
"Ha? Bagaimana kau mampu memiliki jurus ini?"
Wang Fuhu cukup dekat dengan Naga Hitam, tentu dia mengetahui betapa berbahayanya api hitam itu. Karena itulah dia bergegas membuat jurus pertahanan terkuatnya, yaitu cermin iblis.
Melihat lawannya mengerahkan jurus yang mampu menyerap serangan gurunya dan bisa digunakan untuk menyerang balik, maka Suro tidak tinggal diam. Dia kemudian menunjukkan keistimewaan jurus yang dia gunakan.
Ketika api hitam yang melesat dengan wujud seekor serigala berkepala tiga hendak mengenai perisai lawan, maka sekejap kemudian kobaran api itu segera memecah untuk menghindar. Lalu dengan gerakan yang gesit tiga pecahan api hitam itu berusaha menyerang secara serentak dari tiga jurusan berbeda.
Setiap kali Wang Fuhu hendak menyerap jurusnya, maka kobaran api itu membelah kembali menjadi tiga kobaran api. Semakin lama kobaran api hitam itu semakin bertambah banyak.
"Kurang ajar, ini benar-benar jurus milik tetua Naga Hitam!"
"Hahaha...tentu saja memang ini jurus miliknya. Karena aku mendapatkan jurus ini langsung dari dirinya."
"Mustahil manusia gila itu mau berbagi tehnik rahasianya kepadamu. Cepat katakan bagaimana caramu mendapatkan jurus ini?"
"Mengapa aku harus merengek meminta tehnik itu? Dia justru dengan suka rela menunjukkan caranya kepadaku, jadi secara tidak langsung dia sendiri yang sudah mengajariku."
Wang Fuhu kebingungan mendengar ucapan Suro, dia tidak memahami maksud ucapan pemuda itu. Sebelum sempat menunggu jawaban Suro, dari segala sisi kobaran api hitam siap membakar habis tubuh lawannya menjadi abu.
"Selain itu, tidak usah memikirkan tetuamu yang bernama Naga Hitam itu, sebab tubuhnya sudah aku musnahkan bersama seluruh markasmu di Gunung Seribu Labirin!"
"Tidak mungkin!"
Iblis racun dan seluruh pasukan yang bersamanya kini benar-benar terkejut.
"Habisi mereka secepatnya!"
"Serang mereka berdua dengan Roda iblis!"
Teriakan kemarahan iblis racun semakin menjadi. Perintah itu langsung dilakukan oleh pasukannya, mereka menyerang eyang Sindurogo dan Suro secara serentak.
Pasukan Mawar Merah menyerang dengan menggunakan senjata rahasia berupa cakram bergerigi selebar telapak tangan. Seluruh senjata itu sangatlah beracun melesat cepat berputar-putar mengejar lawannya.
Suro beberapa kali mengerahkan jurus api hitam serigala neraka. Serangan balik yang dilakukan Suro itu bukan hanya menyerang Iblis racun, namun juga anak buahnya.
Hasilnya dalam waktu yang tidak beberapa lama, maka puluhan orang terbakar oleh panasnya kobaran api hitam. Tidak kurang dari empat puluh pasukan Mawar Merah akhirnya mati terkena serangan Suro.
Setiap kali api itu mengenai mereka, maka api itu segera menyelubungi seluruh tubuhnya. Semua berlangsung dengan cepat hanya dalam beberapa helaan nafas saja tubuh mereka telah menjadi abu.
Selain mati oleh jurus Suro mereka juga dibantai oleh eyang Sindurogo. Tidak ada satupun chakram terbang yang dikerahkan pasukan Mawar Merah mengenai tubuh mereka, justru perpaduan serangan antara guru dan murid itu yang telah menghabisi puluhan orang dari pihak lawan.
Sambil menyerang lawan, tubuh Suro maupun eyang Sindurogo terus berpindah tempat dengan cepat. Hal itu telah membuat lawannya kebingungan, sehingga mereka tidak mampu melesatkan seluruh serangan dengan tepat.
Kondisi itu juga membuat mereka seakan diserang oleh lawan dalam jumlah yang banyak. Akhirnya justru merekalah yang merasa seakan dikepung dari berbagai sisi.
Iblis Neraka yang melihat anak buahnya dibantai dengan begitu mudahnya tidak bisa berbuat banyak, sebab dia sendiri juga sedang kewalahan menghadapi kobaran api hitam dan juga puluhan pedang terbang yang dikerahkan Suro.
"Aku kira pedang-pedangku itu bisa kau serap juga dengan menggunakan jurusmu. Padahal aku sudah menunggu kejadian dirimu tersedak oleh pedang milikku!"
Suro terkekeh melihat lawannya mendengus kesal, karena jurus cermin iblis tidak bisa digunakan untuk menghadapi jurus pedang terbang milik Suro. Lelaki itu kemudian mengerahkan jurus andalannya yang lain.
"Kurang ajar!"
"Badai Pasir Hitam!"
Buuuuuum!
Ledakan pasir hitam disertai energi pedang membuyarkan kobaran api yang mengepung dirinya dan juga jurus pedang terbang milik Suro.
"Sebenarnya kalian ini sebangsa siluman atau manusia? Bagaimana mungkin kalian mampu berpindah tempat secepat ini?" Serangan yang dia kerahkan berkali-kali ke arah Suro dan juga eyang Sindurogo telah menghabiskan tenaga dalam yang cukup banyak.
Wajah dari Wang Fuhu semakin murka. Sebab saat itu puluhan anak buahnya telah terbaring tak bernyawa karena serangan balik lawannya.
"Kalian sepertinya telah memancing kemarahanku hingga kepuncaknya. Akan aku perlihatkan mengapa aku memiliki sebutan iblis racun!"
"Racun Dewa Yama!"
Melihat Wang Fuhu telah memulai jurus pamungkasnya, maka serta merta pasukan yang dia pimpin segera bergerak mundur sejauh mungkin. Mereka sepertinya mengetahui kedahsyatan jurus yang akan dia kerahkan itu.
Bersama ledakan aura kekuatan miliknya melesat lah gumpalan awan beracun dan juga pasir hitam. Kemudian awan beracun itu mulai membentuk sesosok manusia dengan tubuh sepenuhnya berwarna biru.
Tinggi sosok yang mengerikan itu lebih dari dua tombak. Pasir besi yang ikut dikerahkan itu membentuk sebuah zirah perang menutupi sekujur tubuh raksasa yang kini muncul.
Tubuh iblis racun sendiri telah hilang entah dimana. Kemungkinan besar berada didalam makhluk tersebut. Sehingga tubuh raksasa itu tak ubahnya sebagai perwujudan perisai raksasa bagi dirinya.
Lalu raksasa yang dikerahkan Iblis racun itu mulai menyemburkan gelombang asap dari mulutnya. Semburan asap beracun berwarna biru itu menyebar dengan cepat.
Kondisi itu memaksa Suro maupun eyang Sindurogo menjauh dari area asap yang disemburkan dari mulut makhluk didepannya.
Melihat terjangan kepulan asap yang semakin meluas, Suro menjadi khawatir dengan keselamatan gurunya. Dia yang memiliki kanda unsur air jenis perubahan air racun tentu tidak terlalu menghawatirkan serangan racun itu.
"Tehnik yang mengerikan," ucap eyang Sindurogo yang muncul di samping Suro.
"Pantas saja Batara Karang menaruh harapan besar kepada lelaki ini."
Dia memilih mundur dan berada didekat Suro, sebab hampir seluruh tempat telah dipenuhi kepulan seperti kabut beracun dari makhluk raksasa yang muncul didepan mereka.
"Apakah eyang memiliki saran menghadapi makhluk ini?"
"Entahlah, ngger. Aku sepertinya harus menggunakan jurus keempat atau kelima dan akan aku kubur mereka semua ditempat ini."
"Sepertinya aku punya rencana yang lebih bagus eyang. Kali ini percayakan pada Suro aku pasti akan menghabisi mereka semua," ucap Suro.
Dia tidak menunggu jawaban dari gurunya. Tubuhnya justru telah melesat masuk kedalam kepulan racun yang bergulung-gulung hendak menenggelamkan mereka.
"Dari tadi hanya kalian yang memamerkan jurus racun. Akan aku biarkan kalian mencicipi jurus racun milikku!"
Eyang Sindurogo segera mengenali jurus yang hendak digunakan Suro. Sebab dulu dia hampir mati karena jurus itu. Tetapi dia merasa ada tehnik lain yang digunakan Suro.
'Anak ini, sepertinya dia sudah jauh melampaui kekuatanku,' eyang Sindurogo menggumam pelan menatap ke arah Suro yang telah menghilang dalam kabut beracun yang berada tidak jauh dari hadapannya.
**
Kabut pekat yang berada disekitar Suro dan menyelimuti tubuhnya, justru dia kendalikan dengan tehnik perubahan air es. Seperti yang pernah digunakan Nara Shinga ataupun Nara Shoma dua bersaudara yang berasal dari perguruan cabang di Kerajaan Melayu.
Kabut beracun yang menyelimuti tubuh Suro, secara cepat segera berubah menjadi jarum kristal es yang tidak terhitung jumlahnya.
Tetapi tidak berhenti disitu saja tubuh raksasa biru dengan zirah perang dari tehnik perubahan tanah jenis logam yang berada didekatnya, justru seakan ikut tersedot.
Karena memang saat itu Suro telah menggabungkan tehnik perubahan air es dengan jurus empat Sage. Seluruh semburan beracun dan juga tubuh raksasa itu secara cepat terkikis dan tersedot ke dalam putaran kabut yang menggulung dan berputar menutupi tubuh Suro.
'Kurang ajar, bagaimana tubuh Dewa Yama milikku bisa terhisap seperti ini?' Wang Fuhu mulai panik melihat kemampuan lawan yang tidak dia duga sama sekali.
Secara bersamaan tubuh raksasa berwarna biru itu semakin mengecil.
"Manusia jenis apa sebenarnya kau ini bocah?" Terdengar teriakan iblis racun dari dalam tubuh makhluk raksasa.
Tangannya yang berwarna biru itu melesat menghantam ke arah Suro. Tetapi secara bersamaan pemuda itu melesatkan ribuan jarum ke arah tubuh raksasa itu dan juga ke arah pasukan Mawar Merah.
Racun yang ada dalam setiap jarum yang dikerahkan itu mengandung racun dari kitab dewa racun dan juga racun milik Wang Fuhu.
Hasilnya adalah tak satupun dari mereka yang berdiri. Tubuh mereka semua langsung tumbang, karena reaksi racun yang begitu mengerikan. Bahkan tanpa menunggu waktu lama, tubuh mereka segera membusuk dengan cepat.
"Kurang ajar!"
Rasa terkejut dari iblis racun semakin bertambah. Sebab setelah seluruh kabut racun yang dia semburkan dari makhluk biru itu diserap dan digunakan untuk menyerang balik, kini Suro membuat serangan lain.
Tubuh raksasa yang dikerahkan Wang Fuhu itu tidak lain adalah kabut beracun yang dipadatkan sedemikian rupa dengan pengendalian yang sangat rumit.
"Kali ini kau pasti mati!" Suro berseru dengan sebuah senyuman tersungging di ujung bibirnya.
Setelah jurus Tapak Selaksa Dewa Racun yang dia gunakan sebelumnya tidak berhasil, dia segera berpikir untuk menggunakan jurus lainnya.
"Petir Hitam!"
Dari dua tangan Suro segera melesat dua tehnik serangan yang mengerikan. Sebab itu adalah gabungan tehnik petir yang dia ambil dari jurus petir Dewa Rencong dan juga tehnik api hitam. Tetapi kali ini dia kerahkan dengan kekuatan penuh.
"Serap jurusku ini jika kau mampu!'
Duuuuuum!
Bldaar! Bldaar! Bldaar!
Tubuh raksasa itu langsung hancur menjadi kepulan asap. Zirah besi yang menutupi tubuh raksasa itu juga berubah menjadi taburan pasir besi. Tubuh Wang Fuhu yang berada didalamnya tidak sempat menyelamatkan diri.
Jurus cermin iblis yang dia kerahkan untuk menahan serangan itu justru menjadi senjata makan tuan. Karena begitu besarnya kekuatan yang dikerahkan Suro, maka tubuhnya meledak dan habis terbakar oleh petir dan juga kobaran api hitam.
"Akhirnya selesai sudah!" Suro menatap ke arah musuhnya yang sudah berubah menjadi abu.
"Aku tidak menyangka kekuatanmu sebesar ini sekarang ngger."
'Akhirnya semua selamat,' batin Suro.
Dia segera menjura ke arah gurunya itu sambil tersenyum cukup lebar.
**
Setelah pertempuran itu mereka berdua kemudian menemui tetua Dewi Anggini untuk bertanya mengenai sesuatu yang dicari Batara Karang.
"Sebenarnya itu adalah sebuah peta yang menunjukan suatu tempat dimana sebuah pusaka yang dimiliki seorang penguasa negeri ini yang pernah hidup ratusan tahun lalu.
Nama kaisar itu adalah Kaisar Qin Shi Huang. Dia adalah kaisar pertama yang mampu menyatukan seluruh negeri Atap Langit ini. Sebab dulu negeri ini terbagi menjadi enam wilayah kerajaan yang selalu terlibat peperangan.
Menurut cerita kaisar itu mampu menaklukkan wilayah kerajaan lain disebabkan oleh sebuah pusaka yang mampu mencuri berita dari langit. Nama pusaka itu bernama Kunci Langit.
Dengan pusaka itu dia mampu memprediksi kejadian yang akan terjadi kedepannya." Dewi Anggini mulai bercerita tentang sesuatu yang dia kubur dalam ingatannya.
Sebab itu juga akan membuka luka lama yang telah dia coba lupakan. Namun sejauh manapun dia berlari, ternyata masa lalunya terus mengikutinya. Kini dia hendak menyelesaikan apa yang telah terjadi sejak lama.
"Lalu dimana tempat pusaka itu disimpan adinda?" eyang Sindurogo bertanya kepada tetua Dewi Anggini dengan senyum yang sumringah.
"Aku sendiri tidak mengetahui tempatnya, tetapi menurut ayahandaku dia pernah menyebut kuburan dari kaisar Qin itulah tempat pusaka Kunci Langit disimpan."
"Begitu ternyata, entah apa yang hendak direncanakan oleh Batara Karang. Tidak mungkin dia hanya mengejar kemampuan pusaka yang mampu meramal itu, apa sebenarnya yang coba dia rencanakan?
Sebab mata nujum milik Dewa Kegelapan lebih kuat dibandingkan kemampuan pusaka Kunci Langit." ujar Suro mencoba mencari tau alasan Batara Karang yang bersusah payah hendak mendapatkan pusaka tersebut.
"Sebaiknya kita bertemu dengan sahabat lamaku, yaitu Dewa Obat. Dia juga disebut Dewa Segala Tau. Mungkin kita akan mendapatkan jawaban apa yang sedang kita cari dengan bertanya kepadanya." Eyang Sindurogo tersenyum ke arah Dewi Anggini yang berhasil dia selamatkan, setelah melacaknya hingga mengantarnya ke Negeri Atap Langit.
"Aku sudah cukup lama tidak pernah bertemu dengannya. Semoga saja dia masih hidup."