
Geho sama tidak sempat menjawab keinginan Lodra, sebab dia juga sedang berkonsentrasi mencoba menggunakan busur yang tidak pernah dia gunakan itu.
"Tutup mulutmu Lodra, apakah kau tidak melihat aku sedang sibuk mencari cara untuk menggunakan gandewa ini?"
'Kurang ajar, berani sekali kau siluman emprit!+%:/&o^#*"+'-$¥!!!' Makian dan umpatan Lodra sudah tidak digubris oleh Geho sama.
Dia kemudian menyalurkan tenaga dalamnya pada pusaka itu. Sesaat kemudian muncul anak panah yang siap dilesatkan. Akhirnya dia berhasil menggunakan gandewa tersebut.
Sebelum anak panah chakra milik pertapa itu menghujam tubuhnya, dia segera melesatkan anak panah miliknya juga.
Lesatan anak panah chakra milik Geho sama akhirnya berhasil menghancurkan serangan musuh. Tetapi itu harus dibayar dengan chakra miliknya yang tersedot cukup banyak.
Geho sama memahami, jika anak panah chakra milik pertapa itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Tentu untuk menghancurkannya diperlukan kekuatan yang mampu mengimbanginya.
Karena alasan itulah, dia membiarkan tenaga dalam miliknya tersedot oleh pusaka dewa yang berada dalam genggamannya. Meskipun chakra yang tersedot sangat banyak, namun Itu adalah keputusan terbaik yang dia ambil, jika tidak mau mati konyol.
Serangan-serangan panah chakra yang dilakukan dua makhluk itu terus terjadi. Geho sama terpaksa harus menguras chakranya semakin banyak untuk melayani serangan lawan.
Geho sama meruntuk melihat lawannya seperti tidak terpengaruh oleh cahkra yang dihabiskan dengan begitu banyak untuk setiap serangan yang terus menerus mereka kerahkan. Padahal Geho sama merasakan sendiri, jika serangan yang dia kerahkan telah menghabiskan lebih dari empat puluh persen tenaga dalamnya.
Seperti juga Gandewa Wijaya, senjata busur panah milik Geho sama memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda. Keduanya adalah senjata pilih tanding yang sangat digdaya.
Tetapi jika bukan terpaksa, dia tidak akan menggunakannya. Chakra besar yang harus digunakan untuk menggunakan busur itu, tentu bukan pilihan bijak.
Apalagi jika pertempuran berlangsung cukup lama. Seperti yang terjadi dalam pertarungan mereka berdua.
Alasan gandewa itu memiliki nama Sang Bergawa, karena pemilik asli dari gandewa itu adalah seorang Ciranjiwin yang bernama Bergawa.
Nama itu memiliki arti keturunan Maharesi Bregu. Dia juga dikenal dengan sebutan Rama putra Jamadagni
Tetapi Ciranjiwin atau manusia abadi itu memiliki nama lain yang tidak kalah terkenalnya, yaitu Ramaparashu atau lebih dikenal dengan nama Parashurama.
Parashu sendiri memiliki arti kapak besar, sebab selain panah dia dikenal dengan senjata kapaknya. Sehingga nama itu memiliki makna, Rama yang bersenjatakan kapak besar. Dia adalah seseorang dari kasta Brahma yang begitu benci dengan kasta ksatria.
Dia menghabiskan sebagian umurnya untuk berperang untuk menumpas para ksatria. Karena pada zaman itu ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum ksatria yang adigang, adigung, adiguno yang gemar berperang satu sama lain.
Parashurama pun bangkit menumpas para ksatria. Sebab mereka tidak melaksanakan kewajibannya yang seharusnya menjadi pelindung bagi kaum lemah. Mereka justru bersikap sewenang-wenang pada kaum yang seharusnya dilindunginya itu.
Tidak terhitung banyaknya kesatria, baik itu raja ataupun pangeran, yang tewas terkena kapak dan panah milik Rama Bergawa putra Jamadagni.
Konon Parashurama bertekad untuk menumpas habis seluruh kesatria dari muka bumi. Ia bahkan dikisahkan telah mengelilingi dunia sampai tiga kali. Setelah merasa cukup, Parashurama pun mengadakan upacara pengorbanan suci di suatu tempat bernama Samantapancaka.
Kelak pada zaman berikutnya, tempat tersebut terkenal dengan nama Kurukshetra. Tempat itu dianggap sebagai tanah suci yang menjadi ajang perang saudara besar-besaran, yaitu perang antara Pandawa dan Korawa.
Penyebab khusus mengapa Parashurama bertekad menumpas habis kaum kesatria adalah karena perbuatan Raja Kartawiryarjuna atau juga dikenal dengan sebutan Sahasrarjuna dari Kerajaan Hehaya.
Sebutan Sahasrarjuna diperoleh dari kesaktiannya yang mampu memunculkan seribu lengan atau “sahasrara”. Raja itu juga disebut dengan nama Harjuna Sasrabahu dari istana Mahespati.
Raja itu berbuat sewenang-wenang, karena telah merampas sapi milik Jamadagni ayah dari Parashurama.
Dia marah besar atas kelaliman raja tersebut, Parashurama lalu membunuh raja Kartawirya. Namun pada kesempatan berikutnya, anak-anak Kartawiryaarjuna membalas dendam dengan cara membunuh Jamadagni. Kematian Jamadagni inilah yang menambah besar rasa benci Parasurama kepada seluruh golongan kesatria.
Selain dua astra atau dua senjata dewa andalannya itu, dia juga dikenal dengan kesaktiannya yang tanpa tanding. Salah satu astra dari kesaktiannya yang dimiliki adalah Brahmastra.
Kedahsyatan Brahmastra sudah diperlihatkan oleh Geho sama dan juga pada awal pertarungan mereka berdua. Gunung batu yang menjulang tinggi itu hancur menjadi reruntuhan batu. Daya penghancur yang terkandung didalam astra itu begitu mengerikan.
Seperti yang baru saja terjadi, ledakan besar kembali melanda. Sebab dua sosok yang bertarung di atas gunung Taihang Shan itu kembali menggunakan Brahmastra.
Kali ini Geho sama terpental lebih jauh dan menghantam bukit amblas masuk ke dalam tanah, karena kuatnya luncuran tubuhnya.
"Sialan mimpi apa aku sebenarnya, bagaimana ada manusia sekuat ini tanpa pernah aku temui sebelumnya?" Geho sama merutuk setelah darah segar menyembur dari mulutnya.
Luka dalam yang sebelumnya telah dia rasakan, kini luka itu semakin bertambah parah.
"Kemana bocah sontoloyo itu? Aku sudah memangil dirinya, mengapa dia tidak juga datang?"
'Dari pada kau merepet seperti burung kutilang, mending kau gunakan bilah pedangku siluman emprit!'
'Kita lihat, apakah dia mampu lolos dari jurus api hitamku?'
Geho sama yang sebelumnya ragu untuk menggunakan Pedang Kristal Dewa, akhirnya setuju. Sebab dengan menggunakan Gandewa Sang Bergawa secara terus menerus akan menghisap seluruh chakra miliknya.
Dalam pikiran Geho sama hanya Sharkara Deva yang dimiliki Suro lah penolong bagi dirinya untuk dapat secepat mungkin memulihkan luka dalam dan juga kekuatannya.
'Awas, jika kau mensia-siakan kekuatanku!' Geho sama mengancam Lodra sebelum dia mencabut Pedang Kristal Dewa dari pinggangnya.
Busur panah yang sebelumnya dia gunakan telah menghilang dari gengaman tangannya.
'%#*)d……@?&^¥\x$₩%h*!!' Makian dari Lodra langsung menjawab ancaman Geho sama.
Tubuhnya yang terasa remuk sampai tulang ditambah suara Lodra yang memekakan telinganya membuat Geho sama memilih meminta Lodra segera bertindak agar ocehannya secepat mungkin terbungkam.
"Baiklah Lodra yang agung perlihatkanlah kehebatanmu, jangan sampai kau hanya berbicara seperti suara kentut tuanmu yang keras tetapi tidak ada isinya!"
'Banyak mulut siluman emprit sialan, cepat berikan chakramu untukku!?@%*+(*"…:/u/&!q~&'%(¥!!!!'
Geho sama terpaksa mengorek-orek lubang kupingnya lebih dahulu, sebab suara makian Lodra bertambah semakin keras. Gendang telinganya sampai terasa sakit akibat teriakan Lodra.
Teriakan Lodra itu diibaratkan seperti sebuah genderang raksasa ditabuh dengan begitu keras disamping daun telinganya. Tentu saja kepala rasanya seperti mau pecah.
Pertapa itu dibuat tertegun, setelah melihat Geho sama berganti senjata. Pandangannya langsung terpaku pada sebuah pedang yang cukup unik itu. Sebab memang pedang itu memiliki bilah yang begitu bening, seakan sekujur bilahnya terbuat dari selembar kaca.
**
"Pedang yang ada dalam mimpiku telah muncul? Ini artinya, waktuku sebentar lagi akan tiba!"
Pertapa itu mengusap-usap matanya untuk memperjelas pandangannya.
"Tidak salah lagi. Seperti dugaanku di awal. Akhirnya apa yang aku idam-idamkan telah tiba. Puja para Dewa, ternyata permintaanku sebentar lagi akan dikabulkan!"
Pertapa itu tertawa dan tersenyum dengan begitu lebar melihat Geho sama menghunuskan Pedang Kristal Dewa.
"Akhirnya aku akan mati, aku akhirnya bisa moksa. Huahahahaha....aku akhirnya bisa menuju nirwana..huahahaha...!"
Geho sama yang melihat kelakuan pertapa itu mulai mengernyitkan dahinya. Tawa keras dan ekspresi wajah dan juga kelakuannya itu membuat Geho sama memiliki satu kesimpulan.
"Sudah aku duga pasti lelaki tua itu sedeng alias gendeng!"
Geho sama tidak berani segera menyerang lawannya dan memilih membiarkan pertapa itu terus sendiri diketinggian. Apalagi kondisi luka dalam yang dia derita cukup parah.
Karena itu, dia memilih memulihkan tenaga dalam dan lukanya terlebih dahulu. Geho sama menyadari, jika dia tidak memiliki waktu yang banyak. Untuk itu dia mencoba secepat mungkin agar bisa pulih. Bahkan dia membiarkan sebagian tubuhnya masih tertimbun bebatuan.
Keputusannya itu sudah tepat, dibandingkan memilih menyerang lawan, kesempatan itu memang sebaiknya digunakan untuk memulihkan kekuatannya dan juga menyembuhkan luka dalamnya terlebih dahulu. Karena dapat sewaktu-waktu pertapa itu kembali menyerang dirinya.
Sambil menghimpun kekuatan dia juga menyalurkan tenaga dalamnya kepada bilah pedang yang tergengam di tangannya.
**
"Tetapi dalam penampakan yang terlintas dalam penglihatanku, seharusnya yang menghunuskan pedang adalah seorang pemuda. Benar aku masih ingat, dalam kewaskitaanku seharusnya yang memegang pedang itu adalah seorang pemuda tampan.
Mengapa ini yang ada dihadapanku justru makhluk lain bukan pemuda tampan itu. Tidak mungkin salah apa yang ada dalam penglihatanku. Tetapi mengapa siluman kampret ini yang menghunuskan pedang itu?" Pertapa itu menggaruk-garuk dahinya.
Pertapa itu masih mendiamkan Geho sama. Walaupun pada saat itu lawannya sudah terlihat segar dan sedang berusaha keluar dari reruntuhan batu yang menguburnya.
Gandewa Wijaya yang merupakan senjata Batara guru atau Dewa Siwa itu tetap tergengam ditangan sang pertapa.
Dia masih terdiam dan memilih terus memandangi Geho sama dari kejauhan dan tidak berusaha menyerang kembali. Padahal Geho sama sudah dalam kondisi siap menyerang, setelah luka dan juga tenaga dalamnya sudah merasa lebih baik.
Pandangan lelaki tua itu masih tertuju kepada bilah pedang yang digengam oleh Geho sama. Entah karena sekujur bilahnya yang bening seolah seperti selembar kaca, atau hal lain, yang jelas pertapa itu dibuat menjadi begitu penasaran. Matanya seperti telah terhipnotis dan terus memandang seakan tanpa kedip.
Selain itu, jika dilihat dari awal pertarungan, pertapa itu sebenarnya bersikap cukup janggal. Entah mengapa sedari awal pertarungan justru seperti memberikan waktu bagi lawannya untuk memulihkan diri, sebelum dia kembali melakukan serangan.
Kondisi itu kemungkinan juga disadari oleh Geho sama. Karena itu, setelah dirasa kekuatannya telah cukup, Geho sama langsung berniat memulai serangan terlebih dahulu, sebelum pertapa tua yang menjadi lawannya itu memulai menyerang dirinya.
"Maha Naga Taksaka!"
Semburan kobaran api hitam yang meledak bersama tebasan yang dikerahkan Geho sama melesat menuju pertapa yang tetap diam dalam posisi berdiri melayang diketinggian.
Setelah ledakan api hitam melesat ke arah pertapa, entah mengapa dia sedikitpun tidak terlihat gentar apalagi ketakutan. Justru di sudut bibirnya terbentuk sebuah senyuman saat menyaksikan kobaran api yang bergulung-gulung begitu mengerikan.