SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 340 Kabar Buruk Dari Alam Lain



Setelah menghilang dari tengah-tengah kerumunan para murid perguruan Pedang Surga, Suro kemudian muncul ditempat yang ditunjukkan oleh Made Pasek.


"Nakmas Suro?" Dewa Pedang terlihat terkejut dengan kedatangan Suro yang mendadak muncul. Dia juga terkejut melihat Suro bersama dara belia yang menemani kedatangannya.


Sebelum kedatangan Suro, terlihat Dewa Pedang sedang berbincang dengan dengan eyang Udan Asrep. Mereka berdua segera menyambut kedatangan Suro.


Setelah berbasa basi sebentar, Suro lalu mengutarakan niat kedatangannya untuk mengabarkan berita yang harus segera diketahui oleh Dewa Pedang maupun eyang Udan Asrep.


"Ada hal gawat paman dengan berita yang aku bawa dari alam lain. Sebagian besar adalah hal buruk."


"Salah satu sebabnya adalah kemungkinan kedatanganku ke alam lain menyusul Dewa Kegelapan, adalah salah satu tipu muslihat yang sudah direncanakan oleh makhluk itu. Intinya aku sudah masuk kedalam jebakan yang sengaja dilakukan Dewa Kegelapan.


Meskipun aku tidak sampai dikuasai sepenuhnya seperti eyang guru, tetapi dengan cara yang licik dia akhirnya berhasil merebut relik kuno yang aku kumpulkan. Dia melakukan itu, saat aku dalam kondisi tidak mampu mencegahnya."


"Ha...gawat...bagaimana mungkin dia mengambil? Bukanlah benda itu telah nakmas simpan dalam Tuskara Deva? Bukankah tidak seorangpun yang mampu mengambil apapun yang telah masuk ke dalam pusaka itu?"


"Benar paman guru, hanya saja Dewa Kegelapan cukup licik untuk mengakalinya. Agaknya mata nujum yang dia miliki bukanlah isapan jempol belaka. Mata itu mampu mengetahui yang telah terjadi maupun apapun yang akan terjadi dimasa depan."


Suro lalu dia mulai menceritakan bagaimana Dewa Kegelapan akhirnya berhasil merebut relik kuno dan membebaskan kekuatannya.


"Ha...apa? Dewa kegelapan akhirnya berhasil membebaskan seluruh kekuatannya?" giliran Eyang Udan Asrep yang duduk disamping Dewa Pedang terkejut mendengar cerita Suro mengenai keberhasilan Dewa Kegelapan membebaskan kekuatannya.


"Benar eyang Udan Asrep," jawab Suro sambil menghela nafas panjang.


"Lalu bagaimana caranya kita mampu menghabisi makhluk itu? Sebab tanpa kekuatan sejatinya pun kita sudah kesusahan untuk mengalahkannya?" Kali ini eyang Udan Asrep terlihat sedikit panik.


Apa yang dikabarkan Suro, benar-benar membuat dua pendekar itu panik. Mereka saling berpandangan dan kehilangan kata-kata. Berita yang dikabarkan Suro sesuatu yang berat untuk diterima.


Sebab beberapa kali mereka menghadapi anak buahnya, yaitu Batara Karang dan Batara Antaga saja kesusahan, apalagi kini harus menghadapi Dewa Kegelapan dengan kekuatan penuhnya.


"Walaupun makhluk itu berhasil membebaskan kekuatannya, namun dia tidak berhasil menyerap seluruh kekuatannya, sebab..."


Dewa Pedang terkejut mendengar cerita setelah Dewa Kegelapan berhasil membuka segel dewa yang mengurung kekuatan sejatinya.


"Jadi seperti itu justru sekarang seluruh nadimu dapat terbuka secara lebar? Ini sesuatu yang tidak disangka sama sekali. Kekuatanmu juga meningkat dengan begitu pesat."


"Paman sebut itu kejadian yang sangat luar biasa. Nakmas seperti memiliki nyawa kedua, setelah mampu melewati keadaan tersebut. Bahkan kondisi nakmas antara hidup dan mati itupun justru berubah menjadi berkah bagi perkembangan kekuatan nakmas."


"Kekuatan paman guru juga sudah mencapai tingkat surga, agaknya eyang guru berhasil membuat Pill Bhavana Sahasra Nirwana. Ternyata pill itu berkali-kali lipat lebih kuat dibandingkan pill tujuh bidadari."


"Tidak salah memang ucapan eyang guru, jika resep itu didapat dari seseorang yang memiliki sebutan dewa obat."


"Paman sebenarnya masih tidak mampu mempercayai dengan apa yang nakmas katakan, bagaimana mungkin seorang manusia mampu menyerap kekuatan Dewa Kegelapan."


"Bagaimana mungkin nakmas memutuskan perbuatan senekad itu?"


"Aku tidak memiliki cara lain, hanya cara itu yang terlintas dalam pikiranku paman. Tanpa memikirkan resikonya, Suro langsung melakukan sebisa mungkin agar mampu mencegah Dewa Kegelapan menyerap seluruh kekuatannya. Meskipun nyawa yang menjadi taruhannya."


"Untung saja tubuh nakmas tidak hancur meledak, karena tidak mampu menampung seluruh kekuatan itu."


"Aku juga tidak menyangka dengan hal yang terjadi paman. Sebab tubuhku yang hampir meledak, mendadak mulai menyesuaikan diri. Kondisi itulah yang menyelamatkan diriku."


"Satu lagi kabar tentang Batara Karang, kemungkinan dia juga telah mendapatkan kekuatan dewanya kembali, setidaknya kekuatan yang mendekati dewa."


"Gawat, cerita nakmas telah membuat diriku juga kakang Udan Asrep tidak akan nyenyak tidurnya. Padahal kita sudah meningkatkan kekuatannya sampai setinggi ini, namun musuh justru telah berhasil meningkatkan kekuatannya berkali lipat." Dewa Pedang mulai mengurut-urut keningnya yang juga mulai pusing tingkat dewa.


"Sebentar, bukankah aku dengar nakmas pergi diiringi Geho sama? Pergi kemana dia? Mengapa aku tidak melihatnya?" Eyang Udan Asrep teringat dengan Geho sama, sebab kabar tentang kepergian Suro ke alam lain lebih dari tiga purnama yang lalu bersama Geho sama.


"Atau jangan-jangan ini adalah wujud Geho sama yang baru?" Eyang Udan Asrep bertanya ke arah Suro sambil menunjuk Luh Niscita.


"Hahaha...bukan...bukan eyang Udan Asrep dia Luh Niscita. Maaf Suro lupa memperkenalkan kepada paman berdua."


"Mengenai Geho sama dia masih ada urusan di alam lain membantu penduduk negeri bawah tanah yang sebelumnya Suro telah ceritakan. Selain itu Suro hendak memastikan, tentang hilangnya para makhluk kegelapan yang biasanya memenuhi alam itu."


"Karena terakhir kali Suro pantau mereka semua telah menghilang tanpa ada jejak sama sekali. Geho sama mewakili diriku memastikan keberadaan para makhluk kegelapan itu menghilang sepenuhnya atau tidak."


"Sedangkan dara cantik yang datang bersamamu ini siapa, nakmas?"


"Apa, ayahnya adalah saudara kembar dari Pujangga gila..."


"Sebentar sepertinya aku perlu meminum air dulu kepalaku mulai berputar."


Glek, glek, glek...


Dewa Pedang segera menghabiskan minuman satu kendi kecil didepannya.


"Lalu ada kabar apa lagi yang ingin nakmas sampaikan? Jantungku sepertinya masih kuat mendengar kabar mengejutkan berikutnya."


Suro tertawa cekikikan mendengar ucapan Dewa Pedang yang terus sibuk memijat keningnya.


"Setelah kabar buruk itu, sebaiknya Suro juga mengabarkan berita baik. Salah satunya adalah kekuatanku telah meningkat tajam. Selain itu aku kemungkinan dapat menghadapi kekuatan Dewa Kegelapan dengan meminjam kekuatan dewa juga."


"Maksudnya?"


"Singkat cerita dalam kondisi tertentu, aku bisa menggunakan kekuatan Sang Hyang Wenang untuk menghabisi Batara Karang dan Dewa Kegelapan yang telah mendapatkan kekuatannya kembali."


"Ha...?" Secara serentak mereka bertiga, bukan Dewa Pedang ataupun Eyang Udan Asrep, tetapi Luh Niscita yang sedari tadi hanya tersenyum setiap kali namanya disebut dan diperkenalkan oleh Suro ikut terkejut.


"Jadi benar ucapan ramanda, jika kakang ini dewa yang turun kebumi?"


Suro menggaruk-garuk mendengar pertanyaan Luh Niscita. Dia kesulitan menjelaskan secara terperinci.


"Berarti kalau Luh Niscita berhasil menikahi kakang, anakku adalah keturunan dewa? Akhirnya keinginan ramanda akan terwujud memiliki cucu seorang dewa."


Suro menepuk-nepuk jidatnya tanpa henti. Eyang Udan Asrep dan Dewa Pedang tidak kalah terkejutnya mendengar ucapan Luh Niscita.


"Jika memang seperti ini Luh Niscita tidak mempermasalahkan keputusan kakang. Jika kakang menjadikan yang pertama Luh Niscita akan sangat bahagia, tetapi jika menjadikan yang kedua maupun ketiga Luh Niscitapun tidak mengapa. Semua tetap Luh Niscita terima."


Kali ini jidatnya bukan ditepuk-tepuk lagi, tetapi dijedotkan ke tiang rumah yang ada disebelahnya.


Dewa Pedang dan Eyang Udan Asrep justru tertawa terpingkal-pingkal. Dia merasakan ada yang aneh dengan hubungan dua pemuda didepannya itu.


Dua pendekar itu juga sedikit merasakan keanehan dalam fisik Luh Niscita, selain kepolosannya dia tidak pernah melihat kulit perempuan yang seputih dan wajah secantik seperti yang dimiliki dara disamping Suro. Tetapi yang lebih aneh lagi adalah kepolosannya yang tidak kepalang tanggung.


"Bagaimana kabar eyang guru, paman? Aku belum sempat menemuinya, setelah bertemu dengan paman rencananya aku akan menemuinya. Karena selain dengan paman kabar ini harus aku bicarakan dengan eyang guru juga."


"Ini juga ada kabar buruk yang sebaiknya nakmas mengetahuinya," Dewa Pedang membalas pertanyaan Suro dengan nada pelan.


"Kabar buruk? Maksud paman? Apa yang terjadi dengan eyang guru, paman? Eyang guru masih hidup kan?"


"Tenang nakmas, eyang Sindurogo baik-baik saja sejauh yang aku tau. Namun dia pergi bersama Dewa Rencong menuju Negeri Atap Langit. Sebab tetua Dewi Anggini berhasil diculik musuh dan dibawa ke Negeri Atap Langit atas perintah Batara Karang."


"Tetua Dewi Anggini diculik? Bagaimana caranya menculik seorang pendekar yang kekuatannya telah mencapai tingkat shakti tahap akhir?"


"Tidak nakmas, bukan tingkat surga tahap akhir. Dewi Anggini sudah mencapai tingkat langit. Dia juga mengkonsumsi pill Bahavana Sahasra Nirwana."


"Lalu Bagaimana dia dapat diculik, jika sudah memiliki kekuatan tingkat langit, paman?"


"Dia telah diracun, sehingga tenaga dalamnya seakan musnah dan seluruh kekuatannya fisik juga menghilang. Bisa dikatakan dia seperti orang lumpuh."


"Gawat, seperti dugaanku...mereka pasti menggunakan racun pelumpuh tulang untuk melumpuhkan tetua Dewi Anggini?"


Sebelum dua pendekar itu bertanya, Suro telah menceritakan bagaimana dia mengetahui dan sekarang mampu membuat penawarnya.


"Sebaiknya aku akan menyusul kesana paman. Tidak ada yang mampu menghadapi racun itu, kecuali telah memiliki penawarnya. Suro sendiri sewaktu terkena racun tersebut dapat menahan sesaat hanya karena sebuah keberuntungan. Jika tanpa sharkara Deva tentu aku juga dapat dilumpuhkan."


Suro lalu menceritakan kepada dua pendekar tentang peristiwa waktu itu yang dialami Suro.


"Lalu bagaimana aku kakang, jika kakang pergi sendirian aku pergi kemana?"


Suro tidak menjawab pertanyaan Luh Niscita, dia justru bergegas meminta ijin kepada Dewa Pedang dan kepada eyang Udan Asrep untuk undur diri, sekaligus meminta ijin untuk menyusul gurunya ke Negeri Atap Langit.