
Pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya itu segera membuat Suro menatap dengan cukup waspada. Maung sedari tadi menggerung dengan cukup keras telah memecah kesunyian malam dipinggir telaga Sarangan.
Dua ekor ular raksasa yang sangat besar mendekat kearahnya dengan cepat. Dua ular itu terlihat begitu murka dengan kehadiran Suro.
Maung kali ini mengaum dengan begitu keras melebihi suara gerungannya. Dia begitu cemas melihat bahaya yang datang semakin mendekat.
"Maung cepat naik ke atas!Jangan mendekat dia bukan lawanmu!" Suro segera berteriak keras memberi perintah Maung untuk segera menjauh.
Mendengar auman Maung yang begitu keras justru membuat raksasa itu bergerak semakin cepat. Dua ular besar itu muncul dari dasar telaga yang tidak jauh dari batu besar tempat Suro sebelumnya bersamadhi. Dua ular itu begitu terusik dengan kegiatan Suro yang menghisap energi alam dengan begitu kuat.
Itulah mengapa sebelumnya bumi terasa berguncang dengan begitu kuat. Sebab dua ular itu menghantam tubuhnya ke dinding goa didasar telaga yang terhubung dengan batu besar tempat Suro bersamadhi.
Setelah semakin dekat Suro segera mengetahui sedang berhadapan dengan naga jenis apa yang hendak menghabisinya itu. Sisiknya yang berwarna keemasan seakan terbuat dari emas murni terlihat paling mencolok.
Dua ular itu memiliki ukuran yang berbeda. Salah satunya berukuran sedikit lebih kecil. Tetapi justru yang kecil itu terlihat begitu buas.
Kedua ular itu memiliki cambang dan juga sungut. Ular yang memiliki ukuran lebih kecil mempunyai sebuah mahkota mirip jengger seekor ayam jago.
"Pantas saja mengapa di atas batu besar itu memiliki kepadatan energi alam yang tidak biasa. Penyebabnya adalah dua ular ini. Ular yang memiliki nama Naga Raja sisik emas."
"Sepertinya aku sedang mendapatkan keberuntungan besar. Mereka adalah satu pasangan yang artinya mereka terusik karena takut mustika yang sedang mereka erami aku ambil. Selain itu mereka muncul karena terusik energi alam yang sedang mereka himpun untuk mengerami butir telur justru aku serap."
Segera setelah sampai didepan Suro dua ular menyerang Suro secara beruntun. Dia bergerak dengan lincah berkelit berkali-kali menghindari serangan dua ular itu. Dia sengaja tidak berusaha membalas karena kedua ular itu sangat langka keberadaannya di alam.
Bahkan keberadaannya dianggap sebagai sebuah mitos belaka. Mereka memiliki kemampuan yang sangat unik, yaitu mampu mendatangkan energi alam yang kuat. Sehingga jika ada yang dalam kondisi sakit berat ditempatkan pada sarang ular itu maka kemungkinan dia akan pulih dengan cepat. Karena energi kehidupan yang dihadirkan mampu memulihkan segala luka dan sakit.
Tetapi agar tidak dijadikan santapan ular, tentu itu perkara yang lain. Untuk membuat ular itu jinak tentu saja harus merawatnya sedari kecil.
Karena itulah butir telur dari naga itu dianggap sebagai sebuah mustika. Selain itu, butir telurnya juga memiliki manfaat yang sama, tetapi tidak seperti jika dipelihara telur itu hanya bisa digunakan sekali saja untuk menyembuhkan.
Karena didalam butir telur yang berwarna keemasan dilapisan luarnya itu terkadung energi kehidupan yang luar biasa padat.
Dua induk telur itu mengerami dengan cara menghadirkan energi kehidupan yang akan diserap oleh butir telur mereka. Umumnya ular akan menelurkan butir telur yang banyak, tetapi tidak dengan jenis ular tersebut. Mereka hanya menelurkan satu atau dua butir saja per tiga ratus tahun sekali.
Untuk membuat telur itu menetas membutuhkan waktu yang sangat panjang, yaitu sekitar tiga puluh tahun. Walaupun induknya memiliki ukuran sebesar pohon kelapa, tetapi ukuran butir telurnya tidak lebih daripada sebutir telur ayam kampung.
Bentuknya mungkin mirip telur ular pada umumnya yang lonjong, namun warna telurnya tidaklah sama dengan warna telur jenis binatang apapun. Karena telurnya itu berwarna kuning keemasan. Warna kuning pada lapisan terluar dari butir telur itu sesungguhnya lapisan emas murni.
"Dimana sarangnya? Aku harus mendapatkan butir telur dari ular ini!" Suro bergerak semakin cepat menghindari patukan ular yang menghantam seakan pukulan godam raksasa.
Setelah menghisap energi alam yang begitu padat membuat tenaga dalam miliknya telah pulih kembali. Akibat terlalu memaksakan diri menempuh perjalanan tanpa pasokan tenaga tambahan dari kekuatan matahari, membuat tenaga dalamnya banyak terpakai untuk membuat bilah pedangnya mampu membawa tubuhnya terbang.
"Aku tahu sekarang dimana telur dua ular itu berada! Pasti ada dibalik batu besar tempat aku sebelumnya bersamadhi!" Suro yang melesat ke atas sambil menghindari serangan ular dia secara sengaja mengalihkan perhatian ular itu agar sejauh mungkin dari batu besar.
Clang!
Dalam satu tebasan batu besar itu terpotong. Potongan bagian atas dia dorong sekuat tenaga agar bergeser. Seperti dugaan Suro sebelumnya, dibalik batu itu memang ada goa cukup besar.
Sebelum induk telur itu kembali, Suro segera bergerak secepat mungkin untuk mencari butir telur yang dimaksud.
Setelah memasuki goa, tidak lama kemudian dia melihat seberkas cahaya keemasan dari atas cekungan batu. Diatas cekungan itu dua butir telur tergeletak.
"Dapat, akhirnya aku menemukannya. Sungguh beruntung sekali diriku. Perjalananku ini tidak ada yang sia-sia!" Suro segera menyambar satu butir telur dan meninggalkan sisanya. Telur itu langsung disimpan dibalik bajunya.
Dia bergegas keluar dengan cepat sebelum dua induk telur itu menghalangi jalan satu-satunya untuk dia keluar. Beruntung dalam waktu yang tidak lama dua ular itu telah kembali dan kembali menyerang Suro. Tetapi serangan itu dapat dihindari oleh Suro.
"Maung lari ke atas!" Harimau yang sebelumnya sudah berlari ke atas kembali lari ke bawah. Agaknya harimau itu begitu khawatir dengan nasib sahabatnya yang sedang dikeroyok dua ekor ular raksasa secara bertubi-tubi.
Beruntung Suro menyadari sahabatnya yang baru saja datang hendak menolongnya itu. Mendengar perintah Suro barusan Maunh segera kembali ke atas. Suro menyuruh harimau itu lari ke atas, sebab Suro berniat kabur setelah mendapatkan telur yang dia inginkan itu.
Suro segera melesat ke atas meninggalkan dua raksasa yang hendak menghabisinya itu.
"Maung...! Meloncat ke atas!" Suro yang telah berhasil menyusul Maung memerintahkan sahabatnya itu untuk meloncat menaiki tubuhnya.
Dalam sekali loncat tubuh Maung itu mampu mencapai ketinggian lebih dari dua tombak.
Mereka segera melesat melanjutkan perjalanan. Saat Suro kembali melanjutkan perjalanan hari sudah menjelang fajar. Sehingga kondisi itu membuat Suro tidak khawatir tidak akan salah arah lagi. Dia langsung melesat menuju barat
Dengan adanya tenaga tambahan dari kekuatan matahari membuat perjalanan kali ini tidak mengalami halangan sama sekali. Setelah matahari naik sampai sepenggalan Suro telah sampai di gunung api berikutnya yaitu gunung Candramuka(Merbabu).
"Ini gunung api kedua. Sesuai dengan penjelasan paman Tohjaya aku tinggal terus lurus ke selatan. Setelah menemukan gunung ketiga yaitu gunung Candrageni berarti arahku tidak salah. Setelah itu, aku tinggal meneruskan perjalanan kembali lurus ke arah selatan. Nanti kalau sudah sampai di Mataram aku tinggal menanyakan kepada penduduk dimana letak Perguruan Tengkorak Merah."