SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 117 BANTUAN DATANG part 8



"Ini benar-benar gawat ternyata awan hitam dilangit itu adalah jelmaan dari para siluman! Dengan jumlah sebegitu banyaknya sama saja ini mau membantai seluruh pasukan Perguruan Pedang Surga. Meskipun pasukan Kerajaan Kalingga nantinya datang membantu, aku rasa tidak akan banyak mengubah jalannya pertempuran. Semua pasti dapat dihabisi oleh pasukan siluman."


"Aku rasa pasukan siluman yang sebegitu banyaknya, bukanlah jumlah keseluruhan dari seluruh pasukan siluman. Awan hitam diatas langit itu sepertinya menyembunyikan pasukan siluman dalam jumlah yang sangat besar." Suro ikut terkejut melihat begitu banyaknya siluman yang berdatangan turun dari langit.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan pembantaian para anggota perguruan? Sebaiknya aku bergegas ke sana!" Pandangannya menyapu ke seluruh area pertempuran.


Musuhnya yang masih mengelilingi dirinya tidak berani mendekat karena tebasan sinar yang keluar dari ujung jarinya mampu menebas pedang mereka seperti menebas pohon pisang. Lemparan tombak, panah yang menghujani Suro itu tidak ada satu pun yang mengenainya.


'Seharusnya aku sudah berada didalam Perguruan Pedang Halilintar, jika saja aku tidak ketinggalan dengan para tetua. Kecepatan penuh pendekar tingkat shakti memang sangat mengagumkan. Ilmu langkah kilatku yang sudah aku latih susah payah ternyata tidak bisa mengimbangi kecepatan penuh para tetua."


'Aku memang lebih dulu sampai disini dibandingkan para tetua yang harus melewati jalan memutar yang sangat jauh. Tetapi justru lewat jalan memutar itu adalah jalan yang tepat. Sebab sekarang para tetua sudah bergabung dan membantu jalannya pertempuran bersama para tetua lain.'


'Aku pikir lewat jalan pintas, menerobos wilayah pasukan musuh akan bisa menyingkat waktu. Ternyata tidak seperti yang dipikirkan. Ngomong-ngomong siapa tadi yang memberikan usul kepadaku untuk menerobos barisan pasukan musuh yang seperti lautan ini!'


'Itu pasti kelakuan Lodra yang sejak tadi berkicau seperti burung kutilang habis diberi pepaya!'


'Bukan pepulun Kavacha percayalah, walaupun saya sedari tadi berbicara, tetapi tidak memberi usul sebegitu bodohnya. Ini pasti berasal dari pikirannya sendiri si bocah bodoh yang sok pintar ini.'


'Sudah jangan membantahku Lodra, ini pasti kamu! Aku sudah katakan jangan membantah perkataanku! Kalaupun bukan kamu yang mengusulkan, pasti karena kicauanmu yang membuat pikiran tuan Suro menjadi tidak sejernih dan sepintar seperti biasanya!'


'Cih pintar apanya, nasibnya saja yang beruntung mendapatkan anugerah dari para Dewata!'


'Tutup mulutmu Lodra! Sudah aku katakan jangan mengganggu konsentrasi tuanku!'


'Cih mentang-mentang pusaka Dewa beraninya hanya menindas kepada yang lebih lemah.'


'Apa yang kau katakan Lodra? Coba ulangi!'


'Tidak, tidak Sang Hyang Kavacha jangan salah paham, itu tadi lidahku sedang keseleo.'


''Sudah, sudah kalian malah berisik! Aku tadi mau berbicara apa ya? Kenapa jadi lupa? Ini pasti gara-gara kalian berisik!"


Musuh yang berada disekililing Suro kebingungan melihat Suro berbicara sendiri. Tetapi mereka tidak berani mendekati Suro lebih dari satu tombak. Sebab kilat sinar yang berasal dari ujung jarinya mampu membelah tubuh mereka sekali tebas.


"Seharusnya aku tadi mengikuti para tetua, meskipun harus melewati jalan memutar yang cukup jauh. Tetapi dengan begitu, bisa langsung bergabung dengan pasukan Perguruan Pedang Surga yang ada didepan sana."


"Ah, sudahlah. Semua sudah terlanjur aku kini justru terjebak dalam kepungan musuh. Pasukan Perguruan Pedang Surga sudah terdesak cukup jauh. Menurut perkiraanku mereka kini sudah terpojok."


Sambil menghalau serangan musuh Suro mencoba membaca situasi pertempuran yang sudah kacau balau. Mayat-mayat yang bergelimpangan sudah bertebaran disana sini. Mayat-mayat itu berasal dari kedua belah pihak dan jumlahnya terus bertambah banyak.


"Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam guru dari Datuk Bandaro Putih, tubuhnya sudah terlanjur menjadi batu. Aku kira tadi dapat menyelamatkan dirinya dengan menangkis serangan berupa petir dari wanita yang rambutnya berupa ular." Suro menatap sebuah patung manusia disamping kanannya yang seluruhnya telah berubah menjadi batu.


Setelah menerobos barisan pasukan musuh, akhirnya Suro sampai diarea bekas pertarungan Medusa. Tempat itu dipenuhi patung manusia yang cukup banyak.


Patung-patung itu berpencar dalam radius yang cukup luas. Dengan melihat banyaknya manusia telah membatu dalam radius yang begitu luas, sudah bisa dibayangkan betapa mengerikan serangan Medusa yang dilancarkan ke arah lawannya.


"Patung-patung sebanyak ini pasti juga korban dari tokoh yang disebut para tetua sebagai Medusa hitam." Tatapan matanya menyapu ke seluruh patung-patung manusia yang memenuhi area dimana dia sedang berdiri.


"Apa sebaiknya aku menghabisi saja biang keladi dari semua kejadian ini? Jika aku sanggub membunuhnya tentu aku juga akan sanggub menyelamatkan mereka semua. Benar, sebaiknya aku mengejar wanita tadi saja. Dengan ciri-ciri yang ada tidak salah lagi itu pasti Medusa. Mumpung aku sedang berada diwilayah musuh bukankah ini juga kesempatan untukku dapat mengobrak-abrik barisan pasukan musuh. Jika aku mampu menghancurkan pasukan musuh tentu sama saja aku juga membantu pasukan Perguruan Pedang Surga."


Mata Suro kembali menyapu seluruh area pertarungan mencoba mencari wanita yang kemungkinan besar adalah Medusa. Karena memiliki ciri-ciri yang sama yaitu rambut yang berbentuk ular-ular kecil.


"Ketemu, itu dia wanita yang aku serang tadi!" Pandangan Suro tertuju ke arah wanita yang berlari disebelah kanan.


Suro segera menerjang musuh dengan cepat menghancurkan barisan musuh yang telah bersiap menyerangnya dengan tombak-tombak. Seiring langkah Suro semua prajurit dari Kadipaten yang senopatinya kena ilmu gendam dari Dukun Sesat itu terlontar begitu tinggi disibak seperti air.


Para adipati langsung memerintahkan para pemanah menyerang Suro yang terus berlari dengan langkah kilatnya tanpa ada halangan. Hujan panah tidak membuat Suro surut satu langkahpun, meskipun panah-panah itu berdatangan seakan hujan deras.


'Tenang saja tuanku jika serangan seperti ini hanya masalah kecil. Serahkan saja padaku tuanku.'


'Bagus kavacha aku mengandalkanmu.' Suro bergerak cepat menerjang musuh mengejar Medusa yang jaraknya terus bertambah jauh.


"Seharusnya aku semakin dekat darinya, tetapi entah kenapa wanita itu justru semakin jauh jaraknya. Padahal tadi sudah cukup dekat bahkan jurusku mampu menjangkaunya. Perasaanku saja atau memang sejak tadi dia memang berlari menjauhiku?" Matanya menatap ke arah Medusa yang terlihat semakin menjauh.


Sambil memperhatikan arah larinya Medusa, tangannya terus menghancurkan barisan musuh yang hendak menghadangnya.


Pada awalnya para musuh disekitar Suro meremehkan dirinya. Sebab tubuhnya yang terlihat masih berumur belasan dan tingkat praktek tenaga dalamnya belum sampai pada tingkat shakti, tentu sebuah sasaran yang empuk. Apalagi saat itu Suro berada ditengah-tengah musuh, tentu akan mampu menghabisinya dengan mudah.


Tetapi seiring para siluman berhasil dibakar habis oleh api hitam dari bilah Pedang Pembunuh iblis dan juga terjangan sinar dari kelima ujung jarinya, membuat lawannya yang berada dibawah tingkat satu memilih menjauh.


Apalagi sekarang dia dengan begitu mudahnya menghalau musuhnya cukup dengan gerakan kecil jarinya, musuh yang berada dihadapannya langsung hilang dari pandangan. Sebab mereka sudah terlontar cukup jauh.


Tidak ada yang mampu menghindari serangan yang dilakukan Suro. Tentu saja semua ketakutan melihat tehnik bumi yang begitu mengerikan.


'Bocah sialan kenapa tidak sedari tadi kau gunakan jurus ini jika hanya untuk mengusir musuhmu. Sungguh sayang kobaran api hitam yang aku perlihatkan tadi!"


"Hahaha...Lodra, memangnya aku yang memintamu menyuruhmu melontarkan api hitam membakar segala hal yang aku tebas? Bukankah kamu sendiri yang merengek-rengek meminta chakra agar dirimu bisa melontarkan api hitam yang berkobar begitu luar biasa? Tetapi aku sebenarnya cukup kagum dengan api hitammu Lodra! Cukup mengesankan. Bahkan para siluman ular yang begitu besar bisa engkau musnahkan menjadi abu dengan kemampuanmu itu."


'Ah, itu cuma masalah kecil bagiku, bocah! Andai saja kau mau memberikanku chakra yang sangat besar, aku bahkan bisa membuat api berkobar setinggi gunung!' Mendengar perkataan Suro yang memuji dirinya jiwa pedang itu seperti terbang ke awan. Nadanya langsung berubah tidak menyentak seperti biasanya.


"Hahahah! Aku suka sekali itu Lodra. Lain kali aku akan memperlihatkan kemampuanmu ini kepada Eyang guru pasti dia akan menyukainya.


'Sialan kau bocah! Kemampuanku ini bukan barang mainan! Cukup kau tau selama dipegang orang yang sebelummu, aku tidak sudi meminjamkan kekuatanku kecuali sedikit!'


'Lalu mengapa kau sekarang membantuku?'


'Tentu saja sejak awal aku tidak membunuh dan sekarang malah membantumu dengan seluruh kemampuanku! Alasannya cuma satu aku menyukai chakramu.'


"Hahahaha jika paman Maung tau pasti akan menyebutmu jiwa pedang gemblung!"


'Sialan kau bocah aku ini Lodra yang agung!'


Suro terus mengejar Medusa tanpa ada yang mampu menghalangi. Sebab semua prajurit seperti ditiup badai. Tanah yang mereka pijak berloncatan membuat semua pasukan Medusa yang ada didepan Suro berterbangan terlempar dari tempatnya berdiri.


"Para Raja siluman perintahkan anak buahmu untuk menghabisi bocah itu!" Teriakan Medusa terdengar jelas ditengah-tengah pertempuran. Medusa yang secara tidak sengaja lari kedepan justru menyongsong ke arah Perguruan Pedang Halilintar. Disana dia melihat para tetua ularnya sedang bertarung dengan lawannya. Pasukan Pedang Surga yang menyerangnya langsung dijadikan arca atau langsung dia habisi dengan mudah.


Pasukan siluman yang mendapatkan perintah Medusa segera melesat ke arah Suro. Kali ini Suro akan berhadapan dengan para siluman dalam jumlah besar.


"Mati aku, siluman sebanyak ini bagaimana caranya aku akan menghadapinya?"


"Lindungi nakmas Suro!" Tetua Tunggak semi berteriak keras.


Dia yang berada digaris terdepan melihat Suro berada diarea musuh terkejut. Dia baru teringat kembali, saat berlari dalam kecepatan penuh Suro tertinggal cukup jauh. Dia begitu khawatir melihat apa yang terjadi dengan Suro, sebab dia melihat sekilas puluhan siluman dan terus bertambah sedang mengepung Suro.


Dia yang menghadapi dewi racun dari Daha tidak ada waktu untuk menolong Suro karena tetua Sinar Gading sudah cukup kewalahan jika menghadapi lawannya sendirian.


"Jangan mengkhawatirkanku paman Tunggak Semi! Aku baik-baik saja! Jangan ada yang mendekatiku biarkan aku bersenang-senang dengan para siluman ini!" Suro berteriak keras justru melarang siapapun mendekatinya. Agaknya dia sedang merancang sesuatu rencana untuk menghadapi para siluman yang sebegitu banyaknya.