SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 320 Ardhacandra Wyuha



"Sepertinya dirimu tidak jauh berbeda dengan Pedang iblis. Kalian memiliki kesamaan dengan saudaramu, yaitu sama-sama bermulut besar!"


Semua serangan yang dikerahkan Pedang gila dipatahkan semua oleh Dewa Pedang.


"Sekarang giliranku, akan aku tunjukan bagaimana muridku menciptakan jurus yang tidak mungkin kalian mampu menghadapinya!"


Sebelum mengerahkan jurusnya Dewa Pedang melompat mundur.


"Semakin lama mendengar ucapanmu, semakin membuatku bertambah pusing. Apa yang kau maksudkan muridmu menciptakan jurus untuk melawanku?"


"Kurang ajar kau benar-benar meremehkanku! Setan alas terima kematianmu...!"


"Jurus Amukan iblis Kalipurusha!"


"Jurus sepuluh pedang terbang!"


"Hati Pedang Dewa!"


Trang! Trang!


Cras! Craas!


"Aaaarrrgg...!"


"Kurang ajar, jurusku dapat dipatahkan dengan mudah!"


"Jurus pedang terbang milik siluman apa ini? Ternyata kau juga penganut aliran sesat! Dewa Pedang sialan!"


Jurus serangan yang dilakukan Pedang gila pernah dihadapi oleh Dewa Pedang saat menghadapi Pedang iblis. Jurus itu telah dapat dibaca kelemahannya oleh ahli pedang dari Benua Timur itu.


Jurus musuh yang pernah dia hadapi dan mampu dia patahkan, tentu akan mudah baginya untuk mematahkan kembali.


Apalagi dia menggunakan sepuluh bilah pedang yang bergerak dengan begitu lincah, seakan semua bilah pedang itu memiliki kepribadian sendiri-sendiri. Semua bergerak secara harmoni dengan sangat cepat.


Jurus Hati Pedang Dewa, adalah gubahan dari kitab Pedang Dewa yang dia sendiri yang menciptakan. Mendapatkan lawan yang kuat, maka dia tidak tahan untuk segera menjajal kekuatan jurus buatannya itu.


Hasilnya dia mampu melukai tubuh lawannya dengan parah. Satu tebasan dipunggung dan satu tusukan diperut.


"Hahaha...! Menggelikan kau sebut jurus ini ciptaan muridmu?"


"Benar, muridku yang menciptakan jurus pedang terbang ini, dia yang mengajariku. Sebenarnya hubunganku dengan sosok yang aku sebut murid ini sedikit membingungkan. Karena dia juga mengajariku dengan beberapa jurus ciptaanya!"


"Maaf sepertinya kau tidak pantas berhadapan dengan muridku, bahkan untuk menerima jurus sepuluh pedangku saja kau tak sanggup, kau tau berapa muridku mampu mengerahkan bilah pedang dalam satu kali serangan?"


"Seratus bilah pedang! Ini hanya sedikit bagian dari kekuatan muridku yang tidak akan sanggup kau hadapi!"


"Kurang ajar! Aku akan membunuhmu tanpa jasad!"


"Kekuatan puncak penyatuan sempurna dengan iblis!"


Duuummmm!


Hentakan kekuatan menyebar saat Pedang gila mengerahkan kekuatannya yang lebih kuat dari sebelumnya.


Mata lelaki itu memerah, terlihat perbedaan dirinya, sebab dari mulutnya mencuat taring bawahnya terlihat tumbuh memanjang hingga keluar dari mulutnya. Tanduk didahinya juga mulai tumbuh.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kalian berdua memang memiliki satu kesamaan, yaitu banyak mulut!"


"Jurus pamungkas jalur iblis!"


"Jurus inipun sudah pernah aku hadapi, tidak ada yang istimewa!"


Blaar!


Trang! Trang!


Craaaaaas! Craaas! Craaas!


Gubrak!


"Kekuatan yang tidak ada istimewanya, kalian berhasil menembus tingkat surga hanya karena menyerap kekuatan Dewa Kegelapan."


"Tetapi mengapa mereka tidak berubah seperti makhluk kegelapan yang biasa kami hadapi? Ah sudahlah.."


Dewa Pedang setelah berhasil menghabisi Pedang Gila menjadi tiga bagian, segera menarik kesepuluh pedang terbang miliknya masuk ke dalam sarung yang menggantung dipundaknya.


"Kau ingin tau siapa sebenarnya muridku itu, dia adalah seorang dewa yang turun ke bumi. Bahkan iblis Kalipurusha yang menjadi sumber kekuatan jurus pedangmu itu akan sanggup dia habisi!"


Dewa Pedang berbicara kepada kepala dari Pedang gila yang sudah terpenggal. Namun melihat seringai wajahnya dan matanya yang masih berkedip-kedip dapat dipahami, jika musuhnya sepertinya memiliki ilmu sesat yang membuat dia tidak mati.


"Tebasan Sejuta Pedang Api!"


Blaar!


Tebasan yang dilambari kekuatan perubahan api begitu kuat, sehingga melenyapkan tubuh maupun kepala Pedang gila. Semuanya terbakar oleh ledakan tebasan pedang api yang dikerahkan Dewa Pedang.


Karena itulah mereka secara teratur mundur. Sebab kali ini bukan hanya para tetua yang berada di garis terdepan, Dewa Pedang sendiri ikut menyerang pasukan musuh bersama prajurit Kerajaan Kandis.


Gusti Tumengung nan Sabatang yang memimpin langsung pasukan Kerajaan Kandis merasa tertolong dengan keberadaan Dewa Pedang yang membantu pasukannya.


Meskipun salah satu pendekar yang mendukung pasukan dari negeri Jambudwipa berhasil dihabisi, tidak serta merta membuat pasukan musuh kocar-kacir ketakutan. Sebab ada beberapa pendekar dengan kekuatan tingkat surga didalamnya, termasuk panglima perang pemimpin pasukan dari negeri Bharata itu.


**


Belum selesai berperang dengan pasukan dari negeri Bharata, dari arah samping muncul pasukan lain yang menyerang.


Pasukan itu berasal dari negeri atas langit. Pasukan yang datang itu menggunakan sebuah strategi perang yang biasa dikenal dengan nama ardhacandra wyuha (susunan pasukan berbentuk bulan sabit).


Mereka bergerak melebar dengan pasukan inti berada ditengah. Pasukan pendukung berada dikedua ujung sisi kanan dan kiri. Pasukan yang berada dikedua ujung sisi itu dipimpin oleh seorang senopati yang memiliki kekuatan setara dengan pendekar tingkat surga.


Dewa Rencong yang melihat kedatangan pasukan dari negeri atap langit segera bergegas melesat menyerang pasukan yang ada diujung sisi paling kanan


Ditengah pasukan yang terlihat lebih banyak menghantam pasukan Kerajaan Kandis dengan telak. Pasukan inti dari negeri atap langit itu bertemu dengan para tetua Perguruan Pedang Surga dan juga disana ada Dewa Pedang.


Pasukan yang baru datang itu segera dikenali oleh tetua Dewi Anghini dan juga eyang Sindurogo. Sebab seragam yang mereka gunakan sangat membekas dalam ingatan mereka berdua.


Eyang Sindurogo melihat sisi kiri tidak ada yang menghadang, segera bergerak menuju sebelah kiri. Pasukan yang berada diujung sebelah kiri itu hendak menghancurkan sisi belakang pasukan Kerajaan Kandis yang bertahan dibenteng paling luar.


Serangan yang dilakukan pasukan itu hampir saja membuat pertahanan Kerajaan Kandis jebol. Beruntung eyang Sindurogo telah datang menghalangi mereka.


Dia segera menyerang musuh yang mencoba menembus pertahanan Kerajaan Kandis. Amukan yang dilakukan pendekar itu berhasil memporak porandakan pasukan musuh.


Serangan yang dilakukan pendekar itu seperti air bah tidak ada satupun yang mampu menahan serangannya.


"Jadi ini orang yang disebut Sindurogo itu, yang menurut cerita telah membunuh jendral besar Yuwen Hu, seseorang yang juga dikenal sebagai pendekar Tapak Dewa Matahari!"


Melihat musuh bergerak mundur dan seorang yang yang tinggi besar menghadang serangannya, membuat eyang Sindurogo menghentikan serangannya. Dia berhenti karena lelaki itu berbicara dengan bahasa yang dia pahami, meski lidahnya agak cedal.


"Dan siapa pendekar didepanku ini?" Eyang Sindurogo tersenyum sinis ke arah pemimpin pasukan dari negeri atap langit yang memegang sebuah pedang besar yang salah satu sisinya dihiasi cincin besi.


"Aku adalah Xiongshou yang berjuluk Pembunuh nomor satu pemilik Pukulan Pendesak Jantung!"


"Aku mengenal nama pukulan itu dulu di negeri kekaisaran Wei barat. Pukulan itu dimiliki sebuah perkumpulan yang terdiri dari para pembunuh bayaran."


"Benar, dan pemimpin para pembunuh bayaran itu adalah guruku!"


"Ow...berarti saat aku menghabisi seluruh pasukan pembunuh yang mendatangiku, kau masih seorang bocah yang kencingnya saja belum lurus, sekarang sudah mengaku pembunuh nomor satu."


"Gurumu saja tidak berani berhadapan denganku, kini setan apa yang telah merasukimu, sehingga berani menghadapiku?"


"Cukup kau tau, dulu saat mendengar namaku, gurumu akan kencing dicelana karena ketakutan. Kemudian memilih bersembunyi dan hanya mengirimkan anak buahnya saja yang terus berdatangan tanpa henti seperti para kecoak."


"Jika waktu itu aku tidak sedang mengemban tugas untuk mencari seseorang, pasti perkumpulan para kecoak milik kalian itu akan aku bumi hanguskan, hingga ke akarnya!"


"Hahahaha...ternyata seorang Sindurogo yang dikenal sebagai pendekar Tapak Dewa Matahari hanyalah seorang pembual saja! Kita lihat apakah kekuatanmu dapat menandingiku yang sekarang telah mencapai tingkat surga! Aku pasti akan membinas..."


Wuuusss...


Zraaat!


"Aaaaagggggk!"


"Pembunuh nomor satu apanya...cuiiih!"


"Dasar pembunuh amatiran yang banyak mulut!"


Sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, eyang Sindurogo telah menggunakan jurus Langkah Maya dan muncul dibelakangnya. Kemudian langsung memisahkan kepalanya dari tubuhnya dengan sinar yang keluar dari ujung jari telunjuknya.


"Kalian juga ingin menemani? Aku kabulkan!"


Zraaaaat! Zraaat!


Dia yang muncul ditengah-tengah pasukan musuh tentu seperti masuk kedalam mulut harimau. Namun sayang, seekor harimau paling buas sekalipun, bagi dia tidak lebih daripada seperti seekor kucing.


Karena itulah begitu banyaknya musuh yang mengelilinginya tidak memiliki arti apapun bagi dirinya. Dalam sekali gebrakan merekalah yang justru tewas dihabisi eyang Sindurogo menyusul pemimpin mereka.


Bahkan dalam satu gebrakan itu tidak kurang dari jarak lima puluh langkah seluruh musuhnya langsung tumbang terbelah menjadi dua.


"Kalian sepertinya hanya mengenal namaku sebagai pendekar Tapak Dewa Matahari! Akan aku perkenalkan kepada kalian sebutanku yang lain, yaitu "Monster dari Yawadwipa". Hahahaha...!"


Wuuuuzzz! Wuuuuuzz!


Seluruh tubuh musuh yang telah mati langsung diserap semuanya oleh eyang Sindurogo, sebab dia tidak ingin tubuh mereka pulih kembali. Walaupun dia tidak mengetahui apakah mereka memiliki ilmu yang biasa dimiliki orang-orang yang terpapar racun hawa kegelapan atau tidak.


Dia hanya memastikan tidak akan ada yang bisa hidup kembali setelah dia habisi. Musuh yang melihat apa yang dilakukan eyang Sindurogo tentu saja tercengang penuh kengerian.


"Memang keputusanku tidak salah untuk datang ke Swarnadwipa ini, kali ini kalian akan aku habisi sampai ke akar-akarnya. Jika perlu aku akan mendatangi perkumpulan kalian di Padang Rumput Neraka!"


"Ingatlah dibenak kalian akulah Monster dari Yawadwipa, katakan itu kepada Sang Hyang Yamadipati saat bertemu kepadanya sebentar lagi, agar kalian dapat masuk kedalam neraka secepatnya! Hahahaha...!"