengkorak Merah dan termasuk diantaranya wakil ketua Dharmatungga begitu mengagumi kemampuan Suro yang mampu mengimbangi serangan Pedang iblis. Sebab mata mereka saja sulit untuk mengikuti jalannya pertarungan.


Saat Pedang iblis sibuk menyerang Suro. Tanpa dinyana, api hitam yang menyertai setiap tebasan Suro, mendadak meledak dalam cakupan yang begitu luas. Bahkan karena luasnya ledakan yang menghantam, bangunan dibelakang Pedang iblis yang berjarak tiga tombak ikut hancur.


'Akhirnya aku mampu membakarnya!' Lodra tersenyum puas melihat api hitamnya telah membakar habis tubuh Pedang iblis.


Suro menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. Karena saat dia mengerahkan jurus Pedang Tanpa Wujud, dia merasa tidak mengerahkan api hitam milik Lodra.


'Aku ini Lodra yang agung bocah, hal seperti itu mudah bagiku. Kau lupa jika jiwaku ini adalah penguasa sejati dari api hitam ini. Aku tidak perlu ijin kepadamu untuk mengendalikan api hitam milikku.'


Suro masih menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar perkataan Lodra. Dia segera mengingat kembali saat Lodra menghabisi Wanadri. Sebab pada saat itu bukan dirinya yang mengerahkan api hitam yang menelan tubuh lawannya, tetapi itu adalah murni dilakukan atas kehendak Lodra sendiri.


Serangan itu akhirnya mampu menghabisi Pedang iblis, meski yang melakukannya bukan Suro tetapi dilakukan oleh Lodra. Jiwa pedang itu membantu Suro menghadapi Pedang iblis, setelah berhasil menghabisi Kenana melalui Naga Taksaka.


Melihat seluruh musuhnya akhirnya mampu dia habisi, pandangan Suro berpindah ke arah para tetua Tengkorak Merah.


"Apakah kalian masih ingin meneruskan pertarungan ini?"