
Selarik sinar yang hendak meledakkan tubuhnya dapat ditangkis dengan serangan balasan yang dikerahkan Suro melalui sinar yang memancar dari jari telunjuknya.
Seseorang yang barusan menyerangnya kemungkinan berada pada jarak sepuluh tombak didepannya. Karena itulah dia kembali menyerang balik lawannya dengan melesatkan beberapa sinar dari ujung jari telunjuknya.
Bldaar! Bldaar! Bldaar!
Terdengar dikejauhan ledakan keras dari serangannya telah berhasil menghancurkan pepohonan.
Sebelum Suro kembali memberikan serangan susulan, mendadak dari arah lain melesat senjata rahasia yang begitu banyak seperti hujan.
Tring! Tring! Tring!
Serangan ribuan jarum kristal es itu berasal dari balik pepohonan. Suro langsung menangkisnya dengan mengerahkan puluhan bilah pedang terbangnya. Sebenarnya Suro cukup terkejut melihat asal serangan. Karena seharusnya dibalik pepohon itu tidak ada siapapun. Dia melihatnya dengan merasakan getaran tanah yang diterima telapak kakinya.
Selain itu Suro juga merasa, jika ribuan jarum kristal es itu sangat dia kenal, karena sangat mirip sekali dengan jurus Tapak Selaksa Dewa Racun. Puluhan pedang miliknya berseliweran disekitar tubuhnya terus menangkis semua serangan yang menghujaninya.
Suro masih tidak dapat mempercayai dengan hasil yang dia peroleh, setelah berkali-kali mencoba mendeteksi musuh melalui tehnik perubahan tanah miliknya. Sebab dia melihat dari apa yang dia tangkap, jika di balik pepohonan dimana ribuan jarum terus menyerangnya, dia tidak menemukan sosok apapun.
"Aneh? Bagaimana mungkin?"
Suro mulai mengernyitkan dahi, meskipun saat mendeteksi musuh, Suro tidak melihat secara langsung dengan kedua matanya, namun apa yang dia rasakan melalui getaran tanah yang ditangkap melalui telapak kakinya itu tidak pernah salah. Namun dia kebingungan, sebab serangan dengan tehnik perubahan es-racun dari balik pepohonan itu terus berlangsung.
Perasaan kebingungannya semakin bertambah dengan suara tawa yang melengking keras dari berbagai arah.
"Kihkihkihkihkih...!"
"Kihkihkihkihkih...!"
Suara tawa yang melengking itu bukanlah sesuatu yang biasa, karena memiliki kekuatan yang sangat dia kenalinya, yaitu serangan gendam milik Pujangga gila. Seperti juga jurus yang dimiliki orang gila itu, suara itu dilambari energi tebasan pedang angin.
Tetapi beruntung semua energi pedang angin itu dapat di tahan dengan menggunakan puluhan pedang terbang miliknya.
"Makhluk apa sebenarnya yang sedang menyerangku ini?" Suro kebingungan karena dia tidak merasakan gerakan makhluk itu menapak tanah. Bahkan puluhan tombak kedepan maupun kebelakang dan seputaran tempatnya berdiri, dia tidak merasakan adanya makhluk hidup.
Sosok yang pertama kali menyerang dirinya juga sudah menghilang. Dia merasa yang menyerang dirinya pertama kali dengan sinar merah, tidaklah sama dengan yang terus menghujaninya dengan serangan jarum kristal es. Kemungkinan musuh itu telah kabur masuk ke hutan lebih kedalam lagi.
Suara tawa yang sebelumnya melengking keras, kini terdengar semakin jelas. Bahkan Suro merasa apapun itu yang sedang tertawa sahut-bersahutan, telah mengepung dirinya.
"Apakah ini salah satu bentuk ilmu sihir?"
Dan benar saja apa yang dirasakan Suro, kali ini serangan yang menerjang dirinya berasal dari seluruh sisi. Beruntung dia telah membawa persiapan berupa puluhan bilah pedang di punggungnya. Bilah pedangnya dapat menutup seluruh serangan yang menerjang dari berbagai arah.
Blaar! Blaar! Blaar!
"Sebentar, sepertinya hawa ini aku mengenalinya?"
"Benar ini hawa semacam makhluk yang disebut paman Maung sebagai Braholo yang ada di hutan Gondo Mayit. Tetapi mengapa para makhluk ini dapat tertawa seperti kuda dan menyerang dengan menggunakan senjata seperti kristal es beracun?"
Suro dapat mengenali, jika jarum yang menghujani dirinya sangatlah beracun dari warna hitamnya dan juga bau busuk yang dapat tercium bersama lesatan jarum itu.
Blaaar! Blaaar! Blaaar!
Dia kembali lagi menghancurkan seluruh pepohonan yang ada disekitar tempat dia berdiri dengan menggunakan jurus kedua Tapak Dewa Matahari. Kali ini kehancuran akibat serangan yang dia lakukan barusan sangat luas. Sehingga tempat dimana dia berdiri menjadi tanah lapang. Sebab semua pepohonan telah tumbang rata dengan tanah.
Beberapa saat setelah serangan yang dia lakukan barusan, semua mendadak menjadi sunyi. Sura tawa yang terdengar melengking telah menghilang.
Kondisi itu tidak membuat Suro menurunkan kewaspadaannya. Karena bisa saja akan terjadi kembali serangan mendadak dari arah yang tidak disangka. Dia sebenarnya masih penasaran mengapa dia tidak menemukan keberadaan musuh, meskipun telah mendeteksinya dengan menggunakan perubahan tanah miliknya.
"Menurut penjelasan Paman Maung Braholo hanyalah sebentuk energi yang tidak memiliki wadak, seharusnya mereka tidak mampu menyerang dengan jarum yang sangat beracun, karena itu adalah perubahan es-racun yang tidak bisa dikerahkan oleh makhluk semacam Braholo?"
"Entah apa yang terjadi, tetapi sepertinya penjelasan Mbah Wiro pemilik warung itu memang benar. Karena memang disinilah pusat makhluk kegelapan yang telah menyerang beberapa daerah yang ada disekitar danau ini berasal."
''Karena jika dihubung-hubungkan dengan penjelasan paman Tohjaya daerah yang dia sebutkannya memang mengelilingi danau ini. Jadi perkiraan awalku memang benar jika pulau di tengah danau memang telah dijadikan markas bagi Tongkat iblis."
Beberapa saat kemudian, serangan kembali menghujani dirinya dari tempat yang lebih jauh. Makhluk yang terus menyerang dirinya belum mampu dia lihat wujudnya. Sambil terus menangkis serangan yang menghujani dirinya, Suro mencoba memecahkan teka-teki keberadaan makhluk kegelapan yang menyerangnya dengan cara yang sangat misterius.
Dia sebenarnya merasakan keanehan sejak ketua Tohjaya menjelaskan kejadian yang ada dibeberapa wilayah yang dia sebutkan. Karena para makhluk kegelapan itu seperti tidak ingin diketahui keberadaannya dengan mencari korban jiwa secara diam-diam.
Akhirnya Suro mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindari serangan yang terus menghujani, sekaligus bergerak ke arah hutan lebih dalam. Dia melakukan itu, karena dia juga hendak menyelidiki apa yang hendak disembunyikan Tongkat iblis, sehingga tidak membiarkan siapapun memasuki pulau tersebut.
Pulau yang berada ditengah danau itu dipenuhi pepohonan yang sangat rimbun, sehingga seluruh bagian dari pulau itu adalah hutan yang hampir tidak tersentuh oleh manusia.
Suro beberapa kali harus mengerahkan Langkah Maya untuk menghindari serangan musuh, dan terus bergerak untuk menemukan hal yang janggal.
Namun semakin dalam dia menjelajahi hutan itu, dia tidak menemukan hal apapun, kecuali pepohonan dan semak. Selain itu Suro juga masih tidak berhasil melihat sosok yang terus menghujani dengan jarum kristal es beracun. Dia merasa lawannya itu entah bagaimana caranya dapat berpindah-pindah sangat cepat, sehingga dia tidak mampu memiliki kesempatan untuk mencoba menangkap keberadaannya.
Meskipun serangan terus menghujani, namun seluruh serangan itu tidak ada yang mampu menembus pertahanan Suro. Tidak ada satupun serangan lawan yang berhasil melukai tubuh Suro. Karena jurus pedang terbang milik Suro bergerak sangat cepat dan membentuk perisai pedang yang sangat kokoh.
Setelah beberapa kali menghindari serangan lawan, akhirnya Suro memiliki peluang untuk mengetahui bentuk musuhnya yang terus menyerangnya. Dia mengunci target yang akan dia tangkap. Saat ini musuh masih mengepungnya dari berbagai arah.
Dengan menggunakan langkah maya, Suro menghilang dan kemudian muncul kembali dibalik pohon dimana musuhnya terus menyerangnya. Akhirnya Suro melihat musuh yang terus menyerangnya.
"Makhluk apa ini?" Suro terkejut dengan pemandangan yang ada didepan matanya.