SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 472 Gerbang Ketiga Kemunculan Iblis



Di saat pertarungan antara kedua jendral berlangsung, peperangan semakin meluas. Semua pasukan Macan Hitam yang bergerak bersama para punggawa lain berusaha menahan serangan ratusan penyusup yang telah membantai ribuan pasukan kekaisaran.


Tubuh mereka yang kebal tidak mampu dilukai dengan senjata biasa membuat pasukan Macan Hitam dan pasukan pemanah, justru semakin banyak yang tewas. Mereka kebanyakan tidak selamat setelah tidak mampu menghindari serangan musuh yang menggunakan jarum beracun.


Satu jarum kecil itu sudah cukup untuk membuat pasukan Macan Hitam merenggang nyawa. Racun itu begitu kuat, bahkan karena kuatnya racun yang digunakan mampu membunuh pasukan Macan Hitam yang sudah ditingkat langit sekalipun.


Kuatnya racun yang digunakan mampu membunuh mereka dalam waktu yang tidak beberapa lama. Karena serangan itu mengenai titik penting dalam tubuh mereka.


Sekuat apapun tingkat kekuatan mereka, tetapi mereka tetaplah manusia, sehingga jika serangan itu melukai organ penting dalam tubuh, tentu akan mampu melenyapkan nyawa mereka.


Siapa diantara manusia yang masih dapat hidup jika racun itu membuat jantung mereka berhenti berdetak. Atau mungkinkah ada manusia ada yang dapat tetap hidup jika nafas mereka berhenti, sebab paru-paru mereka mendadak berhenti berfungsi. Tentu sekuat apapun manusia itu, pasti akan mati.


Seperti itulah yang terjadi pada pasukan Macan Hitam. Mereka tidak mampu bertahan lebih lama ketika racun sudah masuk ke dalam tubuh


Tidak butuh waktu yang lama mereka mati setelah tubuh mereka tertancap jarum beracun itu. Karena memang serangan jarum itu datang seperti hujan.


Dengan serangan seperti itu banyak yang tidak mampu menghindar, atau kecolongan sehingga satu jarum saja sudah cukup untuk membunuh mereka.


Meskipun begitu Pasukan Macan Hitam dan para punggawa diantaranya Jendral Tian Bai dan Jendral Xiao Long terus bertahan untuk mencegah pembantaian pasukan mereka.


Pertarungan antara Jendral Ulagan dan Jendral Yuwen Huaji masih terus berlangsung. Setelah melihat peningkatan kekuatan yang dikerahkan Jendral Ulagan, membuat Jendral Yuwen Huaji menjadi bertambah waspada.


"Ternyata kini kau tak lebih daripada wujud seorang iblis. Dengan wujudmu sekarang, kau dan pasukan yang bersamamu tidak pantas lagi disebut manusia!"


Jendral Ulagan menggerung murka, "tutup mulutmu!"


Kekuatannya yang sudah meningkat beberapa kali memang ampuh mematahkan jurus kedua milik Jendral Yuwen Huaji, tetapi itu tidak cukup jika hendak mengalahkan lawannya. Dia lalu mengerahkan jurus kedua dari Tombak Sang Talaka.


"Jurus kedua Sang Talaka Menuju Langit!"


Merasakan tekanan kekuatan dan jurus yang tombak yang bergerak laksana badai, membuat Jendral Yuwen Huaji harus berhati-hati. Dia lalu menyiapkan jurus pedang miliknya yang lebih kuat.


"Berbanggalah kau akhirnya akan merasakan jurus ketigaku ini!" Meskipun tubuh musuhnya sangat kuat dan tidak mudah dilukai, tetapi jiwa petarung Panglima Kekaisaran Shui tidak mudah menyerah semudah itu.


"Jurus ketiga Pedang Musim Semi!"


Jurus ketiga ini lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Jurus pedang milik panglima perang kekaisaran Shui itu bergerak begitu cepat. Begitu juga perubahannya yang sulit ditebak.


Seakan cabang yang tumbuh dengan cepat, atau mirip daun-daun yang mulai tumbuh di saat musim semi. Sehingga satu tebasan pedang yang dikerahkan Jendral Yuwen Huaji mampu meraba gerakan musuh beberapa langkah ke depan.


Beberapa kali saat Jendral Ulagan hendak bergerak menghindar, maka pedang itu telah menyongsong dan menghadang gerakannya.


Tetapi gerakan cepat dari tombak miliknya seperti ombak yang menderu menyapu segala hal yang ada didepannya. Kekuatan yang melambari serangan tombaknya tidak lagi seperti sebelumnya.


Karena alasan itulah Jendral Ulagan kali ini terlihat lebih percaya diri setelah membuka gerbang kedua dari kekuatan yang berasal dari benih iblis miliknya.


Mengetahui jurus ketiga dari Pedang Musim gugur tidak mampu menembus kekuatan musuhnya, maka dia segera mengerahkan jurus pedang yang lebih kuat.


"Jurus Pedang Musim Panas!"


Kali ini serangan yang dikerahkan oleh Jendral Yuwen Huaji mirip jurus pedang milik Suro yang menggunakan Pedang Kristal Dewa. Sebab seluruh bilah pedang miliknya diselimuti api.


Serangan kali ini membuat Jendral Ulagan bergerak menghindar. Dia tidak lagi seperti sebelumnya, yaitu menghadapi tebasan pedang tanpa memikirkan resikonya.


Melihat musuhnya menghindar cepat seperti ketakutan setelah melihat bilah pedang miliknya yang telah membara berwarna merah, Jendral Yuwen Huaji mulai memicingkan mata dan berpikir cepat.


Meskipun dia belum mengetahui apa yang menyebabkan lawannya seperti ketakutan. Dia lalu tidak mensia-siakan kesempatan itu.


Jurus pedangnya dikerahkan dengan lebih dahsyat hendak mengurung lawannya. Jawaban akan ketakutan Jendral Ulagan segera terjawab, sebab tubuhnya itu terbakar oleh sabetan bilah pedang milik Jendral Yuwen Huaji yang sudah berubah menjadi sedemikian panas.


Jendral Yuwen Huaji segera mengingat kejadian sebelumnya saat pasukan Khan Langit yang terjebak berhasil mereka habisi semua. Dia mengingat pasukan berkulit hitam seperti Jendral Ulagan juga mati terpanggang. Yaitu saat pertempuran di Tebing Besar Yangu.


Sebab terlihat dengan mata kepala sendiri jika tubuh pasukan berkulit hitam itu tidak mampu lolos dari panasnya lautan api yang diciptakan pasukan kekaisaran. Akhirnya pada pertempuran itu pasukan musuh mati terpanggang disana.


Mengetahui hal itu Jendral Yuwen Huaji seperti terpacu semangatnya mengetahui dirinya memiliki kesempatan dapat menghabisi musuhnya. Jurus pedang miliknya bergerak semakin cepat seperti letusan gunung berapi.


Tetapi luka-luka bakar yang ditimbulkan oleh serangan pedang miliknya tidak cukup untuk membuat lawannya tewas. Bahkan dengan cara yang entah bagaimana luka-luka bakar itu dapat pulih dengan cepat.


Mengetahui jurus tidak cukup kuat untuk menjatuhkan lawannya, dengan terpaksa akhirnya Jendral Yuwen Huaji segera mengerahkan jurus pamungkas yang dia kuasai.


"Pedang Pancaroba!"


Dalam satu tebasan yang dia kerahkan memiliki kekuatan yang mampu membekukan gerakan musuh sekaligus mengurung dalam kobaran api. Selain itu mampu membaca setiap gerakan yang dikerahkan Jendral Ulagan.


Dengan serangan itu Jendral Ulagan memang terluka semakin parah, tetapi serangan itu tidak juga mampu membuat musuhnya terkapar bersimbah darah. Alih-alih kesakitan dan panik dengan sekujur tubuhnya yang terbakar oleh sabetan pedang yang menghujani tubuhnya, justru terlihat sebentuk senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.


"Mengecewakan, aku menyangka jurus Pedang Pancaroba milikmu sangat dahsyat, tidak taunya hanya seperti ini! Hahahaha...!"


Padahal keadaan Jendral Yuwen Huaji sudah mulai terkuras tenaga dalam miliknya setelah mengerahkan jurus pamungkas barusan. Sebab di saat bersamaan dia harus mengerahkan dua perubahan , yaitu tehnik perubahan es dan tehnik perubahan api.


Selain itu ilmu meringankan tubuh yang mendukung gerakan cepat dalam jurusnya itu ikut membuat tenaga dalamnya terkuras semakin banyak.


Tawa keras Jendral Ulagan menyadarkan Jendral Yuwen Huaji, jika luka yang diderita lawannya akibat serangan yang dia kerahkan barusan sudah kembali pulih.


"Sialan, makhluk apa kau sebenarnya?"


"Hahahahaha...!" Jendral Ulagan hanya menjawab dengan suara tawanya yang semakin keras.


'Jika serangan seperti itu saja tidak mampu membunuhnya, lalu dengan cara apa agar dia dapat aku habisi?' Jendral Yuwen Huaji mendengus kesal sambil membatin.


Dia yang sebelumnya memiliki harapan dapat menghabisi musuhnya, kali ini seperti kehilangan harapan. Sebab musuh didepannya masih mampu bertahan dari serangan terkuat miliknya.


"Waktumu sudah habis Yuwen!" Jendral Ulagan menyeringai memperlihatkan taringnya yang seolah lebih panjang dari sebelumnya.


"Gerbang ketiga Kemunculan Iblis!"


Bldaaar!


Wuuuus...


Craaas...


Peningkatan kekuatan yang didapatkan dari membuka gerbang benih iblis miliknya membuat kecepatan serangan Jendral Ulagan meningkat berkali lipat.


Serangan balik dari Jendral Ulagan kali ini tidak dapat lagi ditanggung oleh Jendral yuwen Huaji. Apalagi saat itu dia memang sudah terkuras kekuatannya setelah mengerahkan jurus pamungkasnya. Dadanya tertembus oleh tusukan tombak milik Jendral Ulagan.


Luka parah yang diderita Jendral Yuwen Huaji membuatnya langsung terjatuh. Jendral Tian Bai segera menolong panglima besar kekaisaran itu sebelum benar-benar dihabisi oleh lawannya.


Pasukan kekaisaran yang berada ditempat itu terkejut menyaksikan kejadian itu, mereka segera bergerak untuk menyelamatkan panglimanya. Secara bersama-sama mereka lalu menggotong tubuh Jendral Yuwen Huaji menyingkir dari area pertempuran dan bergerak mundur.


Kali ini Jendral Ulangan dihadapi oleh Jendral Tian Bai. Tetapi itu juga tidak bertahan lebih lama, harus ada yang membantu menghadapi jendral pasukan musuh yang terkenal kuat itu.


Akhirnya Jendral Xiao Long dan Kolonel Xian Hua komandan Pasukan Macan Hitam ikut serta menghadapi Jendral Ulagan. Selain mereka bertiga pasukan Macan Hitam tetap bertahan, sehingga mampu memberikan kesempatan bagi pasukan pemanah dan juga pasukan lainnya, termasuk yang sedang berusaha menyelamatkan Jendral Yuwen Huaji, dapat bergerak mundur dengan aman.


Mereka akan berusaha menahan serangan musuh selama mungkin, sampai mereka dapat memastikan pasukan yang bergerak mundur itu benar-benar telah cukup jauh.


"Kalian mengganggu saja, jangan menyesal nyawa kalian akan aku habisi berani menghadang jalanku!"Jendral Ulagan mendengus kesal.


Tombak miliknya langsung menerjang ke arah tiga orang yang menghadangnya. Tentu saja tiga orang itu bukan lawan yang seimbang jika berhadapan satu lawan satu.


Tetapi mereka bertiga bergerak saling mengisi, sehingga terbentuk serangan yang seakan terencana dengan baik. Jendral Tian Bai menyadari betapa mengerikan musuh yang berada didepannya, karena itu dia dan dua temannya tidak berani beradu keras.


Diantara mereka bertiga Xian Hua yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling tinggi, karena itulah dia terus berusaha membuat sibuk Jendral Ulagan.


"Kalian akan aku binasahkan!"


Duuuum!


Hantaman tombak mengenai tanah dan menghancurkan bebatuan. Jendral Xiao Long memilih berjumpalitan dibanding menangkis serangan tombak Jendral Ulangan.


Dia bersyukur langsung bergerak menghindar. Sebab bebatuan yang dihantam hancur dan membelah dengan begitu panjang. Jendral Xiao Long sudah mampu membayangkan akan menjadi apa dirinya jika berani memapak serangan berkekuatan besar itu.


Sebelum Jendral Ulagan bergerak mengejar Xiao Long, maka Xian Hua bergerak menerjang. Dia hanya mencoba mengalihkan perhatian musuh, sehingga Jendral Xiao Long ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.


Mereka bertarung dengan Jendral Ulagan tidak sampai berpuluh-puluh jurus. Saat melihat pasukannya telah berhasil menyelamatkan Jendral Yuwen Hua, maka Jendral Xiao Long lalu memberi kode kepada dua rekannya dan juga pasukan Macan Hitam untuk bersiap-siap mundur.


Pada saat bersamaan mereka bertiga segera membuat jarak dari Jendral Ulagan. Mereka harus melakukan secara serentak, jika tidak maka salah satu dari mereka akan tewas dihabisi oleh Jendral Ulagan yang masih mengamuk.


"Munduuur!"


Setelah berhasil membuat jarak dengan Jendral Ulagan, maka Jendral Xiao Long berteriak kepada pasukan Macan Hitam untuk mengikuti mereka bergerak mundur dan bergabung bersama pasukan yang lain.