SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 383 Pasukan Negeri Wajin



Setelah mendengar penjelasan Yang Taizu, eyang Sindurogo dan lainnya segera membuat rencana. Hilangnya para bayi itu biasa terjadi pada malam hari, begitu juga kematian para penduduk yang misterius dengan kondisi mayat kering, seperti terhisap habis darahnya juga terjadi pada malam hari.


Sambil menunggu penyelidikan mereka dipersilahkan tinggal dikediaman Walikota Yang Taizu. Selain karena tempat itu sangat luas dan memiliki kamar puluhan, sebenarnya Yang Taizu memiliki alasan lain.


Semua itu terkait dengan keberadaan Dewi Anggini. Lelaki itu masih tidak bisa melupakan cintanya yang lama.


Selain itu dengan kehadiran para pendekar itu, dia merasa aman dari ancaman kelompok Golok setan yang masih hidup. Karena itu dengan sedikit memaksa dia meminta mereka semua tinggal dikediamannya yang sangat mewah.


Dengan cara itu juga dia dapat terus berusaha mendekati wanita pujaannya. Hampir setiap hari lebih dari lima kali dia mencoba bertemu dengan dengan tetua Dewi Anggini.


Pagi, menjelang siang, Siang, menjelang Sore, menjelang malam bahkan malam hari pun dia mengetok pintu kamar Dewi Anggini yang sengaja memilih sekamar dengan Mahadewi.


Hatinya gundah gulana seakan remaja saja, semakin sering dia melihat wanita pujaannya itu, maka semakin dia tidak ingin berjauhan dengan Dewi Anggini. Karena itulah dia berusaha terus untuk setiap ada kesempatan atau justru membuat alasan agar bisa untuk terus bertemu dengannya.


Maka tak aneh, jika segala hal dia lakukan. Termasuk hal sepele dia jadikan alasan agar bisa mengetuk pintu kamar Dewi Anggini.


Seperti dia mengirimkan teh, tusuk konde dari perhiasan yang dia miliki. Mengirim handuk, pakaian terbaik, sabun, makan siang, malam, pagi. Pelayan yang dia miliki seperti tidak dibiarkan tidur.


Walikota Shanxi itu tidak menyangka jika wanita yang dia kenal itu bisa memiliki paras seperti wanita yang masih berumur tiga puluhan tahun atau justru kurang. Tetapi dia tidak ambil pusing dengan hal itu, justru hal itu membuat dia semakin jatuh cinta kepadanya.


Parasnya yang sekarang, bagi lelaki itu semakin terlihat cantik. Lebih cantik dibandingkan dengan apa yang pernah dia ingat.


Segala hal yang di lakukan Yang Taizu kepada Dewi Anggini, semakin membuat eyang Sindurogo jengah. Tetapi lelaki itu hanya bisa kasak kusuk sendiri.


Entah Yang Tiazu itu mengetahui atau tidak, jika wanita idamannya itu telah menjadi kekasih eyang Sindurogo. Sebab saat Dewi Anggini sedang asik berbicara dengan eyang Sindurogo dia tetap berusaha mendekatinya.


Dewi Anggini sebenarnya mengetahui, jika Eyang Sindurogo tidak menyukai hal itu. Tetapi dia justru memang sengaja hendak memancing reaksi yang ditunjukkan oleh lelaki idamannya itu. Dia ingin mengetahui seperti apa cemburunya lelaki yang pendiam itu.


"Apakah lelaki itu tidak terasa berlebihan memperlakukan Dinda Dewi?" Eyang Sundurogo bertanya kepada wanita disampingnya.


Tetapi wanita itu justru tertawa mendengar pertanyaan lelaki pujaannya itu.


"Kakang terlalu memikirkan hal itu, apakah itu artinya kakang cemburu kepadanya?" Dewi Anggini tersenyum ke arah lelaki didepannya.


Lelaki yang dia tatap itu menjadi salah tingkah, dia mencoba menutupinya dengan menggaruk-garuk kepalanya. Tatapannya juga berpindah ke langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.


Mereka berdua berjaga diatas tempat tinggi dikota itu. Setelah siangnya mereka mendapatkan penjelasan dari Yang Taizu, akhirnya mereka memilih untuk segera bergerak pada malam harinya.


Apalagi eyang Sindurogo juga sudah jengah harus melihat yang Taizu terus mendekati kekasihnya, maka setelah malam tiba, dia mengajak yang lainnya untuk bergerak.


Mereka kali ini hendak menangkap atau mencari tau pelaku pencurian bayi itu dan mencoba mengungkap alasan dari perbuatannya itu.


"Hmmmm...apa mungkin aku terlihat seperti orang cemburu? Aku rasa tidak, karena tidak ada alasan yangmembuat aku harus cemburu dengan orang seperti itu.


Tidak ada yang bisa dibandingkan dirinya denganku. Wajahnya dulu mungkin lebih tampan dariku, tetapi sekarang tentu saja bukan tandinganku.


Tidak ada yang bisa dibanggakan darinya. Selain kata-kata manisnya, seperti yang dulu sering dia lakukan. Ah kata-katanya seperti pernah aku dengar. Bukankah itu kata-kata milik Pujangga gila. "


"Hahaha...kakang sepertinya cemburu," Dewi Anggini masih menatap ke arah eyang Sindurogo yang bertambah salah tingkah.


Kini dia tau mengapa sejak dulu lelaki itu tidak pernah menyatakan cintanya pada dirinya, sebab pendekar yang dulunya disebut terkuat diseluruh penjuru Benua Timur itu, adalah seorang pemalu jika berhadapan dengan seorang wanita.


Malam itu sesuai rencana mereka akan mengawasi penjuru kota dibantu pasukan yang dipimpin Jendral Zhou. Kekuatan lelaki itu setara dengan pendekar tingkat shakti lapis keenam.


Bersama pasukannya dia menjaga disebelah timur. Sedangkan Eyang Sindurogo dan tetua Dewi Anggini menjaga disebelah barat.


Tetapi pendekar itu memilih berjaga sendirian dipuncak bangunan. Para pasukan elit yang menemaninya berada dibawah. Lelaki itu tidak mengerti bahasa yang digunakan pasukan penjaga kota. Selain itu mereka pasti tidak akan banyak menolong, justru hanya akan menjadi beban.


Pada malam pertama mereka tidak menemukan kejadian apapun. Sebelumnya oleh Yang Taizu walikota Shanxi, semua orang yang memiliki anak bayi didata dan dijaga oleh pasukan yang ada, minimal satu orang berjaga didekat sekitar tempat tinggalnya.


Setiap dari mereka diberikan sebuah benda yang mirip tabung. Dengan cara tertentu alat itu dapat meluncurkan pijar api ke langit tinggi. Sehingga orang yang berada di kejauhan akan mampu melihatnya.


Dan itu adalah tugas poko yang dijalankan oleh pasukan elit yang disebar itu, yaitu memberikan tanda kepada yang lain, agar segera mendekat jika melihat orang-orang yang mencurigakan.


Mereka tidak diperkenankan untuk melawan, sebab dalam sekejap pasukan lain akan datang. Dan merekalah yang akan menyelesaikan sisanya.


**


Malam itu hujan gerimis telah turun. Suara lolongan anjing hutan terdengar beberapa kali. Para penduduk sudah terbuai dalam tidurnya dilelapkan suasana yang mendukung.


Meskipun begitu Suro dan yang lainnya memutuskan tetap berjaga menunggu serangan datang. Terlihat Suro berdiri diatas genteng dibawah rintik hujan.


Chakra yang mereka kerahkan melindungi tubuh mereka, sehingga tidak membuat mereka kebasahan. Seperti juga yang dilakukan Mahadewi yang sudah ditingkat shakti. Meski masih dilapisan awal, tetapi itu sudah lebih dari cukup, jika hanya untuk mengatasi air hujan.


"Kakang, mengapa kita tidak boleh membunuh orang-orang yang nanti datang menyerang?"


"Karena kita hendak menangkap sumber dari masalah ini. Kita hanya mencegah mereka menculik bayi, setelah itu kita ikuti saja hingga ke sarangnya."


Mereka terus menunggu sampai malam benar-benar hening. Suara katak yang bernyanyi bersama guyuran hujan menemani orang-orang yang tidak beringsut, meski udara terasa cukup dingin menggigit tulang.


Mendadak dari arah utara tidak jauh dari tempat Dewa Rencong berjaga terlihat sebuah api melesat dari bawah dan membuat langit yang gelap gulita itu terang beberapa saat.


"Itu tandanya, kakang."


"Benar, kita akan segera kesana." Suro segera menggapai tangan Mahadewi. Jurus langkah Maya langsung dikerahkan oleh Suro untuk berpindah tempat ke arah utara.


Suro datang lebih awal sesaat sebelum gurunya dan Dewi Anggini tiba. Tetapi Dewa Rencong telah tiba ditempat itu lebih dahulu dari siapapun.


Pendekar dari Swarnbhumi itu telah merasakan hawa sesat sebelum serangan itu di sadari oleh pasukan elit.


Seseorang yang sedang bertarung dengan Dewa Rencong itu menggunakan jubah hitam besar. Suro sempat menyaksikan pendekar dari Swarnabhumi itu mengerahkan jurus Amukan Rencong Nirwana.


Tetapi saat tebasan senjata rencongnya yang dilambari kekuatan tingkat surga menghantam, maka ledakan asap muncul ditubuh setengah lusin musuh yang mengepung dirinya.


Saat kepulan asap dari ledakan itu menipis, begitu juga dengan tubuh mereka seperti bayangan malam yang langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Kemana mereka menghilang?" Dewa Rencong menatap ke sekeliling mencoba mencari keberadaan lawannya.


"Sepertinya aku mengenali jurus yang mereka gunakan itu!" Eyang Sindurogo yang muncul bersama Dewi Anggini sempat melihat tehnik yang digunakan lawan dari Dewa Rencong.


"Siapa mereka eyang?" Suro segera membalas ucapan gurunya.


"Dulu sewaktu aku mencari Batara Karang dan Batara Antaga atas perintah guruku, aku sempat berhadapan dengan perguruan aliran hitam di negeri Wajin.


Mereka memiliki tehnik pembunuh dan penyamaran yang sangat luar biasa. Seperti sebuah ilmu sihir dipadukan dengan cara tertentu.


Sehingga mereka dapat memanipulasi setiap serangannya dan juga dapat dengan mudah menghilang tanpa jejak seperti yang terjadi sekarang ini."